kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hitam
Tak terasa mereka sudah hampir berada di akhir masa sekolah SMA ini. Beberapa bulan lagi, ujian akhir akan mereka lakukan. Tiwi dan teman-temannya sedang gencar mengikuti les tambahan setelah pulang sekolah. Siang itu mendung, pak Ihsan yang seharusnya memberikan materi pelajaran Sejarah Budaya itu tidak bisa hadir entah karena apa, membuat muridnya memutuskan untuk pulang saja.
“Ke rumahku ya Wi, hari ini hari ulang tahunku, bantu aku untuk menyiapkan pesta kecil nanti sore bersama teman-teman dan keluarga ku, pliisss ..” Bayu berkata dengan memasang wajah memelasnya.
Tiwi yang pada dasarnya anak yang tidak tegalan, akhirnya mengangguk mengiyakan. Kedua anak muda itu pun naik bus dan turun di depan gang ke arah rumah Bayu.
Rumah itu terdiri dari dua bangunan. Memiliki halaman yang sangat amat luas. Dengan bangunan rumah utama agak ke belakang, di sebelah kirinya ada lagi bangunan agak menjorok ke depan, sebuah rumah dengan ukuran agak kecil dan garasi mobil yang terletak diantara keduanya. Rumah kelihatan sangat sepi. Bayu mengajak Tiwi ke rumah utama. Tampak seorang pria paruh baya sedang duduk di dapur rumah yang sangat besar itu.
“Pak, kenalkan, ini Tiwi, pacarku,” ujar Bayu pada sang Bapak.
Tiwi yang terkejut karena tidak mengira akan diperkenalkan langsung ke bapak nya Bayu, segera maju dan menyalami orang tua itu dengan takzim.
“Oh, selamat datang di rumah sederhana ini Ndhuk, semoga kamu kerasan. Ajak ke rumah depan aja Bay, disini kotor,” titah pria tua itu.
Akhirnya Tiwi mengikuti Bayu yang mengajaknya ke rumah yang satunya. Masih sama keadaannya, sepi, tidak ada terlihat seorangpun di rumah itu.
“Ayo, masuk lah, anggap saja rumah sendiri Wi,” ajak Bayu pada gadis yang masih merasa canggung itu.
Dan Bayu pun merangkulnya, membawa gadisnya ini ke dalam rumah.
“Kok sepi Bay?”
Bayu yang meletakkan tas dan membuka kemeja seragamnya itu, tersenyum kecil. Setelah nya dia duduk disamping Tiwi yang sedang melihat sekeliling rumah itu.
“ Kenapa? Takut? Cuma ada kita berdua disini Wi, adik dan kakak ku semua sedang sekolah dan bekerja, si bungsu palingan kerumah kakak keduaku..jangan takut gitu ah, sini..” Bayu menarik Tiwi kedalam pelukannya.
Tiwi yang masih merasa canggung itu kembali terkejut ketika bibir kenyal Bayu sudah berada di bibir nya. Perlahan tapi pasti Bayu menggerakkan bibirnya mengecup dan melumat dengan lembut. Tiwi yang belum pernah sama sekali melakukan hal sejauh ini menjadi bingung dan tidak bisa mengimbangi. Dia hanya bisa diam dan memejamkan matanya. Bayu semakin berani, entah dari kapan kemeja atas Tiwi sudah terbuka dan tangan Bayu masuk memainkan apa yang seharusnya belum boleh disentuh itu. Tiwi berusaha untuk melepaskan pelukan dan perlakuan Bayu yang sangat membuat risih itu, tetapi kekuatannya kalah dengan tenaga Bayu yang entah mengapa menjadi begitu kuat kali ini.
Perlahan-lahan Bayu menggendong Tiwi masuk kedalam kamarnya, dan masih menci*mi Tiwi dengan begitu lembut.
Pelan gadis itu dibaringkan diatas kasur, dan masih dengan lembut Bayu mengecup kening Tiwi.
“Hari ini aku berusia delapan belas, aku ingin kamu memberikan hadiah terindah buatku Wi, kamu mau kan?” Tanyanya pelan.
Tiwi yang masih menata debaran hatinya yang sedang menggila itu hanya bisa diam, bingung mengartikan permintaan kekasih hatinya ini.
“Ha-hadiah? A-aku belum menyiapkannya Bay .. aku belum membelikannya. Kamu mau apa sih?” tanya Tiwi yang masih bingung dengan perlakuan Bayu yang tangannya sudah kemana-mana itu.
“Aku mau kamu Wi, aku mau dirimu sebagai hadiah terindahku seumur hidupku .. mau ya sayang ya? Hmm.. demi aku .. sebagai bukti cinta kita Yang…” ujar Bayu dengan suara serak.
Tiwi yang masih merasa bingung itu pun hanya bisa diam, tetapi diamnya ternyata diartikan lain oleh Bayu. Dia pikir jika gadisnya setuju. Maka dia segera melepas semua bajunya tanpa sisa, dan melucuti seragam sekolah Tiwi satu persatu. Tiwi yang mulai menyadari jika dirinya dalam bahaya pun berusaha memberontak.
“Jangan Bay .. kita masih sekolah. Jangan lakukan ini padaku. Tolong .. aku tidak mau! Bay .. sudah! Bayuuuu…!”
Suara Tiwi hilang ditelan rasa asing yang mulai masuk ke inti tubuhnya, sakiitt . Teramat sakiit.. seolah tubuhnya terbelah menjadi dua. Tiwi hampir pingsan ketika benda asing itu berhasil merobek miliknya, tangis kesakitan dan penyesalan bercampur jadi satu. Sementara Bayu diatasnya sedang berusaha mencapai tujuan nya. Beberapa saat kemudian Bayu ambruk dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Lalu meraih tubuh Tiwi kedalam pelukannya.
“Sssttt… jangan menangis sayang…terimakasih, kamu adalah istri ku sekarang, sampai mati Kamu adalah istri ku Wi .. aku mencintaimu, sangat amat mencintaimu…” Bayu mencoba menenangkan gadis yang sekarang sudah tidak gadis lagi itu akibat ulahnya barusan.
Hingga Isak Tiwi terdengar begitu pilu dan pandangannya berubah gelap. Tiwi pingsan!
—-------------
Tiwi membuka matanya perlahan, dia melihat sekelilingnya, mengapa dia berada dikamar yang berbeda lagi? Ini dimana?
“Mbak .. mbak udah bangun? Badan mbak panas .. Jadi aku kompres, mbak sakit ya? Kasian…” suara itu berasal dari seorang gadis kecil yang sedang memegang saputangan handuk dan memerasnya lalu kembali menempelkannya di kening Tiwi. Lalu datang seorang anak lelaki yang lebih muda dari Bayu membawa teh panas dalam gelas diatas nampan.
“Ini diminum dulu Mbak Wi…” katanya ramah.
Bayu masuk kedalam kamar, membawa semangkuk bakso juga diatas nampan, diletakkan di meja kamar itu.
“Ini Hari adikku yang sekolah di SMK di kota, Dan ini si Bungsu namanya Sismi,” Bayu memperkenalkan adik-adiknya pada Tiwi.
Tiwi berusaha bangun, tapi dia merasa itunya sakit sekali dan badannya remuk. Bayu membantunya duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kamu tadi pingsan Yang, badanmu panas sekali, Jadi aku bawa ke kamarku, disini aku biasa tidur sama Sismi dan Hari. Minum dulu teh hangatnya, lalu aku suapi bakso ya,” ujar Bayu lembut sembari mengambilkan teh dalam gelas dan memberikannya pada Tiwi. Perlahan Tiwi meminumnya.
“Bagaimana Bay? Apa perlu dibawa ke dokter?” tanya seorang perempuan seusia mbak Rini kakak sulung Tiwi, yang tiba-tiba muncul didepan pintu kamar.
Tiwi yang lagi-lagi terkejut itu menoleh ke arah pintu, dilihatnya wanita itu tersenyum padanya.
“Kalau masih panas sekali badanmu kita kerumah sakit aja Dek,” ucapnya lagi.
Tiwi menggeleng, di merasa malu jika nantinya dokter yang memeriksa akan mengetahui penyebab demamnya ini.
“Ndk usah Mbak, saya mau pulang ke kost saja,” ujar Tiwi lemah.
“Eh, jangan Dek, di kost kamu nggak ada yang merawat, sudah disini saja, banyak yang akan membantu merawat mu, itu semua adikmu bisa kamu mintai tolong apapun,” kata kakak perempuan Bayu itu.
Akhirnya Tiwi menginap dirumah itu. Suasana malam sangat berbeda dengan siang hari tadi. Rumah ini sangat ramai. Tiga adik Bayu berkumpul menunggui Tiwi dan menghiburnya. Yang satu lagi namanya Wawan, masih kelas tiga SMP. Sedangkan Sismi masih kelas lima SD. Bayu mengusak rambut Tiwi lembut.
“Maafkan aku istriku, aku akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Percayalah padaku Yang ..” dia mengecup kening Tiwi.
“ Tidurlah, aku dan semua nya akan menemanimu disini..” dan memang benar, malam itu Tiwi yang kesulitan berjalan itu pun terpaksa menginap dirumah Bayu bersama adik-adiknya tidur menjadi satu di kamar yang cukup luas itu.
Tanpa Tiwi dan Bayu sadari, hari itu adalah awal dari kekelaman hidup kedepannya…
*************
The Black Memory in life ..