NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam yang gagal

Di tengah kemewahan restoran mewah La Luna di jantung Las Vegas, Orion berdiri dengan penampilan yang sempurna.

Jas hitamnya yang terbuat dari bahan terbaik menempel sempurna pada tubuhnya, aroma parfum mahal khas dirinya mengelilingi area di sekitar meja yang sudah dipesan jauh-jauh hari.

Jam tangan branded dengan tali kulit yang mengkilap terkilap di bawah lampu kristal yang menjulang tinggi.

Ia sudah mengirimkan pesan dengan jelas kepada Sue—terlampir lokasi restoran, waktu, bahkan petunjuk parkir khusus untuk tamu penting.

Dengan hati yang berdebar lebih cepat dari biasanya, ia terus melihat ke arah pintu masuk restoran setiap beberapa detik.

Tak ada wanita yang pernah membuatnya merasa seperti ini—tak sabar, sedikit gugup, dan penuh harapan.

Sejak pertemuan pertama di klub hingga saat melihatnya bekerja di cafe pantai, Sue telah berhasil memikat hati yang selama ini dianggap tak tergoyahkan.

Namun waktu terus berlalu—satu jam, dua jam, hingga tiga jam telah lewat. Tidak ada satu pun tanda Sue yang muncul.

Restoran mulai sepi, beberapa tamu sudah pulang, dan pelayan hanya bisa memberikan senyum simpati padanya.

"Apa dia tersesat?" Gumam Orion dengan nada ragu, mengambil ponselnya untuk memeriksa pesan yang pernah dikirim. Semua sudah jelas dan lengkap.

Ia mencoba menelpon nomor Sue yang ada di dalam kontaknya. Namun suara mesin balas yang dingin terdengar di ujung sambungan: "Maaf, nomor yang Anda tuju tidak aktif atau tidak dapat dijangkau saat ini..."

"Haaah..." Orion menghela nafas panjang, tubuhnya menyandarkan ke sandaran kursi yang empuk. Rasa kecewa sedikit menyelimuti dirinya, namun tak disertai kemarahan seperti yang biasanya ia rasakan saat ditolak.

"Apa yang aku lakukan selama tiga jam di sini..." Bisiknya sambil tersenyum pelan. Mengejar seorang wanita bukanlah hal yang pernah ia lakukan selama ini.

Selama ini, wanita selalu yang datang menghampirinya—tak pernah ada yang berani menolaknya secara terang-terangan.

Sue adalah satu-satunya, dan hal itu justru membuatnya terkekeh melihat situasi yang sangat berbeda dari kehidupannya yang selalu terkontrol.

Tanpa berlama-lama, Orion membayar tagihan meskipun tidak menyentuh makanan yang sudah disajikan, lalu keluar dari restoran.

Ia mengemudikan mobil mewahnya dengan kecepatan yang terkendali, meskipun hati yang terbakar ingin segera sampai di tujuan.

Perjalanan dari Las Vegas ke kota pantai tempat Sue tinggal memang cukup jauh—jalan raya yang sepi di malam hari hanya ditemani oleh cahaya lampu jalan yang menerangi jalanan.

Namun tak peduli seberapa jauhnya, Orion merasa harus datang dan bertemu langsung dengan Sue.

Ada sesuatu yang memberitahunya bahwa tidak ada yang salah dengan wanita itu—dia pasti punya alasan tersendiri.

Beberapa jam kemudian, mobilnya akhirnya berhenti di depan cafe kayu kecil yang sudah tutup.

Malam yang semakin larut membuat area sekitar tampak sunyi dan misterius—hanya suara deru ombak yang pelan menyapu pasir pantai dan angin malam yang menyapu dedaunan pepohonan yang terdengar.

Orion keluar dari mobil, bersandar pada jok pembalap yang hangat karena perjalanan panjang. Ia menarik sebatang rokok dari kotaknya, menyalakannya dengan korek api emas.

Asap putihnya berterbangan di udara malam, bergoyang mengikuti hembusan angin yang membawa aroma garam dan keheningan pantai.

"Apa aku harus membeli tempat ini..." Gumamnya sambil menatap ke arah cafe yang gelap.

Saat ia menikmati kedamaian malam pantai, sebuah cahaya kepala mobil dari kejauhan mulai mendekat perlahan.

Mobil pick up silver yang sudah terlihat agak tua semakin jelas bentuknya saat menghampiri lokasi cafe.

Sebuah senyum menawan muncul di bibir Orion saat melihat siapa yang berada di dalam mobil—di kursi pengemudi ada Sue dengan penampilan sederhana berupa kaos abu-abu dan celana jeans, sementara di kursi penumpang ada Storm yang sedang menggosok mata lelah.

Sue memarkirkan mobilnya dengan hati-hati di halaman cafe yang sudah kosong.

Brak... Suara pintu mobil ditutup dengan cepat saat Storm langsung turun dan menghampiri Orion dengan langkah tergesa-gesa.

"Bos! Kenapa Anda ada di sini?" Tanya Storm dengan suara sedikit terkejut, meskipun wajahnya menunjukkan rasa senang melihatnya.

"Aku mencari kakakmu. Aku mengajaknya kencan malam ini, tapi dia tidak datang." Ucap Orion dengan nada tenang, matanya tetap terpaku pada Sue yang baru saja keluar dari mobil dengan tatapan yang terlihat santai namun sedikit tegang.

"Masuklah, Storm. Bawa semua bungkus makanan ini ke dalam. Ada banyak yang harus kamu susun untuk besok pagi." Ucap Sue dengan nada tegas, memberikan beberapa kantong plastik berisi makanan ke tangan Storm seolah ingin mengusirnya dari situasi saat ini.

"Aku mendukungmu, kakak ipar!" Bisik Storm dengan suara rendah yang cukup terdengar oleh Orion, membuat pria itu langsung tersenyum tipis.

Storm segera mengambil bungkusan makanan tersebut dan masuk ke dalam cafe dengan langkah cepat, sengaja menyisakan Sue dan Orion sendirian di luar.

"Ini, uangmu." Ucap Sue dengan datar, memberikan amplop putih yang tebal ke arah Orion. Di dalamnya adalah uang lebih yang diberikan Orion saat memesan makanan untuk karyawannya—semua masih utuh tak terpakai.

"Apa aku tidak menarik di matamu?" Tanya Orion dengan langsung, tidak ingin berlama-lama dengan omongan yang tidak penting.

"Ya." Jawab Sue dengan cepat, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan emosi apapun.

Orion terkekeh mendengar jawaban yang begitu jujur dan langsung dari wanita di depannya. Tak ada seorang pun yang pernah berani berkata begitu padanya.

"Hmmm... Baiklah. Tapi kamu harus tahu, aku bukan pria yang mudah menyerah begitu saja." Ucapnya dengan lembut, mengambil amplop dari tangan Sue dan memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.

"Itu bukan urusanku." Jawab Sue dengan nada yang sama dinginnya.

"Waah... Kau benar-benar kejam rupanya. Sudah berapa pria yang kamu buat patah hati dengan sikapmu yang seperti ini?" Tanya Orion dengan nada bercanda, mencoba menghangatkan suasana.

"Tidak ada yang ingin aku bicarakan lagi. Permisi." Ucap Sue tanpa melihatnya lagi, lalu berbalik hendak masuk ke dalam cafe.

Namun sebelum langkah kakinya menyentuh anak tangga, Orion dengan cepat menarik tangan Sue dan memutar tubuhnya hingga mereka berdua menghadap langsung. Tanpa berpikir panjang, ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sue dengan cepat namun penuh perasaan.

BUGH... PLAK...

Sebuah pukulan kuat mengenai rahang kirinya, diikuti dengan tamparan keras yang membuat pipinya menjadi merah. Sue dengan cepat melepaskan diri dari genggamannya, wajahnya penuh kemarahan dan sedikit kebingungan.

"Pergilah dari sini! Sebelum aku benar-benar melaporkanmu ke polisi karena melecehkanku!" Ucap Sue dengan suara yang menggema di malam yang sepi, matanya terbakar kemarahan.

Orion memegangi pipinya yang mulai terasa sakit, namun wajahnya tidak menunjukkan rasa marah—malahan ada senyum puas di bibirnya.

"Dan jangan pernah datang ke sini lagi! Ini adalah peringatan terakhir dariku!" Ucap Sue dengan tegas sebelum berbalik dan masuk ke dalam cafe yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Pintu kayu ditutup dengan keras, meninggalkan Orion sendirian di luar.

"Aaah... Dia punya pukulan yang cukup kuat..." Gumam Orion dengan senyum yang tidak pernah padam. Rasa tertariknya pada Sue malah semakin tumbuh besar setelah kejadian ini.

Ia masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin dengan suara yang halus. Setelah beberapa saat, mobilnya mulai melaju menjauh dari cafe, menghilang di balik jalan raya yang gelap.

Di sisi lain, Sue berdiri di depan jendela kamar tidurnya di lantai dua, mata tak bisa lepas dari pandangan mobil Orion yang semakin jauh. Ia menatap ke arah jalanan yang sudah kosong lagi, tangan kanannya secara tidak sengaja menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat dari ciuman singkat itu.

"Sue, ayo makan! Semua makanan sudah siap!" Panggilan Storm dari bawah membuatnya terkejut.

"Ya... Aku datang." Jawabnya dengan suara pelan, lalu berjalan ke arah pintu kamar di mana Storm sudah berdiri menunggunya.

"Apa yang terjadi? Kalian sudah resmi berpacaran kan?" Tanya Storm dengan rasa penasaran yang besar, matanya penuh dengan harapan.

Sue menatap tajam ke arah adiknya, membuat Storm langsung terdiam.

"Hei... Dia adalah pria kaya dan tampan. Bukankah itu bagus untuk kita?" Ucap Storm dengan nada lembut, mencoba membujuk kakaknya.

"Apa yang bagus? Kau pikir kita bisa hidup normal seperti orang lain dengan situasi yang kita alami sekarang?" Tanya Sue dengan nada yang sedikit menurun, rasa kesedihan mulai muncul di matanya.

"Jangan membuat masalah yang tidak perlu, Storm. Kita tidak pernah tahu kapan musuh kita akan muncul lagi dan mencoba membunuh kita." Ucap Sue dengan serius sebelum berjalan menuju ruang makan di lantai bawah.

Storm berdiri dengan wajah sedih, menatap punggung Sue yang perlahan menjauh.

Ia tahu betul bahwa mereka saat ini sedang bersembunyi dari kelompok orang yang ingin membunuh mereka—alasan mengapa Sue selalu menjaga jarak dengan orang asing, termasuk seorang pria kaya seperti Orion.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!