Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Di halaman belakang rumah besar yang biasanya tenang dan teratur, seorang wanita paruh baya duduk dengan anggun di kursi taman sambil menikmati secangkir teh hangat.
Di atas meja kecil di depannya terdapat teko teh, beberapa camilan ringan, dan sebuah novel yang sesekali ia balik halamannya dengan pandangan fokus membaca setiap kata yang terdapat didalam novel.
Tante Rita mengangkat cangkirnya perlahan. Angin pagi berembus lembut, menggoyangkan sedikit ujung rambutnya.
Belakangan ini suasana rumah terasa jauh lebih tenang. Sudah lama ia tidak melihat putranya berjalan dengan wajah dingin dan sorot mata kosong seperti seseorang yang kehilangan arah hidup. Beberapa hari terakhir, kedua anaknya tidak pernah pulang ke rumah namun ia sedikit lebih tenang saat mengetahui alasan kepergian mereka.
Rita tersenyum tipis sendiri sambil menutup novelnya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Suara langkah tergesa dan sedikit keributan terdengar dari arah depan rumah.
Salah satu satpam rumah datang dengan wajah panik.
"Nyonya, maaf"
Belum sempat kalimat itu selesai, suara langkah yang tergesa-gesa sudah lebih dulu mendekat.
Selin muncul dengan napas sedikit tidak teratur. Penampilannya masih rapi seperti biasa, tetapi lingkar gelap di bawah matanya cukup menunjukkan bahwa beberapa hari terakhir ia tidak benar-benar baik-baik saja.
Ia berjalan cepat melewati penjaga yang berusaha menahannya.
"Selin," gumam Tante Rita dengan alis sedikit mengerut melihat perempuan itu masuk tanpa izin.
Selin berhenti beberapa langkah dari meja taman.
"Tante."
Tante Rita menaruh cangkir tehnya dengan gerakan tenang sebelum menoleh ke arah penjaga.
"Pak, sejak kapan orang asing bisa masuk ke rumah ini tanpa izin saya?"
Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup membuat suasana langsung dingin.
Selin menunduk sesaat. Tangannya meremas ujung baju, menahan rasa tidak nyaman yang mulai naik.
Penjaga itu langsung menunduk takut.
"Maaf, Nyonya. Kami sudah mencoba menahan, tapi dia tetap memaksa masuk dan membuat keributan di depan."
Tante Rita berdiri perlahan dari kursinya. Tatapannya berhenti tepat pada Selin.
"Lancang."
Selin mengepalkan tangannya, menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara.
"Tante, saya ke sini cuma mau cari tahu Mas Dewangga di mana."
Tante Rita mengangkat satu alis lalu tersenyum tipis, tetapi sama sekali tidak terasa ramah.
"Selain lancang, ternyata kamu juga tidak tahu diri."
Selin berusaha untuk tetap menahan emosinya.
"Tante, saya ke sini nggak mau cari masalah. Jadi tolong jangan cari masalah sama saya dan jawab, Mas Dewangga sekarang di mana?"
Tatapan Tante Rita tetap tenang."Memangnya ada urusan apa kamu mencari anak saya?"
"Saya cuma mau ketemu sama dia. Apa itu salah, Tan?”
Tante Rita terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Saya tidak tahu."
Selin langsung menggeleng.
Itu tidak mungkin."
Ia melangkah sedikit mendekat. "Tante pasti tahu."
Tante Rita tetap berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun, mengawasi setiap gerak-gerik Selin"Kalaupun saya tahu, saya tidak akan pernah memberi tahumu.
Kalimat itu membuat Selin kehilangan sebagian kesabarannya.
"Tante tolong, sekali ini aja izinin saya ketemu Mas Dewangga."
"Tidak." jawabannya tetap sama. Singkat dan tidak memberi ruang untuk Selin sedikitpun.
Selin tertawa pelan, tetapi terdengar hambar. Air matanya mulai turun tanpa bisa ditahan.
"Tiga tahun saya nunggu dia. Bahkan waktu dia masih sama Zeya saya tetap nunggu."
Tatapan Tante Rita berubah sedikit lebih tajam saat mendengarnya.
"Dan selama itu juga Dewangga tidak pernah memilihmu."
Selin langsung membeku.
Tante Rita melanjutkan dengan nada yang tetap datar."Selin, saya sudah diam cukup lama."
Ia menatap Selin dari atas sampai bawah tanpa ekspresi.
"Tapi saya rasa sekarang saya perlu bicara jelas."
Suasana terasa semakin menegang, "Berhenti mengganggu Dewangga." Tante Rita menjeda ucapannya sebentar, mengamati setiap ekspresi wajah Selin.
"Dia sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Zeya. dan saya tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukannya lagi."
Mata Selin langsung membesar urat-urat dilehernya menegang.
"Jadi maksud Tante, Mas Dewangga menghilang karena bertemu Zeya?”
Tante Rita mengangguk kecil. "Karena itu memang tempat dia seharusnya pulang."
Selin tertawa kecil.Matanya memerah tak terima.
"Tidak. Itu nggak boleh terjadi. Mas Dewangga cuma bisa sama aku." protes Selin marah.
Tante Rita tersenyum tipis lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka tersisa sejengkal.
"Berhenti bermimpi di siang bolong." Tatapannya menajam memeberj peringatan.
"Kamu pernah dibantu, diberi tempat, dan dijaga baik oleh anak saya, tapi saya harap kamu jangan salah mengartikan itu semua." Ia berhenti sebentar memberikan senyuman meremahkan.
"Jadi jangan pernah berpikir kamu punya tempat di antara mereka. Bahkan kamu tidak pantas berdiri dibelakang anak saya, jadi jangan bermimpi untuk berdiri disampingnya.
Selin balas menatap dengan wajah merah dan mata merah.
Tante Rita berbalik pergi, tetapi sebelum masuk ia berhenti.
"Sebaiknya kamu mulai tahu posisi kamu sekarang sebelum saya yang menyadarkan dengan cara yang tidak akan kamu sukai" peringat Tante Rita
Ia menoleh ke penjaga yang masih setia berdiri disampingnya.
"Pak, tolong antar tamu ini keluar. Dan jangan izinkan dia masuk lagi tanpa izin saya.”
Setelah mengatakan itu, Tante Rita langsung masuk tanpa menoleh lagi.
Penjaga itu mengangguk dan mendekat kearah Selin.
"Mbak, sebaiknya keluar dari sini."
Selin menghempaskan tangan satpam yang memegang lengannya.
"Nggak usah pegang-pegang. Saya bisa jalan sendiri."
Ia berbalik pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan ketanah.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, ia berhenti sesaat.Tatapannya mengeras.
"Awas aja, gue bakal pastiin Mas Dewangga bertekuk lutut sama gue" Gumam Selin
Sementara di tempat lain,Sore yang awalnya tenang berubah ramai.
Rumput dipenuhi jejak kaki kecil, sandal yang terlempar entah ke mana, dan suara tawa yang sesekali terdengar sampai ke depan rumah.
Cici berdiri di tengah sambil memeluk bola yang hampir sebesar tubuhnya.
Dewangga berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang.
Sementara Zeya dan Linda berdiri berseberangan.
Linda menunjuk mereka dengan penuh percaya diri.
"Oke. Tim kita pasti menang."
Dewangga mengangkat alis meremehkan. "Yakin?'
Linda melirik Cici lalu sengaja mengejek.
'Itu partner Mas tingginya belum nyampe meja."
Cici langsung mendelik kecil. "Pappa! Ayo!”
Dewangga langsung jongkok menyamakan tingginya dengan Cici.
'Kita pasti bisa ngalahin mereka. Princess papa tak terkalahkan?"
Cici langsung mengangkat tangan penuh semangat.
"IYA!"
Permainan dimulai.
Aturannya berantakan.
Gawang dibuat dari sandal.
Penjaga gawang berganti tiap beberapa menit.
Dan Cici mengubah aturan setiap kali timnya hampir kalah.
Awalnya Zeya bermain biasa.
Namun saat Linda mulai terlalu kompetitif, suasana berubah.
"OPER!"
"LINDA JANGAN SERAKAH!"
“ZEYA DEPAN!”
"CI TENDANG!"
Dewangga tertawa melihat Cici mengejar bola dengan langkah kecil yang tidak seimbang.
Begitu bola mengarah ke gawang yang kosong, Cici menendangnya.
Bola bergerak pelan dan langsung masuk tanpa hambatan.
Cici langsung membeku beberapa detik.
Lalu 'GOOO!"
Dewangga langsung mengangkat Cici tinggi.
"PRINCESS CETAK GOL!
Cici tertawa keras sampai pipinya bergoyang dan membuat Dewangga gemas mencium pipinya berkali-kali.
Linda langsung menunjuk tidak terima.
"itu curang!"
Zeya tertawa kecil.
"Kamu tadi juga curang."
Dewangga langsung menimpali,
"Siapa suruh gawang tidak dijaga?"
Linda mendelik lalu semangatnya malah makin terbakar.
Permainan berlanjut.
Mereka beberapa kali duduk istirahat, minum, lalu main lagi.
Langit perlahan berubah jingga lalu menggelap.
Lampu teras yang sudah dinyalakan Zeya .
Tapi entah kenapa tidak ada yang ingin berhenti.
Cici yang sejak tadi paling semangat mulai melambat. Napas kecilnya terdengar lebih berat, tetapi masih memaksa berdiri sambil memeluk bola.
Dewangga jongkok.
"Capek?"
Cici langsung menggeleng. Namun detik berikutnya Ia sudah duduk begitu saja di rumput dengan nafas yang tak teratur.
Semua langsung tertawa.
Zeya berjalan mendekat lalu mengusap rambut putrinya. "Cukup ya."
Cici diam sebentar lalu membuka tangan kecilnya.
“Mama, Papa”
Dewangga dan Zeya saling melirik singkat.
Tanpa bicara Dewangga mengangkat Cici, sementara Zeya membenarkan topi kelincinya yang sudah miring.
Cici menyandarkan kepala di bahu Dewangga sambil menggenggam tangan Zeya dengan mata yang mulai mengantuk.
Linda yang berdiri beberapa langkah dari mereka ikut terdiam.
Ia hanya berdiri sambil menatap pemandangan yang selama ini rasanya mustahil terjadi.
Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat kecil.
Dan entah kenapa melihat tiga orang itu berdiri di bawah lampu teras dengan wajah lelah setelah bermain seharian membuat dadanya ikut terasa hangat.