Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 – Pertemuan Tak Terduga
Pagi itu, udara di rumah keluarga Kazuma terasa begitu hening. Biasanya, suara dentingan sendok dan sumpit di meja makan selalu diselingi obrolan ringan antara pelayan dan Kenji. Namun kali ini, hanya terdengar bunyi jam dinding dan napas pelan di antara dua orang Kazuma dan Kenji yang duduk saling berhadapan.
Kazuma menatap piring di depannya, tanpa benar-benar berniat makan. Ia tahu, percakapan semalam masih meninggalkan bekas di hati anaknya. Kenji pun begitu kepalanya tertunduk, wajahnya tampak datar namun mata itu menyimpan amarah yang belum reda.
“Papa” akhirnya Kenji membuka suara pelan. “Tentang kemarin, aku masih belum siap bicara soal itu.”
Kazuma menatapnya sebentar, kemudian mengangguk pelan. “Baik, tapi ingat Kenji. Aku tidak bisa melindungimu selamanya jika kau terus menolak belajar menghadapi dunia yang sebenarnya.”
Kenji tak menjawab. Ia hanya menaruh sumpitnya, lalu berdiri. “Aku sudah kenyang. Aku berangkat sekolah dulu.”
Kazuma hanya menghela napas. Langkah kaki Kenji menjauh, meninggalkan keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.
Di sekolah Emerald, suasana begitu ramai. Hari ini diadakan festival internal sekolah, di mana setiap kelas harus menampilkan pertunjukan atau pameran kecil. Di tengah riuhnya tawa dan sorakan, Kenji justru berdiri di pojok aula, memegang brosur tugas kelas tanpa semangat.
Yuto menghampirinya. “Ken, ayo bantu pasang banner. Masa kamu cuma berdiri?”
Kenji tersenyum kecil. “Iya, bentar.”
Saat ia hendak mengambil selotip di meja, salah satu senior Tatsuya menyenggolnya dengan sengaja. Brosur yang berada di tangan Kenji jatuh, kertasnya berserakan di lantai.
“Hey, hati-hati dong, dasar anak lembek,” ejek Tatsuya disertai tawa kecil teman-temannya.
Yuto hendak melangkah maju, tapi Kenji menahannya dengan tatapan. “Sudahlah, Yuto.”
Ia jongkok, dan memunguti kembali brosur itu satu per satu, sambil menahan perasaan yang menyesak di dada. Setiap kali ia berusaha tenang, suara ejekan itu terus terdengar di belakangnya, yang membuatnya semakin hancur bukanlah tatapan orang lain melainkan kenyataan bahwa ia sudah terlalu terbiasa dengan semua ini.
Kegiatan berakhir, Kenji duduk sendirian di taman belakang sekolah. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma bunga sakura yang mulai gugur.
“Kenapa selalu aku yang harus diam?” batinnya. “Kalau aku melawan, mereka hanya akan bilang aku sok kuat. Tapi kalau aku diam … aku makin terlihat lemah.”
Ia menatap langit, mencoba menahan air mata. “Kalau Papa tahu, dia pasti marah lagi. Dan aku … aku tidak mau membuatnya kecewa lagi.”
Sore harinya, Kazuma duduk di ruang kerja dengan wajah tegang. Di depannya, dua anak buahnya berdiri memberi laporan.
“Tuan, kami sudah mengonfirmasi. Tuan Muda Kenji kembali mendapat perlakuan buruk di sekolah. Dan kali ini siswa yang merupakan kakak kelasnya bernama Tatsuya dan beberapa temannya terlibat.”
Kazuma mengepalkan tangan di meja. Suaranya rendah, dingin, tapi bergetar karena emosi. “Sudah berapa kali mereka melakukan ini?”
“Ini kali ketiga, Tuan. Tapi Tuan Muda Kenji tidak pernah melapor.” Kazuma terdiam lama. Dalam pikirannya, ada rasa marah tapi juga sedih. Ia tidak tahu harus lebih kecewa pada siapa, pada anak-anak yang menyakiti Kenji, atau pada dirinya sendiri yang gagal membuat putranya merasa aman. Ia berdiri, berjalan ke arah jendela besar ruang kerjanya. Di luar, langit mulai berwarna jingga.
“Kenji … sampai kapan kau harus menanggung semuanya sendiri?” kata Kazuma lirih.
Tak lama, Kazuma mengambil ponselnya. Suaranya berat tapi tegas.
“Hubungkan aku dengan Ryo sekarang.”
Akhirnya Kazuma segera menghubungi Ryo untuk meminta segera datang kediamannya. Beberapa jam kemudian, di gerbang rumah besar keluarga Kazuma, tampak sebuah mobil hitam berhenti. Dan dari dalam mobil tersebut keluar seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap, mengenakan jas kasual berwarna abu gelap. Wajahnya membawa kesan tenang tapi berwibawa Ryo, sahabat lama Kazuma sekaligus mantan rekan di dunia mafia.
“Sudah lama sekali, Kazuma,” katanya sambil tersenyum tipis ketika mereka bersalaman.
Kazuma membalas senyumnya dengan anggukan. “Kau datang lebih cepat dari perkiraanku.”
“Untuk urusan seperti ini, bagaimana cara aku tidak bisa menunda,” jawab Ryo sambil menepuk bahu sahabatnya. “Aku sudah mendengar anakmu sedang banyak masalah.”
Kazuma menghela napas panjang. “Lebih dari sekadar sebuah masalah, Ryo. Ia menolak semua yang berhubungan dengan dunia ini. Padahal aku hanya ingin ia bisa melindungi dirinya sendiri.”
Ryo menatap Kazuma dengan tatapan lembut namun tegas. “Terkadang, semakin kita ingin melindungi seseorang, semakin mereka menjauh karena tidak mengerti niat kita.”
Kazuma terdiam. Kata-kata itu menembus sesuatu di dadanya, karena semua yang Ryo katakan itu benar, karena melihat tingkah laku dan perilaku Kenji itu sama seperti apa ya Ryo katakan.
Mereka berdua melanjutkan pembicaraan mereka sebelumnya dan sudah lama mereka tidak bertemu jadi Kazuma dan Ryo kenangan saat mereka menjadi rekan mafia, dan tidak lama datang seorang pelayan kemudian masuk dan memberitahu bahwa Kenji baru saja pulang dari sekolah.
Kazuma memandang Ryo, lalu berkata, “Mari, aku akan memperkenalkanmu kepadanya.” Ryo mengangguk dan ia mengikuti Kazuma, Ryo sebenarnya penasaran Kenji itu, karena mendengar cerita dari Kazuma, ia bisa membayangkan bagaimana keseharian Kenji selama di sekolah. Di sisi lain, Kenji baru saja melepas tasnya di sofa ruang tamu. Tubuhnya terasa letih dan lelah, dan pikirannya masih berputar pada kejadian di sekolah tadi. Saat ia hendak melangkah ke tangga, suara papanya terdengar dari ruang tengah.
“Kenji, ke sini sebentar.”
Kenji menoleh, ragu, tetapi akhirnya ia menuruti panggilan itu. Begitu masuk, matanya tertuju pada seorang pria asing yang duduk di samping Kazuma. Pria itu tersenyum ramah padanya.
“Kenji, perkenalkan,” kata Kazuma. “Ini Ryo, sahabat lama Papa. Dan mulai hari ini, dia akan sering datang ke rumah.”
Ryo menatapnya dengan tatapan hangat, lalu mengulurkan tangan. “Senang bertemu denganmu, Kenji.”
Kenji menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya. “Saya juga, Tuan.”
Kazuma memperhatikan keduanya dalam diam. Di wajah anaknya, ia melihat kebingungan. Di mata Ryo, ia melihat sesuatu yang lain rasa mengerti.
Mereka bertiga berbincang singkat, tapi atmosfernya masih tegang. Ryo lebih banyak mengamati, seperti mencoba membaca isi hati Kenji yang tertutup rapat.
Ketika pembicaraan berakhir, Kazuma menyuruh pelayan menyiapkan kamar tamu untuk Ryo. Kenji pamit lebih dulu, melangkah menuju tangga. Namun sebelum naik, ia sempat berhenti, mendengar samar-samar suara papanya di ruang tamu.
“Ryo … jika dia menolak lagi, lakukan dengan caramu. Tapi jangan sampai dia tahu aku yang menyuruh.”
Langkah Kenji terhenti, napasnya membeku. Hatinya berdegup keras antara kaget dan takut. Ia menatap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang.
“Papa … apa maksudnya itu?” tanya Kenji sambil berbisik.
Suasana rumah yang semula tenang terasa menekan. Kenji memegang dada, merasakan sesuatu yang berat menelusup ke hatinya perasaan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan tanpa ia sadari, dari bawah tangga, Ryo perlahan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Senyum samar muncul di sudut bibirnya.
“Jadi … dia mendengar, ya?”