Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberontakan yang Sia-sia
Keheningan di dalam penthouse setelah kemegahan acara amal di Hotel Diamond terasa sangat menyesakkan.
Sesilia, berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas, masih mengenakan gaun perak seberat lima kilogram yang kini terasa seperti baju zirah yang membelenggunya.
Isi kepala gadis itu kosong, masih sangat syok dengan pernyataan Axel di acara amal tadi. Suara monster itu yang mengklaim dirinya sebagai Nyonya Steel, masih terus berputar di kepalanya bak kaset rusak. Sebuah vonis kepemilikan satu pihak yang mengerikan.
Axel berada dibelakang gadis itu, sedang melepaskan jam tangan mahalnya dengan gerakan pelan dan anggun. Wajahnya kontras dengan wajah gadis di depannya, yang sangat tertekan. Senyum kecil terbit di wajah kaku lelaki itu. Ada kepuasan tersendiri baginya kala mengklaim sang gadis.
Gadis kecil yang ia dambakan telah resmi terikat pada dirinya. Menjadi milik Axel Steel.
Otaknya berteriak penuh kesenangan. Sedang jantungnya sedang memompa gila-gilaan.
Dua sejoli itu tidak bersuara sama sekali, masih berperang dengan isi kepala masing-masing. Yang satu merasa menjadi manusia paling sial di dunia. Sedang yang satunya berteriak kegirangan, bak bocah yang diberi permen sekardus.
"Kau luar biasa malam ini, tikus kecil," ucap Axel, suaranya rendah dan halus, membelah kesunyian ruangan. "Dunia sudah mengetahui kisah tentang kita."
Sesilia berbalik cepat, matanya berkilat penuh kemarahan yang telah terpendam berjam-jam di bawah sorotan lampu Blitz.
"Kisah kita? Tidak ada kata kita dalam kegilaanmu, Axel. Kau baru saja menghapus identitasku secara sepihak di depan ratusan orang. Dengan menyatakan bahwa aku tunanganmu! But I'm not Mr. Steel! I'm not going to be Mrs. F*cking Steel!!"
"Language, baby girl!" Axel menimpali tajam, matanya berkilat mengerikan.
Mereka berdua bertatapan tajam hingga beberapa menit kemudian.
"I'm doing it just for you, baby girl. To save you from the bad guy. I do love you." Axel membuka suara, mengatakan isi hatinya dengan gamblang.
"Love me?" beo Sesilia.
"Aku melindungimu, baby girl. Aku juga akan memberikan keamanan untukmu."
"Aku tidak butuh keamanan yang bahan bakarnya dari hilangnya kebebasan pribadiku!" teriak Sesilia. "Mulai besok, aku akan kembali ke jadwal lamaku. Aku akan naik transportasi umum ke rumah sakit, aku akan makan di kantin bersama teman-temanku, dan aku akan benar-benar mengabaikan kontrak konyol ini!"
Ini adalah Deklarasi pemberontakan pertama sang tikus kecil yang ingin lepas dari sangkarnya. Baru beberapa hari sejak sang monster membawanya ke tempat tinggalnya yang super mewah. Tetapi tingkat kemuakan gadis itu sudah melebihi batas. Dia tidak mau hidup dalam bayang-bayang monster yang mengaku cinta, padahal dia terobsesi
Sang monster hanya diam. Menanggapi kemarahan tikus kecilnya dengan keheningan. Tidak membalas dengan amarah yang sama.
Sang monster, dalam keheningan itu, hanya menyunggingkan seulas senyum tipis, jenis senyum yang diberikan seorang pemenang kepada pecundang yang belum menyadari kekalahannya.
"Coba saja, tikus kecil. Kita lihat sejauh mana kakimu bisa melangkah tanpa izin dariku."
Pukul 05:00 pagi berikutnya, Sesilia memulai rencananya. Ia tidak menunggu protokol tablet menyala. Ia berpakaian dengan cepat, memakai celana jins sederhana dan hoodie senada. Berharap bisa menyelinap keluar sebelum sistem keamanan Axel sepenuhnya terjaga.
Ia mencapai pintu lift utama. Ia menekan tombol turun berkali-kali, namun layar digital di atas lift hanya menampilkan pesan statis, [Akses Terbatas: Otorisasi Alpha Diperlukan].
"Sial," umpat gadis itu.
Ia berlari menuju tangga darurat. Pintu baja itu tertutup rapat. Dengan tergesa-gesa, gadis itu mencoba memindai sidik jarinya, namun lampu merah berkedip. Sistem biometrik gedung telah diperbarui semalam, sensor tidak lagi mengenali Sesilia sebagai 'tamu dengan akses bebas', melainkan sebagai 'penghuni dalam protokol pengawasan'.
Sesilia berbalik dan mendapati Axel sudah berdiri di ujung koridor, mengenakan jubah sutra hitam, tangan kanannya memegang secangkir kopi. Pria itu tampak seperti sedang menonton sebuah pertunjukan komedi yang membosankan.
"Tangga darurat hanya terbuka jika sensor panas mendeteksi kebakaran nyata, sayangku," ucap sang monster tanpa nada mengejek, hanya menjelaskan fakta yang ada. "Dan lift tidak akan membawamu keluar tanpa kodenya. Kau ingin pergi ke rumah sakit? Mobil sudah menunggu di bawah. Tapi kau akan pergi dengan caraku."
"Aku akan menelepon polisi!" ancam Sesilia, meraba saku hoodie-nya untuk mengambil ponsel.
"Coba saja," tantang Axel. "Tapi kau harus tahu, perusahaan telekomunikasi yang menyediakan sinyal di gedung ini adalah anak perusahaan Steel Group. Dan setiap panggilan keluar dari area ini melewati filter screening pribadiku. Polisi hanya akan menerima laporan bahwa tunangan Axel Steel sedang mengalami delusi akibat kelelahan belajar ekstrim."
Sang gadis merasakan lututnya lemas. Monster itu benar-benar telah membangun penjara digital yang sempurna. Pria itu tidak perlu tenaga ekstra untuk menyakitinya, tidak perlu melayangkan kekerasan fisik, hanya dengan menutup aksesnya ke dunia luar. Itulah penyiksaan yang sempurna itu.
Pemberontakan sang tikus kecil berlanjut hingga ke atas meja makan. Ia menolak untuk menyentuh makanan yang disiapkan. Hanya duduk dengan tangan terlipat, sambil menatap sang monster dengan tingkat kebencian melampaui batas.
"Aku akan mogok makan sampai kau membiarkanku pergi," tegas Sesilia.
Axel meletakkan pisau dan garpunya dengan suara denting yang tajam di atas piring porselen. Ia menatap gadis itu dengan mata yang menyipit. "Mogok makan adalah bentuk pemberontakan yang sangat kuno dan kekanak-kanakan, sayangku. Kau seorang calon dokter. Kau tahu persis apa yang terjadi pada sinapsis otakmu jika kadar glukosamu turun di bawah level kritis."
"Aku tidak peduli!"
"Tapi aku peduli," balas Axel. Ia berdiri, berjalan memutari meja, dan berdiri tepat di belakang gadisnya. Lalu meletakkan tangannya di bahu sang gadis, cengkeramannya kuat namun tidak menyakitkan.
"Jika kau menolak makan, aku akan menganggap koki di gedung ini tidak kompeten. Aku akan memecat mereka semua hari ini, memastikan mereka tidak akan pernah bisa bekerja di restoran mana pun di Asia, dan aku akan menggantinya dengan tim medis yang akan memberimu nutrisi melalui selang infus."
Sesilia terengah. "Kau... kau sangat kejam!."
"Aku logis," bisik Axel di dekat telinganya. "Aku tidak akan membiarkan 'masterpiece'-ku rusak karena egonya sendiri. Pilihannya sederhana. Kau makan omelet ini sendiri, atau aku akan memastikan kau mendapatkan nutrisi dengan cara yang jauh lebih memalukan dan melukai harga dirimu."
Dengan tangan gemetar dan air mata yang menggenang, Sesilia mengambil sendoknya. Setiap suapan terasa seperti menelan duri. Axel kembali ke kursinya, memperhatikannya makan dengan tatapan yang hampir seperti pemujaan yang gila. Bagi Axel, kepatuhan tikus kecilnya meski dipaksakan adalah bentuk keintiman yang paling memuaskan.
Beberapa jam kemudian, saat Axel pergi ke kantor pusat untuk pertemuan darurat, Sesilia yang merasa frustrasi mulai mencari cara lain. Ia mulai menggeledah ruang kerja Axel yang biasanya terkunci. Disana Ia menemukan sebuah panel rahasia di balik rak buku yang bergeser melalui sensor tekanan.
Di balik panel itu, terdapat sebuah ruangan kecil yang dingin dan dipenuhi layar monitor. Dengan langkah gemetar ia masuk, dan apa yang terpampang di depannya membuatnya merasa seperti jiwanya telah tercemar.
Ruangan itu bukan sekadar ruang CCTV. Itu adalah pusat analisis psikologis tentang dirinya.
Satu layar menampilkan grafik detak jantung dirinya selama 24 jam terakhir. Layar lain menampilkan analisis pola tidurnya. Namun yang paling mengerikan adalah sebuah layar yang menampilkan transkrip percakapannya dengan sahabatnya melalui telepon tiga hari lalu. Sang monster tidak hanya menyadap sinyalnya, ia menggunakan AI untuk menganalisis nada suaranya dan mendeteksi tingkat kebohongan atau ketidakbahagiaan dari suara itu.
Di meja utama, Sesilia menemukan sebuah kotak beludru. Isinya adalah ribuan potongan kecil. Setelah diperhatikan beberapa saat itu adalah sobekan-sobekan kertas dari tempat sampah di apartemen lamanya yang telah disusun kembali dengan teliti. Itu adalah draf-draf novel fantasi yang pernah ia tulis dan buang karena merasa tidak percaya diri.
Axel telah mengumpulkan setiap fragmen pikirannya yang dibuang. Pria itu mengonsumsi setiap bagian dari dirinya yang bahkan ia sendiri sudah lupakan.
"Kau melihatnya, bukan?"
Suara Axel membuat Sesilia berteriak kecil. Sang monster sudah kembali, entah sejak kapan. Pria itu berdiri di ambang pintu ruang rahasia itu, wajahnya tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun karena tertangkap sebagai penguntit gila.
"Kenapa, Axel? Kenapa kau menyimpan sesuatu yang sudah aku buang?!" teriaknya, sambil menunjuk ke arah sobekan draf novelnya.
Sang monster berjalan masuk, jemarinya mengusap salah satu monitor yang menampilkan wajah gadisnya yang sedang belajar. "Karena setiap kata yang kau tulis adalah bagian dari jiwamu. Dan aku ingin memiliki jiwamu secara utuh. Aku ingin tahu apa yang membuatmu sedih, apa yang membuatmu tertawa dalam imajinasimu, dan apa yang membuatmu takut."
"I...itu bukan cinta lagi, Axel! Kau... kau sakit jiwa!", teriaknya frustasi.
"Mungkin," jawab Axel, melangkah mendekat hingga tikus kecilnya terpojok di depan rak server. "Tapi kegilaanku adalah alasan kenapa kau masih bernapas dengan aman hari ini. Kau tahu kenapa draf novelmu ini ada di sini? Karena aku membelinya dari petugas kebersihan apartemenmu setiap minggu selama empat tahun. Aku tidak ingin ada orang lain yang membaca pikiran fantasimu. Itu hanya untukku."
Axel mencengkeram dagu Sesilia, memaksa gadis itu menatap kegelapan murni di matanya. "Kau adalah duniaku, tikus kecil. Dan di dalam dunia ini, tidak ada privasi bagi sang penguasa. Aku tahu kau mencoba melarikan diri pagi ini. Aku tahu kau membenciku saat makan tadi. Dan aku menyukainya. Kebencianmu membuktikan bahwa kau merasakanku di setiap sel tubuhmu."
Pemberontakan tikus kecil milik sang monster mencapai puncaknya malam ini. Ia memutuskan untuk tidak berbicara sepatah kata pun pada pria itu. ia membalas sang monster dengan kebisuan sebagai senjata terakhirnya.
Mereka saat ini duduk di ruang tamu, sang monster sedang membaca laporan keuangan di tabletnya, sementara tikus kecilnya menatap kosong ke luar jendela. Pria itu mencoba memulai pembicaraan tentang riset medis terbaru, namun tikus kecilnya hanya diam, membeku seperti patung perak yang ia perankan semalam.
Pria itu meletakkan tabletnya. Kemudian berdiri dan berjalan menuju sistem kontrol audio penthouse. Sesaat kemudian, sebuah rekaman audio mulai diputar melalui speaker di seluruh ruangan.
Itu adalah suara sang gadis. Suaranya saat sedang menyanyi pelan di kamar mandi, suara tawanya saat menelepon Uni, dan suara isakannya saat ia merasa kesepian. Axel telah mengompilasi semua suara gafis itu menjadi sebuah harmoni yang katanya penuh cinta.
"Berhenti..." bisik sang gadis, menutup telinganya. "Hentikan suara itu!"
Monster itu tidak menghentikannya. Ia justru memperkeras volumenya. "Bicaralah padaku, sayangku. Gunakan suaramu untukku, atau aku akan terus memutar rekaman ini sampai kau lupa bagaimana rasanya memiliki suara yang nyata."
Sesilia jatuh terduduk di lantai, menangis karena frustrasi. Axel berlutut di hadapannya, mematikan rekaman itu, dan menarik sang gadis ke dalam pelukannya yang posesif.
"Kau tidak bisa menang melawanku, Tikus Kecil," bisik Axel, mencium puncak kepalanya dengan kelembutan yang mengerikan.
"Setiap pemberontakanmu sudah aku antisipasi dalam algoritma keamananku. Kau bisa membenciku, kau bisa mencoba lari, tapi pada akhirnya, kau akan menyadari bahwa satu-satunya tempat di mana kau benar-benar 'eksis' adalah di dalam genggamanku."
Malam itu, Sesilia menyadari bahwa perang dinginnya telah berakhir dengan kekalahan telak. Penjara emas ini bukan hanya tentang dinding dan kode akses, tetapi lebih dari itu. Sang monster Steel telah merayap masuk ke dalam sejarahnya, memorinya, dan setiap suara yang pernah ia keluarkan.
Perlawanannya telah hancur berantakan, menyisakan seorang Ratu yang kini menyadari bahwa mahkotanya telah dilebur menjadi rantai yang mengikatnya pada Sang Monster selamanya.
bau bau bucin😍😄