NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Menjadi Mahram

Ketika Takdir Menjadi Mahram

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:31k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??


Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?

yuk ikuti ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AA 33

Setelah kepergian Arka, Alyana hanya berdiam di kamar menonton tv dan sesekali bermain hp.Tak ada kegiatan khusus sesuai pesan dari sang suami yang tidak memperbolehkannya keluar dari rumah kecuali saat nanti bersama sang bunda.

Menjelang sore,Alyana sedang duduk santai di ruang tengah saat Bunda Fara tiba-tiba manggil dari dapur.

"Nak,jadi ikut Bunda ke masjid komplek, untuk kajian? "

Alyana langsung nengok. "Iya, jadi bun."

"Ok.Kamu memang wajib sekali-sekali temenin Bunda. Biar gak grogi sendirian."

Alyana bengong sebentar. "Emang nya Bunda masih suka grogi?"

"Ya, kadang-kadang," jawab Bunda Fara sambil senyum. "Namanya juga ngomong di depan ibu-ibu komplek. Mulut bisa lancar, tapi kaki tetap dingin." Candanya.

"Bunda bisa aja." Alyana terkekeh mendengarnya.

Waktu akhirnya tiba, Alyana ikut bersama bunda Fara. Ia pakai gamis sederhana warna pastel, kerudungnya dirapikan berkali-kali karena merasa gugup padahal kegiatan seperti ini bukanlah hal pertama baginya.Namun sekarang entah kenapa rasanya terasa berbeda.

Sepanjang jalan ke masjid, Bunda Fara terlihat begitu santai. Sempat-sempatnya juga bercanda, namun justru itu membuat Alyana semakin merasa gugup.

"Nanti kalau Bunda lupa materi, kamu lanjut aja ya."

Alyana langsung panik."Gimana bunda? " Tanya Alyana memastikan tidak salah dengar.

"Iya.Nanti kalau bunda lupa, kamu bisa lanjutkan kan sayang?"

Seketika Alyana mematung, tubuhnya terasa kaku dan dadanya begitu berdebar. "Bunda jangan gitu dong…" Ucap Alyana sambil manyun.

Bunda Fara tersenyum. "Bunda percaya kamu bisa, bunda kenal bagaimana Umma Zura. Pasti beliau sering mengajakmu ke acara seperti ini kan."

Alyana terdiam, memang benar apa yang di katakan mertuanya.Bahkan ia juga pernah beberapa kali mengisi kajian di pondok menggantikan sang Umi.

Masjid komplek sore itu sudah ramai.Ibu-ibu duduk melingkar, ada yang bawa anak kecil, ada yang masih pegang tas belanja. Suasananya tidak kaku sama sekali, malah lebih mirip kumpul sore.

Bunda Fara memulai kajiannya dengan suara tenang.Bunda Fara memilih tema yang ringan ringan.

Satu tema tentang sabar dalam rumah tangga dan pentingnya komunikasi. Cara ngomongnya tidak berat, ia juga memakai contoh sehari-hari membuat yang mendengarkan lebih faham.

"Kadang masalah itu bukan besar," kata Bunda Fara. "Cuma karena nggak ngomong aja."

Beberapa ibu-ibu langsung angguk-angguk.Lalu tiba-tiba Bunda Fara melirik Alyana yang duduk di sampingnya.

"Di sini juga ada menantu Bunda," katanya santai. "Masih baru belajar jadi istri."

Alyana langsung kaget. "Bunda…" bisiknya pelan, malu.Semua mata langsung tertuju pada dirinya.

Ibu-ibu malah tersenyum-senyum, namun ada juga beberapa mata yang menatap kagum Alyana yang begitu cantik

"Coba Nak, menurut kamu apa yang paling susah di awal nikah?" tanya Bunda Fara.

Alyana deg-degan. Tapi semua wajah di depannya terlihat ramah. Tidak ada yang menghakimi.

Ia tarik napas pelan. "Yang paling susah… mungkin nahan gengsi buat mulai cerita duluan," jawabnya jujur. "Kadang maunya dimengerti, tapi nggak mau ngomong."

Beberapa ibu-ibu ketawa kecil setuju.

Bunda Fara tersenyum bangga. "Nah, itu. Jujur sama perasaan sendiri dulu, baru pasangan bisa ngerti."

Kajian sore itu terasa ringan. Tidak banyak istilah berat. Lebih banyak cerita, tanya jawab, dan sesekali candaan.Beberapa kali Bunda Fara memberikan kesempatan Alyana berbicara dan dengan tenangnya Alyana menjawab dan menjelaskannya.

Selesai acara, beberapa ibu-ibu mendekat ke Alyana.

"Masih muda tapi udah pinter ngomong ya."

Alyana cuma senyum malu. "Saya masih belajar kok, Bu."

"Bunda Fara, menantunya cantik sekali. Tak kira tadi ponakan nya, udah siap-siap mau ajak besanan loh sama saya.Anak saya yang besar sudah mapan, sudah siap berumah tangga. Nah lihat Nak Alyana tadi saya langsung tertarik apalagi anak saya. Eh taunya sudah jadi istri orang."

Bunda Fara hanya tersenyum, entah bagaimana jadi nya jika Arka mendengar istrinya ada yang ingin melamar.Yang pasti akan kebakaran jenggot.

Dalam perjalanan pulang, Bunda Fara menepuk tangan Alyana pelan.

"Tuh kan, kamu bisa."

Alyana tersenyum kecil. "Tadi deg-degan banget, Bunda."

"Tapi kamu jujur dan juga tenang. Itu yang bikin orang suka dengernya, dan juga bahasa kamu mudah di mengerti. "

Alyana menatap jalan di depan sambil mikir. Ikut kajian bukan cuma soal duduk dan dengar. Tapi juga belajar bicara,belajar berbagi, dan belajar jadi lebih dewasa pelan-pelan.

Tiba di rumah, pintu rumah baru saja terbuka, Arka sudah berdiri di ruang tengah seperti orang yang dari tadi nunggu.

"Dari tadi aku lihat jam," katanya pura-pura serius. "Kajian atau rapat umum? lama banget bun."

Alyana langsung senyum lebar. "Ih lebay. Tadi seru tahu,kak."

Bunda Fara hanya geleng kepala melihatnya.Setelah itu berjalan masuk dan membiarkan keduanya di luar.

Arka mendekat, mengambil tas kecil dari tangan Alyana. "Capek?"

"Enggak sih…" jawabnya, tapi suaranya sengaja dibuat lembut manja. "Cuma haus sama pengen cerita."

"Yaudah, masuk kamar dulu."

Begitu sampai di kamar, Alyana langsung duduk di kasur sambil buka kerudungnya pelan. Arka duduk di sebelahnya,menghadap ke arahnya.

"Gimana? Jadi ustazah dadakan?" goda Arka.

Alyana langsung mukul pelan lengannya. "Kaka..." Rajuknya "jangan gitu dong. Aku tadi disuruh jawab pertanyaan di depan ibu-ibu."

"Terus?"

"Deg-degan banget," katanya sambil nyengir. "Tapi aku jawab jujur aja. Soal gengsi kalau lagi mau cerita duluan."

Arka senyum tipis. "Oh… jadi selama ini kamu gengsi? "

Alyana langsung merapat, nyender di bahu Arka. "Dikit aja."

"Dikit itu berapa persen?"

"Ih kaka kok jadi kaya interogasi sih." Ia mendengus kecil, lalu tangannya melingkar di lengan Arka. "Aku tadi bangga tahu. Bunda Fara kayak senyum bangga gitu."

"Memang harusnya bangga," jawab Arka pelan. "Kamu berani ngomong di depan banyak orang itu nggak gampang.Apalagi ini pertama kali kamu datang kesini."

Alyana mendongak, matanya berbinar. "Beneran kaka bangga?"

Arka mengangguk.

Alyana langsung senyum puas. "Kalau kaka bangga, aku jadi makin semangat."

Ia lalu menggeser duduknya lebih dekat, hampir menempel. "Tapi tadi aku sempat mikir…"

"Mikir apa lagi?" Tanya nya gemas melihat wajah Alyana yang begitu imut.

"Kalau misalnya aku salah ngomong gimana. Takut bikin malu."

Arka menggeleng pelan. "Selama kamu jujur, nggak ada yang salah."

Alyana diam sebentar, lalu memeluk Arka dari samping. "Aya juga seneng banget tadi pas pulang kaka langsung nyambut gitu."

"Harusnya memang begitu."

"Jangan berubah ya,Aya senang ngerasa di sayang banget" gumamnya pelan.

Arka tersenyum kecil. "Kamu juga jangan berubah. Tetap cerita, tetap manja.Tetap cinta dan sayang sama kaka."

Alyana tertawa kecil. "Manja itu bonus."

"Lumayan mahal bonusnya, ya."

"Ih." Ia kembali memukul pelan lengan Arka, lalu bersandar nyaman di dadanya. "Pokoknya hari ini Aya seneng. Kajian seru, Bunda baik, terus pulang disambut kaka."

Arka menatapnya lembut. "Kalau kamu seneng, hati aku juga jadi terasa lebih hangat."

Alyana memejamkan mata sebentar, menikmati momen itu. Obrolan mereka ringan, tanpa beban. Tidak ada drama, tidak ada salah paham. Hanya dua orang yang sedang belajar saling mengerti dengan tawa kecil dan manja yang tak pernah benar-benar hilang.

...🌻🌻🌻...

1
Puji Hastuti
kok belum up kk
Dea Suci
bagus udah ada ketegasan dari alyana. semoga nanti bisa menundukkan Arkan.
Nurgusnawati Nunung
Salah besar orang yang menyerang mereka. tidak tahu yaa, keluarga apa yang mereka permainkan.
Nurgusnawati Nunung
Ada yang lagi gatal gatal ni.. jangan takut Alya tunjukkan kamu lebih berharga
Nurgusnawati Nunung
Dan. yang ditakutkan Alya tidak terjadi.
Nurgusnawati Nunung
Bahagia sekali dikelilingi orang orang yang selalu mendukung.
Danny Muliawati
lg seru2 thor ayo semangat
Puji Hastuti
alah ulet bulu datang
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
kasih konflik kecil aja thorrr, jangan yg berat². kenapa ortu si arka sama ortu alyana tak kirim org utk memantau ke duanya
partini
betul itu,anda bisa bicara kaya gitu yg Ono mana mau tau sekarang aja caranya aja kaya gitu ga peduli udah punya istri siap" kamu di gempur habis"an sama masa lalu dari segala arah ga ada masa lalu yg legowo adanya bikin huru hara tinggal kamunya aja be smart or stupid
Puji Hastuti
Ok kk cuz mampir cerita baru
Erda Erda
boleh tayak ini kisah org tua ya ada gk .ya ..
Erda Erda: 😍😍😍 saya mapir ..
total 2 replies
Danny Muliawati
SEMANGAT YAH
Puji Hastuti
semangat alya
Puji Hastuti
senangnya 😍
Puji Hastuti
un boxing,un boxing
Puji Hastuti
yuhuuu
Puji Hastuti
mksh kk udah up lagi
Puji Hastuti
lanjut kk
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
knapa lama gak up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!