NovelToon NovelToon
MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

MAHAR LIMA MILIAR DARI SUAMI PENGANGGURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Cinta setelah menikah / Romansa pedesaan / Konglomerat berpura-pura miskin / CEO / Nikahmuda
Popularitas:43.6k
Nilai: 5
Nama Author: Prettyies

Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.

Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.

Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duduk di pangkuan

Selina melirik layar laptop lalu menoleh ke Adipati dengan mata berbinar.

“Aku mau lihat kamu kerja dong, Mas.”

Adipati menutup mouse sebentar, lalu tersenyum nakal.

“Bentar, mas kasih tau. Tapi ada syaratnya.”

Selina menyipitkan mata.

“Syarat apa?”

Adipati duduk lebih santai di kursi, lalu menarik Selina perlahan hingga duduk di pangkuannya.

“Duduk di sini.”

“Mas!” Selina refleks berpegangan di bahu Adipati.

“Aku nggak fokus kalau kayak gini.”

Adipati terkekeh pelan.

“Justru itu. Kamu nggak perlu fokus ke layar.”

“Terus ke mana?” Selina mendengus.

Adipati mendekatkan wajahnya.

“Cukup dengerin aja penjelasan mas sambil menatap suami kamu yang ganteng ini.”

Selina mencibir, tapi senyumnya bocor.

“PD banget sih.”

“Bukan PD sayang,” jawab Adipati santai.

“Tapi fakta.”

Selina menepuk dadanya pelan.

“Fakta dari mana?”

Adipati mengangkat alis.

“Kalau mas jelek, emang kamu mau nikah sama Mas?

Selina pura-pura berpikir, lalu menggeleng.

“Kayaknya enggak.”

“Nah,” Adipati tersenyum puas.

“Berarti Mas ganteng.”

“Logikanya aneh,” Selina tertawa kecil.

“Tapi… ya udah.”

Adipati merangkul pinggang Selina agar duduknya lebih nyaman.

“Sekarang Mas mau nunjukin caranya Mas kerja sama kamu. Dengan kamu nemenin Mas jadi tambah semangat.”

“Ini nemenin atau digangguin?” Selina menggoda.

“Multitasking,” jawab Adipati tangannya mengelus-elus paha Selina.

“Trading jalan, mesra sama istri juga jalan.”

Selina menghela napas kecil, lalu bersandar di dada Adipati.

“Dasar mesum kamu.”

Adipati menunduk berbisik ditelinga Selina.

“Mas hanya melakukan ini sama kamu.”

Adipati kembali menggerakkan mouse, matanya fokus ke layar.

“Ini namanya market lagi konsolidasi,” jelasnya tenang. “Harga naik turun di area sempit. Mas harus fokus.”

Selina menyandarkan dagu di dada Adipati.

“Kayak pasien ya, Mas. Kalau kebanyakan obat malah bahaya.”

Adipati tersenyum.

“Nah, itu contoh bagus. Trading juga gitu. Kebanyakan ambil posisi, malah kena penyakit… namanya margin call.”

Selina terkekeh.

“Serem amat istilahnya.”

“Makanya mas disiplin,” lanjut Adipati. “Mas cuma masuk kalau kondisinya jelas. Sama kayak hidup.”

Selina mendongak menatapnya.

“Maksudnya?”

Adipati menatap balik, serius tapi lembut.

“Mas nggak main-main ambil keputusan. Termasuk waktu mas milih kamu.”

Selina terdiam sesaat.

“Mas jangan gitu dong… aku jadi baper.”

“Itu niatnya,” jawab Adipati tanpa ragu.

Selina memukul dadanya pelan.

“Kamu tuh bahaya. Bisa bikin aku lupa tujuan hidup.”

“Tujuan hidup kamu kan jadi dokter,” kata Adipati.

“Dan tujuan hidup mas… nemenin kamu sampai kamu pakai jas putih.”

Selina tersenyum hangat.

“Kalau aku capek koas nanti?”

“Kamu pulang,” jawab Adipati lembut.

“Mas siapin makan, mas pijitin, mas dengerin kamu cerita.”

Selina menarik napas pelan.

“Terus kalau kamu rugi trading?”

Adipati tertawa kecil.

“Mas akan konsultasi sama Bu Dokter Selina,agar kepala Mas yang panas jadi dingin.”

Selina memeluk Adipati lebih erat.

“Berarti kita sama-sama tempat pulang ya.”

Adipati mengecup pelipisnya singkat.

“Iya. Market boleh kejam, rumah harus hangat.”

Selina menutup mata sejenak.

“Mas…”

“Iya, sayang?”

“Sekarang aku ngerti,” ucapnya pelan.

“Kenapa kamu kelihatan tenang terus.”

Adipati mengusap rambut Selina lembut.

“Karena mas udah nemuin aset paling berharga.”

Selina tersenyum.

“Aku?”

“Iya,” jawab Adipati tanpa ragu.

“Yang nggak bisa turun nilainya, nggak bisa dijual, dan mas simpan seumur hidup.”

Adipati menarik napas pelan, jemarinya mulai bergerak di atas mouse dan keyboard.

“Mas mulai ya,” katanya serius, nada suaranya berubah lebih fokus.

Selina mengangguk, duduk manis di sampingnya.

“Iya, aku perhatiin.”

“Ini namanya analisis dulu,” jelas Adipati sambil menunjuk layar.

“Mas nggak langsung masuk. Kayak kamu sebelum mendiagnosis pasien, pasti anamnesis dulu kan?”

“Iya,” Selina mengangguk cepat.

“Nggak bisa asal vonis.”

“Nah sama,” Adipati tersenyum.

“Kalau asal masuk, bisa ‘salah obat’.”

Ia memperbesar grafik.

“Lihat ini, harga lagi konsolidasi. Artinya pasar lagi bingung.”

“Bingung kenapa?” Selina penasaran.

“Karena banyak yang takut masuk, tapi juga takut ketinggalan,” jawab Adipati.

“Psikologi massa.”

Selina menyipitkan mata.

“Kayak pasien nunggu hasil lab.”

“Persis,” Adipati terkekeh.

“Sekarang mas tunggu konfirmasi.”

Beberapa detik hening. Selina menahan napas tanpa sadar.

“Kok aku ikut deg-degan ya.”

Adipati meliriknya.

“Jangan tegang, ini bukan IGD.”

“Aku ngerasa lagi jaga malam,” Selina nyengir.

Tiba-tiba Adipati mengklik.

“Nah… masuk.”

Selina refleks menarik lengan Adipati.

“Eh eh, udah? Itu udah?”

“Iya,” jawab Adipati tenang.

“Mas udah pasang batas rugi sama target untung.”

“Kalau salah?”

“Mas keluar,” katanya mantap.

“Nggak ada ego.”

Selina menatap wajah suaminya.

“Kamu dewasa banget cara mikirnya.”

Adipati tersenyum tipis.

“Karena mas pernah jatuh. Pernah miskin, pernah salah langkah.”

Selina menggenggam tangannya.

“Sekarang kamu hebat.”

“Bukan hebat,” Adipati menggeleng.

“Mas cuma konsisten.”

Beberapa menit berlalu. Grafik bergerak naik perlahan.

“Mas… naik,” Selina menunjuk layar, matanya membesar.

“Iya,” jawab Adipati santai.

“Tenang.”

“Kok kamu nggak senyum-senyum?”

“Belum keluar,” jawabnya.

“Jangan bahagia sebelum waktunya.”

Tak lama kemudian, Adipati mengklik lagi.

“Oke. Selesai.”

Selina melongo.

“Itu… udah?”

“Iya,” Adipati menutup aplikasi.

“Cukup buat hari ini.”

“Berapa?” Selina penasaran.

Adipati menyebut angka pelan.

Selina refleks menutup mulutnya.

“Mas… itu… satu operasi jantung aku aja belum tentu segitu.”

Adipati tertawa kecil.

“Makanya mas bilang, jangan ngeremehin kerjaan mas.”

Selina memeluknya erat.

“Sekarang aku ngerti kenapa kamu kelihatan santai tapi bertanggung jawab.”

Adipati membalas pelukan itu.

“Dan sekarang mas ngerti, punya istri calon dokter itu bikin mas bangga.”

Selina tersenyum kecil, wajahnya bersembunyi di balik dada bidang Adipati. Jarinya mencengkeram kemeja pria itu pelan, seolah mencari keberanian.

“Terima kasih, Mas… I love you.”

Tubuh Adipati langsung menegang. Ia menunduk, menatap Selina dengan mata sedikit melebar.

“Sebentar,” katanya pelan tapi tegas. “Kamu ngomong apa barusan?”

Selina makin merapat, pipinya terasa panas.

“A-aku cuma bilang terima kasih…”

Adipati mengangkat dagu Selina perlahan, memaksanya menatap.

“Bukan yang itu,” ucapnya sambil menyipitkan mata, ada senyum tipis yang tertahan. “Yang setelahnya.”

Selina menelan ludah.

“Mas jangan ngeledek…”

“Mas nggak ngeledek,” jawab Adipati lembut tapi penuh penekanan. “Mas mau dengar lagi.”

Selina menarik napas dalam-dalam, lalu berkata lirih namun jelas,

“I love you, Mas.”

Adipati terdiam beberapa detik. Dadanya naik turun, lalu senyum hangat merekah di wajahnya. Ia menarik Selina ke pelukan yang lebih erat.

“Ulangi sekali lagi,” bisiknya.

Selina terkekeh kecil, suaranya gemetar tapi tulus.

“I love you.”

Adipati menghela napas panjang, menempelkan dagunya di kepala Selina.

“Mas nunggu kalimat itu lebih lama dari naik-turunnya market,” katanya pelan.

“Dan sekarang… mas sudah dapat jawabannya.”

Tangannya mengusap rambut Selina penuh kasih.

“Mas juga cinta kamu, Sel.”

1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
adipati kemana? 🤔
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yg jelas suamimu kaya raya, Selina. 😱
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
selamat terkaget-kaget lah sel😁😁
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
alhamdulillah SAH!
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
jaga pikiran positif terus ya, Selina. percaya pilihan ayahmu saja ya
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
seru ini ceritanya
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
mulai baca.
Prettyies: Terima kasih
total 1 replies
Amelia Putri
𝒈𝒂𝒔𝒔𝒔 𝒍𝒏𝒋𝒖𝒕
Amelia Putri
𝒍𝒏𝒋𝒖𝒕 𝒕𝒉𝒐𝒓
Amelia Putri
𝒍𝒏𝒋𝒖𝒕
Felycia R. Fernandez
siapa Sean?🤔
Felycia R. Fernandez: siiip kk Thor 😅
total 2 replies
Felycia R. Fernandez
pertama beli sih gtu,ntar klo udah terbiasa mah cuek😆😆😆
Felycia R. Fernandez: buat pertama sih kk😆,lama lama udah terbiasa nyebutin merk nya, apalagi klo udah punya anak🤣
total 2 replies
Leeonyy Dewa
bisany apa yg d restuin ortu itu yg terbaik Lo.... ngga mungkin ortu jodohin anakny sma orng yg ngga baik.. mereka pasti berusaha nyari yg terbaik Buat anknya😁
Prettyies: Betul sekali Kak
total 1 replies
Cicih Sophiana
buat apa tuh beli lingeri tiga kodi? biar banyak uang kan bisa beli nanti nanti lagi...
GRIL YUMI
jadi ikutan baper sama mas adi nich 😍😍😍
Prettyies: Author juga baper Kak🤭
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
bener banget,kan bisa singgah ke apotik sepulang nanti
Prettyies: Betul sekali
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
😳😳😳😳
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
aku juga suka wangi yang soft,adem aja hidung ciumnya
Prettyies: Mana setiap hari, mau ditegur gak enak🤣
total 5 replies
Felycia R. Fernandez
banyak amat 🤣🤣🤣🤣
mau buka usaha juga...
Anonymous
doble update dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!