Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sepuluh ribu tahun kemudian adalah waktu yang cukup untuk mengubah samudra menjadi gurun, membakar ingatan menjadi mitos, dan melebur sihir menjadi baris-baris kode biner yang dingin.
Dunia Archeon tidak lagi menyerupai bumi lama yang pernah dijejaki dengan sepatu bot kulit dan zirah besi. Benua Celestia yang dulunya jatuh menyatu dengan bumi kini telah bertransformasi menjadi Aether-MegapolisPrime—sebuah struktur kota vertikal berlantai seribu yang diselimuti oleh kubah kaca anti-radiasi setebal tiga meter. Langit di atas kota tidak lagi berwarna biru atau kelabu, melainkan sebuah kanvas hologram raksasa yang memproyeksikan rute penerbangan kereta magnetik dan iklan-iklan neon bertenaga plasma.
Sihir Celestial Void yang dulunya digunakan Kael Ravenhart untuk menyelamatkan dunia tidak lagi dipelajari melalui meditasi atau ritual katedral. Energi itu telah dikompresi, dimurnikan, dan dialirkan melalui kabel serat optik bawah tanah sebagai Mana-Net. Setiap warga negara yang lahir di era ini memiliki implan sibernetik di tengkuk mereka yang disebut Sigil-Changer v9.4—sebuah alat yang mengubah sisa-sisa energi kehampaan di atmosfer menjadi daya listrik untuk mengisi ulang baterai kendaraan dan gawai mereka.
Matahari perak ciptaan Kael? Objek itu kini dikenal sebagai The Core-0, sebuah reaktor fusi abadi yang dipasang di puncak tertinggi kota, dikelilingi oleh ribuan satelit pemanen energi milik Perusahaan Multi-Planet Solaria-Corp.
Di bagian terdalam dari Megapolis, jauh di bawah distrik-distrik elit yang bergelimang cahaya neon, terdapat wilayah yang disebut The Under-Rust (Karat Bawah). Tempat ini adalah lantai dasar Archeon kuno, wilayah yang tidak pernah lagi melihat cahaya matahari perak selama ribuan tahun karena tertutup oleh fondasi baja kota atas.
Seorang pemuda bernama Vael berjalan menembus kabut uap minyak yang keluar dari pipa-pipa pembuangan industri. Ia mengenakan jaket kulit yang usang dengan pelindung dada mekanis murahan. Di tangan kirinya, ia memegang sebilah alat pemindai energi purba yang terus berbunyi klik-klik-klik dengan tidak teratur.
Vael adalah seorang Scavenger (pemulung teknologi kuno). Tugasnya adalah menggali situs-situs arkeologi pra-era teknologi untuk mencari "Kristal Mana Murni" yang belum terkontaminasi oleh kode digital.
"Pemindai ini mendeteksi fluktuasi aneh di sektor ini," gumam Vael, menyeka debu karat dari layar gawai pergelangan tangannya. "Sinyalnya tidak memiliki kode enkripsi biner. Ini... energi analog?"
Ia berhenti di depan sebuah struktur yang sangat janggal di tengah-tengah pabrik pembuangan limbah nuklir. Itu adalah sebatang pohon raksasa yang telah membatu menjadi obsidian hitam. Pohon itu adalah sisa-sisa dari Yggra, Pohon Purba Veridian yang sepuluh ribu tahun lalu mekar menyambut kembalinya Kael Ravenhart. Kini, pohon itu tampak mati, dipenuhi oleh grafiti siber dan kabel-kabel liar yang menancap di batangnya untuk menyedot sisa energi internalnya.
Namun, alat pemindai Vael mendadak meledak kecil, mengeluarkan asap hitam.
BZZZZT!
Di layar gawai Vael, sebuah pola geometris muncul secara otomatis—sebuah lingkaran sempurna dengan tujuh garis yang patah. Pola yang menurut buku sejarah sekolahnya adalah simbol dari "Kaisar Kehampaan", sebuah karakter fiksi yang diciptakan oleh para pendiri kota untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak bermain di luar kubah kaca.
"Simbol ini..." Vael menyentuh kulit pohon obsidian itu.
Seketika, tanah di bawah Under-Rust berguncang hebat. Bukan guncangan akibat mesin pabrik, melainkan sebuah getaran frekuensi rendah yang membuat seluruh implan sibernetik di tengkuk Vael mengalami error.
Di pusat kota Aether-MegapolisPrime, di dalam ruang sidang utama Solaria-Corp, alarm darat berbunyi dengan warna merah darah. Proyeksi hologram tiga dimensi menunjukkan bahwa di luar kubah kaca pelindung kota—di wilayah liar yang dulunya merupakan Pantai Barat—sebuah anomali ruang sedang terbentuk.
Sepuluh ribu tahun tanpa peperangan sihir telah membuat manusia menjadi lengah. Mereka mengira bahwa dengan mengubah sihir menjadi teknologi, mereka telah menjinakkan alam semesta. Mereka lupa bahwa Legiun Abisal bukan sekadar monster, melainkan hukum koreksi alam.
Lumpur ungu yang sepuluh ribu tahun lalu dibersihkan oleh Kael kini telah bermutasi. Karena setiap hari terkena buangan limbah energi digital dari Megapolis, sisa-sisa anti-materi di dasar bumi telah berevolusi menjadi Cyber-Abyssal.
Makhluk-makhluk itu tidak lagi berupa daging tanpa kulit. Mereka kini berwujud virus digital padat yang mampu menginfeksi mesin-mesin perang, mengubah robot penjaga kota menjadi monster baja yang berbalik menyerang warga kota.
"Kubah pelindung Sektor 4 jebol!" teriak seorang operator sibernetik melalui interkom kota. "Sistem pertahanan otomatis kita tidak bisa mengunci target! Mereka bergerak menembus jaringan data!"
Di layar monitor raksasa, sesosok entitas digital raksasa dengan kode nama Xylar-Virus.v2 mulai merayap naik menembus dinding-dinding kaca Megapolis, membusukkan struktur baja kota menjadi debu digital kelabu dalam hitungan detik.
Kembali ke Under-Rust, Vael terlempar ke tanah saat akar pohon Yggra yang membatu mendadak pecah. Dari dalam rongga batang obsidian yang terbelah, tidak keluar oli atau kabel, melainkan setitik cahaya putih transparan yang sangat murni—cahaya yang belum pernah dilihat oleh peradaban modern selama sepuluh milenium.
Cahaya itu mengembun di udara, membentuk sesosok pemuda dengan jubah hitam yang compang-camping dan rambut seputih salju yang sangat panjang hingga menyentuh lantai karat.
Pemuda itu membuka matanya. Sepasang pupilnya berwarna hitam manusia, namun di dalamnya terdapat kedalaman kosmis yang tak berujung.
Kael Ravenhart telah bangun dari tidur panjangnya di dalam inti kehidupan pohon purba.
Kael menatap telapak tangan kirinya yang kini bersih dari implan teknologi apa pun. Ia lalu menatap Vael yang sedang ketakutan di lantai sambil memegang gawainya yang meledak.
"Tahun berapa ini...?" suara Kael terdengar sangat berat, bergaung melintasi ruang mekanis tempat itu, getarannya langsung mematikan seluruh lampu neon di distrik bawah.
"Sep... Sepuluh ribu tahun setelah Era Fajar," jawab Vael dengan suara bergetar, merangkak mundur. "Kau... kau adalah patung di buku sejarah..."
Kael tidak menjawab. Ia mendongak, matanya menembus ribuan lantai baja di atasnya, menembus kubah kaca, langsung menatap ke arah The Core-0—matahari perak miliknya yang kini dipenjara oleh satelit-satelit mesin. Ia juga merasakan kehadiran virus digital kelabu yang sedang memakan kota di atas sana.
"Manusia tetaplah manusia," bisik Kael, sebuah senyuman pahit terukir di wajahnya yang tak menua. "Kalian mengganti altar doa dengan mesin, namun keserakahan kalian untuk mengontrol energi tetap sama. Dan sekarang... parasit itu datang lagi untuk menagih hutang kalian."
Kael melangkah maju. Setiap langkah kakinya di atas lantai karat Under-Rust melepaskan gelombang distorsi tak terlihat yang memutus seluruh jaringan internet dan pasokan listrik di sekitarnya.
Ia membungkuk, mengambil patahan besi berkarat dari lantai pabrik yang berbentuk seperti bilah pedang kuno. Ketika tangannya menggenggam besi tersebut, karatnya luruh seketika, digantikan oleh pandangan energi putih-perak yang dingin—sisa dari kekuatan Celestial Void yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
"Ayo, anak muda," Kael melirik Vael yang masih terpaku. "Mari kita lihat apakah peradaban kaca dan kabel kalian ini layak untuk kuselamatkan sekali lagi, atau apakah aku harus membiarkan tempat ini kembali menjadi debu bintang seperti yang seharusnya."
Kael Ravenhart melompat lurus ke atas, menghantam langit-langit baja lantai dasar, melesat menuju Megapolis atas menembus kegelapan teknologi dengan membawa kembali fajar yang telah lama terlupakan.