Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33.
Meski diabaikan oleh suaminya, Lusy tetap mengejar Kanny. Masuk ke dalam kamar mereka, Lusy berdiri dan berjalan mondar-mandir saat menunggu Kanny yang berada di dalam kamar mandi.
Saat suaminya itu keluar, Lusy langsung mendekat. "Kak, bagaimana tadi? Kau berhasil mempermalukan Kakak ipar, kan?" tanyanya dengan penuh keantusiasan.
Kanny yang tengah mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil itu menutup matanya dalam-dalam. Susah payah ia berusaha mendinginkan pikirannya. Sampai Kanny mengguyur kepala dengan air dingin, tapi Lusy ternyata terus memancingnya.
"Jawab, Kak! Jangan membuatku penasaran! Berhasil, kan?"
Kembali mendengar suara Lusy yang penuh dengan desakkan, Kanny langsung melempar kasar handuk di tangannya. "Aku tidak bertemu mereka," jawabnya ketus.
"Apa? Tidak bertemu bagaimana?" Lusy terkejut sekaligus tidak mengerti. Ia terus mengikuti suaminya dan mendesak Kanny untuk memberikan jawaban yang memuaskan. "Kalian 'kan satu perusahaan. Masa tidak bisa bertemu dengan Kakak ipar?"
Kanny diam. Tak memperdulikan ocehan Lusy.
"Oh, atau jangan-jangan Kakak ipar sudah mulai belagu di perusahaan karena menempati posisi Daddy?" Lusy berspekulasi sesuka hati. "Dasar orang kampung! Tidak bisa diberi sedikit panggung sudah langsung lupa diri!"
"Bisakah kau berhenti mengoceh? Kepalaku sakit mendengarnya!" Kanny menatap tajam Lusy yang seketika terdiam. "Aku sama sekali tidak bertemu Cakra, maupun Yubie di perusahaan! Dan untuk hari ini, berhenti bahas tentang mereka!"
"Berhenti katamu? Mana bisa berhenti! Kau mau Kakak ipar yang mengambil alih kursi Daddy, hah?!"
Lusy yang tidak bisa mengerti kondisi lelah suaminya setelah pulang bekerja itu tetap ngotot ingin bicara.
"Kita harus menyusun rencana untuk bisa menggagalkan semua kebusukkan pasangan suami istri itu! Aku yakin, semua ini sudah direncanakan oleh Kak Yubie. Dia benar-benar memanfaatkan suaminya yang tidak seberapa itu dengan baik untuk mengambil alih perusahaan!!"
Kanny menatap Lusy tegas. Sama sekali tidak menduga bahwa Lusy bisa berpikiran demikian dan menilai semua adalah ulah Yubie.
Kanny sulit percaya, dan ia tidak mau mendengarkan semua ucapan Lusy yang semakin ngelantur menurutnya. Kanny pun naik ke tempat tidur.
"Terserahmu! Aku lelah, ingin tidur!" Kanny langsung membungkus dirinya dengan selimut dan membelakangi Lusy yang terbelalak.
Lusy mengeram kesal dan mengumpat atas sikap suaminya itu yang tidak bisa diajak bekerja sama. Dengan menghentakkan kakinya, Lusy beranjak, menyingkap tirai jendela dan melihat keluar. Ia akan menunggu kepulangan Yubie dan Cakra dari perusahaan, dan berniat menyinggung langsung masalah ini pada kakaknya yang serakah itu!
Sedangkan pasangan suami istri yang sedang serakah-serakahnya akan gairah bercinta mereka itu baru saja selesai mandi bersama.
"Kamu, ya Bie! Kenapa semuanya dikasih tanda gini sih? Gimana aku nutupinnya coba?!" Yubie yang duduk di hadapan meja riasnya itu menggerutu. Ia pusing melihat banyaknya tanda merah yang suaminya tinggalkan di area lehernya.
Tangan Yubie bergerak menyingkap kimono mandinya lebih jauh. Dan langsung dibuat lemes saat melihat nyaris sekujur tubuhnya memiliki jejak Cakra, sampai ke paha-paha. Dasar suami mesum!
"Bie?!" panggil Yubie karena Cakra tak menyahut gerutuannya dari tadi. Wanita itu menoleh dan mendapati Cakra yang duduk di meja kerja mininya yang ada di kamar istirahat.
Sejumlah dokumen yang cukup tinggi ada di hadapan pria itu, lengkap dengan layar laptop yang juga menyala. Yubie menyipit dan mengernyit. Beberapa map berkas di sana seperti sangat Yubie kenali.
"Kau mengerjakan pekerjaanku, Bie?" kaget Yubie ketika tahu ada berkas yang seharusnya ia tangani di tumpukkan yang sudah menyerupai anak gunung itu.
Dengan perlahan Yubie mendekat ke meja suaminya. Cakra menyadari kehadiran istrinya itu. Ia meraih tubuh Yubie dan mendudukannya di atas pangkuannya.
"Kevin akan segera bawakan pakaian ganti untuk kita," ujar Cakra. Ternyata tadi ia sibuk mengirim pesan pada sahabatnya Kevin.
Yubie yang perhatiannya sudah diambil oleh apa yang sebenarnya tengah suaminya lakukan terlihat tidak peduli dengan kalimat Cakra. Tangannya menyusuri semua berkas dengan segera.
"Ini dokumen Daddy?" Yubie menoleh pada Cakra yang memberikan anggukan.
"Itu semua sudah siap," kata Cakra menjelaskan tentang semua berkas yang Yubie sentuh.
"Sudah siap? Sudah siap dikerjakan?"
"Ya." Cakra lagi-lagi mengangguk. Membuat Yubie terkejut.
"Bagaimana bisa?"
"Ya bisalah kalau dikerjakan, Bie." Cakra terkekeh sambil menarik gemas hidung istrinya.
"Maksudku, bagaimana bisa kau mengerjakannya?" Netra Yubie memperhatikan wajah suaminya. Ia merasa tiba-tiba tidak mengenal Cakra. Atau lebih tepatnya belum mengenal siapa Cakra sepenuhnya.
"Aaa... Maaf, bukan maksudku... Ini itu... Ini pekerjaan..."
"Pekerjaan yang sulit?" potong Cakra saat melihat wajah istrinya berubah tak nyaman.
Yubie merasa ia sudah salah bicara dan pasti menyinggung perasaan Cakra. Tapi, Cakra hanya terkekeh melihat sikap istrinya itu.
"Aku bisa mengerjakan semua ini," kata Cakra dengan menumpukan tangannya di atas berkas yang menjadi tanggung jawab sang istri dan Tuan William di perusahaan William Group. "Aku mengerjakannya tadi, saat kau tidur karena kelelahan menjerit," bisik Cakra di telinga Yubie yang semakin terkejut.
Bukan terkejut dengan ucapan Cakra yang mesum itu. Tapi, dengan penjelasannya yang mengatakan bahwa ia mengerjakan semuanya saat Yubie tertidur. Seberapa lama memangnya Yubie tidur, hingga Cakra bisa menyelesaikan semua tugas kantor miliknya dan ayahnya dalam waktu singkat? Ini Cakra yang memang paham akan tugasnya, atau sebenarnya ada yang tidak diketahui oleh Yubie?
"Bingung?" Yubie langsung mengangguk saat suaminya bertanya seperti itu. Ia benar-benar butuh penjelasan yang sejelas-jelasnya saat ini atas situasi ini. Kenapa bisa?
"Coba lihat ini! Mungkin akan bisa menjawab pertanyaanmu."
Cakra mengarahkan istrinya ke layar laptop yang tengah menyala di hadapan mereka.
Tidak ada yang spesial di sana. Di layar laptop hanya ada sebuah draf dokumen pekerjaan biasa. Tapi, Yubie begitu awas memperhatikan setiap detail kata-katanya. Sampai ia menemukan sesuatu yang malah semakin membuatnya terbelalak.
"Safir Corp... Direktur utama... Cakra Atlas...?"
Deg!
"Bie, kau...?"
sebelum tu mata si jadiin cilok jepret ma yubiee ,, 🤭🤣 ,, mending buru2 simpen di pegadaian ,, biar bermanfaatr dikit 🤣🤣🤭
author aj yg ikat sendiri yx ,,
semangat trus kak ,,
💪😄😄
kenapa selalu kupu-kupu yang di sebut? sungguh ketidak adilan yang sangat nyata 🥴😏