Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langit menghentakkan tubuh Mentari ke atas kasur, lalu menindihnya dengan kedua tangannya menekan sisi tubuh wanita itu.
“Terlalu mudah kalau kamu mati sekarang, Mentari,” desisnya dingin, matanya gelap penuh amarah. “Kau harus merasakan dulu apa itu hancur… apa itu kehilangan. Baru setelah itu aku akan memberimu kematian.”
Pandangan Mentari tetap kosong. Ia tidak menjawab, tidak melawan,seolah seluruh jiwanya telah habis sebelum Langit sempat menyentuhnya.
Langit bangkit perlahan, menatapnya dari atas dengan tatapan penuh kebencian.
“Mulai sekarang, kau bekerja untukku. Dan nikmati baik-baik setiap detik pembalasan yang akan kau terima dariku.”
Tanpa menunggu reaksi apa pun, ia berbalik dan melangkah keluar, membanting pintu kamar.
Kamar itu kembali sunyi. Mentari masih terbaring di kasur, tubuhnya kaku, wajahnya tanpa ekspresi. Seakan tidak ada apa pun yang bisa membuatnya runtuh lagi.
Namun yang tidak Langit ketahui adalah di balik ketenangan wajah itu,air mata mengalir perlahan.
Tangis tanpa suara.
Tangis yang justru paling menyakitkan.
"Bukan aku.Aku tidak membunuhnya."
*
Langit duduk di ruang kerjanya, bersandar di kursi kulit hitam itu sambil mengisap rokok, nikotin yang selama lima tahun terakhir menjadi satu-satunya teman setianya. Asap putih mengepul pelan, memenuhi ruangan yang remang.
Ketukan terdengar dari balik pintu.
Langit tidak menoleh.
“Masuk,” ucapnya datar.
Pintu terbuka, memperlihatkan asistennya yang masuk dengan langkah hati-hati.
“Apa yang kau temukan?” tanya Langit langsung, tanpa basa-basi, tatapannya tajam menusuk.
"Anda harus melihat ini, Tuan,” ucap Riko pelan sambil meletakkan sebuah USB di atas meja kerja.
Langit melirik sekilas benda kecil itu, lalu mengangkat pandangan kembali pada asistennya.
“Apa ini?” tanyanya datar namun penuh tekanan.
Riko menelan ludah, wajahnya tampak ragu.
“Selama ini… sepertinya kita sudah salah, Tuan.”
Ia berhenti sejenak, mencoba menyusun keberanian.
“Nona Sila… dia sebenarnya.."
Langit langsung menegakkan tubuhnya, matanya menyipit tajam.
“Bicara yang jelas, Riko,” suaranya rendah tapi mematikan.
Riko menunduk dalam.
Ruangan seketika membeku.
Asap rokok yang melayang di udara terasa berhenti di tempatnya.
Flashback on
“Sila…” panggil Langit sambil terengah, begitu melihat sosok kekasihnya berdiri di depan sebuah restoran. Hampir saja ia terlambat,ini pertemuan yang sudah mereka rencanakan sejak pagi, dan ia tak ingin mengecewakan wanita yang telah tiga tahun ia pacari itu.
Sila menoleh. Namun detik itu juga, Langit langsung merasakan ada yang berbeda.
Tidak ada binar bahagia di mata itu. Tidak ada senyum kecil yang biasa menyambutnya. Hanya… hampa.
“Ada apa?” tanya Langit, keningnya mengerut.
Sila hanya menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa. Kamu… berlari?” tanyanya datar.
Langit mengangguk.
“Maaf, tadi di kantor tiba-tiba ada rapat mendadak. Kamu nggak marah kan? Ayo, kita makan. Kamu pasti lapar.”
Ia meraih lengan Sila, mencoba menariknya masuk.
Tapi Sila tidak bergerak. Tidak sedikit pun.
Langit menatapnya, semakin bingung.
“Sila?”
Sila menarik napas panjang, lalu menatap Langit tanpa ekspresi.
“Lang… aku mau putus.”
Dunia Langit seketika berhenti.
Ia membeku, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
“April Mop sudah lewat, Sil. Aku lapar banget sekarang,” ucap Langit sambil terkekeh kecil, berusaha menganggap ini hanya candaan.
Namun Sila tidak tersenyum.
“Itu serius, Lang. Aku mau putus dari kamu.”
Ia melepaskan tangan Langit yang masih menggenggamnya.
“Kenapa?” suara Langit lirih.
“Aku sudah tidak cinta sama kamu lagi.”
Ucapan Arsila terdengar datar,begitu datar hingga menusuk lebih dalam.
Langit membeku.
Kata-kata itu berputar di kepalanya, tapi tak ada yang masuk akal.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benaknya, namun semuanya terasa terlalu menyakitkan untuk ia ucapkan… kecuali satu:
“Kenapa?”
“Sil… kamu sungguh-sungguh?” suara Langit lirih “Bukankah selama ini kita baik-baik saja?”
Arsila mengangguk pelan tanpa menatapnya.
“Aku doakan semoga kamu dapat penggantiku yang lebih baik. Aku pergi, ya.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Langit untuk menahan, Arsila berbalik dan melangkah pergi.
Meninggalkan Langit yang masih berdiri kaku, mencerna setiap kata yang terasa seperti sembilu.
Tiga tahun mereka bersama.
Tiga tahun tanpa pertengkaran berarti,paling hanya selisih kecil yang langsung diselesaikan.
Tidak ada orang ketiga.
Tidak ada tanda-tanda kebosanan.
Semuanya selalu baik-baik saja.
Kecuali satu hal,restu ayah Langit.
Ayahnya ingin Langit menikahi wanita yang “sepadan”, bukan Arsila yang hanya gadis biasa.
Hanya itu satu-satunya masalah di antara mereka.
Dan itu pula alasan hubungan mereka belum maju ke jenjang pernikahan meski sudah sejauh ini.
Tiba-tiba...
BUGH!
Suara keras menghentak udara, seperti benda besar menghantam permukaan keras.
Awalnya Langit mengabaikannya,hanya suara kasar di jalanan.
Namun begitu ia mendengar orang-orang yang kebetulan lewat berteriak panik:
“Tabrak lari!”
“Tolong...korbannya perempuan!”
“Cepat panggil ambulans!”
Langit merasakan seluruh darahnya surut dari wajah.
Sebuah ketakutan instan menusuk dadanya.
Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari...menerjang kerumunan, berharap… dan berdoa dalam hati… semoga yang tergeletak di sana bukan wanita yang baru saja memutuskan hubungan dengannya.
Seketika tubuh Langit melemas.
Ia tersungkur ke lantai aspal ketika pandangannya akhirnya jelas melihat sosok yang tergeletak di tengah kerumunan.
Wanita itu..
Wanita yang sangat ia cintai...
Arsila.
Tubuhnya tak bergerak, terkulai di jalan, darah mengalir dan bercampur dengan cahaya lampu kendaraan. Bajunya berlumuran merah, napasnya nyaris tak terlihat. Wajahnya pucat, dan mata tertutup rapat.
“Si...Sila…” suara Langit pecah, tenggorokannya tercekat.
Ia merangkak mendekat, tangan gemetar saat menyentuh pipi Arsila yang dingin.
“Tidak… jangan… jangan begini…”
Dunia Langit runtuh saat itu juga.
Semua ucapan perpisahan, semua tatapan hampa Sila beberapa menit lalu… tiba-tiba terasa seperti firasat yang tidak pernah ia pahami.
Dan di tengah cahaya sirene yang mulai mendekat, satu kenyataan menghantamnya keras:
"Ia telah kehilangan.."
Bersambung...
Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Arsila,tunggu bab selanjutnya
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏