Damian dan Aletha adalah saudara sepupu, bahkan mereka bekerja di kantor yang sama dengan Damian sebagai CEO dan Aletha asisten pribadinya.
Aletha menyukai Damian secara terang-terangan, tetapi Damian sama sekali tak pernah peduli akan hal itu.
Damian pernah menikah, tapi pernikahannya hancur dan berakhir dengan perceraian dengan Damian yang masih perjaka.
Meskipun Damian berstatus sebagai duda, tetapi Aletha tetap menyukainya, bahkan secara terang-terangan mengajak Damian menikah.
Entah takdir atau hanya kebetulan, suatu hari Damian memutuskan untuk menikahi Aletha demi menyelamatkannya dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Aletha.
Apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik?
Apakah Damian akan mencintai Aletha dan melupakan kenangan pahitnya bersama Bella, mantan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
[Pagi Hari - Rumah Damian]
Beberapa Hari Kemudian...
Sinar mentari masuk melalui celah tirai yang terbuka sedikit, menyusup pelan ke dalam kamar yang terasa sunyi dan pengap. Cahaya pagi itu tak membawa kehangatan, justru memperjelas kekacauan yang tertinggal sejak beberapa hari lalu.
Damian terbaring di atas ranjang, tubuhnya telentang kaku, kedua tangannya tergeletak lemah di sisi tubuh. Tatapan matanya kosong, lurus menatap langit-langit kamar yang gelap tanpa benar-benar melihat apa pun. Seolah pikirannya terjebak di tempat lain, jauh dari pagi yang sedang dimulai.
Wajahnya tampak kusam, warna kulitnya lebih pucat dari biasanya. Rambutnya berantakan, tak tersentuh sisir sejak hari di mana kekacauan terjadi, sebagian menutupi dahi.
Namun yang paling mencolok adalah matanya, mata seseorang yang tidak memejamkan matanya selama beberapa malam berturut-turut. Kelopak bawahnya menghitam, sembab, dengan urat-urat halus kemerahan yang menandakan lelah berkepanjangan. Tatapan itu sayu, berat, dipenuhi kelelahan yang bukan sekadar fisik, melainkan lelah hati.
Ia berkedip pelan, sekali… dua kali… lalu menghela napas panjang. Napas yang terdengar berat, seakan dadanya menanggung beban yang terlalu besar.
Sejak Aletha pergi dan tak pernah kembali, Damian kehilangan semangat hidupnya. Ia tak mau makan, jarang mandi, bahkan untuk keluar dari kamarnya pun rasanya enggan. Sudah beberapa hari ini ia tak masuk kantor.
Ketidakhadiran Aletha membuatnya enggan untuk melakukan kesibukannya lagi di kantor. seolah semangat dan ambisinya selama ini dibawa oleh gadis itu.
Beberapa malam ini ia tak benar-benar tidur. Jika pun sempat terpejam, bayangan-bayangan itu kembali datang. Bayangan Aletha menangis malam itu dengan hati yang sakit dan penuh rasa kecewa terhadapnya. Bayangan saat Aletha menunggunya dengan senyum bahagia. Dan bayangan saat Aletha pergi dari rumah itu membawa rasa sakit yang bahkan Damian sendiri tak pernah berniat melakukannya.
Semuanya berputar tanpa ampun, memaksanya terjaga hingga fajar menyingsing.
Damian menggeser tubuhnya sedikit, namun tetap menatap ke atas. Tak ada niat untuk bangun. Tak ada tenaga. Pagi baginya bukan awal yang baru, melainkan kelanjutan dari hari buruk yang belum selesai.
'Drrrt'
'Drrrt'
Ponselnya bergetar di atas meja. Tetapi Damian sama sekali tidak menghiraukan sekalipun telinganya dapat mendengar dengan jelas getaran pada meja itu.
Ia tetap sibuk dengan lamunannya, seolah suara apapun tidak bisa membuatnya teralihkan dari pikirannya sendiri.
'Drrrt'
'Drrrt'
Ponsel kembali bergetar, lebih sering, seakan telepon itu begitu penting. Namun, Damian tetap di tempatnya, tidak bergerak sama sekali, seperti mayat hidup.
Ponsel kembali diam, seolah si penelpon mulai menyerah untuk menghubungi Damian. Kamar hening kembali, tampak seperti tak ada kehidupan di dalamnya.
'Tok, tok, tok!'
Pintu kamar diketuk beberapa kali, suara Mbak terdengar memanggilnya. "Tuan... Tuan Damian..."
Damian tidak menjawab, suaranya seolah tertelan oleh rasa kesepiannya sendiri.
'Tok, tok, tok!'
Pintu kembali diketuk, tapi Damian tetap tidak bereaksi apapun.
Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamarnya terbuka dan seseorang masuk.
'Klik!'
Lampu kamar menyala dengan cahaya terang menyilaukan mata Damian.
Ia mengerang pelan, refleks mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya. Cahaya lampu terasa terlalu kejam bagi mata yang sudah berhari-hari akrab dengan gelap.
"Mau sampai kapan tiduran kayak gitu?" tanya suara yang sangat akrab bagi Damian.
Meski tahu itu suara siapa, tapi Damian enggan, menjawab. Lengannya masih menutupi mata, seolah tak peduli siapa yang datang.
Tak dapat jawaban dari Damian, orang itu mendekat lalu duduk di tepi ranjang dengan gerakan santai khas orang yang memiliki sifat dingin.
'Plakkk!'
Telapak tangannya menampar lengan Damian cukup keras, membuat Damian kesal dan menyingkirkan lengannya sendiri. Matanya menatap tajam pada sosok itu, tapi kekesalannya hanya sebatas itu.
Sosok itu tak lain adalah Erik, kakak keduanya, yang juga memiliki kisah cinta yang rumit, sama sepertinya.
Damian mendengus lalu berkata, "Lu ngapain ganggu gue? Gue lagi gak ada tenaga buat bahas bisnis sama lu, Bang."
"Siapa yang mau bahas bisni sama lu?" kata Erik. "Gue datang kemari karena khawatir. Kata Papa lu beberapa hari gak masuk kantor dan gak bisa dihubungi, jadi nyuruh gue buat kemari. Mastiin lu gak bunuh diri."
Damian mencebik. "Gue gak sebodoh itu buat mati konyol. Sayang keperjakaan gue kalau mati bunuh diri. Sia-sia gue gedein dari kecil si Junior."
Erik mengulum tawanya, mempertahankan sikap kalemnya. "Ya bagus. Seenggaknya keperjakaan lu gak bilang di warung remang-remang."
"Hish! Pergi sana! Kehadiran lu malah bikin gue kesal!" usir Damian.
Tapi bukannya pergi, Erik malah menarik tangan adiknya hingga Damian terduduk. Wajah Damian tampak kesal, tetapi jika Erik sudah bertindak ia juga tak bisa melawannya.
Ia tahu seperti apa Erik, lebih menakutkan saat pria itu marah.
"Sebenarnya lu kenapa sih?" tanya Erik sambil bangkit berdiri dan membuka tirai, membuat cahaya matahari menyorot langsung ke wajah Damian hingga pria itu menyipitkan mata.
"Gue dengar dari Irwan (Karyawan di kantor Damian), katanya Aletha gak pernah masuk kerja lagi, terus lu juga nyusul gak masuk kerja." Erik berdiri dengan menyandarkan punggung ke tepi jendela. Kedua tangan terlipat di dada dan menatap adiknya. "Apa ada masalah antara kalian?"
Damian tidak menjawab. Ia menunduk. Masalah yang terjadi dengan Aletha masih menggantung, belum ada penyelesaian apapun karena Aletha pergi. Sampai detik ini, Damian belum tahu kabar gadis itu, dan entah di mana dia sekarang.
"Dam," panggil Erik pelan. "Ada apa? Lu bisa cerita ke gue kalau butuh teman cerita. Mungkin juga gue bisa bantu kalau gue bisa."
Damian menghela napas berat. Ia turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi tanpa memberikan jawaban apapun. Erik tetap di tempatnya, menunggu sang adik bercerita seolah paham Damian membutuhkan seseorang untuk membantunya saat ini, atau setidaknya mendengarkan ceritanya.
Tak lama, Damian keluar dengan wajah setengah basah, terlihat sedikit lebih segar. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri yang terlihat berantakan.
"Gue rasa... gue kehilangan Aletha, Bang," ucapnya.
Erik menatap pantulan adiknya di cermin yang sama, alisnya mengernyit. "Maksudnya? Aletha pergi dari lu?"
Damian mengangguk. "Dan gue gak tahu dia ada di mana sekarang."
"Alasannya?" tanya Erik. "Kalian bertengkar hebat lalu Aletha memutuskan pergi, gitu?"
Damian menggeleng. "Gak ada pertengkaran. Aletha bahkan pergi sebelum gue benar-benar kasih dia penjelasan. Dia pergi dengan kesalahpahaman yang membuat hatinya hancur."
Erik terlihat tertarik dengan masalah adiknya. Ia berdiri tegak, kemudian berjalan menghampiri Damian dan berdiri di sampingnya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Erik tetap terlihat kalem meskipun dalam hati sangat ingin tahu banyak.
"Apa dia balik ke rumah orang tuanya?"
"Nggak. Dia pergi entah ke mana, Bang. Kayaknya dia gak ada di kota ini lagi."
"Apa kalian bercerai?"
"Nggak juga. Jangankan bisa cerai, chat dan telepon dari gue aja gak di respon."
Erik mangut-mangut, lalu mendesah pelan.
"Kalau lu bisa cerita, cerita aja," ucapnya. "Gue mungkin bisa bantu lu. Ya... seenggaknya gue bisa bantu cari Aletha buat lu."
"Masalahnya apa? Kenapa Aletha bisa pergi? Dan... kesalahpahaman apa yang lu maksud?"
Damian menatap pantulan dirinya di cermin lebih lama. Rahangnya mengeras, matanya berkabut. Ia seperti sedang menimbang, bukan apakah ia mau bercerita, tapi apakah ia sanggup mengucapkan semuanya dengan suara keras.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
"Aletha salah paham karena foto gue sama Bella," ucap Damian akhirnya, pelan tapi jelas.
Erik langsung menoleh, sorot matanya menajam. "Lu selingkuh sama mantan istri lu?"
Damian cepat menggeleng. "Nggak. Gue gak punya perasaan apapun lagi ke Bella sejak gue sama dia cerai." Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Tapi Aletha udah terlanjur lihat foto itu, dan mengira gue sama Bella have fun malam itu."
Erik menyilangkan tangan di dada. "Foto seperti apa yang bikin Aletha sakit hati dan ngira kayak gitu?"
Damian menarik napas dalam-dalam. "Dia lihat foto gue sama Bella tidur dalam keadaan b*gil di kamarnya Bella. Jadi... dia ngiranya gue tidur sama Bella."
Erik sedikit terkejut. "Lu sendiri yang kirim fotonya ke dia?"
"Lu gila? Mana mungkin gue kirim foto kayak gitu ke istri sendiri?"
"Terus?"
"Ya jelas Bella yang lakuin."
"Lah, terus kenapa lu bisa ada di kamar dia dan b*gil? Itu kan jelas kalau lu sama dia emang mesum, selingkuh."
"Nggak gitu!" potong Damian tegas. "Gue dijebak, Bang! Bella sengaja bikin skenario seolah-olah gue selingkuh sama dia, karena dia tahu Aletha bakal cemburu dan minta cerai dari gue!"
Erik, bukannya percaya pada perkataan adiknya, justru malah tersenyum mengejek. "Gue gak percaya sih kalau lu bilang dijebak, palingan juga lu emang mau. Kan lu bucin banget sama si Bella. Semua orang juga tahu, Dam."
Damian menatap sengit. "Itu dulu! Lu jangan samain gue dengan yang sekarang. Sekarang cinta gue cuma buat Aletha, bukan buat Bella!."
"Asal lu tahu, sekalipun gue mau, si Bella gak akan pernah mau lakuin itu sama gue!" tambahnya dengan nada tinggi.
"Why?"
Damian terdiam beberapa saat seolah menimbang antara harus jujur atau tidak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Bella itu Lesbi, Bang."
akhirnya kesalahpahaman Aletha dan Damian berakhir
semoga setelah ini mereka berdua hidup bahagia walaupun ada kerikil kerikil kecil yang menghadang
biar tau kebenaran ucapan Damian dan Erik
bukan untuk menyebarkan aib tapi terlebih untuk membuat Aletha percaya apalagi saat pernikahanmu yang pertama usai pun kamu masih jejaka
dengarkan Damian dulu
baru ambil keputusan
tapi jangan lama-lama ya mbak🤭🤭🤭
harus ada yang nyentik Damian dulu biar dia sadar
cinta Aletha terlalu berharga untuk diperjuangkan
siapa tahu bang Erik bisa bantu ato paling nggak beban hatimu agak berkurang
baru setelah kamu siap menghadapi Damian, balik lagi dengan kondisi terbaikmu
tenangkan hatimu dulu meskipun akan sulit tapi kamu gadis yang tangguh
kami kuat Aletha