NovelToon NovelToon
KUTUKAN MAUT PADMINI

KUTUKAN MAUT PADMINI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Tumbal / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:314.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.

Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 : Lagi-lagi Padmini di fitnah

“Apa lagi ini?!” para ibu-ibu yang tadi menolak permintaan Sumi, berteriak seraya menjambak rambut.

“Kenapa sekarang kita sibuk betul. Pagi sampai sore bekerja di ladang, malam hari dikejar-kejar dan diteror hantu. Kapan damainya kampung ini seperti dulu?!”

Wajah-wajah wanita istri dari seorang petani itu terlihat kuyu, frustasi, kehilangan binar semangat.

Mereka ikut pergi ke sungai, para anak kecil tidak boleh ikut – dijaga oleh remaja.

Sumi dan Sundari tidak peduli. Mereka tengah stress berat memikirkan cara membuat halaman rumah kembali rapi, wangi tak bau tai.

Wandi pun terkena imbasnya, tubuh masih lemah dipaksa menggali lubang untuk memendam tumpukan kotoran.

Sedangkan Bambang tidak serta merta terbebas hanya dikarenakan masih dalam masa penyembuhan. Dengan keterbatasan bergerak, dia kebagian mencuci piring kotor menggunakan air sumur yang kembali terisi, keluar dari mata air walaupun tidak melimpah.

Bambang duduk di bangku dilapisi handuk agar bekas luka pada bokong tidak terlalu sakit – tangannya menarik tali tersangkut di katrol, alat untuk memudahkan mengambil air dari dalam sumur.

Pria berprofesi sebagai Mantri itu terlihat cocok juga jadi tukang cuci piring.

Hueg!

Hueg!

Sumi, Sundari muntah-muntah saat mencangkul demi membuang sesuatu yang semalam lembek kini mengeras. Wajah mereka memerah, sampai keluar air mata. Perut bergejolak kala mencium bau sangat-sangat menyengat.

Meskipun sudah memakai menutup mulut menggunakan kain tebal, tetap saja bau itu menembus hidung.

.

.

Di tepi sungai, ibu-ibu dan para pria khusus hari ini tidak pergi bekerja, memandang penasaran sesuatu mengambang tersangkut pada dahan pohon di seberang papan cucian.

Lima orang pemuda memberanikan diri berenang ke tepian seberang yang daratannya dipenuhi semak belukar.

Saat sudah dekat dengan sosok seperti manusia memakai busana berwarna merah muda, tangan mereka mencoba meraih dan membalik sesuatu itu.

Tiba-tiba sesuatu yang dikira mati dikarenakan tidak bergerak, cuma terlihat pakaian mengambang – menyembulkan kepalanya yang memiliki mulut panjang, dan membukanya selebar-lebarnya.

Akhh!

“Buaya! Lari!”

Kelima pemuda tadi berenang dengan kekuatan penuh. Kaki mereka memukul air, tangan seperti mendayung agar cepat sampai di tepian tempat cuci baju. Tidak mungkin naik ke daratan seberang, dikarenakan tempat itu terlihat menyeramkan dan terkenal angker.

“Cepat berenang kesini! Buaya itu mengejar!”

“Kang cepat, Kang!” ia menangis frustasi melihat tunangannya dalam bahaya. Tidak bisa membantu selain mencoba menolong dengan mengulurkan kayu panjang ke dalam air.

Sewaktu tangan pemuda itu sudah berpegangan pada gala bambu, langsung saja kayu tersebut ditarik ramai-ramai. Sedikit lagi sampai di tepian, sesuatu dari dalam air keluar ke permukaan.

Mulut bergigi tajam itu terbuka, seperti memberi tahu kalau dia akan memangsa. Benar saja, kepalanya menyelam dengan ekor masih mengambang.

“Tarik lebih cepat!” Dia tidak tinggal diam, kakinya terus bergerak-gerak. Tubuhnya sudah berada di tepian papan, bergegas tangannya ditarik oleh dua orang sekaligus.

Kaki pemuda tersebut sudah akan naik, tapi pada saat itulah musibah datang dengan cara sangat cepat.

Krack!

Punggung kaki itu dilambungkan baru ditelan, lalu kepala Buaya menyelam, badannya pun tak lagi tampak.

Argh!

Beberapa wanita pingsan, teriakan layaknya suara guntur. Kondisi menjadi kacau, wajah-wajah ketakutan bersimbah air mata.

Pemuda yang pergelangan kakinya putus tidak sadarkan diri. Darah segar membasahi papan cucian.

Mereka yang menolong memandang ngeri pada kaki tak lagi utuh dan mengucurkan cairan segar.

“Gotong dia! Gotong ke puskesmas!” seru seseorang yang baru saja tersadar dari rasa terkejutnya.

Tubuh lemas pun dipanggul oleh sosok tinggi besar, di bawah naik ke atas.

Ada yang membawa motor langsung saja dimintai tolong membonceng pemuda dan juga si pria sekarat.

“Ini pakaian Mirna!” Sarman berteriak, dia tadi sangat penasaran dengan kebaya warna merah muda. Baju yang dikenakan kekasihnya saat di pesta pernikahan kemarin hari.

Rasa terkejut belum sepenuhnya reda sekarang warga kembali dihantam ketakutan.

Sarman merentangkan baju basah dan terdapat robekan dimana-mana. Tadi dia ambil saat tersangkut di penyanggah papan cucian yang tidak terendam air.

"Iya ini milik Mirna,” suara Wati bergetar. Ada ketakutan di netranya – padahal mereka baru berencana mencari sang teman.

Namun kini pakaiannya ditemukan tanpa pemiliknya. Cemas, khawatir, frustasi, kesal, rasa itu bercampur jadi satu di dalam hati para warga.

Hidup mereka benar-benar tidak tenang. Teror terus berdatangan – dari hantu bergentayangan, binatang buas mencari mangsa, penemuan jasad Kirman, meninggalnya Ihsan, sekarang hilangnya Mirna.

“Cari dukun sakti! Cari dia sampai dapat! Aku sudah tak sanggup lagi tinggal di sini. Rasanya sulit bernapas, seperti dimatai-matai setiap saat. Tidur tak nyenyak, makan nggak nafsu, lama-lama mati berdiri aku! Akhh!” Wati berteriak, jiwanya terguncang dan hari-harinya tak tenang.

“Rido! Mana dukun yang kalian janjikan itu?! Sampai sudah banyak korban berjatuhan dia pun tak kunjung datang!” tuntut salah satu warga kepada tunangannya Wati.

Rido yang menemani Sarman duduk terpekur di lantai papan. Bergegas berdiri, mengepalkan tangan. Rautnya penuh kobaran amarah. “Tiga hari lagi Beliau tiba. Tenang saja! Kampung ini pasti kembali damai seperti dulu. Ini semua gara-gara Padmini dan Rahardi! Mereka lah biang malapetaka!”

Didalam pintu lorong tertutup tumbuhan liar dekat sungai. Padmini menyeringai culas, menatap kumpulan massa. “Pria culas itu masih saja bernyali menantang! Bagaimana jadinya kalau ku jadikan dia target selanjutnya?”

“Jahanam kau Padmini! Bedebah kau Rahardi! Gara-gara kalian, kami semua kena imbasnya! Mati saja kalian! Mampus sana!”

Seruan itu didengar jelas oleh sosok yang sedari awal mengintip. Dia ingin melihat langsung wajah-wajah histeris manusia bodoh.

Padmini lah yang mengendalikan Buaya jadi-jadian menyerang pemuda bayaran Wandi – bertugas menyebar fitnah sebelum penggerebekan terjadi.

“Ku sambut tantangan kalian!” Kuku jarinya menusuk telapak kulit, dia berbalik kembali ke lembah pembuangan Jin.

***

“Argh … sakit! Aku mohon berhenti!” suaranya teramat lirih, dia tidak berdaya tergolek diatas batu tanpa mengenakan busana, cuma memakai celana dalam.

Mirna benar-benar menyusui Tuyul, lebih tepatnya dipaksa.

Tuyul paling agresif terus menghisap pucuk lecet dan berdarah-darah. Menyedot rakus sumber makanan yang tidak mengeluarkan Asi melainkan cairan segar merah pekat.

“Padmini, bunuh saja aku daripada kau siksa seperti ini! Tolong cepat habisi nyawaku!” pintanya frustasi. Entah sudah berapa lama dia diperlakukan keji. Keempat sosok mengerikan bergantian menyusu sampai dirinya pingsan. Begitu terbangun, perutnya sudah diduduki makhluk mengerikan.

Mata sayu itu kembali terpejam, tubuhnya tidak kuat menahan rasa sakit teramat pedih. Dehidrasi, kekurangan darah, dan ketakutan luar biasa menyerang Mirna tanpa ampun.

Igun bergidik ngeri memandang sosok lemah terlentang di atas batu tempat melaksanakan ritual. Dia sengaja kesini dikarenakan ada tugas menanti dari Padmini.

“Apa tak sebaiknya dibuat cepat saja proses kematiannya, Padmi?”

.

.

Bersambung.

1
nara
uh sadis pembalasannya padmini,,satu persatu warga kampung hulu bakal mati semua
Shee
nah abis deh tuh jari, besok apa nya ya??? ko q seneng saat Bambang di siksa, maaf ya kang🤣🤣🤣
Eli Rahma
sadis bgt pembalasan padmini..
Eva Wahyuni
kayak nonton film Suzanna Thor 😱😱😱..
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
lyani
kali ini pak mantri jadi bahan koas
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
kang Adi apakabar nya yaa
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
Y.S Meliana
ga kebayang kan kang bambang klo pembalasan padmini se kejam itu 😳😏
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
Jarii nya 5
angkat 1 1
blm cukup sampai di situ bambangg
itu baru pembalasan Padmini
yg buat kang Adi mana padmi
ayok rapel sekalian hutang nya Bambang sdh banyak itu
imau
hadeh sikopet 😬
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
wkwk jadi kaya anak metal dong jarinya 3🤭🤣
Fri5
hayoo loh Bang .... horor2 sedap nih 🤭
Dew666
☀️☀️☀️☀️
Mawar Hitam
Padmini jadi .psikoopat. gegara orang iri hati
ilham gaming
bayanginya ngeri
ora
Padmi kata-kata tanpa dosa mu itu beneran bikin merinding😭🤭🤭
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
pembalasan yg sangat mengerikan makanya kl pas ada up cerita Padmini saya bacanya gak berani sambil makan Thor karna suka kebayang dan nantinya gak nafsu makan berujung muntah" deh 😅😂
🍒⃞⃟🦅Amara☆⃝𝗧ꋬꋊ
Rasain tuh jemarimu ilang satu ,satu ,satu jadi 3 donk kang bambang🤭.
bentar kita jait pakai benang knor yaa tapi jadi beda letak, ...
sabar bentar lagi kau jadi makhluk paling unik dan tiada dua nya....
pulang dari "KLINIK PADMINI" kau masih punya nafas hanya saja semua akan aneh dan raib keangkuhanmu ...
rasa percaya diri lenyap ...dan rupamu layaknya gelandangan compang camping ,dengan tangan kerinting gagal bonding
ora
Ngeri😭
ora
Oh, tidak sepadan tuh...
ora
Sebelum Padmini berhasil di buru, kamu kayaknya bakal tinggal nama deh😭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!