Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Di Atas Angin
Malam itu, Damar kembali ke apartemennya di Potomac Crest Residence Lorong lantai dua belas sudah sepi, hanya suara langkah kakinya yang terdengar pelan sebelum ia membuka pintu.
Klik.
Begitu pintu terbuka lampu ruang tamu masih menyala dan di sana Salma masih ada duduk di sofa, mengenakan sweater tipis, rambutnya tergerai rapi dia langsung berdiri begitu melihat Damar.
“Kamu masih di sini?” tanya Damar datar, menggantung mantelnya Damar melangkah tanpa benar-benar menatapnya.
Belum sempat Damar melangkah lebih jauh Salma sudah lebih dulu menghampiri dan memeluknya erat,
"Damar." Katanya lirih “Aku takut kamu nggak kembali,” bisiknya pelan di dada Damar.
Namun tidak ada balasan Damar hanya terdiam, tubuh Damar kaku tangannya tidak terangkat. Dia tidak memeluk balik Salma, hatinya terasa Kosong dan hampa, perasaan yang seharusnya familiar justru tidak Damar temukan lagi bersama Salma.
“Salma,” suara Damar rendah, “maaf aku ingin sendiri.” Kata Damar lagi dingin.
Salma sedikit menjauh, menatap wajah Damar matanya mencari sesuatu reaksi, emosi, atau apa pun namun yang terlihat hanya kelelahan dan jarak.
"Damar aku kangen," Suara Salma berbisik.
Tanpa banyak berpikir, Salma kembali mendekat dan mencium Damar cepat seolah ingin mengingatkan sesuatu yang dulu pernah mereka miliki.
"Aku masih cinta sama kamu," kata Slama lagi.
Namun Damar tidak membalas dia justru memegang bahu Salma dan mendorongnya perlahan menjauh.
“Salma,” napasnya berat, “aku nggak bisa mikir sekarang.”
Salma menatapnya, tak percaya.“Kamu berubah,” gumamnya.
“Aku cuma lagi capek.” sahut Damar tampak tak berminat membicarakan apapun.
“Aku mau tetap di sini sama kamu,” kata Salma, nada suaranya mulai mengeras, setengah memohon, setengah memaksa Damar menghela napas panjang.
“Hormati aku,” katanya pelan tapi tegas. “Aku butuh waktu sendiri.” Hening seketika membuat tangan Salma gemetaran.
Salma menatapnya lama lalu berkata “Bagaimana dengan perempuan itu?” Pertanyaan itu menggantung di udara.
Damar menutup matanya sejenak “Salma,” Damar membuka mata, “dia punya nama”
Ada jeda Salma menyilangkan tangan di depan dada, “Kalian sudah selesai?” tanya Salma langsung tanpa basa basi, Damar tidak menjawab dia hanya berjalan melewati Salma masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar itu pun tertutup, namun dari sikapnya sudah cukup menjawab pertanyaan Salma, dia tersenyum tipis senyum yang sulit diartikan.
“Sepertinya sudah berakhir,” gumamnya pelan dia meraih tasnya dari meja langkahnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun matanya menyimpan keyakinan. “Damar akan tetap jadi milikku,” bisiknya pelan dia berhenti sejenak di depan pintu menoleh ke arah kamar Damar yang tertutup rapat.
“Tidak akan ada yang bisa menggantikan aku.” Ucap Salma dengan penuh keyakinan.
Klik.
Pintu tertutup suasana kembali sunyi, di dalam kamar Damar duduk di tepi tempat tidurnya kedua tangannya bertumpu di kepala napasnya berat pikirannya kacau.
Bersama Salma empat tahun dan hampir bertunangan semua itu nyata.
Namun bayangan yang muncul di kepalanya justru bukan Salma melainkan Kirana tatapannya, suaranya. cara dia menatap penuh harap lalu pergi dengan luka.
Damar mengusap wajahnya kasar. “Bukan pelarian” gumamnya pelan dadanya terasa sesak. “Ini bukan pelarian.”
Damar menyandarkan tubuhnya ke dinding menatap kosong ke depan. Di luar jendela malam Washington, D.C. terasa dingin dan tenang.
Namun di dalam dirinya semuanya justru mulai tidak terkendali perasaannya pada Kirana bukan sesuatu yang bisa Damar abaikan lagi.