Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.
Season 3 Warisan Darah Majapahit : 04. Penawar dari Bakul Gendong.
Pukul 13.00 WIB. Restoran “Dapur Sang Waktu” (Pintu sudah dikunci).
Kekacauan melanda meja kasir. Bumi masih menangis melengking, tubuh kecilnya menggeliat kesakitan di gendongan Arya.
“Panas, Yah! Sakiiitt!” Jerit Bumi,
“Ambil es batu, Na! Cepat!” Perintah Arya panik.
Kirana berlari membawa handuk berisi es batu. Dengan tangan gemetar, ia menempelkan kompres dingin itu ke dada Bumi yang melepuh berbentuk gambar teratai hitam.
CESS!
Terdengar suara seperti besi panas dicelup air. Uap putih mengepul. Es batu itu mencair seketika dalam hitungan detik, berubah menjadi air mendidih.
Kirana memekik, menjatuhkan handuk itu karena tangannya ikut kepanasan.
“Ya Tuhan… ini bukan luka bakar biasa,” isak Kirana. “Ini api gaib, Mas. Kita nggak bisa bawa ke dokter, mereka nggak bakalan ngerti.”
“Aku panggil ambulans RSPAD,” Dimas mengeluarkan ponselnya. “Mungkin ada dokter militer yang ngerti tentang santet.”
“Kelamaan!” Bentak Arya, matanya merah menahan amarah dan sedih melihat anaknya menderita.
TUK. TUK. TUK.
Pintu kaca restoran diketuk dari luar.
Mereka menoleh kaget. Padahal tulisan CLOSED sudah dipasang.
Di luar, berdiri seorang nenek tua berkebaya lusuh dengan selendang batik yang menggendong bakul jamu di punggungnya. Wajahnya keriput, tapi matanya bening dan tajam. Ia tidak mengetuk dengan tangan, melainkan dengan tongkat kayu kecil.
Arya waspada. “Siapa lagi itu? Anak buahnya Ki Seto?”
“Biar saya usir,” Dimas berjalan ke pintu.
Saat Dimas membuka pintu sedikit, nenek itu langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Aroma jamu—kunyit, kencur, dan akar-akaran—langsung memenuhi ruangan, entah kenapa aroma itu sedikit menetralkan hawa panas yang ditinggalkan Ki Seto.
“Minggir, cah bagus. Jangan halangi jalan,” suara nenek itu serak tapi jenaka.
“Mbah, maaf kami tutup. Ada urusan keluarga,” cegah Dimas.
“Urusan nyawa kok dibilang urusan keluarga,” nenek itu terkekeh. Ia berjalan lurus menuju Arya dan Bumi, seolah tahu persis siapa pasiennya.
Arya mundur selangkah, melindungi Bumi. “Jangan mendekat.”
Nenek itu berhenti. Ia menurunkan bakul jamunya di meja.
“Cucu itu kesakitan. Api Neraka Teratai Hitam cuma bisa diredam sama Air Pucuk Wilis,” kata si nenek tenang. Ia menatap Arya. “Kamu mau anakmu diam atau mau dia nangis sampai sukmanya lepas?”
Arya terdiam. Tangisan Bumi makin menjadi-jadi.
“Lakukan,” kata Arya akhirnya, meski tangannya siap mencekik nenek itu jika ia berbuat macam-macam.
Nenek itu—yang kita sebut Nyi Roro—mengambil sebuah botol kaca kecil berisi cairan hijau pekat dan beberapa lembar daun sirih merah dari bakulnya.
Ia mengunyah daun sirih itu sebentar, lalu menyemburkannya ke telapak tangannya sendiri, mencampurnya dengan cairan hijau tadi.
Dengan gerakan lembut yang mengejutkan, Nyi Roro mengoleskan ramuan itu ke dada Bumi.
“Adem… asrep… bali menyang asalmu…” Nyi Roro merapal mantra Jawa Halus.
Ajaib.
Tangisan Bumi perlahan mereda. Napasnya yang tadi memburu kini menjadi teratur. Warna merah menyala di dada kirinya meredup, berubah menjadi warna hitam samar seperti tato temporer.
“Enak… dingin…” gumam Bumi, lalu ia terkulai lemas di bahu Arya, tertidur karena kelelahan.
Kirana merosot duduk di kursi, lemas karena lega. “Terima kasih, Mbah… terima kasih banyak.”
Nyi Roro membereskan botolnya. Ia menatap Kirana, lalu beralih ke Arya.
“Jangan senang dulu. Itu cuma obat pereda nyeri. Akarnya masih tertanam,” kata Nyi Roro serius.
“Siapa sebenarnya orang tadi, Mbah? Ki Seto?” Tanya Dimas.
Nyi Roro mendengus jijik mendengar nama itu.
“Seto… si tua bangka yang tidak tahu kapan harus mati,” Nyi Roro menggendong bakulnya lagi. “Dia itu kolektor nyawa. Dia butuh anakmu karena anakmu itu ‘Wadah Kosong’. Seperti gelas yang belum diisi air. Dia mau isi gelas itu dengan jiwa majikannya yang sudah lama menunggu di neraka.”
Arya mencengkeram lengan Nyi Roro. “Gimana cara menghentikan dia?”
Nyi Roro menatap mata Arya dalam-dalam.
“Jangan biarkan pusakamu jauh dari anakmu. Keris dan Cincin itu… mereka adalah gemboknya. Kalau satu saja hilang, pintu wadah itu akan terbuka lebar.”
Setelah mengucapkan peringatan itu, Nyi Roro berjalan ke pintu.
“Tunggu, Mbah! Siapa nama Mbah? Saya harus bayar berapa?” Panggil Kirana.
Nyi Roro menoleh, tersenyum misterius yang memperlihatkan giginya yang hitam karena nginang (mengunyah sirih).
“Panggil saja Nyi Roro. Bayarannya gampang… nanti kalau kalian perang, pastikan si Seto mati beneran. Saya bosan liat mukanya lima puluh tahun ini.”
Nyi Roro melangkah keluar. Saat Dimas menyusul ke pintu untuk melihat kemana perginya, trotoar di depan restoran sudah kosong. Nenek itu menghilang secepat asap.
Arya menatap Bumi yang tertidur pulas. Lalu ia menatap Dimas.
“Dimas, dia bilang ‘Jangan biarkan pusaka jauh dari anakmu’,” ulang Arya.
Wajah Arya pucat seketika.
“Kenapa, Kakang?”
“Keris Kyai Sengkelat,” bisik Arya horor. “Aku tinggal dirumah. Di brankas. Nggak ada yang jaga.”
“Rumahmu kosong sekarang?” Tanya Dimas panik.
“Kosong. Asisten rumah tangga pulang kampung.”
Arya segera menyambar kunci mobil. Firasat buruk menghantamnya lebih keras dari sebelumnya.
“Pulang! Sekarang!”