-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 33 - Tak Berhasil Menghindar
Keesokkan harinya, Gus Faiz merasakan kalau tubuhnya bugar kembali. Ntah apa yang membuatnya kembali bugar, namun jika dibandingkan dengan sebelumnya, keadaan tubuh Gus Faiz jauh lebih normal dan sehat. Sepertinya sakitanya selama berhari-hari ini karena rindu.
Subuh-subuh, Gus Faiz pergi ke masjid untuk menunaikan salat subuh berjamaah. Sepulang shalat, Gus Faiz hendak kembali ke rumah, namun saat dia sampai di depan rumah, dia melihat high heels seseorang.
“ini pasti punya gadis itu.” kata Gus Faiz pada dirinya sendiri. “Lebih baik saya kembali ke Masjid.” katanya lagi.
Belum sampai Gus Faiz pergi, Abah berjalan sambil menunduk, memfokuskan penglihatannya ke arah jalanan. Abah terlihat sedang mencari sesuatu. Gus Faizpun refleks melihat ke bawah sama seperti bagaimana Abah. Gus Faiz ingin tahu apa yang tengah dicari oleh Abah.
“Cari apa, Abah?” tanya Gus Faiz.
“Ini, Abah sepertinya menjatuhkan tasbih Abah. Tapi Abah tidak tahu di mana Abah menjatuhkannya.” kata Abah.
“Di Masjid tidak ada, Abah?” tanya Gus Faiz.
“Abah salat mengimami santri-santri putri tadi.” kata Abah.
“Berarti tertinggal di sana, Abah. Sini, biar saya carikan. Di mana aulanya?” kata Gus Faiz.
Ini adalah kesempatan Gus Faiz untuk tidak masuk ke dalam rumahnya untuk saat ini. Dia sungguh tidak mau tubuhnya kembali tidak bisa di kontrolnya jika bertemu dengan gadis yang bernama Nindy itu.
“Aulanya ada di lantai atas Kompleks Jami. Tolong Abah ya, Nak.” kata Abah.
“Baik, Abah. Di mana kompleks itu?” tanya Gus Faiz.
“Kau lurus aja nanti ada ujung sebelah kanan. Abah masuk dulu.” kata Abah lalu menepuk punggung anaknya.
Gus Faizpun menyesali kata-katanya. Awalnya ia mengira kompleks yang dimaksud adalah bangunan tempat santri mengaji. Gedung itu kosong tiap kali santri tidak ada kegiatan di dalamnya jadi Gus Faiz merasa aman.
Gus Faiz mengusap tengkuknya frustasi. Dia tentu gengsi bila tidak memenuhi permintaan Abahnya, karena Gus Faizlah yang menawarkan diri untuk membantu Abah untuk mencari tasbih itu.
“Gus Faiz!” seru seseorang.
Gus Faiz menoleh. Dia mendapati seorang santri yang berlari ke arahnya smabil tersenyum sumringah. Seperti biasa, Gus Faiz bersikap dingin.
“Minan?” tanya Gus Faiz.
“Esih kenal karo aku kowe, Gus?” (Masih kenal sama saya, Gus?) tanya Minan sambil tertawa.
“Siapa yang tidak kenal dengan kamu, Nan, si suara emas.” jawab Gus Faiz.
Sekelebat bayangan kalau dia harus segera mengambil tasbih itupun membuat Gus Faiz langsung meminta Minan untuk membantunya mencari keberadaan tasbih Abah di salah satu kompleks santri putri.
“Apa kabar, Gus?” tanya Minan.
“Baik. Nan, temani saya ke kompleks Jami.” kata Gus Faiz. Ini pemberitahuan bahkan perintah bukan pertanyaan yang bisa dijawab mau dan tidak.
“Astaghfirullah, Gus. Itu pondok putri, kita tidak boleh masuk ke sana.” kata Minan.
“Aku ingin mengambil tasbih Abah yang tertinggal di aulanya.” kata Gus Faiz tidak rela dituduh ingin pergi ke pondok santri putri melalui mata Minan.
“Oh, ana kira kamu mau ngapel, Gus.” kata Minan sambil terkekeh.
Gus Faiz hanya menaikkan alisnya dingin.
“Antum masih saja menakutkan, Gus.” kata Minan kembali terkekeh.
Gus Faiz hanya bisa mengangkat bahu, acuh tak acuh akan komentar Minan, toh ini bukan kali pertama ada orang yang melayangkan protes dan mengatakan hal serupa. Meski lebih banyak yang terpesona kepadanya terutama kaum hawa.
“Baiklah, ana temani.” kata Minan. “Ayo.” ajaknya.
Gus Faizpun buru-buru mengangguk, takut Minan berubah pikiran.
Minan adalah teman masa kecil Gus Faiz. Satu-satunya teman dekatnya yang ada di pondok pesantren ini karena hanya dia yang memperlakukan Gus Faiz sebagai teman. Sangat berbeda dengan teman-temannya yang karena statusnya sebagai ‘Gus’ selalu mengistimewakan Gus Faiz, bahkan untuk santri putra lebih banyak yang menghindari Gus Faiz karena segan.
Merekapun berjalan menuju kompleks yang di maksud Abah. Saat berjalan, ia merasakan berates-ratus pasang mata mengawasi langkahnya. Hal ini membuat Gus Faiz risih. Dia tidak suka dijadikan pusat perhatian. Gus Faiz menengok ke kanan dan ke kiri, arah perasaannya menuntun untuk melihat siapa saja yang mengawasinya. Namun, tidak ada siapapun.
Aneh, saya merasa diawasi oleh banyak orang, mengapa saya tidak bisa melihat siapapun? –batin Gus Faiz bingung.
“Arum!” seru Minan pada salah satu santri yang bernama Arum.
Melihat siapa yang memanggilnya, Arum langsung berlari menuju pondoknya. Kencang sekali. Dia benar-benar tidak mau berhubungan dengan pria sedingin Gus Faiz. Diapun menyuruh salah satu pengurus yang lain untuk menemui Minan dan Gus Faiz.
“Mbak, tolong saya! Mereka ingin meminta bantuan, tolong turunlah dan temui mereka. Dna jangan lupa katakana kalau aku minta maaf karena aku lari begitu saja.” kata Arum pada Linda.
Linda yang mendengar nama Gus Faiz di sebut langsung mengangguk. Dia buru-burumerapihkan atasan mukenanya lalu dia melenggang turun menghampiri Gus Faiz dan Minan.
“Mengapa dia berlari melihat antum, Gus? Mengapa dia seperti terlihat ketakutan?” tanya Minan.
“Mana saya tahu.” kata Gus Faiz.
“Ekh.. Ekhm..” Linda sampai di depan mereka berdua.
Kali ini Linda tengah tahu sedikit mengenai sikap. Diapun menundukkan pandangannya. Meski Gus Faiz adalah pujaan hatinya, namun Linda setelah berada di pondok pesantren ini dia jadi sedikit segan bertemu dengan laki-laki, salah satunya Gus Faiz.
“Lin, tolong saya. Tolong ambilkan tasbih Abah di aula, sepertinya tasbih itu ketinggalan di sana.” kata Minan.
“Tunggu sebentar ya.” kata Linda.
Linda dengan cekatan berlari memasuki Kompleks Jami dan langsung mencari keberadaan tasbih itu. Tidak sulit untuk menemukannya, karena tasbih tersebut berada tepat di tempat Abah menjadi imam tadi.
Setelah mengambil tasbih itu, Lindapun mengaca sebentar di kaca besar yang ada di aula, mematut-matut dirinya sendiri lalu setelah di rasa penampilannya sudah cukup oke. Linda langsung turun ke bawah menemui pujaan hatinya.
“Ini..” kata Linda sambil menyodorkan tasbih itu pada Gus Faiz.
“Terima kasih.” kata Gus Faiz.
Minan terheran. Pasalnya yang meminta bantuan Linda adalah dirinya, namun ketika menemukan tasbih itu, Linda justru memberikannya kepada Gus Faiz.
“Makasih ya, Linda.” kata Minan.
Linda mengangguk mantap. Ini bukan seberapa dibanding rasa bahagianya bisa membantu Gus Faiz meski hanya untuk mengambil tasbih itu. Namun, setidaknya dia bisa mendapatkan point plus karena membantu Gus Faiz.
Gus Faiz dan Minanpun berjalan menuju rumah Abah.
Dari kejauhan, Gus Faiz melihat santri baru bernama Nindy itu berjalan bersama teman santrinya. Mereka tampak berdebat. Gus Faiz mencoba sekuat tenaga untuk mengacuhkannya namun nyatanya ini semua tidaklah berhasil.
Sudut bibir Gus Faiz terangkat sedikit melihat bagaimana santri bermukena renda coklat itu seakan memberitahu sesuatu kepada Nindy namun Nindy tidak mengindahkannya. Ntah apa yang akan terjadi, Gus Faiz hanya berharap kalau hatinya tidak goyah hanya karena wanita. Dia harus menemukan Nindy sahabat Ilham, Gus Faiz tidak perlu Nindy yang lain selainnya.
Membayangkan Nindy sahabat ilham bukanlah Nindy yang kini berada di depannya, hati Gus Faizpun bersedih. Ntah mengapa dan bagaimana, Gus Faiz tidak tahu. Dia hanya tahu hanya ada sedikit rasa kekosongan dan harapan di sana.