cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Maksudmu?"
"Mas Riyan ini ditipu sama mbak Luna. Apa lagi tadi Mas Riyan berkata jika Mas Riyan dipecat karena Mas Nino yang mengadu sama pak Ramli, dan kemunculan Mbak Luna yang mengaku menjalin hubungan sama Mas Riyan. Menurutku itu sudah jelas mas. Kemungkinan selama ini mereka berdua sudah merancanakan hal itu dari jauh jauh hari,"
Riyan terdiam merenung, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Agung. Setelah beberapa menit terdiam karena merenungi Riyan mengangguk dia membenarkan ucapan Agung.
"Kau benar Gung. Mungkin selama ini mereka tidak suka padaku. Yasudah lah, aku akan menyelidiki semua ini nantinya. Mungkin, untuk kembali pada pekerjaan, aku tidak bisa. tapi setidaknya aku akan membuat mereka yang menjebak ku mendapatkan hukuman."
"Betul Mas. Nanti aku bisa bantu, asal aku belum berangkat bekerja lagi."
"Memangnya libur kerjamu masih berapa lama?"
"Satu minggu Mas."
"Oh, oke."
Melihat kedua anaknya sudah kembali akur lagi Bu Lena dan Pak Toyo mengelus dada, mereka merasa lega. Pak Toyo dan Bu Lena berpandangan, senyum senang terbit dibibir keduanya.
"Syukurlah kalian sudah akur lagi." ucap Bu Lena senang.
Riyan dan Agung tersenyum kikuk merasa malu dengan sikap mereka yang kekanakan tadi.
"Maaf Bu Pak," seru Riyan dan Agung bersama sama.
"Tidak apa apa. Sekarang Ibu mau masak dulu. Nanti kita sarapan sama sama ya,"
Ibu Lena beranjak dari kursi kayu itu dan langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Pak Toyo juga berdiri dan meninggalkan mereka setelah berpamitan ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sempat mewanti wanti agar Agung dan Riyan tidak ribut lagi.
...----------------...
Dirumah, Niya baru saja selesai beberes dan mandi. Masih dengan handuk yang melilit dada hingga sebatas pahanya, Niya mendekati ponselnya yang sejak tadi berdenting. Ternyata nama Riski yang mengiriminya pesan. Disana sudah ada sepuluh pesan yang belum Niya baca dari Riski.
Karena rasa penasaran dengan apa yang Riski kirimkan padanya. Niya membukanya, membaca satu persatu pesan yang di kirimkan untuknya.
Kak lagi apa?
Kemarin kok nggak jawab chat dariku. Kenapa?
Kak
Kak
Kok tidak di balas?
Kakak sibuk?
Kak
Kak Niya
Hai
Kak sepi banget sih. Kau kemana kak?
Niya menggeleng melihat isi pesan yang Riski kirimkan padanya. Dari dalam hati, Niya sama sekali tidak berniat membalas pesan itu. Tapi ada secercah rasa kasihan jika mengabaikan pesan Riski begitu saja. Niya mengetik huruf dan membalas pesan Riski.
Maaf, dari kemarin sibuk. Tidak sempat pegang hp. send Riski.
Setelah mengirim pesan balasan untuk Riski, Niya meletakan ponsel di atas meja rias. Niya memilih mengambil pakaian di dalam lemari karena tubuhnya sudah merasa kedinginan.
Ting !
Suara dentingan terdengar membuat Niya buru buru memakai pakaiannya hingga selesai. Niya meraih ponselnya dan membaca pesan balasan dari Riski sambil keluar kamar. Dia ingin mengambil camilan di dapur dan memakannya di meja makan dengan santai, toh semua pekerjaan sudah selesai. Jadi tidak ada salahnya jika sekarang waktunya ongkang ongkang kaki.
Seenggaknya kabarin aku dulu kek kalo lagi sibuk kak. biar aku nggak kepikiran lho. Aku nyaris lempar hp ku karena kau tidak membalas chat ku kak.
Gerakan Niya yang akan mengambil kue kering di toples terhenti. Dia lebih dulu menutup mulutnya karena tidak kuat menahan tawa. Menurut Niya, ungkapan isi hati Riski sangat lucu. Masa iya sampai segitunya karena dirinya tidak balas chat dari dia. Sangat sangat berlebihan.
Aku nggak percaya sih. Itu cuma kata kata modus anak muda bagiku. Berlebihan banget. alay dan lebay. Hahaaa. Send Riski.
Nggak kak. aku serius. Itu beneran. bukan cuma modus doang.
Halah send Riski.
Kak minta no wa nya dong please emoji berkaca kaca
Nggak punya wa send Riski.
Alah boong. Nggak percaya aku.
Nggak ada yang nyuruh buat percaya send Riski.
Niya tak membalas pesan dari Riski lagi karena Niya tidak ingin berkomunikasi lebih jauh. Baginya Riski cukup jadi teman chatting pas gabut doang.
Karena merasa sudah senggang, Niya mulai mengetik beberapa huruf, beberapa kata, beberapa kalimat, hingga jadi satu paragraf, sampai sampai berubah menjadi seribu kata. Dengan tulisan tangannya Niya mengharapkan secercah impian untuk mendapatkan penghasilan secara diam diam.
Setelah menghabiskan waktu dua jam untuk menyelesaikan tulisan tangannya, Niya menaruh ponsel di atas meja makan. Dia memilih untuk menikmati waktu bersantainya dengan menghabiskan satu toples kecil kue kering.
Tok
Tok
Tok
Mendengar suara ketukan dari pintu depan Niya menoleh. Niya beranjak sambil menghabiskan secuil kue kering sisa gigitannya. Kemudian menghabiskannya begitu di mulut sudah habis.
Tok
Tok
Tok
"Iyaaa...sebentar!"
Sambil berjalan Niya menjawab dengan sedikit teriak. Supaya orang yang di luar mendengar.
"Siapa?" Sambil membuka pintu, dan setelah pintu terbuka, Niya melihat satu pria berdiri di depannya.
"Cari siapa Mas?" tanya Niya sopan.
"Pak Riyan ada, Bu?"
Niya mengernyit. Setahu Niya yang biasa memanggil Mas Riyan dengan sebutan Pak adalah orang orang kantor. Niya tersenyum lembut karena tahu pria di depannya orang kantornya mas Riyan dulu.
"Oh, beliau pergi Mas. Silakan masuk, Mas,"
dengan ramah Niya mempersilakan pria itu masuk. Baginya tidak sopan sekali jika orang kantor tidak di persilakan masuk dan malah di biarkan bicara dengan berdiri di luar.
"Saya telpon dulu suami saya," katanya lalu pergi untuk ke dapur mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja makan tadi.
Sambil menghubungi Mas Riyan, Niya membuat minuman untuk pria itu. Pria yang tidak Niya tahu siapa namanya. Tapi yang Niya tahu dia adalah orang kantornya mas Riyan dulu.
Panggilan masih terus berdengung karena mas Riyan belum menerima panggilannya. Tapi tiba tiba Niya merasakan sesuatu melingkar diperutnya. Niya tersenyum mungkin suaminya sudah pulang dan sengaja memberinya kejutan. Niya berbalik sambil berkata,
"Mas Ri-----emmmm emmm," Pandangan Niya kabur dan berubah gelap.
...----------------...
Riyan Agung dan kedua orang tuanya sudah selesai sarapan bersama. Mereka kini sedang duduk santai dihalaman belakang, melihat hasil kerja keras Pak Toyo yang berprofesi sebagai pengrajin kayu.
Bu Lena membawa sepiring ketan goreng dan sepiring buah salak yang dibelinya tadi pasar pagi. Meletakannya ditengah tengah anak dan suaminya.
"Lebih enak ngobrol sambil makan camilan."
"Ini apa Bu---Eh buah salak ya? Enak nih. Lama banget Riyan tidak makan buah salak." Riyan mengambil satu buah salak mengupas kulitnya dan mulai menggigitnya.
"Hm, enak Bu. Nanti aku beli ah buat oleh oleh Niya dirumah,"
"Mas itu ponselmu bunyi!"
pesan dari siapa?