Bella menikah dengan lelaki pujaan hatinya dengan perjodohan yang dirancang oleh nya dengan bantuan keluarganya, tapi kehidupan yang dia inginkan dan nantikan setelah menikah tidak pernah dia dapatkan.
suaminya bahkan tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri, baginya pernikahan Dnegan Bella adalah neraka
Tapi siapa sangka setelah 49 hari yang diminta oleh Bella pada suaminya menumbuhkan rasa cinta yang besar dan rasa penyesalan pada suaminya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Bella menggelengkan kepalanya melihat kericuhan yang terjadi barusan, dia menghentikan makannya dan menatap suaminya yang kini duduk sambil mendengus kesal.
Wajah suaminya sungguh kusut dan tak bersahabat, dia berharap suaminya bersikap seperti itu bukan karena cemburu melihat Merry dengan orang lain karena menurut suaminya dia sudah tak memiliki apapun perasaan pada Merry
Sedangkan Manager restoran masih berada disamping mereka sambil meminta maaf. Dia sangat tahu siapa yang berada didepannya ini, bisa dalam masalah restoran nya jika keduanya memberikan review jelek pada pelayanan mereka tadi.
"Tolong maafkan kami atas pelayanan yang kurang memuaskan tuan, kami tidak tahu akan terjadi keributan seperti ini". Ucapnya dengan penuh sesal.
Dia khawatir jika tamunya ini akan memberikan penilaian jelek restoran mereka dan berdampak besar pada kepercayaan konsumen lainnya karena pengaruh dari perkataan keduanya, mereka berdua adalah anak-anak orang berpengaruh dan juga memiliki perusahaan besar dan tentu saja jika mereka mengatakan restoran mereka jelek maka pelanggan VIP golongan kaya akan susah untuk mereka dapatkan.
"Sudahlah tidak apa, itu bukan kesalahan kalian, mereka saja manusia menyebalkan dan tidak tahu etika padahal saya dan istri saya sedang berkencan dan ingin menghabiskan waktu berdua, mereka malah datang menggangu dan membuat keributan". Kesal Niko menatap sang istri dengan tidak enak hati.
Niatnya ingin membahagiakan istrinya, malah berakhir keributan seperti ini dan sangat disesalkan karena yang membuat keributan adalah orang yang paling dia benci.
" Terima kasih pak, untuk makanan dan semuanya, akan kami gratiskan jika bapak berkenan". Jawabnya dengan sopan.
Dia tidak mau menyinggung perasaan pelanggan nya karena dia yakin jika makanan seperti ini bukan masalah bagi mereka untuk membayarnya.
"Kita pulang saja, aku sudah tidak mood melanjutkan acara makan malam ini setelah kejadian ini". Bella memotong percakapan keduanya dengan mood yang berantakan.
"Baiklah, kita pulang". Pasrah Niko tak ingin memaksa.
"Terima kasih pak, Bu, kami sungguh minta maaf sekali lagi atas kejadian Tidka berkenan ini". Ucap Manager dengan tidak enak hati.
"Tidak apa, oh iya tidak perlu melakukan itu, kami sudah membayarnya diawal, dan itu bukan salah kalian, kami permisi dulu".
Niko bangkit dari duduknya dan berusaha menggandeng tangan sang istri tapi Bella langsung berjalan begitu saja tanpa menghiraukan dirinya.
"Sekali lagi terima kasih pak". Ucapnya pelan sambil menunduk.
Niko hanya mengangguk dan mengejar istrinya yang berjalan lebih dulu meninggalkan dirinya ,dia hanya bisa menghela nafas dengan kesal, padahal niatnya membuat istrinya senang malah jadi seperti ini.
"Maaf yah, aku tidak tahu akan jadi begini". Niko menatap istrinya dengan sesal.
Mereka telah berada didalam mobil untuk bersiap pulang karena acara mereka yang berantakan.
Bella tidak menjawab, dia khawatir kalau dia mengeluarkan suaranya dia malah marah atau membuat suaminya tak nyaman.
Niko hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam berusaha untuk diam saja, walau dia sangat kesal melihat istrinya diam seribu bahasa seperti itu.
Dia tidak mau memaksa istrinya, dia kini sedang memikirkan hal yang bisa membuat istrinya itu senang kembali walau bagaimana pun caranya.
"Gimana kalau kita ke bukit bintang dengan sini, kamu mau?". Tanya Niko pelan.
Dia harap istrinya mau diajak pergi kesana karena dia tahu istrinya sangat suka melihat bintang dan hal-hal yang indah di alam bebas.
"Bukit bintang?". Cicitnya pelan.
Dia langsung menoleh kepada Niko mendengar adanya bukit bintang dekat dari tempat mereka berada sekarang, dia memang sangat menyukai hal yang berbau seperti itu sejak dirinya kecil bahkan ketika dia ingin sendiri dan juga sedih dia pasti akan mencari bukit indah.
Niko tersenyum, dia senang karena istrinya merespon apa yang dia katakan.
"Iya, disini ada bukit indah yang bisa kita datangi, disana kita bisa melihat indahnya kota dan sangat banyak bintang disana, tapi sebelumnya kita beli cemilan dulu disana supaya bisa kita nikmati berdua, kamu mau?".
Bella mengangguk pelan, dia baru tahu suaminya suka dengan hal semacam itu tapi dia yakin jika suaminya pasti menanyakan itu kepada keluarganya sehingga dia bisa tahu kalau dia menyukainya
"Apa keluarga ku yang memberi tahu kamu semua itu?". Tanya Bella pelan.
Niko menatap istrinya dengan sendu, dia memang tidak banyak mengetahui apapun tentang istrinya tetapi dia beruntung karena kedua mertuanya mau memberinya kesempatan untuk membahagiakannya dengan memberi tahu apa yang Bella suka dan tidak agar dia bisa memanjakannya.
"Aku hanya melakukannya untukmu, aku tahu aku tak pernah mencari tahu dan berusaha mengenalmu lebih dalam seperti ini, itu sebabnya aku berusaha mencari informasi apa yang kamu suka dan yang tidak kamu suka, agar aku tahu bagaimana cara menghibur dan juga meredakan emosi atau rasa kecewa dihatimu, aku harap kamu tidak marah ".
Dia khawatir jika istri nya tersinggung karena dirinya mencari tahu segala hal tentang dirinya.
Bella tersenyum tipis tanpa Niko tahu, dia menghargai usaha suaminya untuk berubah dan memperbaiki rumah tangganya yang terlanjur berantakan.
Tidak ada salahnya dia memang memberi kesempatan kedua kepadanya karena biar bagaimanapun suaminya memang tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.
Dia hanya tertekan oleh keinginan orangtua sedangkan dia sendiri begitu mencintai Merry karena dia adalah kekasihnya sejak awal dan dipaksa untuk dijodohkan dengannya.
Sesampainya disana keduanya duduk lesehan sambil menikmati pemandangan yang sangat indah disana, pemandangan yang akan didapatkan hanya jika mereka berada di bukit seperti ini.
"Kamu suka tempatnya?". Tanya Niko memberikan cemilan itu pada istrinya kemudian memberikan jasnya untuk dipakai sang istri agar tidak kedinginan.
"Tempatnya sangat indah, aku akan kesini nanti jika sempat, aku baru tahu tempat ini padahal aku sering lewat sini".
Niko tersenyum tipis, tempat ini adalah tempat penuh sejarah untuknya karena tempat ini adalah tempat dimana ibunya meninggal saat dia masih berusia 5 tahun saat itu.
"Ini adalah tempat kenangan untukku, ditempat ini aku menyaksikan ibuku pergi, sejak saat itu aku selalu datang kesini ketika merindukan ibuku, aku tidak pernah tahu kamu sama seperti nya menyukai hal seperti ini".
Bella langsung menoleh, dia tidak tahu jika ibu mertuanya sudah meninggal terus yang berada disamping ayah mertuanya berarti bukan ibu kandung suaminya.
Niko tersenyum karena tahu arti tatapan sang istri, dia memang menyayangi ibu tirinya yang juga adalah tante kandungnya, adik dari ibunya sendiri yang selama ini menjaga dan mencintai dirinya seperti anak sendiri.
"Bunda adalah adik dari mendiang ibuku, ibuku meminta dirinya menikah dengan ayahku dan menjaga serta mencintai aku seperti anak sendiri dan memang selama ini beliau sering menjagaku saat ibuku juga masih hidup".
"Maaf aku tidak tahu". Sesal Bella