NovelToon NovelToon
Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Dicari: Pria Yang Siap Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Meyrna Pratiwi

Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.

Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.

Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.

Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

"Masalahnya, ini nggak sesederhana itu," sahut Katie pelan.

Mark tersenyum tipis, tampak sedikit sinis. "Negosiasi memang jarang ada yang sederhana. Tapi kita nggak akan sampai ke mana-mana kalau kamu tidak mulai bicara."

Katie menarik napas panjang, mencoba menata kata-kata agar Mark bisa memahami perasaannya. "Aku perlu menjelaskan sesuatu dulu padamu."

Mark menyesap Scotch-nya dalam-dalam, lalu menaruh gelasnya kembali ke meja sambil terus mengamati Katie. "Soal apa?" tanyanya akhirnya.

"Soal alasan kenapa aku pulang dari Afrika. Tante Margaret sempat bertanya apa aku mau jadi biarawati," cerita Katie.

Mark hampir tersedak. "Biarawati? Nggak mungkin. Kamu sama sekali nggak cocok jadi biarawati".

Katie tertawa kecil melihat ekspresi Mark. "Reaksiku juga sama. Bukannya ada yang salah dengan profesi itu, cuma memang bukan jalanku saja. Tapi, pertanyaan Tante Margaret itu bikin aku mikir serius soal apa yang sebenarnya mau aku lakuin dalam hidup ini. Selama ini aku cuma ikut arus saja".

"Ya, kayak kebanyakan orang," sahut Mark hati-hati, mulai penasaran ke mana arah pembicaraan ini.

"Iya," Katie mengangguk setuju. "Terus aku sadar, yang aku mau itu sebenarnya bukan soal apa yang mau aku lakukan, tapi lebih ke siapa yang aku inginkan dalam hidupku".

Katie mencondongkan tubuhnya ke depan karena semangat ingin menjelaskan. Mark tanpa sengaja melirik ke arah gaunnya, tapi ia segera membuang muka dan memaksa matanya kembali menatap wajah Katie yang serius.

"Siapa yang kamu maksud?" tanya Mark pendek.

"Seorang suami dan anak-anak," jawab Katie blak-blakan.

Mata Mark langsung membelalak kaget. Kalimat itu memukulnya telak. Dia nggak mungkin bermaksud memintaku buat menikahinya, kan? batin Mark panik. Berbagai perasaan campur aduk mengaduk emosinya, tapi yang paling dominan saat itu hanyalah rasa panik yang luar biasa.

"Tapi aku punya masalah," lanjut Katie pelan. "Sebenarnya, ada beberapa masalah."

Mark menatapnya dengan waspada. "Masalah seperti apa?"

Katie menyelipkan sehelai rambut merahnya yang terlepas dari sanggul ke belakang telinga. "Pertama, soal kecilnya jumlah stok yang tersedia."

"Stok? Maksudmu apa?" Mark mengalihkan pandangannya dari leher Katie yang jenjang, mencoba tetap fokus pada pembicaraan.

"Maksudku, stok pria yang layak untuk dinikahi," jelas Katie sabar. "Kebanyakan yang bagus sudah ada yang punya. Dan masalah utamanya adalah... aku tidak punya kemampuan untuk menarik perhatian segelintir pria yang masih tersedia itu."

Mark membiarkan matanya menyapu seluruh lekuk tubuh Katie yang terbalut gaun sutra itu. "Kalau soal itu, aku tidak begitu yakin kamu benar," gumamnya pelan.

Katie menelan ludah, mencoba mengabaikan tatapan intens Mark yang membuat kulitnya meremang. "Aku tidak sedang bicara soal mencuri perhatian sesaat. Maksudku adalah mempertahankan ketertarikan itu sampai sebuah hubungan bisa berkembang.

Kenyataannya, pria-pria itu selalu membuatku kelu. Aku tahu secara fisik aku sudah tidak kelebihan berat badan lagi, tapi di dalam sini..." Katie menyentuh dadanya, "...aku masih merasa sebagai gadis kaku yang tidak menarik."

Mark terdiam, merasa kaget sekaligus bisa memahami pengakuan Katie. Meski punya lebih banyak uang daripada siapa pun di kota ini, Mark sendiri sering merasa rendah diri di acara-acara sosial.

"Aku sama sekali tidak punya pengalaman basa-basi dengan pria," lanjut Katie saat Mark tidak kunjung merespons. "Aku tidak paham jenis obrolan menggoda yang sepertinya sudah dipelajari wanita lain sejak zaman sekolah. Aku tidak tahu apa yang pria suka, bagaimana mereka berpikir, atau apa yang mereka harapkan dari sebuah kencan."

Melihat keraguan yang menyelimuti mata Katie, Mark mendadak punya keinginan kuat untuk menenangkannya. Ia ingin merangkul Katie dan menghapus semua rasa tidak percaya diri itu.

"Rasanya tidak mungkin seburuk itu, Katie," ucap Mark lembut.

Katie hanya bisa meringis pahit. "Kamu mau tahu berapa banyak kencan yang pernah aku jalani seumur hidupku?" Tiga. Hanya tiga kencan."

Mark Barrington mengerutkan dahi, merasa angka itu terlalu kecil untuk wanita semenarik Katie.

"Yang pertama waktu SMA," kenang Katie. "Si berengsek itu memarkir mobil di pinggir jalan dan langsung menuntut seks."

"Teknik yang sangat buruk, bahkan untuk standar anak SMA," komentar Mark dengan nada kering.

"Teknik bukan masalah utamanya," sahut Katie pahit. "Dia bilang, gadis segemuk aku seharusnya bersyukur bisa menukar seks dengan sebuah kencan."

Kilatan amarah muncul di mata Mark saat melihat ekspresi sedih Katie. "Benar-benar berengsek," gumamnya.

"Pasti," lanjut Katie. "Aku menamparnya dan jalan kaki pulang. Kencan kedua saat aku pelatihan perawat. Pria itu cuma bicara soal mikrobanya sepanjang waktu. Aku bahkan merasa dia tidak menganggapku sebagai wanita, tapi cuma sebagai pendengar saja. Waktu itu aku terlalu tidak percaya diri untuk bilang kalau dia membosankan setengah mati."

Mark terkekeh pelan. "Tadi kamu bilang ada tiga. Bagaimana dengan yang terakhir?"

"Dia anak dari pasien yang aku rawat," jawab Katie. "Ibunya penderita diabetes yang tidak stabil, dia sendiri duda dengan dua anak remaja—satu sedang hamil dan satunya lagi kecanduan narkoba. Dia melihatku bukan sebagai pasangan, tapi sebagai solusi untuk merawat keluarganya."

Mark menggelengkan kepala. "Pria itu pasti buta."

"Lebih tepatnya putus asa," koreksi Katie. "Intinya, aku sama sekali tidak punya pengalaman berkencan. Kalau aku mau berhasil menemukan suami, aku harus mulai mencari pengalaman itu sekarang."

Mark menatapnya dalam-dalam. "Apa kamu tidak percaya lagi dengan konsep jatuh cinta pada pandangan pertama?"

"Aku pernah merasakannya sekali," aku Katie serius. "Di sebuah pesta dansa rumah sakit. Seperti biasa, aku cuma berdiri di pinggiran sambil pura-pura menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Lalu aku melihat pria paling tampan di dekat meja makanan. Rasanya seluruh hormonku mendadak bergejolak."

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Mark penasaran.

"Aku menceritakannya pada seorang temanku setelah itu..."

"Tapi ternyata, pria itu adalah mantan pengacara yang izin praktiknya sudah dicabut," lanjut Katie Wilson dengan nada kecewa. "Dia sedang menjalani kerja sosial di rumah sakit atas perintah pengadilan karena kasus penggelapan dana klien lansia. Begitu tahu faktanya, rasa kagumku langsung hilang seketika".

Mark Barrington mengangguk paham. "Ya, aku bisa membayangkan rasanya. Oke, aku akui kamu memang nol besar soal pengalaman kencan. Tapi apa hubungannya semua ini dengan rencana penjualan propertimu?" tanya Mark, mencoba memberanikan diri untuk memastikan apakah dia pria yang Katie maksud untuk menjadi calon suami.

Katie membasahi bibir bawahnya dengan gugup, menarik napas panjang, lalu akhirnya meluncurkan rencana gilanya. "Aku akan menjual tanahku padamu, asalkan kamu membiarkan aku berlatih keterampilan berkencan denganmu".

Mark berkedip, benar-benar terkejut. "Tunggu... tepatnya apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan hati-hati.

"Yah... aku pikir... kalau kita berkencan beberapa kali, aku bisa belajar cara menghadapi laki-laki," jelas Katie. "Dan kamu bisa memberitahuku bagaimana perasaan laki-laki tentang banyak hal. Jadi saat nanti aku berkencan dengan kandidat suami yang sebenarnya, aku sudah punya pengetahuan langsung tentang cara kerja pikiran laki-laki".

Mark menatap minumannya, merenungkan ide gila tersebut. Namun, semakin dia memikirkannya, rencana itu terasa semakin masuk akal.

Katie sudah menentukan tujuannya, dan dia menemukan cara yang logis untuk mengatasi kekurangannya. Pola pikirnya benar-benar tak terduga namun tepat sasaran. Katie seolah sedang mencari sosok kombinasi antara kakak laki-laki sekaligus penasihat yang jujur.

Mark menatap mata cokelat lembut Katie yang sedang memandangnya penuh harap. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa membantu Katie. Toh, Katie tidak sedang berusaha untuk menikahi dirinya. Itu masuk akal karena Mark sadar selama ini wanita hanya tertarik padanya karena uang, sementara Katie sama sekali tidak peduli soal itu.

Katie bukan ancaman bagi status lajangnya yang tenang. Dia adalah temannya, dan teman sudah seharusnya saling membantu. Namun, saat mata Mark tertuju pada bibir merah muda Katie yang penuh, sebuah pikiran mendadak melintas: Apakah 'pelatihan' ini juga termasuk menciumnya? Pikiran itu seketika merusak ketenangan Mark.

Bersambung ....

1
afri yani
pasti masih ori. segel tertutup rapat.🤭
MyR: ntar lagi segel terbuka...ups🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!