"Tuan Putri, maaf.. saya hanya memberikan pesan terakhir dari Putra Mahkota untuk anda"
Pria di depan Camilla memberikan sebilah belati dengan lambang kerajaan yang ujungnya terlihat begitu tajam.
.
"Apa katanya?" Tanya Camilla yang tangannya sudah bebas dari ikatan yang beberapa hari belakangan ini telah membelenggunya.
"Putra Mahkota Arthur berpesan, 'biarkan dia memilih, meminum racun di depan banyak orang, atau meninggal sendiri di dalam sel' "
.
Camilla tertawa sedih sebelum mengambil belati itu, kemudian dia berkata, "jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan membiarkan Arthur mati di tangan Annette!"
Pria di depannya bingung dengan maksud perkataan Camilla.
"Tunggu! Apa maksud anda?"
.
Camilla tidak peduli, detik itu juga dia menusuk begitu dalam pada bagian dada sebelah kiri tepat dimana jantungnya berada, pada helaan nafas terakhirnya, dia ingat bagaimana keluarga Annette berencana untuk membunuh Arthur.
"Ya.. lain kali aku akan membiarkannya.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bab 31
Sesampainya di kamar, Camilla disambut oleh Mary yang terlihat kecewa karna tidak bisa mengikuti pesta hingga selesai.
"Jangan cemberut, aku membawakan banyak cemilan untukmu," bujuk Camilla yang duduk di sofa dengan lesu.
Dadanya sudah merasa sakit sejak Mary kembali ke paviliun dan dia tahu bahwa dia sedang mendapat konsekuensi dari menolong Mary malam ini.
"Putri, wajahmu pucat sekali, apa anda kelelahan?," tanya Mary dengan nada khawatir, dia sudah melupakan kekesalannya.
"Ya.. sepertinya.. cepat gantikan gaun ini, aku ingin beristirahat.."
Mary hanya mengikuti perintahnya lalu undur diri setelah melihat Camilla terlelap, dia tidak tahu bahwa tuannya sedang menahan rasa sakit yang kali ini bisa di tahannya, mungkin karna dia tidak pingsan.
***
Matahari sore bersinar lembut, menumpahkan cahaya keemasan di atas menara istana. Dari kejauhan, deretan bendera berwarna-warni berkibar di sepanjang jalan menuju alun-alun utama ibu kota.
Beberapa bulan kemudian adalah hari yang ditunggu-tunggu rakyat, Festival Rakyat yang diadakan setiap tahun sebagai tanda syukur atas panen dan persatuan.
Bagi rakyat, festival ini adalah kesempatan untuk berpesta, melupakan kepenatan hidup sehari-hari, dan merayakan kebersamaan. Namun bagi keluarga kekaisaran, kehadiran dalam festival ini adalah sebuah simbol, wujud nyata bahwa penguasa tidak hanya berada di balik dinding istana, melainkan juga hadir bersama rakyatnya.
Camilla berdiri di depan cermin tinggi di ruang ganti pribadinya. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna putih gading dengan hiasan pita biru muda. Bukan gaun pesta megah seperti yang biasa ia kenakan di aula perjamuan, melainkan gaun ringan yang memungkinkan ia bergerak bebas.
“Tidak terlalu mewah, tapi cukup pantas untuk acara rakyat,” gumamnya pelan. Rambutnya disanggul sederhana, hanya dihiasi seutas pita perak.
Seraphina masuk tak lama kemudian. Gaunnya berwarna hijau zamrud, cerah dan mencolok, sesuai dengan sifatnya yang selalu riang. Ia tersenyum lebar melihat Camilla.
“Yang Mulia, Anda terlihat menawan sekali. Rakyat pasti akan kagum melihat Putri Mahkota hadir di antara mereka dengan penampilan serendah hati ini,” katanya sambil menangkupkan tangan.
Camilla tersenyum tipis. “Itu memang niatku, Seraphina. Aku ingin mereka merasa dekat denganku, bukan melihatku seperti sosok yang tak tersentuh.”
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Annette masuk dengan langkah anggun, mengenakan gaun merah muda pucat yang tampak lembut namun tetap dihiasi renda-renda halus. Senyumnya manis, matanya berkilau, seolah ia lah bintang utama hari itu.
“Yang Mulia,” sapanya dengan sopan, lalu pandangannya menyapu gaun Camilla. “Pilihan yang.. sederhana. Mungkin itu akan membuat rakyat merasa nyaman, meski aku khawatir mereka justru berharap lebih dari seorang Putri Mahkota.”
Ucapan itu terdengar seperti pujian, tapi nada halusnya menyiratkan sindiran. Seraphina sempat ingin membalas, namun Camilla hanya menghela napas.
“Rakyat tidak membutuhkan gaun megah untuk menghormati mereka,” jawab Camilla tenang. “Yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang hadir mendengarkan.”
Annette tersenyum samar, seolah puas melihat ketenangan Camilla tidak mudah goyah. “Tentu saja. Aku yakin rakyat akan sangat senang dengan kehadiran kita semua.”
Kereta berhias sederhana membawa mereka menuju alun-alun. Sepanjang jalan, rakyat berbaris sambil melambaikan tangan, menyambut dengan sorak-sorai gembira. Anak-anak kecil berlari mengikuti, membawa bunga liar yang dipetik dari ladang.
“Putri Mahkota! Hidup Putri Mahkota!” suara-suara itu menggema.
Camilla menunduk, tersenyum, dan melambaikan tangan. Beberapa kali ia bahkan meminta kusir menghentikan kereta agar bisa menerima langsung bunga dari anak-anak kecil. Senyum tulus itu membuat rakyat semakin bersemangat.
Seraphina tampak ikut larut, melambaikan tangan dengan semangat. “Mereka begitu penuh cinta pada Anda, Yang Mulia. Lihatlah wajah anak-anak itu, seakan bertemu dengan mimpi mereka sendiri.”
Annette juga tersenyum, namun dalam hatinya rasa kesal tumbuh. Ia tahu sorak-sorai itu ditujukan pada Camilla, bukan dirinya. Maka setiap kali rakyat melambai, Annette ikut melambai dengan gaya berlebihan, berusaha menarik perhatian ke arahnya. Sesekali ia bahkan melemparkan permen kecil ke kerumunan anak-anak, membuat beberapa dari mereka bersorak menyebut namanya.
Camilla memperhatikan itu sekilas, tapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu Annette selalu mencari cara untuk bersinar sendiri.
Sesampainya di alun-alun, suasana festival begitu meriah. Warung-warung kecil berjajar, menjual makanan rakyat seperti roti panggang, sup sayur, dan manisan madu. Musik rakyat dimainkan dengan biola dan drum sederhana, mengiringi tarian-tarian yang penuh semangat.
Rakyat berkerumun ketika Camilla turun dari kereta. Mereka menunduk, sebagian bahkan berlutut. Namun Camilla segera mengangkat tangan.
“Tidak perlu berlutut. Hari ini adalah hari pesta kalian. Anggaplah aku hadir sebagai salah satu dari kalian, bukan sebagai penguasa yang harus ditakuti,” katanya dengan suara lantang.
Sorak-sorai langsung meledak. Wajah rakyat bersinar, seolah Putri Mahkota benar-benar menghapus jarak di antara mereka.
Seraphina bertepuk tangan kecil, kagum. “Yang Mulia.. kata-kata Anda selalu tepat.”
Annette menatap sekeliling, menyadari bahwa momen itu membuat Camilla semakin dicintai rakyat. Senyumnya tetap terjaga, tapi dalam hatinya ia merasa tertusuk. Kenapa selalu dia yang jadi pusat perhatian?