Setelah diselingkuhi, Brisia membuat rencana nekat. Ia merencanakan balas dendam yaitu menjodohkan ibunya yang seorang janda, dengan ayah mantan pacarnya. Dengan kesadaran penuh, ia ingin menjadi saudara tiri untuk mengacaukan hidup Arron.
Semuanya berjalan mulus sampai Zion, kakak kandung Arron muncul dan membuat gadis itu jatuh cinta.
Di antara dendam dan hasrat yang tak seharusnya tumbuh, Brisia terjebak dalam cinta terlarang saat menjalankan misi balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ken Novia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
"Gitu doang keselek Pa?"
"Kamu ngapain coba Zi?"
"Lah nanya doang, emang papa mikirnya aku mau ngapain?"
"Hah engga." Papa Handi jadi salting sendiri.
"Jadi gimana Pa? Tante itu janda?" Tanya Zion lagi masih penasaran.
"Iya." Jawab papa Handi singkat, moga aja Zion nggak ngomong apa-apa lagi. Papa Handi mulai makan, buat mengalihkan perhatian Zion, ia menyuapkan nasi dengan potongan ayam.
"Papa nggak pengin nikah lagi?"
"Uhuk!" Papa Handi sekarang keselek ayam, bener-bener yang namanya Zion suka ngagetin mana ngomongnya tuh nggak basa basi, langsung ke inti.
Zion menyodorkan minum, dari kejauhan mama Rosa cuma ngeliatin, penasaran apa yang diomongin sampai papa Handi keselek dua kali.
"Papa nggak kepengin Zi." Jawab papa Handi setelah tenggorokannya nggak perih.
"Aku sama kunyuk udah gede, udah punya kehidupan sendiri. Kalau papa mau nikah lagi silahkan, aku nggak bakal larang. Yang penting....."
Zion menjeda kalimatnya sementara papa Handi diam menyimak.
"Jangan cari yang modelan kaya mamanya si kunyuk! Cari perempuan baik-baik yang bisa ngurusin Papa! Jangan yang kaya ani-ani apalagi cuma ngabisin duit sama hedon doang."
Setelah mengatakan itu, Zion mulai makan, nggak peduli sama papanya yang diam membeku. Papa Handi menatap anaknya yang asyik menikmati makanan. Semua kesalahan papa Handi dimasa lalu, selama ini masih menghantui.
Sungguh papa Handi sangat menyesal dulu mengkhianati mamanya Zion. Apalagi mamanya Arron nggak lebih baik, seperti yang Zion katakan cuma bisa ngabisin duit sama hedon. Arron juga dulu diurus sama baby sitter, mamanya lebih milih ngurus diri sendiri biar tampil cetar.
Wajar kalau Zion sangat benci mama dan adik tirinya. Selain membuat mama kandungnya tersisih dan nekad mengakhiri hidup, Arron dulu pas kecil juga sering merebut perhatian papa Handi. Membuat Zion kurang kasih sayang dan memilih pergi ke luar kota.
"Zi papa selama ini nggak nikah lagi karna Papa selalu merasa bersalah sama mamamu. Papa juga nggak bisa jadi papa yang baik buat kamu. Biarin papa hidup kaya gini aja, bisa ngobrol sama kamu lagi kaya gini papa udah seneng banget. Papa ngga masalah udah biasa sendiri."
"Mama udah nggak ada, nggak mungkin bisa hidup lagi. Aku cuma mau bilang, misal papa mau nikah lagi aku nggak masalah. Biar papa tuanya ada yang nemenin, aku kayaknya mau menetap di Jogja, mungkin juga cari istri disana. Papa cuma punya kunyuk disini, itupun kalau bisa diharapkan."
Papa Handi merasa tercekit, membayangkan Zion mau terus di Jogja membuatnya sedih. Padahal papa Handi penginnya Zion pulang mumpung udah nggak terikat dengan perusahaan.
Acara makan itu mendadak sunyi, papa Handi sibuk dengan pikirannya sendiri. Zion mah cuek aja, toh sarannya cukup masuk akal. Seenggaknya kalau papanya mau cari istri lagi sekarang aja, kemungkinan masih banyak yang mau. Soalnya masih bisa cari duit.
Kalau soal fisik, papa Handi juga bisa dibilang masih oke. Badannya tinggi tegap, wajahnya bersih, ganteng jangan ditanya. Nggak heran kalau Zion ganteng banget, soalnya nurun dari papa Handi. Kalau Arron malah wajahnya nggak ada mirip-miripnya sama papa Handi, cuma dapat gen tinggi doang.
Setelah makanan habis, mereka berdua berpisah karna tujuannya berbeda. Baru aja papa Handi sama Zion pergi, Brisia datang nenteng belanjaan.
"Mamaaaa." panggilnya riang seperti biasa.
"Habis belanja Neng?" Tanya mama Rosa.
"Iya hehe, duit dari om Handi aku beliin sepatu sama jajan."
"Om Handi tadi kesini, baru aja pergi."
"Yah nggak ketemu, kok datengnya cepet? Kirain kaya biasa pas jam makan siang makanya aku buru-buru balik."
"Tadi makan disini sama anak sulungnya."
"Loh bukannya di Jogja?"
"Pulang kemarin katanya."
"Ekhm.. Mama kok tau?" Tanya Brisia curiga.
"Apaan sih Brie, orang kemarin Om Handi beli lauk buat anaknya, makanya mau tau."
"Ekhm kirain kalian berdua sering chat an."
"Mama aja nggak punya nomernya Om Handi."
"Mama kok ikut-ikutan manggil Om?"
"Daripada manggil Mas nanti sama kamu di kecengin."
Brisia langsung cekikikan, mana mukanya mama Rosa kaya teraniaya.
"Mama serius nggak ada rasa tertarik sedikitpun sama Om Handi?"
"Brie, stop bahas Om Handi."
"Om Handi baik loh Ma, mana bapakable hehe. Maaa aku kepengin punya papa kaya Om Handi." Rengek Brisia.
"Jangan gitu Brie! Om Handi sama kaya mama, nggak kepengin nikah lagi."
"Ah masa sih? Mama tau dari mana?"
"Dari orangnya."
"Belum nemu yang cocok aja kali. Dari semua duda yang pernah deket sama mama, cuma Om Handi yang menarik dimata aku. Kalau mama mau aku acc lah pokoknya."
"Ya ampun..."
Mama Rosa memijat kepalanya, pusing ngadepin anak gadis yang ngerengek minta bapak baru.
"Maaa kepengin papa baru."
"Brie kamu minta papa baru kaya minta jajan, dikira gampang apa? Lagian Om Handi belum tentu mau sama Mama."
Mama Rosa tiba-tiba keceplosan.
"Hayooooo.... Kalo Om Handi mau berarti mama mau dong?"
"Hah nggak gitu Brie maksud mama."
"Dudududu, biasanya yang keceplosan itu jujur."
"Brie.... tunggu."
Seperti biasa Brisia kabur kalau habis ngeledekin mamanya.
"Dadah mama aku pulang ya! Nggak asyik ah Om Handinya udah pergi padahal mau aku bujuk biar mungut aku jadi anak."
Mama Rosa geleng-geleng kepala, anak cerewetnya itu kadang suka ngeselin, untung sayang jadi nggak ditabok.
Malamnya, papa Handi kepikiran sama omongannya Zion tadi siang. Seperti biasa bakal bengong diteras lantai dua sambil ngopi dan ngerokok.
"Kalau Zion menetap di Jogja saya nggak bisa sering ketemu. Mau ikut pindah juga kasihan Arron disini. Arron diajak pindah juga belum tentu mau."
"Ya Tuhan, semoga Zion dapat istri orang sini aja biar nggak jauh-jauh dari saya. Saya pengin dekat dengan Zion seperti dulu. Baru aja seneng mulai akur sama anak itu, malah anaknya bilang mau menetap di kota orang."
Besoknya, papa Handi datang ke warung makan mama Rosa, tapi disana sedang ada keributan. Ada ibu-ibu marah-marah diwarung nyusulin suaminya yang lagi makan.
"Mba Rosa! Jadi janda jangan genit ya! Pantesan suami saya betah makan disini!" Omel ibu-ibu itu mana bawa teman satu lagi.
"Loh saya nggak pernah genit ke siapapun. Saya cuma jualan makanan, kapan saya pernah genit sama suami kamu Mba?"
"Halah, buktinya suami saya hampir tiap hari makan disini. Saya udah capek-capek masak malah nggak dihargain!"
"Trus itu salah saya Mba? Saya mana tau? Tanya suaminya kenapa makan disini nggak makan dirumah!"
"Halah, kalau ngga dikasih apa sama Mba Rosa nggak mungkin suamimu betah makan disini, padahal makanannya biasa aja!" Teman orang itu malah ngomporin.
"Mba kamu jangan memperkeruh keadaan ya! Tanya aja sama karyawan saya apa saya pernah godain suami dia." Mama Rosa ngga terima difitnah.
"Heh kalian berdua jangan fitnah bos saya ya! Mana pernah ibu godain laki orang. Yang mau sama ibu itu banyak ngapain juga sama suami orang!" Bela Mba Rena kesal.
"Iya bener Ren, heran banget baru pernah ada orang ngefitnah ibu. Lagian ya emangnya kita tanya satu-satu yang makan disini dirumah istrinya masak apa engga. Taunya orang kesini ya nyari makan, heran!" Mba Reni nggak kalah nyolot.
Brisia muncul, anak itu kaget mamanya sedang dimaki-maki. Sementara papa Handi dari tadi bingung jadinya masih mantau.
"Ada apa ya Bu? Kenapa maki-maki mama saya?"
"Loh ini anaknya si janda genit." Hardik orang itu.
Brisia nggak terima, seumur-umur baru pernah ada yang ngatain mamanya janda genit.
"Wah nggak bener ini!" Brisia berkacak pinggang seolah nantangin. Kesel banget ada yang ngefitnah mamanya.
coba2 dikit biar ntar pas udah nikah udah pro bisa bikin seneng istri /Tongue/
kalo udah nikah ya gak boleh coba2 /Panic/
cuss lah beraksii 🤭😄