Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Arpa pelan-pelan membuka matanya. Dia bangun dari tidurnya. Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar Fino.
Arpa membuka pintu kamar Fino, sambil menggosok-gosok matanya.
Dia berjalan sambil melirik ke segala arah dan sering menguap. “Si Fino dimana ya?” Arpa memiringkan kepalanya.
Alis Arpa terangkat pelan dan kepalanya mundur sedikit. “Oh iya, dia bilang, dia ngejaga toko, mungkin dia di depan?”
Arpa melangkah ke arah depan rumah Fino.
Arpa melihat Fino yang bersiap-siap menutup toko rotinya. Arpa memiringkan kepalanya. “Kok udah tutup, Fin?”
Fino tersentak kecil. Dia menengok ke arah Arpa. “Eh, udah bangun. Ya iyalah, udah sore ini.”
Arpa terdiam sejenak. “Hah? Udah sore?” Pandangan Arpa bergeser ke arah langit.
Alis Arpa naik lalu mengerut. Mulutnya terbuka dan dia diam sebentar. “Lah?! Udah sore?!”
Fino ketawa. “Hahaha, makanya, gila juga lu, tidur sampe sore gini.”
Fino selesai menutup tokonya dan menghampiri Arpa. “Ngomong-ngomong tadi kenapa lu hujan-hujanan?” Dia duduk di kursi.
Arpa ikut duduk di samping Fino. Dia nyender. “Oh, itu. Jadi gini… “ Arpa menceritakan semuanya.
Sepanjang Arpa bercerita, Fino hanya diam sambil ngangguk-ngangguk pelan.
Arpa menghembuskan napasnya. “Ya, kira-kira gitu deh,” Arpa tersenyum tipis.
Kepala Fino menunduk sedikit. Tangan mengepal pelan.
Perlahan-lahan kepalanya Fino naik. Dia merangkul Arpa. “Sabar ya, semoga hubungan lu sama mereka bisa membaik. Dan juga, hajar para berandalan yang ada di sekolah buat gua ya! Pahlawan,” Fino nyengir.
Mulut Arpa terbuka sedikit, dia langsung tersenyum. “Ya!” dia mengangkat tangannya yang mengepal.
Fino ngangguk sambil ngasih jempolnya. Dia tersenyum lebar.
Arpa berdiri dari duduknya. Dia natap langit yang udah mau gelap. “Ya udah, gua pulang ya, udah mau gelap nih.”
Fino ikut berdiri. “Oke, mau gua anter nggak?”
“Nggak usah, gua pulang ya,” Arpa melangkah pergi sambil melambaikan tangannya.
Fino senyum sambil melambaikan tangannya.
Di perjalanan pulang, senyum Arpa belum memudar. Dia menatap langit, angin berhembus ke arahnya.
“Siap-siap kalian, anggota PG, berandalan atau apapun itu,” Arpa tersenyum lebar sambil mengepalkan tangannya.
Hari esok pun tiba. Arpa bersiap-siap dengan penuh semangat. Dia berangkat lebih pagi dari biasanya.
Arpa pun keluar dari rumahnya. Di jalan dia tidak bertemu Juan, karena Arpa berangkat lebih pagi dari biasanya.
Arpa berjalan lumayan cepat dan badannya tegak. “Gua datang, anak-anak nakal!” kata Arpa di dalam hatinya.
Arpa pun sampai di depan gerbang. Di dalam sekolah, dia melihat banyak siswa sedang mengelilingi satu siswi.
Arpa langsung berlari ke arah mereka. Arpa langsung memukuli mereka semua hingga mereka terjatuh.
“Apa-apaan nih? Kita cuman mau minta maaf ke cewe itu!” kata salah satu dari mereka.
Arpa nyengir. “Nggak peduli, paling itu cuman alesan kalian doang,” Arpa langsung pergi.
Di lorong sekolah, Arpa memukuli murid yang mencurigakan baginya. Bahkan anggota PG yang hanya diam tidak lepas dari pukulannya.
Arpa melakukan itu semua dengan senyuman lebar di mukanya. Dia nggak mau mendengarkan alasan apapun. Jika baginya mencurigakan, akan dia pukul.
Arpa pun sampai di depan pintu kelasnya. Dia diam sebentar sambil menundukkan kepalanya. “Kayaknya… gua hari ini bolos aja deh, gua… belum siap ketemu mereka… “
Arpa pun lanjut keliling. Dia lagi-lagi memukuli murid yang mencurigakan baginya.
Bel masuk pun berbunyi. Murid-murid memasuki kelasnya masing-masing.
Arpa yang mendengar bel masuk itu, memiringkan kepalanya. “Hmm, gimana nih?”
Mata Arpa tiba-tiba berbinar, kepalanya terangkat. “Gua tau! Ruang ekskul seni rupa!”
Arpa pun berjalan ke arah ekskul seni rupa. Dia mengendap-endap, karena guru-guru sudah mengajar di semua kelas.
Akhirnya Arpa pun sampai di depan pintu ruangan ekskul seni rupa. Dia membuka pintu itu.
Arpa tersentak kecil. “Loh bang Aran?” Arpa masuk.
Aran yang sedang melukis sendirian menengok ke arah Arpa. Matanya membesar. “loh? Lu ngapain? Bukannya udah bel masuk?”
Arpa menggaruk kepalanya. “Hehe, gua males bang. Lu juga ngapain di sini bang?”
Aran nyengir. “Males juga, hehe.”
Arpa ketawa sambil megang perutnya. “Hahaha. Katanya mau serius lu bang, kan lu udah kelas 3.”
Aran memalingkan pandangannya. “Y-ya, namanya juga manusia, bisa suntuk juga lah gua, ya kan?”
Arpa ngangguk-ngangguk. “Iyain aja lah.”
Arpa duduk di kursi. “Ngomong-ngomong tadi gua mukulin berandalan sekolah ini bang, anggota PG juga, mereka nggak kapok-kapok bang,” Arpa menggelengkan kepalanya.
Alis Aran naik sedikit. “Loh, anggota PG masih berulah?”
Aran menunduk. “Perasaan mereka kemarin bilang mau tobat berulah,” pikir Aran.
“iya bang, tadi pas gua baru sampai disekolah, gua liat mereka mengelilingi cewe gitu, nggak tau deh mereka mau ngapain,” Arpa menghela napas.
Aran menyentuh bahu, dia senyum. “Kalau mereka, anggota PG, berandalan, atau apapun itu berulah, hajar aja mereka ya, gua percaya sama lu.”
Mata Arpa membesar dan berbinar. “Siap, bang!”
Aran pun lanjut Melukis. Sedangkan Arpa, dia kadang melihat lukisan Aran, menatap langit dari jendela. Melihat-lihat barang di ruangan ekskul seni rupa, Bengong, dan ngelakuin hal-hal acak.
Bel istirahat pun berbunyi. Arpa melompat-lompat kecil, matanya berbinar. “Gua pergi ya bang!” Arpa langsung pergi dari ruangan ekskul seni rupa.
Sedangkan di kelas 10B, bu Kila masuk ke kelas. “Oke anak-anak, sebelum kalian istirahat, ibu mau ngumumin sesuatu, ada yang lihat Arpa nggak?”
Talita mengangkat tangannya. “Emangnya si Arpa kenapa bu?”
Bu Kila ngelirik Talita. “Hadeh, nggak tau deh saya, bingung juga sama itu anak, tadi pagi dia mukul-mukulin murid-murid, nggak tau deh kenapa,” bu Kila mengangkat kedua bahunya.
“nah murid-murid itu ngelapor ke ibu, tapi di kelas si Arpa juga nggak ada, makanya saya keliling nih, buat nyari dia,” bu Kila menggelengkan kepala sambil ngelus dadanya.
“Yaudah kalau nggak ada mah, nanti kalau ketemu bilang ke saya ya, dadah,” bu Kila melangkah pergi.
Mutia langsung berdiri sambil memukul pelan meja. “bu! Saya ikut,” Mutia menatap serius bu Kila.
Bu Kila tersentak sedikit dan menoleh. “Eh? Kenapa?”
Mutia mendekati bu Kila. “Saya mau mastiin aja.”
Bu Kila menghembuskan napasnya. “Yaudah, terserah kamu deh,” bu Kila lanjut melangkah, Mutia mengikuti dari belakang.
Bu Kila berhenti di depan pintu ruang guru. “Mutia, kamu tunggu di ruang guru aja ya, murid yang dipukulin si Arpa juga ada di dalem, saya mau cari Arpa.”
Mutia ngangguk dan masuk ke ruang guru.
Bu Kila lanjut mencari Arpa. Sedangkan Arpa, dia sibuk nyari-nyari murid yang mencurigakan.
Saat Arpa fokus melirik kesana-kemari, kupingku tiba-tiba di jewer. “Bener-bener kamu ya! Bandel banget, ayo ikut saya ke ruang guru!” bu Kila narik Arpa.
“Aduh, kenapa bu? Saya salah apa bu?” kata Arpa sambil mencoba kabur.
Tapi bu Kila hanya diam dan menyeret Arpa ke ruang guru.
Mereka pun sampai di ruang guru. Bu Kila duduk. Arpa pun ikut duduk.
Arpa melihat murid-murid yang dia pukulin dan Mutia. “Kenapa nih bu? Kok rame banget.”
Alis bu Kila mengkerut halus. “Kamu memukul mereka kan? Kecuali Mutia.”
Arpa ngangguk. Matanya serius. “Iya, bu.”
“Kenapa?” kata bu Kila.
“Serius ibu nanya kenapa? Mereka ini berandalan bu,” badan Arpa maju sedikit.
Bu Kila menghembuskan napas. “Hadeh, mereka ini udah bilang ke saya, mereka nggak salah. Ada yang pengen minta maaf, ada yang cuman bercanda, ada yang nggak sengaja, bahkan ada yang diam aja tapi kamu pukulin.”
Bu Kila menepuk jidatnya. “Semuanya kamu pukulin cuman gara-gara kamu curiga, yang salah di sini itu kamu, Arpa!” bu Kila memukul meja lumayan keras.
Arpa langsung terdiam. Badannya kaku, matanya membesar dan mulutnya terbuka. “H-hah? Gua… yang salah?”