DISCLAIMER : Ini bukan kisah tentang sweet romance tetapi DARK ROMANCE...
Jadi bersiap-siap menjadi tegang dan gemas
Berawal dari kisah cinta semanis madu, pasangan Aris-Ana menikah. Dengan berjalannya waktu kisah manis cinta mereka berubah menjadi semakin pahit dan mencekam.
Ana dibuat hancur berkeping-keping karena pernikahannya. Semakin hari semakin mencekam dan tidak masuk akal.
Apakah yang harus Ana lakukan? Bertahan dia akan hancur. Berpisah ibu dan anaknya lah yang hancur. Adakah pilihan lain baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frans Lizzie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Keluarga Aris
Agar lebih percaya diri, Ana mandi lagi sebelum berdandan dengan riasan netral yang menonjolkan kecantikan alaminya. Kemudian ia mengenakan celana kain berwarna hitam dan blouse cantik berwarna putih.
Ia berusaha tampil secantik dan se-elegan mungkin.
Sebab ini adalah kali pertama dalam hidupnya, ia diperkenalkan kepada keluarga Aris yang notabene adalah keluarga calon suaminya.
Maka Ana berusaha agar ia tampil sebaik dan sepantas mungkin.
Calon suami?
Iya, betul.
Semua terjadi begitu cepat. Dari niat hanya ingin hidup lebih bebas agar bisa menikmati masa mudanya. Dari niat ingin sekedar mencoba-coba merasakan romansa cinta, sebelum terlanjur menjadi tua..
Tetapi hasilnya?
Sungguh di luar dugaan di sinilah dia sekarang, sudah ada pria yang siap mengajaknya berumahtangga.
Padahal mereka baru resmi pacaran seminggu yang lalu.
Terlalu cepat?
Mungkin.
Lalu, bagaimanakah perasaannya saat ini?
Ana sendiri juga tidak begitu tahu.
Berbunga-bunga? Sudah pasti.
Aris adalah tipe pria yang high quality untuk dijadikan suami. Wajah dan bodi oke. Pekerjaan bagus dan mapan. Pintar memasak dan memanjakan wanitanya. Paket lengkap bukan?
Hebatnya pria seperti itulah yang mengajak Ana untuk menikah menjalani hidup bersama.
Aris adalah kriteria pria idaman.
Jika sudah menemukan yang terbaik, lebih segera digapai kan. Daripada nanti lepas dan sukar digapai lagi.
Seperti …Rio, contohnya.
Ah, sudahlah. Itu masa lalu. Yang sekarang ini, ya adalah masa kini.
Jadi walau Ana masih belum begitu mengerti apa yang akan dihadapinya nanti, tapi ia yakin dengan pilihannya.
Ia yakin hidupnya akan jauh lebih baik. Jauh lebih hidup dan berdaya. Ia tidak perlu jadi trash bin atau tempat sampah emosi dan kepahitan hidup mamanya lagi. Ia akan memiliki keluarga sendiri.
Ia pasti akan jauh lebih bahagia.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Pintunya diketok beberapa kali.
Ana segera bangkit membuka pintu dengan bahagia.
Aris berdiri di hadapannya.
Tampan dan seksi.
Dia berkemeja warna putih juga, sedangkan celananya berwarna abu-abu tua. Walau tidak janjian, secara kebetulan baju atasan mereka couple-an.
“Yuk, kita berangkat.” Aris menggenggam tangan kiri Ana. Sementara tangan kanan Ana mengunci kamarnya.
Diperlukan waktu hampir 30 menit untuk sampai ke rumah Mbak Yati dengan mengendarai motor. Rumah Mbak Yati adalah rumah KPR tipe 36, namun seluruh bangunan sudah direnovasi sehingga berubah menjadi bangunan 2 lantai yang cukup memadai untuk hidup dua orang dewasa suami istri beserta kedua anak laki-laki mereka.
Perlakuan Mbak Yati sekeluarga terhadap Ana yang Aris perkenalkan sebagai wanita yang ia inginkan menjadi pendamping hidupnya?
Baik. Ramah dan sopan.
Pukul 3 sore, keluarga Mbak Yati sibuk semua berganti busana untuk sholat Ashar. Termasuk Aris.
Ini adalah kali ke 2, Ana melihat kesungguhan Aris dalam menjalankan aturan agamanya. Yang pertama adalah saat di Pulau Penyengat dan yang kedua adalah saat ini.
Berbeda dengan Hendra yang sering Ana lihat bolak-balik berwudhu saat ketemu di mess maupun di hotel. Aris, selain kedua kejadian tersebut tak pernah menunjukkan identitas agamanya.
Mereka melakukan sholat bersama sekeluarga dengan pemimpin sholatnya Pakde Andi, suami Mbak Yati.
Agaknya Aris sudah bercerita banyak soal dirinya kepada keluarga Mbak Yati, karena tak sedetik pun keluar dari mulut mereka untuk mengajak dirinya sholat.
Jadi pasti mereka pun sudah menerima dia apa adanya, pikir Ana senang. Dia tidak akan dipaksa untuk jadi mualaf, apa pun itu. Dia diterima keluarga Aris dengan baik, tanpa ada paksaan mengenai agama yang harus ikut Aris.
Sungguh baik nasibnya. Sekali lagi Ana bersyukur. Hari-hari mendatang pasti akan membahagiakan.
Setelah selesai mereka sholat, Mbak Yati mengeluarkan berbagai macam kue buatannya yang enak-enak.
“Wah. Mbak Wati hebat sekali bisa membikin bermacam kue jajanan pasar begini. Berapa jam yang diperlukan untuk membuat kue-kue seberagam begini? Aku, satu pun tidak ada yang bisa kubuat. Bisanya aku cuma makan,” aku Ana dengan jujur.
Ana memang bertekad untuk jujur dan terbuka. Dia berharap dengan jujur dan terbuka, jika ada hal yang mereka, sebagai keluarga Aris, tidak suka atau kurang berkenan, dapat disampaikan di muka. Jangan sampai hal itu mereka jadikan masalah di kemudian hari.
Jadi kalau memang ada pada diri Ana yang mereka tidak bisa terima, biarlah rencana mereka berumah tangga berhenti sampai di sini..
Begitulah kira-kira jalan pikiran Ana.
Menyambung perkataan Ana tadi yang menyatakan jika dia sama sekali payah mengenai pekerjaan dapur, Yati menanggapi.
“Mbak kan bisnis kue-kue pesanan buat acara-acara, juga punya kedai kue. Jadi mbak punya kelompok ibu-ibu yang bantu. Sekalian buat tambahan penghasilan buat ibu-ibu di sini.”
Ana mengangguk-anggukkan kepalanya. Hebat, kata Ana dalam hati. Ternyata jiwa sosial Aris adalah keturunan dari keluarganya.
“Ana tidak pernah bikin kue atau masak ya?” tanya Mbak Yati.
“Tidak, Mbak,” jawab Ana jujur. “Masak juga tidak bisa, kecuali masak nasi pakai magic com. Rebus air menjadi panas. Paling hebat cuma bikin mie instan.”
Tawa Mbak Yati, Pakde Andi bahkan kedua anak laki-laki mereka yang berumur 14 dan 9 tahun berderai.
“Ana ini 100% anak kota, mbak dan Mas,” jelas Aris. “Bukan kayak kita anak desa yang harus siaga membantu kerjaan orang tua saat pulang sekolah.”
“Ya sudah, yang penting kalian berdua udah saling cinta,” ucap Pakde Andi bijaksana. “Saling cocok. Ya, kita tinggal mendoakan. Ya kan?”
“Tante Ana minta aja Om Aris yang masakin “ celetuk Zaki, keponakan Aris yang berusia 14 tahun. “Om Aris sering masakin buat kita kok. Masakan dia enak, seenak masakan Bunda.”
“Kalau masakan Ayah tidak enak.” Bian adik Zaki yang berusia 9 tahun menambahkan.
GERR!!
“Masak itu masalah sepele, Ana.” Mbak Yati berbicara lagi. “Pelan-pelan nanti belajar. Minta Aris ajari. Yang penting kalian berdua saling cinta dan cocok satu sama lain.”
“Kalau soal buat kue….,” sambung Pakde Adi tiba-tiba. “Datang saja ke sini. Bawa apa pun kue yang kalian mau. Biar Budemu nggak usah jualan lagi di kedai. Terima pesanan saja sudah repot. Masih buka kedai segala.”
“Mulai…mulai.” Mbak Yati berpura-pura jengkel.
“Bikin kue itu hobi, Ana. Walau bisa menghasilkan uang sendiri itu menyenangkan, tapi bikin kue itu hobi buat mbak.”
“Iya, Mbak.” Ana menanggapi. “Hobi yang membuat semua orang apalagi anak-anak bahagia.”
“Oh ya Ana.” Yati tiba-tiba berkata dengan wajah serius. “Rabu ini, Bapak dan Ibuk datang ke sini. Ana bisa nggak ke sini, biar kenalan dengan orang tua Aris.”
Ana bingung harus menjawab apa. Bilang iya, ia belum paham jalan menuju ke Tiban. Bilang tidak. Ana segan. Calon mertua ini lho.
Untung Aris menyelamatkan situasi. “Aku sibuk minggu depan, Mbak. Lembur terus. Jadi tidak bisa mengantar. Sedangkan kerjaan Ana mungkin baru selesai jam 6 atau 7. Kasihan dia kalau habis itu harus sendirian ke sini malam-malam. Belum lagi baliknya ke mess. Pasti larut malam.”
Yati kelihatan terganggu dengan perkataan Aris. “Ana kan harus diperkenalkan ke Bapak Ibuk tho Aris. Mosok ketemu ne pas ijab qabul.”
“Hari Sabtu, atau kalau tak bisa Minggu aku ajak Ana kemari lagi,” jawab Aris memutuskan. “Bapak Ibuk masih di Batam tho?”
“Masih,” jawab Yati. “Yo wis gitu aja. Ana, minggu depan datang lagi ya. Kenalan sama bapak ibuknya Aris.”
“Iya, Mbak.”
Demikianlah mereka semua bercakap-cakap, bercengkrama dengan akrab dan riang gembira. Sangat mudah menyatu. Bahkan untuk Ana yang berkepribadian introvert pun bisa gampang berbaur dengan baik.