Selama tujuh tahun, Reani mencintai Juna dalam diam...meski mereka sebenarnya sudah menikah.
Hubungan mereka disembunyikan rapi, seolah keberadaannya harus menjadi rahasia memalukan di mata dunia Juna.
Namun malam itu, di pesta ulang tahun Juna yang megah, Reani menyaksikan sesuatu yang mematahkan seluruh harapannya. Di panggung utama, di bawah cahaya gemerlap dan sorak tamu undangan, Juna berdiri dengan senyum yang paling tulus....untuk wanita lain.
Renata...
Cinta pertamanya juna
Dan di hadapan semua orang, Juna memperlakukan Renata seolah dialah satu-satunya yang layak berdiri di sampingnya.
Reani hanya bisa berdiri di antara keramaian, menyembunyikan air mata di balik senyum yang hancur.
Saat lampu pesta berkelip, ia membuat keputusan paling berani dalam hidupnya.
memutuskan tidak mencintai Juna lagi dan pergi.
Tapi siapa sangka, kepergiannya justru menjadi awal dari penyesalan panjang Juna... Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan Lupa follow penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aerishh Taher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Pantai dan Harapan baru
Zen membuka map itu perlahan, seolah memberi waktu pada ruangan untuk ikut mendengarkan. Layar di dinding menyala—grafik, angka, potongan laporan yang disusun rapi. Reani tidak mendekat. Ia tetap di kursinya, menatap tanpa tergesa.
“Juna pintar,” kata Zen akhirnya. “Terlalu pintar untuk ceroboh, tapi aku tetap bisa mendapatkan bukti.”
Reani mengangkat dagu sedikit. “Bukti apa yang bisa menjatuhkan seorang manajer pemasaran?”
Zen mengganti slide. Logo mitra, kontrak iklan, tabel komisi.
“Markup anggaran kampanye,” jawabnya. “Bukan sekadar salah hitung. Ini masuk penyalahgunaan wewenang—yang membuat kerugian perusahaan, cukup besar.”
Reani menatap angka-angka itu. Tidak ada amarah di wajahnya.
“Penjara?” tanyanya singkat.
“Bisa,” kata Zen. “Tapi kita tidak membutuhkannya. Ancaman cukup dengan denda besar seperti pengembalian kerugian, dan—” ia berhenti, membiarkan kata berikutnya jatuh, “—pemecatan.”
Reani tersenyum tipis. Bukan senyum puas. Lebih seperti memastikan pintu sudah terkunci.
“Masalahnya,” lanjut Zen, “dia masih punya saham.”
Reani bangkit. Ia mendekat ke layar, jaraknya setengah lengan. Bayangannya memotong grafik.
“Berapa persen?”
“15%,” jawab Zen. “Saham yang cukup untuk membuat perusahaan ribut.”
Reani mengetuk meja dengan ujung jari—sekali. Suaranya kering.
“Kalau dia terbukti merugikan perusahaan,” katanya, “apa yang terjadi pada sahamnya?”
Zen mengikuti arah pikirannya. “Freeze, hak suara ditangguhkan sementara proses berjalan.”
“Dan setelah dipecat?”
“Kita ajukan buyback,” kata Zen. “Harga pasar atau dia harus masuk penjara.”
Reani berbalik tatapannya tenang, “Hmmm, dia pasti butuh uang untuk membayar denda itu.”
Zen mengangguk. “Ya denda itu tidak akan kecil.”
“Berikan dia pilihan,” ujar Reani. “Dia pasti akan menjual saham itu pada mu.”
Zen menutup map. “Kita tidak memaksanya, kita hanya menunjukkan konsekuensi.”
Reani melangkah kembali ke kursinya. Ia duduk, menyilangkan kaki. “Kapan?”
“Audit internal sudah siap,” kata Zen. “Aku sudah menyiapkan segalanya.”
Reani menatap keluar jendela. Kota bergerak seperti biasa—tidak tahu apa-apa.
“Pastikan rapi,” katanya pelan. “Aku tidak mau ada drama.”
Zen tersenyum kecil. “Ya, pasti.”
Reani berdiri. Tangannya merapikan lengan jas. “Kabari aku saat dia mulai membuat ulah baru.”
Zen berdiri menyertainya. “Tentu.”
Reani berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
“Zen,” katanya tanpa menoleh, “jika dia memilih melawan—”
“—Dia tidak akan menang.” potong Zen.
Reani mengangguk. "Baiklah aku harap kamu bisa mengurus segalanya, aku percayakan Juna padamu. Sampai jumpa dilain waktu."
___
Reani baru menutup pintu ruang rapat ketika ponselnya kembali bergetar.
Nama Gerald muncul di layar.
Ia mengangkatnya sambil melangkah menuju lift.
“Ya?” suaranya tenang, nyaris datar.
“Kamu di mana?” tanya Gerald tanpa pembuka. Suaranya terdengar dekat, seperti orang yang sedang berjalan.
“Di perusahaan Tekno Air” jawab Reani singkat.
Ada jeda di ujung sana, lalu suara Gerald kembali terdengar. “Aku jemput ya.”
Reani menekan tombol lift. Cahaya indikator menyala pelan.
“Ada perlu apa?” tanyanya, tidak curiga, tapi juga tidak terburu-buru.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” kata Gerald. “Tapi, kalau kamu sibuk yah, kita bisa pergi lain kali.”
Lift turun perlahan. Reani menatap angka lantai yang berganti satu per satu.
“Hmm, aku tidak sibuk, kamu bisa menjemput ku.”
Gerald menghela napas kecil meluapkan rasa gembiranya yang tertahan mendengar perkataan Reani. “Ah, baiklah...aku sudah di jalan. Sepuluh menit lagi sampai.”
Pintu lift terbuka. Lobi kantor ramai, suara langkah dan percakapan bersilang. Reani melangkah keluar tanpa menoleh.
“Aku tunggu di depan,” ujarnya.
Panggilan terputus.
Reani berdiri di depan gedung Tekno Air, tepat di bawah kanopi kaca. Lalu lintas sore mengalir tenang. Udara membawa sisa panas matahari yang belum sepenuhnya turun.
Ia mengecek ponselnya sekilas.
Belum sempat layar kembali gelap, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.
Jendela sisi pengemudi turun.
“Maaf nunggu lama,” suara Gerald terdengar bersamaan dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. “Tadi kena lampu merah.”
Reani menggeleng pelan. “Tidak lama.”
Gerald turun dan membuka pintu penumpang untuknya. Gesturnya sederhana, tapi cukup membuat Reani berhenti sepersekian detik sebelum masuk.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Mobil kembali melaju setelah pintu tertutup. Gerald menyalakan mesin, lalu mengeluarkan kendaraan dari area parkir dengan tenang.
Beberapa menit pertama mereka diam. Bukan karena canggung—lebih seperti sama-sama menikmati jeda setelah hari yang panjang.
Baru ketika mobil memasuki jalan utama, Gerald membuka suara.
“Aku akan membawa mu ke tempat yang tenang,” ujar Gerald akhirnya, kedua tangannya tetap mantap di kemudi. “Aku yakin kamu akan menyukainya.”
Reani melirik sekilas, melihat rasa antusias Gerald yang cukup aneh dimatanya tapi cukup untuk membuat Reani penasaran.
“Benarkah?” tanyanya. “Ke mana? Jangan buat aku penasaran.”
Gerald terkekeh kecil. Suara itu jarang keluar darinya. “Tidak lama lagi kita sampai.”
Mobil berbelok ke jalan yang lebih sepi. Deru kota perlahan tergantikan oleh suara angin dan aroma laut yang samar mulai terasa.
“Oh ya,” Gerald menambahkan, seolah baru teringat. “Tadi kamu ke Tekno Air ada keperluan apa?”
Reani menghela napas pelan. Bibirnya melengkung tipis, bukan senyum—lebih seperti pernyataan sikap.
“Aku ingin menguras harta Juna dengan membuat dia mengganti rugi dalam kasus korupsinya,” katanya tenang. “Uang yang dia kuras selama bertahun-tahun menjabat sebagai direktur, Aku dan Zen telah membuat siasat untuk dia mengembalikan semua uang itu. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil sepeser pun dariku. ”
Gerald melirik cepat. Alisnya terangkat samar.
“Sadis banget,” gumamnya, tapi sudut bibirnya justru naik sedikit.
Reani berbalik menatapnya. “Kedengarannya begitu?”
“Ya” Gerald mengangguk. “Tapi....aku suka.”
Gerald tiba-tiba mengangkat satu tangan dari kemudi—sebentar saja—dan mengusap kepala Reani secara tiba-tiba.
Sentuhan itu membuat Reani membeku.
Jantungnya berdebar yang membuat rasa hangat menjalar ke wajahnya tanpa izin.
“Ah—” Gerald tersadar, tangannya segera kembali ke kemudi. “Maaf, Rea.”
Reani berdehem kecil, memalingkan wajah. “Tidak apa-apa… ehem.... Apa sudah dekat?”
“Sebentar lagi.”
Mobil melambat, lalu berhenti.
Gerald mematikan mesin.
“Nah,” katanya. “Kita sudah sampai.”
Reani membuka pintu dan langsung disambut angin laut. Di hadapannya terbentang pantai dengan pasir pucat, ombak kecil berkejaran, dan matahari senja yang menggantung rendah, menumpahkan warna jingga ke permukaan air.
“Pantai…” Reani terdiam sejenak. “Indah banget.”
Gerald berdiri di sampingnya. “Aku sengaja ngajak kamu ke sini.”
Reani menoleh, matanya memantulkan cahaya senja. “Terima kasih, Gerald. Kamu perhatian sekali.” Ia ragu sejenak sebelum bertanya, “Dari mana kamu tahu aku suka pantai?”
Gerald tersenyum—tenang, pasti. “Sudah aku bilang, Rea. Aku mengenalmu.”
Mereka berdiri berdampingan, membiarkan senja turun perlahan. Debur ombak menjadi latar bagi detak jantung Reani yang mulai tidak beraturan.
Gerald menghela napas, lalu menoleh padanya.
“Rea,” panggilnya pelan. “Kalau semua urusan dengan Juna sudah selesai… maukah kamu menikah denganku?”
Reani terdiam. Bukan karena kaget, melainkan karena ia benar-benar mempertimbangkannya.
Ia menatap laut, lalu kembali pada Gerald.
“Tidak ada salahnya menerima kamu,” katanya jujur. “Tapi aku tidak ingin langsung menikah.”
Gerald menunggu Reani menjelaskan dengan sabar.
“Aku ingin kita bertunangan dulu,” lanjut Reani. “Setahun, aku ingin mengenalmu lebih dalam sebelum benar-benar memutuskan.”
Wajah Gerald melunak. “Benarkah?”
Reani mengangguk kecil.
“Baik,” katanya mantap. “Aku setuju, terima kasih.”
Hening sejenak.
“Rea,” Gerald ragu, lalu tersenyum kecil. “Bolehkah aku…?”
“Apa?” Reani mengangkat wajah.
Gerald menunduk sedikit.
Cuppp...
Kecupan singkat mendarat di kening Reani—ringan dan hangat.
Reani terpaku, pipi putihnya memerah rasa hangat kembali menjalar hingga ke telinga. Ia menunduk, tersenyum kecil tanpa sadar.
Mata yang dulu hampa kini tanpa sadar penuh dengan binar harapan—harapan bahwa segalanya akan jauh lebih indah di masa depan nanti bersama Gerald.
bersambung......