NovelToon NovelToon
TITIK NOL TAKDIR

TITIK NOL TAKDIR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Cintamanis / Cinta Murni / Mata Batin / Roh Supernatural / Anak Yang Berpenyakit / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."

Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.

Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Jantung Mala Merespons Hadirnya Cahaya Ayah

Ambulans itu melaju membelah kegelapan pelabuhan menuju pusat kota, sirinenya yang meraung memecah keheningan malam yang baru saja dijanjikan oleh kepulangan. Di dalam kabin yang sempit dan berbau tajam antiseptik, Bara terbaring dengan mata terpejam, namun kelopak matanya bergetar hebat. Setiap guncangan roda ambulans yang menghantam lubang jalanan terasa seperti hantaman ombak besar di dadanya. Rina duduk di sampingnya, mendekap Arka yang mulai tertidur karena kelelahan emosional, sementara Mala duduk di sudut kursi, menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah perpaduan antara kerinduan yang haus dan ketakutan pada sosok asing di depannya.

"Rina..." suara Bara sangat tipis, hampir tenggelam oleh deru mesin.

"Iya, Bara. Aku di sini. Jangan takut," jawab Rina sambil menggenggam tangan suaminya yang kasar dan pecah-pecah.

"Terlalu terang... tolong matikan cahayanya," rintih Bara. Ia mencoba menutupi matanya dengan lengan yang hanya tinggal kulit dan tulang. Lampu neon di dalam ambulans itu, bagi Bara, terasa lebih menyakitkan daripada terik matahari saat ia bersujud di atas Cadas Sunyi.

Mala mendekat perlahan, jemari kecilnya menyentuh ujung selimut rumah sakit yang menutupi kaki ayahnya. Saat sentuhan itu terjadi, Mala tersentak. Ia tidak merasakan dinginnya kain, melainkan sebuah gelombang kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya menuju jantungnya.

"Ibu, jantungku rasanya panas," bisik Mala dengan mata membelalak. "Seperti ada matahari kecil yang masuk ke sini."

Rina menoleh ke arah putrinya. Ia melihat wajah Mala yang tadinya pucat karena cemas, kini perlahan merona merah. Cahaya dari lampu jalan yang menembus jendela ambulans tampak memantul di mata Mala dengan cara yang tidak biasa—seolah-olah ada binar emas yang sedang menari di sana, serupa dengan pola geometris sorban yang sering digambar Arka di rumah.

"Itu karena Ayah sudah dekat, Mala. Jantungmu sedang menyambutnya," ucap Rina, meski ia tahu secara medis hal itu sulit dijelaskan. Ia teringat bagaimana Arka sering merespons energi dari pulau dengan berputar-putar; kini giliran Mala yang menjadi penerima sinyal spiritual itu.

Bara membuka matanya sedikit. Ia menatap Mala. Di mata ayahnya, Mala bukan sekadar anak kecil yang sedang ketakutan. Bara melihat Mala sebagai sosok yang namanya selalu ia ukir di pasir pantai setiap kali ia merindukan rumah. Ia teringat halaman panjang dalam Buku Doa Musafir yang ia tulis dengan sisa tenaga terakhirnya, sebuah doa yang memohon agar luka batin Mala—luka sebagai anak yang sering merasa tidak dianggap penting—disembuhkan oleh takdir.

"Mala... kemari, Nak," panggil Bara serak.

Mala ragu sejenak, menatap ibunya untuk mencari persetujuan. Rina mengangguk lembut. Mala pun merangkak mendekat dan menyandarkan kepalanya di lengan Bara yang bebas dari selang infus.

"Ayah bau laut," gumam Mala pelan.

"Maafkan Ayah, Mala. Ayah pergi terlalu lama," air mata Bara mengalir, jatuh di atas rambut Mala. "Tapi Ayah tidak pernah lupa... Ayah menulis namamu di atas pasir setiap hari agar ombak membawanya pada Allah."

Duri di Ruang Isolasi

Setibanya di rumah sakit, kebisingan kembali menyerang. Suara roda tandu yang berderit di atas lantai granit dan instruksi perawat yang bersahutan membuat Bara kembali mengalami disosiasi. Ia merasa sedang ditarik masuk ke dalam perut paus logam yang dingin. Saat mereka melewati koridor menuju ruang rawat inap, seorang petugas rumah sakit mencoba mengambil tas punggung hitam milik Bara untuk disimpan di loker barang bukti.

"Jangan!" teriak Bara dengan suara yang membuat seisi koridor terdiam. Ia mencengkeram tas itu hingga buku jarinya memutih. "Jika tas ini pergi, jiwaku juga pergi!"

"Pak, ini prosedur keamanan. Tas Bapak kotor dan basah," perawat itu mencoba membujuk dengan nada profesional namun kaku.

"Bara, tenanglah," Rina mencoba menenangkan, namun ia melihat mata suaminya mulai memutih karena serangan panik yang hebat. "Sus, tolong biarkan dia membawanya. Tas itu adalah jangkarnya. Tanpa itu, dia tidak akan bisa bertahan di ruangan tertutup seperti ini. Saya yang bertanggung jawab."

Kapten Hadi, yang mengikuti dari belakang, mengangguk pada perawat tersebut. "Biarkan saja. Saya yang menjamin secara resmi. Isinya hanya pakaian bekas dan sebuah buku tua yang dia pertahankan mati-matian sejak kami menemukannya di puing kapal."

Setelah drama di koridor berakhir, Bara akhirnya diletakkan di ruang rawat yang lebih tenang. Namun, ketenangan itu diganggu oleh kedatangan Bapak Harjo yang rupanya membuntuti ambulans hingga ke rumah sakit. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah yang menuntut penjelasan logistik, memegang papan jalan dengan kertas-kertas klaim asuransi yang tertunda.

"Ibu Rina, maaf sekali lagi. Saya hanya butuh konfirmasi mengenai tas itu. Jika di dalamnya ada peralatan navigasi milik perusahaan yang sengaja disimpan atau ada dokumen kapal kargo, kami harus mendatanya untuk keperluan investigasi internal," ucap Harjo tanpa rasa bersalah.

"Pak Harjo, suami saya baru saja masuk ruang perawatan! Apa Anda tidak punya hati nurani sedikit pun?" suara Rina meninggi, membuat Mala kembali bersembunyi di sudut kursi.

"Saya punya hati, Bu, tapi saya juga punya bos yang harus saya beri laporan malam ini. Berita di luar sana sudah liar karena video satelit itu. Perusahaan butuh fakta teknis untuk menentukan apakah ini kecelakaan kerja atau kelalaian, bukan cerita magis," balas Harjo dengan nada dingin.

Bara, yang sedang setengah sadar, mendengar perdebatan itu. Ia merasakan dilema martabat yang sangat dalam. Di satu sisi, ia ingin membela istrinya, namun di sisi lain, ia merasa dirinya sudah bukan lagi bagian dari dunia yang mengenal "fakta teknis" itu. Baginya, Harjo adalah perwujudan dari debu dunia yang mencoba mengotori kesucian mukjizat yang baru saja ia alami di Cadas Sunyi.

"Biarkan dia bicara, Rina," gumam Bara dari balik masker oksigen. "Katakan padanya... semua alat navigasi itu sudah mati saat badai menghancurkan KM Harapan Jaya. Yang tersisa hanya... Tuhan."

Harjo mendengus, tampak tidak puas dengan jawaban puitis tersebut. "Tuhan tidak bisa saya masukkan ke dalam kolom laporan kecelakaan kerja, Pak Bara. Saya butuh bukti fisik untuk mencairkan tunjangan Anda."

Tepat saat itu, Mala yang sedang memegang gambar sorban milik Arka tiba-tiba berdiri. Gambar itu—yang merupakan respons Arka terhadap kedamaian Syeikh Tua—mendadak tampak mengeluarkan bias cahaya kekuningan di bawah lampu neon kamar rumah sakit. Mala berjalan mendekati Harjo dan menyodorkan gambar itu dengan tangan gemetar.

"Ini buktinya, Om. Ayah tidak sendirian di sana. Ada kakek baik yang menjaganya," ucap Mala dengan nada yang sangat yakin.

Harjo menatap gambar pola geometris yang rumit itu. Untuk sesaat, pria yang logis dan kaku itu terdiam. Ada sesuatu pada pola itu yang membuat kepalanya mendadak pening dan dadanya terasa sesak, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang melampaui audit kantornya. Ia mundur selangkah, tampak terganggu oleh keberanian Mala yang tidak biasa.

"Anak kecil jangan ikut campur," gerutu Harjo sambil memalingkan wajah, namun ia tidak berani lagi mendesak lebih jauh. Ia pun berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, menyisakan aroma kecurigaan yang masih menggantung di udara.

Resonansi yang Menghangatkan

Rina segera mengunci pintu kamar dari dalam. Ia terduduk di samping ranjang Bara, napasnya memburu. Ketegangan dengan Harjo menguras sisa tenaganya, namun melihat Mala yang kini berani berdiri membela ayahnya memberikan kekuatan baru.

"Mala, dari mana kamu tahu soal kakek itu?" tanya Rina lembut sambil merangkul putrinya.

"Aku merasakannya, Bu. Saat aku menyentuh kaki Ayah tadi, ada gambar-gambar yang lewat di kepalaku. Ayah sedang duduk di pasir, menangis sambil menulis namaku," jawab Mala jujur. Matanya yang besar kini tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah kedamaian yang mendalam.

Bara meraih tangan Mala, menggenggamnya erat. "Ayah memang menulis namamu, Mala. Di sebuah halaman khusus dalam buku ini. Ayah berjanji pada Allah, jika Ayah selamat, Mala harus tahu bahwa Mala adalah alasan Ayah tidak menyerah pada ular laut dan haus yang mencekik."

"Tapi Ayah tidak bawa oleh-oleh untuk Mala?" tanya Mala dengan kepolosan anak kecilnya.

Bara tersenyum lemah, sebuah senyuman yang sangat kontras dengan wajahnya yang penuh luka bakar matahari. "Ayah membawa oleh-oleh berupa doa yang tidak akan pernah habis, Nak. Itu lebih kuat dari mainan apa pun."

Arka, yang tadinya diam di sofa, mendadak terbangun. Ia tidak menangis atau rewel. Ia berjalan menuju ranjang Bara dengan langkah yang tenang. Ia tidak menyentuh ayahnya, melainkan menunjuk ke arah tas punggung hitam yang masih didekap Bara.

"Yah... Yah..." Arka berucap pelan.

"Iya, Arka. Ayah bawa bukunya. Ayah simpan semua gema yang Arka kirimkan dari rumah," bisik Bara. Ia menyadari bahwa selama ia di pulau, Arka adalah detektor yang menangkap setiap sujudnya.

Rina memerhatikan pemandangan itu dengan hati yang hancur sekaligus utuh. Ia melihat bagaimana Arka dan Mala kini memiliki peran masing-masing dalam menyambut kepulangan Bara. Namun, di balik kehangatan itu, ia tahu bahwa tantangan terbesar baru saja dimulai. Bara yang ada di depannya adalah seorang pria yang jiwanya masih tertinggal di kesunyian pulau, sementara tubuhnya dipaksa beradaptasi dengan dunia yang bising dan penuh tuntutan administratif.

"Kita harus segera mengurus kepulanganmu ke rumah, Bara," ucap Rina pelan. "Ibu sudah mendesak agar kita segera menjual mobil atau aset lain jika asuransi tetap menolak. Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Jangan jual apa pun, Rina," jawab Bara tegas. "Tawakal kita tidak boleh ditukar dengan ketakutan akan kemiskinan. Biarkan mereka bicara prosedur, kita bicara takdir."

Rina terdiam sejenak mendengar ketegasan suaminya. Meskipun tubuh Bara ringkih, otoritas spiritualnya sebagai kepala keluarga seolah kembali dalam satu kalimat itu. Rina merasakan getaran aneh di telapak tangannya saat ia merapikan selimut Bara, sebuah resonansi yang membuatnya teringat pada hangat sajadah yang sering ia rasakan saat bersujud di tengah malam selama setahun terakhir.

"Aku akan mencoba bicara lagi dengan Bunda Ida," bisik Rina sambil mengusap kening Bara. "Beliau hanya khawatir, Bara. Beliau melihatmu sebagai orang sakit, bukan sebagai musafir yang baru pulang membawa cahaya."

"Bunda Ida tidak salah, Rina. Dunia memang hanya melihat apa yang tampak di kulit," jawab Bara dengan napas yang sedikit berat. Ia menoleh ke arah jendela kamar rumah sakit yang menampilkan kelap-kelip lampu kota yang menyesakkan. "Bagi mereka, aku adalah beban administrasi. Tapi bagi Arka, aku adalah frekuensi yang sama. Lihat dia."

Arka kini duduk di tepi ranjang, tangannya yang mungil meraba kain tas hitam Bara yang masih basah dan kusam. Biasanya, Arka akan merasa jijik atau terganggu oleh benda yang kotor dan berbau amis, namun kali ini ia justru mendekatkan wajahnya ke tas itu. Ia tampak sedang menghirup aroma yang tidak bisa dicium oleh hidung manusia biasa—aroma ketulusan yang tertinggal di setiap serat kain tas tersebut.

"Kek... Kek..." Arka kembali bergumam, matanya menatap sudut ruangan yang kosong di dekat lemari obat.

"Bara, Arka terus menyebut kakek," Rina berbisik dengan nada cemas sekaligus penasaran. "Apa benar Syeikh Tua itu ikut denganmu sampai ke sini?"

Bara memejamkan mata, mencoba merasakan kehadiran yang selama ini menjadi pemandunya di pulau. Di sudut matanya, ia melihat bayangan samar seorang pria berjubah kusam yang memegang tongkat kayu kayu. Sosok itu hanya berdiri diam, membelakangi lampu neon yang bising, seolah sedang memagari kamar itu dari gangguan energi luar.

"Beliau tidak ikut dalam bentuk fisik, Rina. Tapi penjagaan-Nya tidak pernah pergi," kata Bara lirih. "Arka melihat apa yang kita lupakan karena terlalu sibuk dengan tagihan rumah sakit."

Benturan Logika dan Takdir

Pintu kamar kembali diketuk, kali ini lebih lembut namun tetap terasa mendesak. Seorang dokter masuk bersama dua orang perawat yang membawa nampan berisi berbagai macam selang dan alat monitor jantung tambahan. Di belakang mereka, Bunda Ida mengintip dengan wajah yang penuh keraguan.

"Selamat malam, Pak Bara. Saya Dokter Adrian. Kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk CT Scan kepala dan tes fungsi ginjal. Kondisi dehidrasi Anda sangat ekstrem, dan kami khawatir ada kerusakan organ permanen," ucap dokter itu dengan nada datar.

Bara tampak menegang saat melihat kabel-kabel monitor itu didekatkan ke dadanya. Baginya, kabel-kabel itu tampak seperti ular laut yang pernah mencoba melilit kakinya saat ia mencari kerang di karang tajam. Ia mencengkeram sprei rumah sakit dengan kuat.

"Dok, tolong... jangan banyak alat. Saya butuh tenang," rintih Bara.

"Ini demi kebaikan Anda, Pak. Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam tubuh Anda selama setahun tanpa asupan nutrisi yang layak," balas dokter itu sambil mulai memasang elektroda di dada Bara.

Rina melihat wajah suaminya mulai memucat. Ia tahu Bara sedang mengalami serangan panik. "Dok, bisakah dilakukan secara bertahap? Suami saya baru saja tiba. Dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan suara dan sentuhan."

"Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki dalam kondisi medis seperti ini, Bu Rina," sela Bunda Ida dari ambang pintu. "Ikuti saja apa kata dokter, Rina. Jangan sampai suamimu pulang hanya untuk menjadi pajangan di tempat tidur karena kau terlalu banyak menuntut perasaan."

Kalimat Bunda Ida terasa seperti sembilu yang menyayat hati Rina. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang tajam, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan sebelumnya. "Ibu, Bara bukan pajangan. Dia imam kami. Dan di kamar ini, perasaannya adalah prioritas saya."

Mala, yang sejak tadi memerhatikan, tiba-tiba berlari ke arah Bunda Ida dan menarik ujung daster neneknya. "Nenek jangan marah-marah. Ayah sedang capek. Jantung Ayah lagi bagi-bagi cahaya buat Mala."

Bunda Ida tertegun. Ia menunduk menatap cucunya, lalu beralih menatap Bara yang kini dipenuhi kabel monitor. Ada keheningan yang canggung selama beberapa detik sebelum akhirnya Bunda Ida memalingkan wajah dan berjalan keluar menuju ruang tunggu dengan langkah gusar.

Dilema di Balik Lembar Doa

Malam semakin larut, namun ketegangan di kamar 302 tidak kunjung reda. Setelah pemeriksaan awal selesai, dokter meninggalkan ruangan dengan catatan medis yang tebal. Bara tampak sangat kelelahan, namun ia tetap menolak untuk melepaskan tas hitamnya.

"Rina, ambillah buku itu," bisik Bara saat perawat terakhir keluar.

Rina mendekat, jantungnya berdebar kencang. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu selama setahun. Dengan tangan gemetar, ia membuka ritsleting tas yang sudah macet karena garam laut. Di dalamnya, terbungkus plastik kusam, terdapat sebuah buku agenda tua dengan sampul yang sudah hancur. Aroma laut yang amis bercampur dengan bau kertas lembap menyeruak keluar.

"Ini..." Rina menyentuh sampul buku itu. Ia merasakan getaran dingin yang kemudian berubah menjadi hangat, persis seperti Divine Echo yang sering ia terima di rumah saat jam tiga pagi.

"Bukalah halaman terakhir yang ada noda darahnya," instruksi Bara dengan suara yang hampir habis.

Rina membuka lembar demi lembar. Ia melihat tulisan tangan Bara yang awalnya rapi, perlahan menjadi cakar ayam yang sulit dibaca seiring menurunnya kondisi fisik suaminya di pulau. Ia melihat tanggal-tanggal yang sangat familiar—tanggal saat ia merasa sangat putus asa, tanggal saat Arka mulai menyebut "Ayah" untuk pertama kalinya, dan tanggal saat ia hampir menyerah pada desakan Bapak Harjo untuk menandatangani akta kematian.

Saat sampai pada halaman yang dimaksud, Rina menutup mulutnya dengan tangan. Di sana, tertulis doa panjang untuk Nirmala. Kertas itu tidak lagi putih; noda darah kering berwarna cokelat gelap membentuk pola yang tidak beraturan, namun tulisan di atasnya terbaca dengan sangat jelas.

“Ya Allah, jika hamba tidak bisa kembali untuk memeluk Nirmala, biarkan setiap tetes darah yang keluar dari jari hamba saat menulis ini menjadi saksi bahwa ia adalah permata yang paling hamba jaga. Sembuhkan lukanya, tutup lubang di hatinya yang merasa tak dicintai. Biarkan ia tahu, ayahnya adalah musafir yang bersujud untuknya.”

Mala, yang ikut mengintip di balik bahu ibunya, mulai menangis sesenggukan. Bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan. Ia akhirnya memiliki bukti fisik bahwa di tengah kesunyian pulau yang mematikan, namanya adalah koordinat yang menjaga kewarasan ayahnya.

"Ayah... Ayah benar-benar ingat aku?" tanya Mala sambil memeluk buku itu ke dadanya.

Bara mengangguk lemah. "Kau adalah napas Ayah, Mala. Tanpa doa untukmu, Ayah mungkin sudah membiarkan ombak membawa Ayah pergi sejak bulan pertama."

Rina memeluk kedua anaknya dan suaminya di atas ranjang rumah sakit yang sempit itu. Di tengah kepungan alat medis yang dingin dan ancaman administratif dari dunia luar, mereka menemukan kembali titik nol takdir mereka. Mereka menyadari bahwa kepulangan Bara bukan hanya tentang raga yang kembali, melainkan tentang cinta yang telah ditempa oleh api tawakal dan air mata kesabaran.

Namun, di balik dinding kamar, suara langkah sepatu pantofel terdengar mendekat. Bapak Harjo kembali bersama seorang pria berseragam kepolisian. Mereka membawa map kuning yang tampak sangat resmi.

"Maaf mengganggu momen keluarga ini," ucap Harjo dengan nada yang kini terdengar lebih mengancam. "Tapi ada dugaan sabotase kargo KM Harapan Jaya yang harus kami verifikasi langsung dari Pak Bara malam ini juga. Ini perintah investigasi pusat."

Bara membuka matanya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Dunia ternyata tidak membiarkan seorang musafir beristirahat bahkan setelah ia memberikan segalanya kepada Tuhan.

1
Indriyati
sabar rina
Kartika Candrabuwana: iya betul😍
total 1 replies
Indriyati
iya betul sekali
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
iya sip lah
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
belum tentu🤣😄
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus bara
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
alhamdulillah😍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
luar biasa caritanya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
iya betul. harus tetap tenang💪👍😍
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
selalu ada solusi.. sabar ya👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
alhamdulillah
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
anak yang baik👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sabar ya mala🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
maksudnya, tawakal kepads Allah, maka bergantung pafa Allah, bukan bergantung pada caranya bertawakal
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan bara
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ibu anak saling menyayangi
Kartika Candrabuwana: iyabbetul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
iya bara. bertahan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan sekali bara🤣🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Tulisan_nic
sentuhan yang sama/Shame/
Kartika Candrabuwana: iya, kurang lebih seperti itu😄
total 1 replies
Tulisan_nic
pertanyaan yang memilukan🥲
Kartika Candrabuwana: iya, betul sekali
total 1 replies
prameswari azka salsabil
saya suka novel ini. awal membaca sudah suka karena ada tema cinta pernikahan dan juga spiritual. jadi saya juga belajar disini
Kartika Candrabuwana: terima kasih sudah yerhibur oleh novel ini🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!