Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut Penjelasan.
Aku hanya percaya, semua yang telah terjadi adalah ketetapan dari-Nya. Di balik setiap masalah, setiap luka dan setiap perundungan, Tuhan pasti telah menyiapkan sebuah kejutan yang indah.
____________
Sepanjang jalan, aku dan Dion saling terdiam. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Sejak tadi mataku telah perih karena menahan tangis agar tidak pecah, dan sekuat tenaga mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapan Dion.
Bertahanlah wahai mata! Kali ini kamu tidak boleh membuatku kesulitan.
"Aku akan turun, terimakasih karena telah mengantar sampai rumah," ucapku dengan senyuman yang ku paksakan.
Dion bergeming, namun aku tak peduli. Saat ini yang paling penting adalah menjauh dari hadapannya. Baru saja aku hendak melangkah turun, namun ucapannya membuatku tertahan sejenak.
"Untuk ke depannya, aku tidak akan membiarkan siapapun membuatmu menangis. Termasuk Risky."
Ada penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Namun, saat ini aku terlalu lelah untuk membahasnya.
"Maaf, Yon!! Aku harus masuk, sekali lagi terima kasih untuk semuanya."
****
Fajar telah menyinsing dari ufuk timur dan seperti biasa, jam weker mengusikku yang baru beberapa saat yang lalu terlelap.
Pagi ini aku membuka mata dengan wajah yang masih sembab. Menangis semalaman membuat kedua kelopak mataku menjadi sangat gendut. Sungguh pemandangan yang menyebalkan.
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat subuh aku berniat untuk menuju dapur dan mencari kesibukan di sana.
Bukankah kesibukan akan membuat seseorang melupakan masalahnya? Ah! Semoga saja.
Saat melewati ruang tamu, aku dikejutkan dengan keberadaan Riski yang terbaring lelap di sofa ruang tamu. Sejak kapan lelaki itu di sini?
Tak ingin membuat keributan pagi-pagi begini, aku mengabaikannya lalu menyusul bi Ijah ke dapur. Wanita penuh kasih itu terlihat sedang sibuk sekali.
"Non, Bapak semalam ...."
"Tidur di sofa!! Saya udah tau. Bibi tak perlu membahasnya lagi." ucapku menyela perkataan Bi Ijah dengan lembut.
Tidak ingin membuatnya bertanya lebih jauh, apalagi setelah ia menyadari mataku yang bengkak, aku sengaja meninggalkan ia seorang diri di dapur dan kembali menuju kamar.
Kemana perginya lelaki itu? Mungkinkah ia telah pulang? Ah! Semoga saja begitu. Batinku saat melihat tubuh Riski tak ada lagi di sofa.
Baru saja aku membuka pintu kamar, aku langsung di kejutkan dengan sosok Riski yang berdiri menyandarkan badannya pada sisi nakas sambil menatap tajam ke arahku.
'Kenapa ia senang sekali membuat orang kaget?'
"Sedang apa kau di sini?" ucapku ketus dengan tatapan mengintiminasi.
"Sedang menunggu istriku memberi sebuah penjelasan."
"Oh!" saat ini hanya kata 'oh' bisa ku ucapkan.
Sebenarnya, bukan tidak paham ke mana arah pembicaraannya tadi, hanya saja saat ini aku sedang muak dengan dirinya. Jangankan memberi penjelasan, menatap wajahnya saja aku enggan.
Namun, sepertinya aku harus mengusirnya secara halus, agar ia segera pergi. Suami menyebalkan!!
"ini sudah jam tujuh lewat, bukankah kamu harus ke kantor?"
"Kamu tidak perlu mengusirku seperti itu, sayang! Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan yang aku mau." jawabnya sambil melangkah mendekatiku. Membuatku sedikit berhati-hati.
Hah? Sayang? Apa ia berfikir aku ini adalah Galuh, sampai ia memanggilku dengan kata-kata sayang.
"Kenapa semalam Dion bisa bersamamu ke pesta?" tanya Riski setelah memangkas jarak di antara kami. Suaranya lembut, namun, tidak dengan tatapan matanya. Aku dapat melihat kilatan kemarahan di dalam sana.
Aku menghela nafas lalu menghembusnya kasar, "Pulanglah Pak Riski, saya sedang tidak ingin membicarakan hal apapun saat ini" aku memelas lalu melangkah gontai menuju kamar mandi karena tiba-tiba saja perutku merasa mual.
"PAK?! Kau menyebutku dengan, PAK?!"
Aku berhenti melangkah namun tidak menoleh, "Jadi saya harus menyebutnya ... BRENGSEK?" jawabku kesal dengan penekanan pada kata 'brengsek'.
Sudah ku duga, ucapanku yang terakhir berhasil menyulut emosi Riski, seketika ia menarik tanganku dari belakang lalu membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Aku sedikit terkejut.
"Lepaskan!!"
"Jangan coba-coba bermain denganku, Sayang! Kamu belum tau siapa sebenarnya suamimu ini?" sorot matanya tajam, hampir saja membuatku memejam mata.
"Kalau begitu mari kita akhiri semuanya, bukankah sangat aneh, kita telah menikah tapi tidak mengenal satu sama lain."
Riski terlihat terkejut, seketika ia memberi jarak, "Lalu bagaimana dengan Dion? Apa kalian sudah mengenal satu sama lain?"
"Jangan bawa-bawa nama Dion dalam masalah kita, aku tidak seperti kamu, memiliki istri, tunangan dan pacar dalam waktu yang bersamaan,"
Hampir saja air mataku jatuh di hadapannya, jika saja tidak langsung bergegas ke kamar mandi meninggalkan Riski dengan segala yang ia fikirkan lalu berlama-lama di sana. Berharap lelaki itu segera enyah.
Benar saja, begitu aku keluar, ia sudah tidak ada lagi di kamar. Sayub-sayub terdengar deru suara mobil yang pelan-pelan menjauh dari pekarangan rumah. Lalu menghilang di telan hawa pagi yang dingin. Sedingin hatiku saat ini.
Baguslah, ia telah pergi.
****
Seharian ini aku hanya berdiam diri di rumah bersama dengan bayangan Riski yang telah menetap di hati dan pikiranku secara gratis.
"Siapa, Bi??" tanyaku, saat Bi Ijah kembali dari arah pintu utama, memastikan siapa tamu yang baru saja betandang.
Namun, bukan Bi Ijah yang menjawab melainkan tubuh Dion yang muncul dari balik pintu depan.
"Tolong buatkan segelas minuman!" pintaku pada Bi Ijah dengan suara pelan, lalu menuntun Dion untuk duduk di sofa.
Gelagat Dion hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Ia terlihat gelisah, bahkan beberapa kali dirinya telah mengubah posisi duduk, aku yang sedari tadi sudah menyadarinya merasa harus bertanya sesuatu.
"Ada apa, Yon? Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"
Dion berdehem sebelum meyesap jus jeruk buatan Bi Ijah. Untuk beberapa detik, tatapan kami saling bertemu, membuat garis muka Dion sedikit berubah. Ada apa dengan dirinya?
"Kau tidak bertanya, sudah sejak kapan aku telah mengetahui pernikahan kontrak kalian?"
Ah iya, -pernikahan kontrak-, hampir saja aku melupakan kalimat tersebut beberapa waktu lalu karena berpikir jika kami sudah tidur bersama maka kata kontrak itu sudah tidak berlaku lagi. Ternyata tidak, bagi siapapun yang mengetahuinya, aku tetaplah istri kontraknya Riski.
"Rin!! Kamu baik-baik saja?" pertanyaan Dion menarikku dari lamunan.
"Untuk apa bertanya? Aku lega setidaknya kamu sudah tahu, jadi tidak perlu memberitahumu lagi."
Dion terlihat menghembus nafas kasar. Garis wajahnya yang berwarna sedikit eksotis mulai menegang. Lalu kembali bola mata kami bertemu. Namun ku biarkan ini terjadi sedikit lebih lama.
"Aku tidak tahu apa yang telah membuatmu mengambil keputusan ini, namun jika kamu ingin selesai, aku siap membantu. Ku pastikan Riski tidak akan menang melawanmu."
Aku membuang muka, mencoba mengontrol emosi agar air mata dapat terbendung dengan mudah.
"Meski awalnya kami menikah dan juga membuat sebuat perjanjian, namun rumah tanggaku dan Riski baik-baik saja. Jadi maaf, bantuanmu tadi sama sekali tidak aku butuhkan."
Dion tersenyum kecut mendengar ucapanku, wajahnya telah merah padam lalu berucap dengan suara kasar.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu, Arini!! Padahal saat ini Riski sedang menggelar acara pertunangannya dengan Galuh. Sungguh!! Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."
Deg!!
Kalimat dari Dion seperti halilintar yang menggelegar di angkasa dan berhasil menyambarku hingga ke tulang-tulang. Perih sekali.
Aku yang tadinya nelangsa menatap ke arah jendela kini kembali menatap tepat di bola mata Dion. Mencoba mencari kebenaran di sana, meskipun aku yakin bahwa apa yang di katakannya tadi adalah benar.
"Ku mohon, pulanglah Dion. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kau membuatku semakin lelah."
Aku bangkit lalu berusaha menyeret langkah menuju kamar. Di ambang ruangan dapur, Bi Ijah berdiri mematung sambil menatapku iba. Ia pasti sudah mendengar semuanya. Saat ini ia pasti sudah tau, jika majikannya ini adalah wanita yang sangat menyedihkan. Biarlah!!
Derap langkah Dion terdengar semakin mendekat. Aku tak menoleh, masih sibuk mengontrol nafas, yang terasa semakin tercekat.
"Kau menangis lagi?" ia mencoba menahan langkahku. "Sudah ku bilang, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatnya."
Ucapnya dengan suara keras namun tak membuatku berhenti melangkah. Bagaimanapun, Dion tidak boleh melihat wajahku yang semakin kacau ini.
Kuatlah Arini, Kuatlah!!
Melihatku mengabaikannya, tiba-tiba Dion berucap dengan suara lantang. "Hanya aku yang mencintaimu, Arini! Hanya aku!! Tolong tinggalkan Riski itu, dan datanglah kepadaku."
"Apa??"
_________
******Hai hai hai******!!
Hai Reader yang super keceh.
Jika kamu suka dengan cerita CINTA ARINI (Love story is complicated), jangan lupa tinggalkan jejak ya! Berupa like, komen dan vote supaya Author makin semangat dalam menulis.
Salam sayang untuk kalian semuanya!
Love you all🤗🤗🤗
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏