NovelToon NovelToon
Janji Suci Yang Ternoda

Janji Suci Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:551
Nilai: 5
Nama Author: Acaciadri

Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.

Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.

cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.

happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Rasa sakit itu berangsur hilang dan syukurnya dokter pun mengatakan kalau janinku baik-baik saja di dalam sana. Katanya aku terlalu stres saja hingga membuat kram di perutku, dokter juga memberi wejangan supaya aku tidak berpikir berlebihan dan menikmati hidup dengan bahagia katanya.

Cih, bagaimana aku bisa menikmati hidup, jika ada satu manusia yang membuat pikiranku kacau. Dia adalah Afif, sumber stresku.

“Tuh apa dokter bilang, kamu gak boleh stres, Nad. Harus bahagia.“Ucapnya seolah tak merasa kalau dialah pelaku utamanya yang membuatku begini, dengan susah payah aku pun mencoba bangkit dan ingin duduk bersandar di kepala ranjang, Afif ingin membantuku, namun ku tepis tangannya cepat.

“Gak usah, aku bisa sendiri!.“

Afif menghela nafasnya panjang”Nad__.“

“Apa? Kamu mau bilang gak usah stres? mikir mas, kamu yang membuatku stres! Kamu penyebabnya!!.“Tegasku sambil menatapnya tajam, sebelah tanganku mengelus-ngelus perutku pelan sambil berdo'a supaya anakku yang kedua tidak mirip dengannya, jangan sampai ada satu pun bagian dari anakku yang mirip dengan Afif, aku tak sudi, sungguh. Bukan hanya hatiku sudah mati rasa, tetapi rasa benci ini sudah tumbuh dan mulai berkembang di dalam sana.

“Udahlah, kamu pulang saja. Aku sudah biasa sendirian kok.“Ketusku lagi mencoba mengusirnya, namun pria itu tak bergeming di tempatnya, ia malah duduk dan menyandarkan kepalanya di sana lalu memandangku dengan tatapan yang agak dalam.

“Kenapa kamu jadi pemarah sih, Nad?.“Tanyanya yang membuatku berdecih.

“Gak sadar kamu, kamu yang selalu membuatku naik pitam. Kamu penyebabnya.“

“Gak bisa ya, maafin aku?.“

Aku menggulirkan kedua mataku jengah.

“Mas, aku cuman manusia biasa ya? Dan menurutku tingkah kamu udah keterlaluan banget, sorry. Aku masih butuh waktu buat maafin kamu dan tolong selama waktu itu jangan temuin aku lagi.“

“Tapi bukannya kamu minta aku supaya lebih perhatian dan calon anak kita, ya?.“

Ku pejamkan mataku beberapa saat dan ku atur emosiku sedemikian rupa.

“Memang, tapi tidak harus bertemu langsung, kan? Seperti kata dokter, aku gak boleh stres dan sumber stresku adalah kamu. Tahu nggak? Jujur ya, mas. Dan maaf aku harus mengatakan ini, hanya melihat wajahmu saja sudah membuatku ingin menonjok kamu mas, makanya aku bilang jangan temui aku, aku gak yakin bisa mengendalikan emosiku.“Tuturku seraya menghela nafas dalam-dalam dan Afif terlihat begitu terkejut sekali mendengar pengakuan jujurku ini, ku harap dia bisa mengerti tentang apa yang ku mau. Pada akhirnya setiap pertemuan kami malah berakhir dengan pertengkaran kami, makanya aku lebih memilih tidak bertemu dengannya.

“Maaf kalau gitu..“Ucapnya lagi, aku diam tidak tahu harus menyahut apa kata maafnya yang lagi tak bisa menghapus semua rasa sakit di hatiku.

Tak lama pintu terbuka dan menampakan Arka yang masih terlihat dengan pakaian kerjanya, wajahnya menjadi memerah dan tatapannya menajam tatkala ekor matanya melirik Afif yang saat ini duduk di sampingku, tanpa babibu, Arka melangkah besar lantas menonjok wajah Afif dan menbuatku memekik karena kaget.

“Ini rumah sakit, Arka!.“Ujarku dan membuat Arka menoleh sebentar, selanjutnya kembali ia melayangkan tonjokan di wajah Afif, Afif tersungkur ke lantai tanpa perlawanan dan kini wajahnya menjadi memar karena tonjokan Arka.

Aku tidak membela Afif, tspi juga sangat menyayangkan sikap Arka yang agresif seperti ini, apalagi ini di rumah sakit. Sudah ku duga, dua suster dab satu dikter juga petugas keamanan masuk ke kamarku, mereka mungkin terkejut mendengar teraikanku tadi.

“Maaf, ada apa ini?.“Tanya petugas keamanan yang menatap bergantian kepada kami bertiga.

Afif terlihat bangkit dan menyekaluka di wajahnya menggunakan tangan, lalu tatapannya teralih pada petugas keamanan yang tadi bertanya kepada kami__duh, jangan sampai Afif buka mulut, kasihan Arka. Ya, memang dia anarkis, tapi kan semata-mata di lakukannya karena membelaku juga.

“Ahh tidak ada pa, hanya kesalah pahaman kecil saja kok!.“Tukasnya sambil menarik sudut bibirnya kecil dan membuatku menghela nafas lega.

“Benar begitu, pa? Soalnya saya lihat wajah bapak memar begitu.“Ucap si petugas keamanan. Dan di jawab dengan anggukan tegas oleh Afif.

“Iya pa, tadi istri saya kaget jadi teriak pa, padahal saya dan adik ipar saya adalsh sedikit salah paham dan sepertinya biar kami saja yang selesaikan, pa.“

“Oh baik, kalau begitu. Kami pamit, kalau ada apa-apa bisa cari saya di depan ya, pa?.“

“Baik pa, terimakasih.“

Setelah kepergian dua suster, satu dokter dan juga petugas keamanan, langkah kaki Arka kembali mendekati Afif, adik sepupuku itu langsung menaruh kedua tangannya di atas kerah pakaian Afif dan mengangkatnya tinggi, aku mencoba menahan untuk tidak mengeluarkan suara, takut kalau petugas keamanan akan datang lagi dan malah membawa Arka bersama mereka, tetapi aku juga tidak mau melihat tindak kekerasan seperti ini.

“Hentikan Arka, jangan lakuin di sini please.“Mohonku, bukan bermaksud membela Afif, tapi tindakan Arka yang anarkis begini tentu berisiko besar buatnya, petugas keamanan akan kembali datang ke sini dan mungkin yang kali ini, Afif pun takan menyelamatkan Arka lagi.

“Arka, hentikan. Ini di rumah sakit, kamu bisa di bawa ke penjara Arka!.“Ujarku tegas dan berhasil membuat Arka melepas cengkraman tangannya dari leher Afif, Arka berdecih sambil memandang Afif tajam.

“Lo, jangan pernah temuin kakak gue lagi, kalau lo mau selamat, sebaiknya lo jauhin kakak gue!.“Ancamnya tegas sambil menunjuk wajah Afifa__memang pada awlanya Arka tak merestui hubunganku dan Afif, tetapi setelah beberapa kali aku membujuk dan meyakinkannya, Arka pun setuju dan perlahan-lahan dia mulai bisa bercengkrama dengan Afif secara baik-baik, tetapi setelah Afif membuat ulah, agaknya hal itu membuat api amarah Arka kembali terbangkitkan, dia maju menjsdi garda terdepan untuk melindungiku dari Afif, apakah aku terharu? Tentu saja, meski aku sudah tidak memiliki orang tua, tapi masih ada Arka dan bibi hang melindungiku dan sayang padaku.

“Dia masih istri saya, sidang belumlah di mulai, Arka!.“

Arka berdesis”Calon mantan istri dan sebentar lagi kalian akan berpisah.“Senyum kemenangan terlihat di bibir Arka, lalu pria itu menepuk-nepuk bahu Afif, seolah memberikan peringatan lewat tepukan itu.

“Sekali lagi, kamu ngebuat kakak gue masuk rumah sakit, maka gue akan segan-segan sama lo, pulang sekarang juga dan gak usah balik lagi, kakak gue gak butuh lo!.“

“Arka.“Tergurku, namun pria itu hanya menatapku sepintas lalu kembali menatap Afif dengan tajam.

“PER__.“

Ucapan Arka terpotong tatkala pintu terbuka dan menampilkan bibi yang berjalan bergandengan dengan anakku Bintang, tatapan Bibi kini berpendar, ke arahku, Arka dan juga Afif. Bibi terlihat menaikan sebelah alisnya, mungkin beliau terlihat terkejut mendapati Afif yang ada bersamamu, tanpa di duga Afif maku dan menarik sebelah tangan bibi dan berniat untuk menciumnya, akan tetapi bibi menghempaskan tangan Afif begitu saja.

“Maaf, tapi saya sudah wudhu.“Ucapnya yang ku tahu hanya alasan saja, tampaknya bukan hanya Arka yang benci pada Afif, tetapi bibiku juga. Afif terlihat meringis kaku lalu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis dan mengangguk, tatapan Afif pun melembut tatkala melihat Bintang anak kami.

“Bintang mau jalan-jalam keluar nggak? Jajan ke kantin atau mall dekat sini?“.Tawarnya, aku hanya diam dan memilih menyaksikannya. Kalau pun Bintang mau, tentu saja aku tak keberatan, asal dengan syarat tidak di bwa ke rumahnya lagi, aku masih terlalu takut kalau Bintang akan di perlakukan tidak adil oleh papa dan juga ibu tirinya itu.

“Enggak mau, Bintang mau sama mama aja.“Jawab anakku dengan gelengan kepalanya dan membuat Afif mendesah kecewa, walau begitu Afif masihlah tersenyum kecil ke arah Bintang.

“Yaudah, lain kali kita harus jalan-jalan bareng, ya?.“Ujarnya, Bintang tak menjawab dia malah menatapku dan seolah memihta persetujuan dariku, aku pun menganggukan kepala dan membuat Bintang ikut menganggukan kepala.

“Tapi berdua, gak mau sama Salsa, Salsa jahat.“Pekik Bintang yang membuatku cukup terkejut dengan jawabannya.

“Jangan salah paham, aku gak pernah mempengaruhi apapun ke Bintang!.“Tukasku tak mau di tuduh lagi, Afif hanya mengangguk sekilas.

“Ok, nanti papa cari jadwal yang kosong ya, buat jalan-jalan sama Bintang.“

“Gue ikut, gak boleh biarin keponakan gue sendirian sama dia, gue takut keponakan gue terluka!.“Ujar Arka yang membuat kami pun terkejut.

1
Anonymous
afif goblok
Anonymous
anying Juz 30 doang berasa bisa si paling adil
Dewi Sri Astuti: wkwkwkwk🤭🙏
total 1 replies
Anonymous
diem bocil
Dewi Sri Astuti: hahaha🙏
total 1 replies
Dewi Sri Astuti
Yuk kasih bintang lima dan komennya, biar author semangat🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!