Ana terpaksa menikah dengan seorang pria lumpuh atas desakan ibu dan kakaknya demi mahar uang yang tak seberapa. Pria itu bernama Dave, ia juga terpaksa menikahi Ana sebab ibu tiri dan adiknya tidak sanggup lagi merawat dan mengurus Dave yang tidak bisa berjalan.
Meskipun terpaksa menjalani pernikahan, tapi Ana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan ikhlas dan sabar. Namun, apa yang didapat Ana setelah Dave sembuh? Pria itu justru mengabaikannya sebagai seorang istri hanya untuk mengejar kembali mantan kekasihnya yang sudah tega membatalkan pernikahan dengannya. Bagaimana hubungan pernikahan Ana dan Dave selanjutnya? Apakah Dave akan menyesal dan mencintai Ana? atau, Ana akan meninggalkan Dave?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bodoh
Beberapa saat setelah Bella pergi dengan kecewa karena tidak mendapat jawaban pasti, Andre mengetuk pintu ruang kerja dengan wajah tegang. Ia masuk setelah dipersilakan, membawa secarik kertas di tangannya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Andre dengan nada serius. “Tentang Ana…”
Dave segera berdiri dari kursinya. “Apa? Kau tahu di mana dia?”
Andre menggeleng pelan. “Sayangnya, tidak. Aku hanya mendapat informasi dari seseorang yang melihat Ana di terminal semalam. Dia pergi naik bus. Tapi tidak ada yang tahu pasti kota mana tujuannya. Dia hanya seorang diri.”
Dave terdiam. Dadanya terasa sesak. Perasaan yang semula ingin menepis bayangan Ana kini justru makin menguat. Ana benar-benar pergi. Sendirian.
Andre melanjutkan, “Sedangkan Ratna dan Rani dalam masalah. Mereka sudah menyebar orang untuk mencari Ana sejak pagi, tapi belum mendapat hasil apa pun. Pak Wirya, pria tua yang dijodohkan dengan Ana, sangat murka karena Ana tidak datang ke rumahnya tadi malam. Bajingan tua itu juga memerintahkan anak buahnya untuk mencari Ana.”
Dave menyandarkan tubuh ke kursi. Suaranya rendah, namun tegas, “Biarkan. Mereka pantas mendapatkannya. Untuk Ana, cari dia sampai dapat. Jangan sampai bajingan itu menemukannya lebih dulu.”
Dave memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang bergejolak. Dalam benaknya, Ana kembali hadir, dengan senyumnya yang lembut, suaranya yang selalu sopan, dan sikapnya yang tidak pernah menuntut meski hidup dalam tekanan. Sekarang, ia sendirian di kota entah di mana, tanpa tujuan yang pasti.
“Apakah dia membawa cukup uang?” tanya Dave dengan nada pelan, nyaris seperti bicara pada diri sendiri.
Andre mengangguk ragu. “Aku tidak yakin. Sepertinya uang yang dipegang Ana hanya cukup untuk ongkos.”
Dave mengepalkan tangannya di atas meja. Hatinya terasa seperti diremas. Ia sadar telah mengugat dan akan menceraikan Ana, bahkan sempat memintanya tidak kembali ke rumah ini. Tapi mendengar Ana benar-benar pergi, dan kini entah berada di mana, justru membuat dadanya sesak.
“Kau bilang Ratna dan Rani sedang menghadapi masalah?” tanyanya kemudian.
“Iya. Pak Wirya marah besar karena merasa ditipu. Dia mengancam akan menarik kembali semua uang yang pernah dia berikan kepada mereka. Aku hanya khawatir mereka akan menemukan Ana.”
Dave menghela napas. “Pastikan tidak ada yang menyakiti Ana, Andre.”
Andre menatap tuannya dengan heran. “Kau yakin akan mencari Ana?”
Dave menatap tajam, lalu berkata pelan namun mantap, “Temukan dia. Aku tidak peduli berapa lama atau berapa besar biayanya. Temukan Ana, sebelum orang-orang itu menemukannya lebih dulu.”
Andre sedikit tertegun mendengar perintah itu. Tatapan sahabatnya kali ini berbeda, ada kegelisahan, ada keteguhan, dan ada rasa bersalah yang tak bisa disembunyikan.
“Baiklah,” jawab Andre akhirnya. “Aku akan mengerahkan semua anak buah kita untuk menemukan Ana. Tapi, aku akan bertanya sekali lagi padamu. Apakah kau yakin menginginkan Ana kembali?”
Dave tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, memandangi langit pagi yang mulai berubah mendung. Suasana di dalam dadanya pun sama kelabunya. Selama ini ia pikir hidupnya akan lebih mudah tanpa Ana. Tapi setelah kepergian itu benar-benar terjadi, ia justru merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa digantikan, bahkan dengan Bella sekalipun.
“Aku tidak tahu apakah dia mau kembali,” ucap Dave pelan. “Tapi yang jelas, aku tidak ingin dia terluka.”
Andre mengangguk, lalu berpamitan untuk segera mengatur pencarian.
Sementara itu, di sisi lain kota, Ratna dan Rani tengah berada di rumah mereka dalam keadaan kalut. Wajah Ratna tegang, sementara Rani mondar-mandir tak karuan. Mereka baru saja menerima telepon dari orang suruhan Pak Wirya, nada suara di ujung sana penuh ancaman.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Bu?” Rani berkata panik. “Kalau kita tidak bisa membawa Ana malam ini, kita benar-benar celaka! Pak Wirya bukan orang sembarangan!”
Ratna menepis kekhawatiran itu dengan nada marah. “Seharusnya kita menjaga Ana malam itu. Tapi, kita malah teledor.”
“Aku pikir dia tidak akan berani ke mana-mana!” seru Rani kesal.
Ratna menarik napas berat, lalu menunduk. “Kita harus temukan dia. Apa pun caranya. Atau semuanya berakhir buruk untuk masa depan kita.”
Namun sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa langkah Ana telah jauh. Gadis itu sudah melewati batas kota, menyembunyikan dirinya dari dunia yang ingin menjualnya, dari orang-orang yang hanya melihatnya sebagai alat tukar demi kekayaan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Ana merasa bebas, meski belum tahu ke mana harus melangkah.
Sementara itu, di dalam bus antarkota yang menderu ke arah timur, Ana duduk menempelkan dahinya ke jendela, memandangi pemandangan yang terhampar luas. Angin dari celah ventilasi terasa dingin, namun justru menenangkan pikirannya yang masih kacau. Hatinya masih bergemuruh oleh kejadian semalam. Ia masih bisa mendengar jelas suara tawa sinis Rani dan rencana licik ibunya yang ingin menjualnya pada pria kaya dan tua.
Ia menggenggam erat tas kecil di pangkuannya, hanya berisi beberapa pakaian dan sedikit uang. Hanya itu yang ia punya saat ini. Tapi entah mengapa, Ana tidak merasa takut. Ada luka, ya. Ada amarah, tentu. Tapi juga ada harapan, kecil, seperti cahaya yang jauh di ujung terowongan gelap.
“Aku tidak akan kembali,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Tidak akan lagi hidup dalam kendali mereka.”
Ia menatap keluar jendela, ke arah matahari yang perlahan naik dari balik bukit. Dunia luas menantinya, dan ia akan memulainya dari nol, walau sendiri.
Sementara itu, di rumah Dave, suasana terasa berbeda. Pria itu masih duduk di ruang kerjanya, menyentuh kertas-kertas di meja tanpa fokus. Nama Ana terus menggema di benaknya. Semua kenangan dari yang paling kecil hingga yang paling menyakitkan kembali satu per satu. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit.
“Bodoh,” gumamnya. “Kenapa aku baru sadar sekarang?”
Pak Wen datang membawa teh, meletakkannya pelan di meja. Ia tahu, Dave sedang menyesali sesuatu. Namun, apakah penyesalan itu cukup kuat untuk membuatnya mengejar Ana sebelum semuanya terlambat?
“Tidak perlu mencari yang sudah pergi. Mungkin Ana akan jauh lebih tenang dan damai jika dia hidup jauh dari ibu dan kakaknya serta orang-orang yang menyakitinya,” ucap Pak Wen, jelas setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah singgungan.
Dave hanya membuang nafas pelan, sebenarnya ia tersinggung namun tidak berniat untuk marah.
“Pernikahan antara Tuan dan Ana adalah pernikahan paksa sebab Ana dijual oleh ibu dan kakaknya. Dilihat dari sudut manapun, Ana tidak bersalah. Dia hanya alat untuk menghasilkan uang untuk ibu dan kakaknya.”
Sekali lagi, Dave hanya diam saja, ia tahu kalau kehidupan Ana penuh dengan penderitaan tapi entah kenapa Dave mendadak buta mata dan buta perasaan.