Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: FIA Gala - Undangan Neraka
"Kau akan ikut denganku malam ini."
Renard mengatakannya saat sarapan, seolah sedang memberi tahu cuaca.
Momo menurunkan sendok. Tubuhnya sudah pulih, tetapi tulang rusuknya masih kadang nyeri saat ia bergerak terlalu cepat. "Ke mana?"
"FIA Gala."
Albert yang berdiri di dekat pintu tidak bereaksi, tetapi Momo melihat bahunya sedikit menegang.
"Apa itu?"
"Acara tahunan elite bisnis Indonesia."
"Lalu kenapa aku harus ikut?"
Renard menatapnya dari seberang meja. "Karena kau perisaiku."
Momo hampir tertawa. "Aku bukan aksesorismu, sekarang naik jabatan jadi perisai?"
"Bukan aksesoris."
"Aku juga bukan alat perang."
"Malam ini, semua orang di sana akan membawa senjata masing-masing. Senyum, saham, rahasia, nama keluarga." Renard meletakkan cangkirnya. "Kau berdiri di sisiku, mereka akan melihat apa yang ingin kulihatkan."
"Bahwa kamu punya tawanan baru?"
"Bahwa aku punya sesuatu yang tidak boleh mereka sentuh."
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah padat.
Momo membenci cara tubuhnya bereaksi. Kata sentuh dari mulut Renard selalu seperti tangan tak terlihat di kulitnya. Ia mengalihkan pandangan ke piring.
"Aku tidak mau."
"Kau tetap ikut."
"Tentu. Karena pilihanku selalu penting di rumahmu."
Renard tidak membalas. Namun rahangnya mengencang. Untuk pertama kalinya, Momo melihat bukan hanya kontrol di wajahnya, tetapi ketegangan.
Renard takut sesuatu di gala itu.
Persiapan dimulai sore hari.
Pelayan membawa gaun hitam panjang yang jatuh lembut di tubuh Momo. Tidak terbuka berlebihan, tetapi setiap garisnya dibuat untuk mengikuti bentuk tubuh tanpa meminta maaf. Rambutnya digelung rendah. Makeup tipis membuat matanya tampak lebih besar, bibirnya lebih merah, tulang pipinya lebih jelas.
Ketika Momo berdiri di depan cermin, ia tidak langsung mengenali diri sendiri.
Gadis Pecinan Semarang yang biasa memakai kaus pudar dan sandal murah kini terlihat seperti socialite Jakarta yang tahu cara tersenyum kepada kamera.
Momo menyentuh lehernya sendiri. "Ini bukan aku."
Renard muncul di belakangnya.
Ia memakai setelan hitam, lebih formal dari biasanya. Di jarinya, Cincin Ular. Matanya menatap pantulan Momo di cermin, bukan tubuhnya secara terang-terangan, tetapi cukup lama untuk membuat kulit Momo sadar pada gaun itu.
"Itu tetap kau."
"Kau tidak tahu aku seperti apa."
"Aku tahu lebih banyak dari yang kau suka."
"Itu bukan hal romantis, Renard. Itu mengerikan."
"Aku tidak bilang romantis."
Momo berbalik. Jarak mereka terlalu dekat. Aroma hujan dan kayu mahal yang mulai ia kenali menyentuh napasnya. Renard mengangkat tangan. Momo langsung menegang, tetapi ia hanya merapikan satu helai rambut yang jatuh di dekat telinganya.
Sentuhannya singkat.
Terlalu singkat.
Justru karena itu, bekasnya tertinggal lebih lama.
"Malam ini," katanya rendah, "apa pun yang terjadi, jangan tinggalkan sisiku."
"Ancaman?"
"Permintaan."
Momo menatapnya.
Renard jarang meminta.
Di helikopter menuju Jakarta, kota muncul sebagai hamparan lampu di bawah. SCBD berkilau seperti dunia lain. Momo duduk di samping Renard, tangan mencengkeram sisi kursi. Bukan karena takut terbang. Karena semakin dekat ke gala, Renard semakin diam.
Albert duduk di depan, berbicara pelan dengan seseorang lewat earpiece. Nama Darren disebut sekali. Sen tidak disebut, tetapi bayangannya ada di setiap jeda.
"Siapa yang akan ada di sana?" tanya Momo.
"Orang-orang yang ingin tersenyum padaku sambil menghitung cara menggigit."
"Dan aku perisaimu dari mereka?"
Renard menoleh. Cahaya kota memantul di matanya. "Bukan dari mereka."
"Lalu dari siapa?"
Ia tidak menjawab.
Helikopter mendarat di atap hotel. Dari sana, mereka turun lewat lift privat menuju ballroom. Suara musik, gelas, dan tawa mahal makin jelas.
Sebelum pintu lift terbuka, Renard meraih tangan Momo.
Bukan mencengkeram. Menggenggam.
Momo menatap tangan itu. Ia bisa menarik diri. Ia tahu bisa. Namun kali ini ia tidak langsung melakukannya.
Pintu lift terbuka.
Ballroom Hotel Mulia bersinar seperti laut emas. Ratusan tamu menoleh. Kamera berkedip. Bisik-bisik bergerak seperti api kecil.
Momo melangkah di sisi Renard.
Lalu ia melihat wajah yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Gunawan Salim.
Di perjalanan menuju ballroom, Momo melihat bayangannya di dinding lift.
Gaun hitam itu terlalu indah untuk seseorang yang ingin tidak terlihat. Kainnya jatuh dari bahu dengan garis bersih, memeluk pinggang, lalu bergerak ringan saat ia berjalan. Renard tidak memilih pakaian yang membuatnya tampak seperti boneka lemah. Ia memilih sesuatu yang membuat Momo tampak mahal, tajam, dan tidak bisa disentuh tanpa membayar harga.
Itu membuatnya lebih marah.
"Aku bukan perhiasanmu," katanya.
Renard berdiri di sampingnya, jas hitam tanpa cela, Cincin Ular berkilat di tangan. "Malam ini kau perisaiku."
"Perisai biasanya dipakai di depan."
"Kau akan di sisiku."
"Agar semua orang melihat?"
"Agar semua orang tahu."
"Tahu apa?"
Lift berhenti, tetapi Renard tidak langsung keluar. Ia menoleh, jarak mereka dipotong oleh dinding sempit dan pantulan kaca. Aroma cologne-nya bersih, gelap, terlalu mudah diingat.
"Bahwa siapa pun yang menyentuhmu akan menyentuhku lebih dulu."
Momo menatapnya, tenggorokan kering. Kalimat itu seharusnya membuatnya muak. Seharusnya. Tetapi di dalam lift sempit, dengan gaun yang membuat kulit bahunya terbuka dan mata Renard turun hanya sedetik ke sana sebelum kembali ke wajahnya, tubuh Momo merasakan sesuatu yang berbahaya.
Dilindungi.
Diklaim.
Terperangkap.
Tiga rasa itu bercampur sampai ia tidak tahu mana yang harus dibenci lebih dulu.
Pintu lift terbuka.
Suara ballroom masuk seperti ombak: musik, tawa, gelas, bahasa bisnis yang dibungkus senyum. Renard menawarkan lengannya. Bukan permintaan. Bukan perintah yang diucapkan. Hanya tangan yang menunggu, yakin Momo akan mengerti permainan malam itu.
Momo menyentuh lengan itu.
Otot Renard mengeras sangat halus di bawah jas.
Ia merasakannya.
Dan karena ia merasakannya, ia tahu Renard juga merasakan jari Momo.
Mereka memasuki ballroom seperti pasangan.
Kebohongan itu langsung mendapat ratusan mata.
Lalu Momo melihat Gunawan di sisi ruangan, memegang gelas sampanye, tersenyum seolah tidak pernah menjual darah dagingnya kepada pria yang kini berdiri di sampingnya.
Ayah yang menjualnya.