NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

Aku bertemu Ecy pada hari ketika aku sama sekali tidak berniat bertemu siapa pun.

Pagi itu aku berjalan menyusuri jalan tanah di pinggir desa kecil yang nyaris tidak tercatat di peta. Aku hanya ingin membeli roti lalu melanjutkan perjalanan sebelum matahari terlalu tinggi. Dunia terasa tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang terbiasa hidup dengan kewaspadaan.

Aku tidak melihatnya karena sedang menatap tanah.

Dan ia tidak melihatku karena sedang berlari.

Tabrakan itu ringan, tapi cukup membuat kami sama-sama kehilangan keseimbangan. Keranjang anyaman yang dibawanya terjatuh, apel dan beberapa kain kecil berserakan di jalan.

“Maaf—!” ucap kami hampir bersamaan.

Aku refleks berjongkok, mengumpulkan barang-barangnya satu per satu. Tanganku berhenti sesaat ketika menyadari bahwa ia ikut berjongkok di depanku. Rambutnya terikat sederhana, pakaiannya biasa saja, tapi matanya—tenang, jernih, dan tidak membawa rasa curiga.

Itu membuatku kikuk.

“Seharusnya aku lebih hati-hati,” katanya duluan. Suaranya tidak tergesa, tidak menyalahkan.

“Tidak,” jawabku singkat. “Aku yang melamun.”

Kami saling menyerahkan barang terakhir. Jari kami hampir bersentuhan, lalu sama-sama menarik tangan dengan canggung. Ada jeda aneh di antara kami—bukan sunyi yang tidak nyaman, tapi seperti dua orang yang sama-sama lupa harus bicara apa.

Ia tersenyum kecil. Tidak dibuat-buat.

“Kau bukan orang sini, ya?”

Aku menggeleng. “Hanya lewat.”

Jawaban itu sudah menjadi kebiasaanku. Tapi entah kenapa, di depannya, kalimat itu terasa lebih jujur dari biasanya.

Ia mengangguk, seolah tidak menuntut penjelasan lebih. “Aku Ecy,” katanya sambil menggeser keranjang ke pinggulnya.

Aku terdiam sesaat.

Nama.

Sudah lama aku tidak menyebutkan namaku sendiri pada orang asing.

Aku tidak langsung mencarinya lagi.

Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku terlalu terbiasa hidup dengan jarak. Setelah pertemuan pertama itu, aku melanjutkan perjalananku seperti biasa—membeli roti, keluar desa, berjalan menyusuri jalur lama yang jarang dilewati orang. Tapi untuk pertama kalinya sejak aku menjadi pengembara, langkahku tidak sepenuhnya kosong.

Nama itu—Ecy—ikut berjalan bersamaku.

Beberapa hari berlalu sebelum aku kembali ke desa kecil itu. Aku meyakinkan diriku bahwa aku hanya butuh persediaan, bahwa itu bukan alasan lain. Tapi kenyataannya, mataku refleks mencari sosok dengan keranjang anyaman setiap kali aku melewati jalan utama.

Aku menemukannya di tempat yang sama seperti pertama kali kami bertabrakan. Kali ini ia tidak berlari. Ia berdiri di depan kedai, berbicara dengan pemiliknya.

Ia melihatku lebih dulu.

Tidak terkejut. Tidak berlebihan. Hanya senyum kecil yang seolah berkata, oh, kau masih di sini.

“Kau jadi ke kedai roti itu?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Roti habis sebelum aku sampai.”

Ia tertawa pelan. “Biasanya begitu.”

Kami tidak duduk bersama lama. Hanya beberapa menit berdiri di depan kedai, berbincang hal-hal ringan. Tentang cuaca yang aneh tahun ini. Tentang jalur utara yang katanya sering longsor. Tentang desas-desus kecil yang tidak penting.

Ia tidak menanyakan dari mana aku berasal.

Aku tidak bertanya ke mana ia akan pergi.

Dan itu terasa… nyaman.

Pertemuan kami setelah itu jarang dan tidak pernah direncanakan. Kadang seminggu sekali. Kadang lebih lama. Selalu singkat. Selalu di tempat umum. Selalu dengan jarak yang aman—bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.

Aku sengaja begitu.

Karena setiap malam, sebelum tidur, aku memeriksa jejak. Mendengar suara langkah. Mengingat kembali bahwa keluarga Lin belum pernah berhenti memburuku. Kekalahan mereka tidak menghapus dendam. Ia hanya membuatnya lebih sunyi.

Aku tahu satu kesalahan saja bisa membuat siapa pun di sekitarku ikut terseret.

Termasuk Ecy.

Ia mulai mengenal kebiasaanku sebelum aku menyadarinya. Ia tahu aku tidak suka keramaian. Tahu aku selalu memilih duduk menghadap pintu. Tahu aku jarang bicara tentang diriku sendiri. Tapi ia tidak memaksaku berubah.

Suatu sore, kami berjalan sebentar menyusuri tepi ladang. Tidak berdekatan. Tidak bergandengan. Hanya dua orang yang melangkah searah.

“Kau selalu terlihat seperti sedang siap pergi,” katanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

“Itu buruk?” tanyaku.

Ia menggeleng. “Tidak. Hanya… seolah kau tidak benar-benar tinggal di mana pun.”

Aku hampir tertawa. Hampir.

“Kau benar,” kataku. “Aku memang tidak tinggal.”

Ia berhenti melangkah, menatap ladang di depan kami. “Kalau begitu,” katanya pelan, “semoga kau menemukan tempat yang mau menerimamu cukup lama.”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu, selama aku masih diburu, tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Malam itu, aku melihat bayangan di atap rumah kosong dekat penginapanku. Terlalu ringan untuk orang biasa. Terlalu rapi untuk pencuri. Aku tidak tidur. Aku pergi sebelum fajar, meninggalkan kota kecil itu tanpa berpamitan.

Aku kembali dua minggu kemudian.

Ecy menatapku dengan kaget yang ditahan. Bukan marah. Bukan kecewa. Hanya… lega.

“Kau pergi,” katanya.

“Aku harus,” jawabku.

Ia tidak bertanya kenapa.

Sejak saat itu, aku tahu: kedekatan kami akan selalu seperti ini. Datang dan pergi. Bertemu dan menghilang. Tidak pernah cukup lama untuk menjadi sesuatu yang jelas.

Dan mungkin… itu satu-satunya bentuk yang aman.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentangnya. Cara ia menata barang dagangan. Cara ia mendengarkan orang lain bicara. Cara ia diam lebih sering daripada mengisi kekosongan dengan kata-kata.

Ia bukan gadis yang berusaha menarik perhatian. Ia hanya hadir. Dan kehadirannya terasa nyata.

Suatu hari, ia bertanya, “Kenzy, kau percaya takdir?”

Aku berpikir sejenak. “Aku percaya pilihan,” kataku. “Takdir sering dijadikan alasan.”

Ia tersenyum. “Jawabanmu terdengar seperti orang yang pernah kehilangan banyak hal.”

Aku menatapnya lama, lalu berkata jujur, “Aku pernah kehilangan diriku sendiri.”

Ia tidak menekan. Tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, seolah mengerti tanpa perlu cerita lengkap.

Itu membuatku takut.

Karena pemahaman seperti itu bisa menjadi ikatan.

Dan ikatan, bagiku, selalu berakhir dengan kehilangan.

Tanda bahaya datang lebih cepat dari yang kuduga.

Seorang pedagang asing bertanya terlalu banyak tentangku. Seorang penjaga desa memperhatikanku lebih lama dari biasanya. Dan suatu malam, aku menemukan tanda kecil di pohon dekat penginapan—kode lama yang hanya digunakan oleh keluarga Lin.

Aku tidak punya waktu.

Aku menemui Ecy keesokan paginya. Ia sedang membereskan barang. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

“Aku harus pergi,” kataku akhirnya.

Ia menoleh, wajahnya tenang tapi matanya berubah. “Sekarang?”

Aku mengangguk.

“Apakah kau akan kembali?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana. Jawabannya tidak.

“Aku tidak tahu,” kataku jujur.

Ia terdiam lama. Lalu ia mengambil sehelai kain kecil dari keranjangnya dan menyerahkannya padaku.

“Untuk membalut luka,” katanya. “Atau sekadar pengingat.”

Aku menerimanya dengan tangan yang lebih berat dari seharusnya.

“Aku minta maaf,” kataku.

Ia menggeleng. “Tidak semua perpisahan perlu alasan.”

Kami tidak berpelukan. Tidak ada janji. Tidak ada kata-kata besar.

Aku berjalan pergi, dan untuk pertama kalinya sebagai pengembara, langkahku terasa berat.

Di kota berikutnya, aku hidup lebih berhati-hati. Mengganti rute. Mengganti kebiasaan. Mengganti nama lagi. Tapi di malam-malam sunyi, aku mengeluarkan kain kecil itu dan mengingat seorang gadis yang tidak pernah memintaku tinggal—namun membuatku ingin.

Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi.

Aku hanya tahu satu hal:

di dunia yang terus memburuku,

Ecy adalah satu-satunya hal yang tidak pernah mengejarku—

dan justru karena itu, ia tinggal paling lama di pikiranku.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!