NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~27 Antara keyakinan dan cinta

Kereta kuda itu terus melaju membelah jalanan berbatu yang panjang, meninggalkan wilayah Kerajaan Candra semakin jauh di belakang. Di dalam gerbong yang dilapisi beludru itu, suasana hening namun berat. Hanya terdengar suara denting roda yang beradu dengan jalan dan derap langkah kaki kuda yang berirama.

Raja Gustaf duduk bersandar di kursi kayu ukirnya, matanya menatap lurus ke arah jendela kecil di sisi kereta. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini dipenuhi kerutan halus di keningnya. Surat dari Imam Besar itu masih terasa membara di dalam saku jubahnya. Kata-kata “mengaburkan pedoman”, “menjadi contoh keliru bagi rakyat”, dan “melanggar batas” terus berputar di kepalanya.

Di sampingnya, Layla duduk diam, tangannya saling bertaut di pangkuan. Ia menatap Raja Gustaf dengan rasa bersalah yang mendalam. Ia sadar, tindakan sederhana yang dianggapnya sebagai wujud kasih sayang dan penghormatan budaya, ternyata menjadi masalah besar di mata rakyat suaminya.

"Baginda..." Layla akhirnya membuka suara pelan, memecah keheningan. Suaranya lembut namun penuh penyesalan. "Maafkan hamba. Seandainya hamba tidak meminta Baginda ikut ke kuil, atau seandainya hamba pergi sendiri saja... Baginda tidak akan mendapat tuduhan dan teguran seperti ini. Hamba merasa... hamba menjadi sumber masalah bagi Baginda dan bagi rakyat Jaya Wijaya."

Gustaf perlahan menoleh. Ia melihat mata Layla yang kembali berkaca-kaca, bibirnya sedikit gemetar menahan sedih. Hati Gustaf terasa nyeri melihat Layla menyalahkan dirinya sendiri. Ia mengulurkan tangan besarnya, menggenggam kedua tangan Layla yang dingin dan gemetar itu.

"Layla, pandanglah aku," ucap Gustaf tegas namun lembut. "Dengar baik-baik apa yang akan kukatakan ini. Apa yang terjadi bukanlah salahmu. Dan apa yang kulakukan di sana... aku tidak menyesalinya sedikit pun."

Gustaf menjeda sejenak, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya.

"Ajaran agamaku mengajarkanku bahwa Tuhan itu Maha Esa, tidak tersekutukan oleh apa pun, dan Dia adalah Tuhan bagi seluruh alam semesta. Aku tidak masuk ke ruang pemujaan, aku tidak bersujud pada arca, dan aku tetap memegang teguh keyakinanku sepenuhnya. Tapi agama yang sama itu juga mengajarkanku untuk berbuat baik, menghormati tetangga, menyayangi istri, dan tidak merusak hubungan dengan sesama manusia."

Ia menatap tajam ke arah jendela lagi, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri sekaligus pada Layla.

"Bagiku, berdiri di beranda kuil itu sambil berdoa dalam hatiku sendiri... itu bukanlah dosa. Itu adalah bentuk ketakwaanku yang lain: menundukkan egoku demi menghargaimu, demi menghormati orang tuamu, dan demi menjaga damai yang baru saja kita bangun. Jika para Imam dan penasihatku menganggap itu salah... maka aku harus menjelaskan kepada mereka. Karena menjadi Raja bukan hanya soal memimpin ibadah, tapi juga memimpin kebijaksanaan dan kasih sayang."

Layla terharu mendengar penjelasan itu. Air matanya jatuh membasahi tangan mereka yang saling menggenggam. Gustaf... suaminya itu, ternyata memiliki pemahaman yang jauh lebih luas dan dalam daripada yang dibayangkan siapa pun. Ia tidak membedakan cinta dan keyakinan, melainkan menyatukannya dalam kebijaksanaan seorang pemimpin.

"Baginda begitu mulia..." bisik Layla. "Hamba berjanji, apa pun yang terjadi nanti di hadapan para tetua agama... hamba akan ada di sisi Baginda. Jika Baginda disalahkan karena hamba, maka hamba juga akan menerima segala hukuman itu bersama Baginda."

Gustaf tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Terima kasih. Tapi biarlah aku yang berbicara. Kau cukup berdiri di belakangku, dan biarkan mereka melihat... bahwa wanita yang kubawa dari Candra, adalah wanita yang membawa kebaikan, bukan kerusakan."

 __

Kembali ke Jaya Wijaya.

Matahari sudah mulai condong ke ufuk barat, mewarnai langit dengan semburat merah keemasan, saat rombongan kerajaan akhirnya melewati gerbang besar Jaya Wijaya. Biasanya, kedatangan Raja dan Ratu akan disambut dengan gembira, suara gendang, dan sorak-sorai rakyat. Namun sore itu, suasana kota terasa berbeda.

Jalanan utama tampak sepi. Warga yang kebetulan berada di luar hanya menunduk hormat saat kereta lewat, namun tatapan mereka penuh tanya, bisik-bisik terdengar samar di telinga. Berita tentang peristiwa di kuil Candra ternyata sudah sampai lebih dulu, dan rumor-rumor buruk mulai bermunculan: "Raja mulai berubah", "Raja mulai meninggalkan ajaran leluhur demi istrinya", "Damai ini membawa bencana bagi iman kita".

Di balik jendela kereta, Gustaf melihat semua itu. Ia mengertakkan rahangnya, bukan karena marah pada rakyatnya, tapi karena sedih. Ia tahu, ketakutan mereka murni karena rasa cinta mereka pada agama dan keyakinan mereka.

Kereta berhenti tepat di halaman depan Istana Utama. Di sana, sudah menunggu rombongan besar. Di barisan paling depan berdiri Imam Besar Syamsuddin, pria tua berwajah teduh namun tatapannya tajam menusuk, berjubah putih bersih dengan sorban melilit kepalanya. Di sebelahnya ada para penasihat agama dan tetua kerajaan.

Sedikit di belakang mereka, tersenyum tipis penuh kemenangan, berdiri Ratu Ibu Yasmin. Wanita itu sudah lama diam, menunggu celah kesalahan apa pun dari menantunya dan pengaruh Layla. Dan kini, celah itu terbuka lebar.

Gustaf turun dari kereta dengan tegap, membantu Layla turun dengan sopan dan hormat. Ia membiarkan tangan Layla tetap bertumpu di lengannya, berjalan mendekati rombongan penyambut itu dengan kepala terangkat tinggi namun sikap yang rendah hati.

"Selamat kembali, Baginda Raja," ucap Imam Syamsuddin. Suaranya berat dan bergema, namun sama sekali tidak ada nada gembira di dalamnya. "Kami bersyukur Baginda selamat sampai kembali. Namun, kami berharap Baginda mengerti... mengapa kami memanggil Baginda pulang dengan tergesa-gesa."

Gustaf mengangguk hormat. "Aku mengerti, Imam Besar. Aku mendengar kabar itu sampai ke sini. Dan aku datang... siap untuk menjelaskan segala sesuatunya."

Layla menunduk dalam, merasa ribuan mata tertuju padanya dengan pandangan tidak suka. Tapi Gustaf menegangkan lengannya, memberi isyarat agar Layla tetap tenang dan berani.

"Cinta dan penghormatan bukanlah hal yang bisa memadamkan iman. Justru iman yang kuatlah yang mengajarkan kita untuk mencintai dan menghormati makhluk Tuhan lainnya."

Imam Syamsuddin mengangkat tangan, memotong pembicaraan sebelum memanas.

"Cukup. Matahari sudah hampir tenggelam. Segeralah mandi dan bersihkan diri, Baginda. Setelah shalat Isya nanti, berkumpullah di Balai Agama. Di sana, di hadapan kitab suci dan para tetua, engkau harus menjelaskan posisimu. Apakah Raja Jaya Wijaya masih memegang teguh ajaran yang satu, atau mulai bercampur dengan jalan lain?"

Imam itu kemudian menatap tajam ke arah Layla yang berdiri di samping Gustaf.

"Dan Ratu Layla... kami mohon izin, malam ini engkau tidak perlu hadir. Ini adalah urusan pemimpin kami dengan kepercayaannya. Biarlah Raja kami yang berbicara sendiri."

Layla merasa seolah ditampar. Ia tahu, ia dilarang hadir karena mereka menganggap dirinyalah sumber masalah ini. Namun, sebelum Layla sempat menjawab, Gustaf sudah angkat bicara.

"Imam Besar," suara Gustaf sedikit meninggi, tegas dan berwibawa. "Layla adalah Ratu Jaya Wijaya. Apa yang terjadi padaku, apa yang kulakukan, dan apa yang menjadi bagian dari hidupku... semuanya juga adalah bagian dari dirinya. Jika engkau memintaku menjelaskan tindakanku, maka dia berhak mendengarnya. Karena dia adalah alasannya."

Hening seketika menyelimuti halaman istana. Tidak ada yang berani membantah perintah Raja, tapi ketegangan di udara semakin tebal seolah bisa dipotong.

"Baiklah..." jawab Imam Syamsuddin pelan. "Terserah Baginda. Kami tunggu kalian berdua nanti malam."

Rombongan itu pun berlalu pergi. Ratu Yasmin sempat melirik sinis ke arah Layla sambil berbisik pelan saat melewati mereka.

"Selamat bersenang-senang di pengadilan malam ini, Putri Candra. Kau pikir dengan cantik dan manis saja kau bisa menguasai segalanya? Lihat nanti... apakah Gustaf masih akan membela kau, saat iman dan tahtanya dipertaruhkan." gumam Ratu Yasmin.

__

Malam di Balai Agama.

Malam itu, langit Jaya Wijaya bersih dan penuh bintang, namun suasana di dalam Balai Agama terasa pengap dan tegang. Ruangan itu beraroma dupa dan kayu cendana, dindingnya dihiasi ayat-ayat suci dan ukiran kaligrafi indah. Di tengah ruangan, di atas tikar anyaman yang bersih, duduklah Imam Besar Syamsuddin diapit oleh dua belas orang tetua agama.

Di hadapan mereka, duduklah Raja Gustaf dan Ratu Layla.

Layla mengenakan pakaian sederhana berwarna putih bersih, kepalanya tertutup selendang sopan, duduk dengan sikap menunduk penuh hormat namun tidak gemetar. Di sebelahnya, Gustaf duduk tegak, wajahnya tenang namun serius.

"Baginda Raja," Imam Syamsuddin membuka pembicaraan dengan suara lantang. "Kami memanggil engkau ke sini bukan untuk menghakimi, tapi untuk memperjelas batas. Kabar yang kami terima mengatakan bahwa engkau mendampingi Ratu Layla hingga ke pintu kuil pemujaan leluhur Candra, bahkan berdiri lama di sana seolah ikut serta dalam ibadah mereka. Benarkah hal itu?"

"Benar," jawab Gustaf singkat dan tegas. Tidak ada keraguan sedikit pun di suaranya.

Suasana riuh rendah seketika. Para tetua saling pandang, wajah mereka tampak kecewa dan kaget.

"Baginda!" seru salah satu tetua. "Itu bertentangan dengan ajaran kita! Kita diajarkan untuk menjaga jarak dari tempat-tempat pemujaan selain kepada Tuhan Yang Maha Esa! Bagaimana rakyat bisa meneladani pemimpin yang malah mendatangi tempat seperti itu?"

Gustaf mengangkat tangan, memberi isyarat agar tenang. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan jernih.

"Dengarkan penjelasanku, para tetua dan Imam Besar. Aku pergi ke sana bukan untuk beribadah. Aku tidak masuk ke ruang suci mereka, aku tidak bersujud pada arca mereka, dan aku tidak mengucapkan doa menurut cara mereka. Aku berdiri di beranda luar saja, membelakangi patung-patung mereka, dan menghadap ke arah yang sama dengan arah doaku selama ini."

Gustaf menjeda, lalu menatap tajam. "Aku ke sana sebagai suami, bukan sebagai pemimpin agama. Istriku, Ratu Layla, hendak bersyukur atas kabar gembira di keluarganya. Bagi budaya dan keyakinannya, kuil itu adalah tempat paling suci. Apakah salah jika aku ada di sana untuk mendampinginya? Apakah salah jika aku menghormati cara dia bersyukur kepada Tuhannya? Bukankah Tuhan kita satu? Dia Tuhanku, dan Dia juga Tuhannya, hanya saja jalan yang ditempuh berbeda."

"Namun tindakan Baginda dianggap membenarkan cara mereka!" potong Imam Syamsuddin. "Rakyat akan berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu benar di mata kita. Bahwa perbedaan itu tidak ada artinya lagi."

"Justru itulah yang aku inginkan agar mereka paham!" jawab Gustaf lantang. "Bahwa perbedaan itu ada, dan harus dihormati. Aku tidak mengubah imanku sedikit pun. Tapi aku mengajarkan rakyatku satu hal yang paling penting: bahwa orang yang berbeda cara ibadahnya pun bisa menjadi orang baik, bisa dicintai, dan bisa dihormati. Damai yang kita bangun dengan Candra ini bukan hanya damai politik, tapi damai hati. Dan damai hati itu tidak akan pernah tercapai jika kita masih memandang rendah cara orang lain menghormati Tuhannya."

Gustaf menoleh ke arah Layla, lalu kembali menatap para tetua.

"Lihatlah Ratu Layla. Wanita ini datang ke sini, meninggalkan negerinya, hidup di tengah-tengah kalian yang berbeda segalanya. Apakah dia pernah memaksa kalian mengikuti caranya? Tidak. Dia menghormati masjid-masjid kita, dia menghormati aturan kita, dia menghormati cara kita beribadah. Lalu... kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Kenapa kehadiranku sebentar saja di beranda kuil itu dianggap dosa besar, padahal itu hanya bentuk penghormatan balik atas rasa hormat yang dia berikan kepada kita semua?"

Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Kata-kata Gustaf begitu dalam, begitu logis, dan begitu menyentuh hati. Para tetua saling pandang, mulai merenung. Wajah Imam Besar yang tadinya keras, kini mulai melunak. Ia melihat ketulusan di mata rajanya. Ia melihat bahwa Gustaf tidak tergoyahkan imannya, justru imannya begitu kuat hingga mampu mencakup rasa kasih sayang yang luas kepada sesama makhluk.

Layla mengangkat wajahnya perlahan, menatap Imam Besar dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketulusan.

"Yang Mulia Imam... jika kehadiran hamba di negeri ini menjadi penyebab keraguan atau perdebatan... hamba rela melakukan apa saja. Hamba rela pergi, hamba rela mengasingkan diri, asalkan Jaya Wijaya tetap teguh pada ajarannya. Tapi hamba bersaksi... Baginda Gustaf tidak pernah mengubah keyakinannya sedikit pun. Beliau hanya... begitu mulia hatinya hingga mampu melihat kebaikan di mana saja."

Imam Syamsuddin menghela napas panjang, lalu perlahan tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri, berjalan mendekati Gustaf, lalu meletakkan tangan di dada kiri Raja itu.

"Ampuni kami, Baginda... Kami terlalu sibuk menjaga batas, hingga lupa menjaga inti ajaran: kasih sayang dan kebijaksanaan. Engkau benar. Tuhan Yang Maha Esa itu Maha Luas rahmat-Nya, dan Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang saling menghormati."

Imam itu menoleh ke arah para tetua. "Raja kita tidak bersalah. Tindakannya itu bukanlah penyimpangan, melainkan puncak dari ketakwaan: mampu teguh pada jalannya sendiri, namun tetap menghargai orang lain yang berjalan di jalannya masing-masing. Raja Gustaf telah mengajarkan kita satu hal malam ini... bahwa persatuan itu bukan berarti menjadi sama persis, tapi berjalan berdampingan meski berbeda."

Di sudut ruangan, Ratu Yasmin yang mengintip dari balik tirai, memukul dinding dengan kesal. Rencananya gagal total. Bahkan justru Gustaf semakin terlihat agung dan bijaksana di mata para tetua.

Gustaf menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Layla dan tersenyum bangga. Malam itu, ia tidak hanya membela dirinya sendiri. Ia telah membela hak istrinya untuk dihormati, dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah kekuatan, bukan kelemahan.

"Terima kasih, Imam Besar," ucap Gustaf tulus. "Maka izinkanlah hamba mengajarkan hal ini pada seluruh rakyat kita. Bahwa damai sejati lahir saat kita bisa saling menerima perbedaan, sama seperti aku menerima Layla, dan Layla menerima Jaya Wijaya dengan sepenuh hatinya."

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!