Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Maafkan Kakak, Nayla.
Sementara itu di kantor.
Mata Elvano membulat sempurna setelah membaca balasan pesan yang Nayara kirim.
Kalimat vul—gar itu, seketika membuat tubuhnya panas, dan adik John pun mulai menggeliat.
Tangan Elvano terkepal di bawah meja. Nayara benar - benar membuatnya tidak waras. Ia ingin segera berlari keluar dari ruangan rapat saat ini juga.
Namun apa daya, para bawahannya kini sedang menjelaskan hasil kerja mereka selama sebulan terakhir. Dan akan membahas perencanaan untuk bulan berikutnya.
“Kakak kenapa?” Bisik Elvira yang duduk di samping pria itu.
Wanita berusia tiga puluh tahun itu, kini tengah menjabat sebagai wakil CEO Prawira Holding Company, dan berkantor di lantai sembilan belas.
“Memangnya aku kenapa?” Elvano berbalik melempar tanya sembari melonggarkan simpul dasinya.
Namun, dari sisi kanannya Gilang berbisik. “Jangan, pak. Nanti bekas gigitan nyamuk berambut pendeknya —
Pria itu mengatupkan bibir ketika Elvano menatapnya dengan tajam.
“Kakak ada masalah?” Tanya Elvira lagi.
Sebab, meski bekerja di satu gedung yang sama, mereka sangat jarang bertemu. Kecuali saat rapat direksi seperti saat ini.
Keduanya memiliki kesibukan masing - masing sebagai petinggi perusahaan.
“Aku tidak apa - apa, Vi.” Tukas Elvano. Ia berusaha untuk bersikap tenang. Agar tidak ada lagi orang yang mencurigainya.
“Kakak terlihat gelisah. Apa kakak sakit?” Tanya gadis itu lagi.
‘Iya, Vi. Aku sedang menahan sakit di bawah sana.’
Elvano tidak mungkin menjawab seperti itu ‘kan?
“Kapan mami dan papi pulang dari London?” Tanya pria itu kemudian. Ia berencana membahas hal penting dengan orang tuanya.
Namun, mereka mendadak harus terbang ke London karena salah satu kerabat Madam Giselle meninggal dunia.
“Mungkin dua minggu lagi, kak. Selain untuk melayat, mami juga sudah merencanakan liburan sebelumnya.”
Mereka berdua berbicara secara berbisik, agar tidak menganggu jalannya rapat.
Elvano menghela nafas pelan. Menunggu orang tuanya selama dua minggu, bisa saja salah satu benihnya sudah tumbuh di dalam rahim Nayara.
Setelah rapat selesai, Elvano melangkah lebar menuju ruangannya. Ia harus segera pulang. Bukan karena balasan pesan yang Nayara kirim. Namun, waktu makan siang yang telah berlalu beberapa menit.
Ia sudah menjanjikan makan siang untuk wanita itu. Elvano yakin, jika sekarang Nayara menunggunya dalam keadaan lapar.
“Si-al. Kenapa mereka tidak mau menunda rapat? Padahal bisa di bahas besok.” Gerutu pria itu.
“Bapak mau makan siang dimana?” Tanya Dewi saat Elvano melintas di depan meja kerjanya.
“Kamu sudah mengatur ulang jadwal saya siang ini?” Tanya pria itu sembari menghentikan langkahnya.
Dewi menganggukkan kepalanya.
“Saya mau pulang, dan mungkin tidak kembali. Simpan dokumen yang perlu saya tanda tangani. Akan saya kerjakan besok.” Perintah pria itu.
Dewi mengerutkan kening, namun ia pun menganggukkan kepalanya.
“Tidak biasanya pak Elvano meninggalkan pekerjaannya.” Monolog wanita itu saat Elvano telah masuk ke dalam ruangannya.
“Kita akan segera menggelar hajatan, Wi. Siap - siap dari sekarang, supaya saat pesta nanti kamu terlihat cantik.” Ucap Gilang yang entah sejak kapan berada disana.
“Apa maksud pak Gilang?” Tanya Dewi tak mengerti.
“Pokoknya kamu tunggu saja kabar baiknya.” Pria itu pun melangkah menuju ruangannya.
“Kenapa mereka bersikap aneh hari ini? Sayangnya Nara tidak bekerja. Aku jadi tidak ada teman untuk bergosip.” Dewi berdecak di akhir kalimatnya.
.
.
.
Hingga dua bungkus mie instan masuk ke dalam perutnya, tidak ada tanda - tanda jika sang atasan akan pulang.
Pria itu juga tidak membalas pesannya lagi. Mungkin sedang sibuk memimpin rapat.
Nayara pun memilih merebahkan diri di atas sofa. Dan ponselnya tiba - tiba berdering.
Nayla.
Nama sang adik muncul di layar ponsel. Ah, Nayara lupa mengabari gadis itu jika dirinya menginap di penthouse semalam.
“Hallo, Nay.”
“Kakak dimana? Kenapa semalam tidak menjawab panggilanku?” Nada bicara Nayla terdengar khawatir.
Nayara menjauhkan ponselnya. Ia kemudian memeriksa log panggilan tanpa mematikan teleponnya.
Benar saja. Ada tiga kali panggilan tak terjawab dari Nayla.
“Maafkan kakak, Nayla. Untuk beberapa hari ini, kakak harus menginap di penthouse. Pak Elvano sedang banyak pekerjaan dan kakak harus menemani beliau.” Nayara tidak sepenuhnya berdusta. Dirinya memang sedang menginap di penthouse ‘kan?
Terdengar helaan nafas lega dari seberang panggilan.
“Baiklah, kak. Kalau begitu, aku akan meminta Mutia untuk menginap. Kakak hati - hati dan jaga kesehatan.”
Mutia yang di maksud Nayla adalah anak penjual sayur keliling di komplek rumah kontrakan mereka. Yang juga adalah teman kuliah gadis itu.
“Kamu juga jaga diri. Nanti kakak kirim uang jajan tambahan untuk kamu.”
“Iya, kak.”
Nayla mengenal Elvano dengan baik. Karena itu, ia tidak curiga saat sang kakak menginap di penthouse.
Dan lagi, pekerjaan Nayara sebagai seorang asisten pribadi memang mengharuskan dirinya untuk selalu berada di dekat sang atasan bukan?
Karena itu, Nayla merasa lega jika kakaknya saat ini sedang baik - baik saja.
Panggilan pun berakhir. Nayara menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah karena telah berbohong kepada adiknya.
Semalam, Nayla pasti khawatir karena Nayara tidak pulang. Sementara dirinya, justru bersenang - senang dengan Elvano di penthouse.
“Maafkan kakak, Nay. Kakak tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk kamu. Semoga kamu tidak bernasib sama seperti kakak.”
Nayara kemudian membuka aplikasi M-banking, dan mengirim sejumlah uang kepada sang adik. Karena ia tidak tau sampai kapan dirinya akan tertahan di penthouse ini.
Selesai mengirim uang, Nayara meletakan ponselnya di atas meja. Ia pun merebahkan diri di atas sofa.
Jujur saja, Nayara masih merasa sangat lemas. Lututnya masih terasa bergetar jika berdiri. Karena itu, ia memilih merebahkan diri di atas sofa ruang tamu.
“Rasanya pintu kamar sangat jauh.” Gumam gadis itu. Ia pun meregangkan otot - ototnya.
“Astaga. Aku bahkan hanya menggunakan jubah mandi saja. Dasar Elvano, kenapa dia tidak langsung menyiapkan underwear untukku, sih? Padahal aku sering menyiapkan barang - barang pribadinya.”
Namun begitu, Nayara enggan beranjak dari atas sofa. Toh hanya ada dirinya saja di penthouse. Dan tidak ada yang bisa masuk sembarangan ke tempat itu, kecuali dirinya dan Elvano.
...****************...
😝😝😝