Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan samar
Keheningan di ruang tengah mansion Alister terasa mencekik. Melodi lembut dari kotak musik itu mendadak terdengar bagaikan dentang lonceng misteri yang bergema di telinga Aisha. Air mata yang menetes di pipi Aisha mencerminkan ribuan ingatan samar yang mendadak berusaha mendobrak dinding ingatannya.
"Dev...?" panggil Aisha sekali lagi, suaranya bergetar hebat.
"Kamu... anak laki-laki itu, kan?"
Devan berdiri kaku. Wajahnya yang sempat pucat kini perlahan kembali mengeras. Kilatan emosi di matanya dengan cepat meredup, tergantikan oleh dinding es yang dingin dan tak tersentuh.
Dengan gerakan perlahan namun tegas, Devan membungkuk, mengambil kotak musik kayu itu dari atas karpet, lalu menutup atapnya hingga melodi indah tersebut terputus seketika.
"Cukup, Aisha," ucap Devan, suaranya datar tanpa intonasi.
"Tapi ukiran nama itu, kotak musik itu!" Aisha melangkah mendekat, mencoba meraih kotak musik di tangan Devan, namun pria itu menjauhkannya.
"Itu kotak musik milikku yang hilang waktu dulu. Aku ingat ukirannya! Kenapa benda itu ada padamu, Devan?!"
Devan menatap Aisha dari ketinggian posisinya. Sorot matanya begitu tajam, seolah sedang menatap seorang wanita gil4 yang sedang berhalusinasi.
"Jangan mengarang cerita hanya karena kamu melihat sebuah barang antik, Aisha," kata Devan sinis.
Pria itu memutar tubuhnya dan memasukkan kembali kotak musik tersebut ke dalam laci meja, lalu menguncinya rapat-rapat.
"Aku tidak mengarang!" pekik Aisha, perasaannya campur aduk antara emosi dan rasa bingung.
"Aku ingat nama itu! 'Dev'! Dan anak laki-laki di ukiran itu, aku tidak pernah lupa pada kotak musik itu!"
Devan berbalik, melangkah mendekati Aisha dengan tatapan yang penuh akan intimidasi. Dia berhenti tepat di depan Aisha, menunduk hingga wajah mereka sejajar.
"Kotak musik itu adalah barang lelang antik yang kubeli dari seorang kolektor tiga tahun lalu," seloroh Devan dengan kebohongan yang begitu rapi dan tanpa ragu.
"Ukiran nama 'Sha & Dev' itu hanyalah kebetulan konyol. Apakah menurutmu di dunia ini hanya kamu yang bernama Aisha, dan hanya aku yang bernama Devan?"
Aisha membeku. Kata-kata Devan bagaikan siraman air es yang menyiram harapannya.
"K-Kebetulan...?"
"Ya, kebetulan," potong Devan cepat.
"Atau kamu terlalu banyak bermimpi tentang dongeng pangeran penolong? Sadarlah, Aisha!"
Aisha menggelengkan kepalanya perlahan. Kepalanya mendadak terasa pening luar biasa.
Ucapan Devan terdengar sangat masuk akal bagi orang awam.
"Apakah dia benar? Apakah ingatanku hanya ilusi yang diciptakan oleh otakku sendiri?" Batin Aisha terus bertanya.
"Tapi, kenapa terasa begitu nyata?" bisik Aisha lirih, menatap mata Devan mencari sedikit saja kejujuran.
Namun, Devan tidak memberi celah sedikit pun.
"Karena kamu sedang tertekan. Efek ditumbalkan oleh keluarga angkatmu membuat psikologis-mu mencari sosok penyelamat dari masa lalu. Tapi sayangnya, aku bukan sosok itu. Aku Devan Alister, pria yang membelimu lima puluh miliar dari Hendra."
Setiap kata yang diucapkan Devan begitu menohok, namun di dalam hatinya yang paling dalam, Devan mengepalkan tangannya di dalam saku jas hingga bukunya memutih.
"Maafkan aku, Aisha. Belum saatnya kamu tahu. Jika kamu ingat semuanya sekarang, kamu tidak akan sanggup menanggung rasa sakitnya."
Devan berdeham pelan, memutuskan kontak mata mereka sebelum benteng pertahanannya runtuh.
"Kembalilah ke kamarmu dan tidur. Besok aku ada rapat penting di kantor, dan aku tidak mau mendengar kamu membahas hal konyol ini lagi."
Tanpa menunggu balasan dari Aisha, Devan membalikkan badan dan melangkah lebar menuju tangga, meninggalkan ruang tengah yang dingin.
Aisha berdiri sendirian di tengah ruangan yang sunyi. Dia menyentuh keningnya yang berdenyut. Kebingungan mencengkeram jiwanya. Di satu sisi, logika dan ucapan tajam Devan meyakinkannya bahwa itu hanyalah kebetulan. Namun di sisi lain, ikatan batin dan rasa hangat yang rasanya tak asing saat Devan memeluknya saat sakit, terus berbisik bahwa Devan sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya.
Aisha menatap laci meja tempat kotak musik itu dikunci.
"Siapa kamu sebenarnya, Devan Alister?" gumamnya pelan dalam hati, bertekad untuk mencari tahu kebenarannya suatu hari nanti.