Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Alma masih diam termangu di dalam lemari, tubuhnya masih gemetar hebat seolah baru saja diterpa badai besar. Apa yang baru saja didengarnya tadi, terus berputar menghantui kepalanya.
"Dua anak...berarti selama ini...? Apakah...apakah aku bukan yang pertama?" Alma menggeleng keras, lalu tertawa miris, menertawai kebodohannya di tengah derai airmatanya.
"Ternyata selama tiga tahun ini, kamu benar-benar seorang aktor yang hebat. Aktingmu sungguh luar biasa, sampai-sampai aku nggak bisa membedakan mana yang tulus dan hanya modal dusta. Kamu terlalu pintar atau aku yang sangat bodoh, sehingga dengan mudah bisa kamu bohongi."
"Aaarghhh...!!!" jeritnya berusaha melepaskan rasa sesak di dadanya.
Dipukuli kepalanya sendiri, menyesali apa yang telah terjadi. Ia teringat bagaimana dulu saat mereka menikah, tak ada yang aneh, semua berjalan sebagaimana mestinya. Atau mungkin karena dirinya yang terlalu bucin sehingga tak bisa melihatnya?
"Bodoh...bodoh kamu, Alma! Sebegitu buta hatimu sampai tak menyadari perbedaan itu."
Alma menyeka kasar sisa air mata di pipinya. Rasa sakit itu masih ada, menusuk di setiap sudut dada. Namun, perlahan rasa itu kini bercampur dengan rasa dendam yang membara.
"Oke, aku nggak boleh lemah. Aku akan mengikuti permainannya. Jika dia bisa mempermainkanku, maka aku pun bisa berbuat yang lebih kejam padamu! Mari kita lihat, aku atau kamu yang bakalan hancur!"
Ia mengepal tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak ada lagi tangisan sia-sia. Fakta bahwa Nova sudah memiliki dua anak, bahwa pria itu hidup bahagia dengan keluarga keduanya sambil terus menipunya, adalah bukti bahwa pengkhianatan ini sudah berlangsung lama dan direncanakan dengan sangat rapi. Dia pun bersiap mencari kebenaran meskipun itu pahit.
Alma kemudian keluar dari dalam lemari tubuhnya masih terasa lemas. Ia membuka ponselnya dengan jemari sedikit gemetar, lalu menekan nomor Danish. Panggilan tersambung cepat.
"Aku ingin kita bertemu, cepat nggak pake lama!" ucapnya singkat dan tegas, lantas memutuskan sambungan teleponnya, membuat Danish yang berada di dalam kamarnya langsung panik.
"Haisttt... Itu anak kebiasaan kalau lagi galau suka sembarangan ngajak ketemuan," gerutunya sedikit khawatir, lalu menyambar kontak mobilnya.
Danish menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, sehingga menarik perhatian Mami Mia yang saat itu sedang bersantai dengan Papi Baim di ruang keluarga sambil menonton tayangan berita di tivi.
"Loh, Mas. Mau ke mana?" tanya wanita paruh baya itu sembari menoleh ke arah putra keempatnya.
"Mau ketemu teman, Mi. Ada sedikit urusan penting. Sudah ya, Mas berangkat." Danish lalu menyalami kedua orangtuanya.
Namun, Mami Mia masih menahannya. "Malam-malam begini?" tanyanya sambil menatap Danish dengan pandangan menyelidik.
"Baru jam delapan, Mi. Belum tengah malam juga. Lagian ini sangat urgent" Danish mencoba membela diri.
"Temannya Mas, cewek apa cowok?" tanya istri Papi Baim lagi, menatap Danish dengan begitu intens.
Pemuda itu menghela napas panjang, berusaha sabar menghadapi ingin tahu wanita yang melahirkannya itu.
"Cewek, Mi. Dia sedang ada masalah dengan suaminya. Dan butuh teman untuk bicara," jelasnya pelan.
"Loh, kok, curhatnya malah sama teman cowok? Memangnya dia nggak punya teman cewek, apa? Bagaimana kalau nanti Mas, dituduh sebagai pebinor?" kata Mami Mia sedikit keberatan.
"Astaga, Mami!" seru Danish. "Ini Alma, Mi. Dia lagi ada masalah sama suaminya yang ternyata selama ini membohonginya."
"Hahhh... Alma? Alma yang waktu kecil suka nempelin Mas, itu?" Netra Mami Mia tampak berbinar.
"Haaa... Kalau dia sih, Mami dukung Mas, kalau mau jadi pebinor."
"Astaghfirullah, Mami ini ngaco, ya! Udah ah, Mas mau berangkat." Danish pun melenggang pergi. Namun, dia masih bisa mendengar ucapan maminya.
"Mami setuju loh, kalau memang Mas sama Alma berjodoh!"
.
Danish melajukan mobilnya membelah jalanan yang malam itu tampak ramai lancar, menuju ke taman kota yang biasa dirinya dan Alma kunjungi saat mereka sedang dirundung masalah. Begitu sampai di tempat yang dituju, dia langsung menghentikan mobilnya. Lalu keluar dengan cepat kala melihat Alma berdiri di sisi jembatan.
"Please, Al! Jangan lakukan hal bodoh ini. Ingat, ini adalah hal yang paling dibenci oleh Tuhan," ucapnya panik sambil memeluk erat tubuh Alma dari belakang.
Seketika tubuh Alma menegang, netranya membelalak. "A-apa maksudmu?"
"Aku tahu masalah yang kamu hadapi ini sangat berat, tapi kumohon, jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama kita. Kumohon, jangan sia-siakan hidupmu hanya demi pecundang itu," ujar Danish masih dengan pemikirannya sendiri.
"Iihhh, apa sih, yang ada di pikiranmu? Aku masih waras tahu, nggak!" semprot Alma dengan kesal, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan pemuda tersebut.
Danish tersentak lalu melepaskan pelukannya. "Alhamdulillah," ujarnya sambil tersenyum lega.
Sementara Alma masih manyun dan membuat moodnya makin ambyar.
"Ayo... ikut aku!" Danish menggandeng tangan Alma membawanya pergi dari tempat itu.
"Mau ke mana?" tanyanya malas.
Danish tidak menjawab, kemudian langkahnya terhenti di sebuah warung makan tenda lesehan di pinggir jalan. Kemudian dia memesan makanan favorit mereka.
"Ayo, duduk! Aku tahu kamu pasti belum makan. Setelah perut kenyang, baru ceritakan apa yang terjadi, oke!"
Alma akhirnya hanya bisa pasrah, kebetulan juga dirinya sangat lapar. Begitu pesanan datang, ia pun makan dengan lahap seolah tak makan beberapa hari bahkan sampai nambah nasi. Selama ini ia selalu menjaga pola makannya agar bentuk tubuhnya tetap ideal. Namun, malam itu ia seolah sudah tak peduli lagi yang penting perutnya kenyang.
Danish mengusap kepala Alma yang tertutup hijab sambil tersenyum tipis. Ada kelegaan dari tatapan matanya.
"Sekarang ada apa lagi? Coba ceritakan padaku, untuk apa kamu mengajakku bertemu malam-malam begini." pintanya setelah makanan mereka ludes.
Alma menarik napas panjang, menatap Danish dengan nanar. "Ternyata, anak mereka tak hanya satu. Aku mendengar dengan jelas seorang anak perempuan memanggilnya papa. Memintanya untuk cepat pulang dan dibawakan es krim."
"Lalu...?"
"Aku jadi berpikir, apakah selama ini aku bukan lah yang pertama?" Alma meraih tangan Danish lalu menggenggamnya dengan erat.
"Maksudmu... kamu justru istri kedua Nova?" tanya Danish sedikit terkejut.
Alma mengangguk cepat. "Tolong, lakukan penyelidikan lebih cepat, agar aku bisa terbebas dari hubungan tak sehat ini!"