NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:51.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 34.

Bibi Agatha menoleh bergantian ke arah Samantha dan Maya, kerutan tipis muncul di dahinya.

"Kalian saling kenal?"

Samantha lebih dulu tersenyum. "Iya, Nyonya. Ini Mama saya."

"Begitu rupanya." Bibi Agatha mengangguk pelan, ia sama sekali tidak mengetahui hubungan keluarga di antara mereka.

Liora hanya berdiri diam, tatapannya lurus menatap Samantha tanpa sedikit pun menunjukkan keterkejutan. Setelah bertahun-tahun hidup serumah, ia sangat mengenal adik tirinya itu.

Samantha, perempuan yang selalu pandai memakai topeng. Di depan orang lain, ia adalah gadis yang sopan, lembut, dan murah senyum. Namun di belakang semua itu, Liora paling paham seperti apa sifat Samantha sebenarnya.

Samantha melangkah mendekat sambil tersenyum hangat. "Liora... ternyata benar kamu tinggal di sini."

Nada bicaranya terdengar akrab, seolah hubungan mereka sangat baik.

"Iya." Liora hanya membalas dengan senyum tipis.

Kau ingin berakting, Samantha? Silakan. Kebetulan aku juga sedang menghadapi suami yang tak kalah piawai memainkan sandiwara. Jadi, akan kulihat sampai sejauh mana kalian mampu mempertahankan kepura-puraan itu.

"Boleh aku memelukmu?" Bahkan tanpa menunggu jawaban Liora, Samantha sudah merentangkan kedua tangannya.

Namun, Liora bergeser setengah langkah ke arah samping. Pelukan Samantha pun gagal begitu saja, senyum di wajah Samantha nyaris retak meski hanya sesaat.

"Maaf, aku gak terbiasa dipeluk orang yang tidak dekat denganku."

Ucapan Liora terdengar sopan, namun cukup tajam untuk dipahami semua orang.

Maya mengepalkan tangannya pelan. "Liora! Samantha hanya ingin menyapamu."

"Menyapa tidak harus dengan pelukan." Liora tersenyum dingin.

Bibi Agatha mulai merasa suasananya tidak biasa. Ia memandang Samantha, lalu beralih kepada Liora.

"Kalian ini saudara, kan?"

"Iya, Nyonya. Kami memang sudah lama tidak bertemu." Samantha buru-buru menjawab.

Liora tidak membantah, namun ia juga tidak membenarkan. Baginya, hubungan darah tidak selalu berarti keluarga.

Dari sofa, Keivan mengamati Samantha tanpa berkedip. Nalurinya mengatakan, perempuan ini berbeda. Senyum di wajahnya tampak sempurna, sedangkan tatapannya begitu terkendali. Tak ada satu pun gerakan yang terlihat spontan, seolah semuanya telah diperhitungkan sebelumnya.

Sementara itu Dewangga masih memeluk boneka anjingnya.

"Liora... aku haus."

"Tunggu sebentar."

Liora hendak melangkah menuju dapur, namun baru dua langkah, Samantha lebih dulu bergerak. "Biar aku saja."

"Tidak perlu."

"Nggak apa-apa, aku ingin membantu." Tanpa menunggu jawaban, Samantha sudah berjalan menuju pantry.

Langkah Samantha terlihat ringan, namun begitu melewati Dewangga ia sengaja memperlambat langkah. Tatapannya diam-diam menelusuri wajah pria itu.

Jadi, inikah Dewangga Salendra? Tampan sih, dan luar biasa kaya. Sayang sekali... katanya sudah menjadi idiot.

Samantha kembali memasang senyum sebelum melanjutkan langkahnya. Tak satu pun orang di ruangan itu menyadari perubahan sorot licik di matanya, kecuali Dewangga. Di balik ekspresi polosnya, matanya menyipit sangat tipis.

Perempuan itu, barusan sedang mengamatiku. Batin Dewangga.

Beberapa menit kemudian Samantha kembali membawa segelas air.

"Ini, diminum ya." Ia menyerahkannya kepada Dewangga sambil tersenyum lembut.

Dewangga justru menoleh kepada Liora. "Liora, minum."

"Biar aku saja, terima kasih." Liora langsung mengambil gelas itu dari tangan Samantha.

Samantha tersenyum. "Sama-sama."

Namun Liora tidak langsung memberikannya kepada Dewangga, ia justru meletakkan gelas itu di atas meja.

"Nanti saja ya minumnya, suamiku sayang."

Liora tersenyum manis sambil mengedipkan mata. Dewangga hanya bisa menatapnya dengan wajah polos, tampak kebingungan sekaligus terkejut karena belum pernah mendengar Liora memanggilnya 'sayang'.

"Kenapa?" Samantha sedikit bingung.

"Dewangga punya kebiasaan." Liora menjawab tanpa mengubah ekspresi.

"Kebiasaan apa?"

"Semua makanan dan minuman yang masuk ke tubuhnya harus dipastikan dulu keamanannya. Banyak orang mengincar nyawa suamiku. Jadi apa pun yang terjadi, kami harus tetap waspada dan tidak memberi mereka celah sedikit pun."

Wajah Samantha berubah sangat tipis, hanya sepersekian detik cukup bagi Dewangga untuk menangkap perubahannya. "Oh, tapi aku tidak berniat jahat."

Liora hanya tersenyum samar seraya mengangkat bahunya. "Semoga begitu. Lagipula, tak seorang pun benar-benar tahu apa yang tersembunyi di balik hati manusia."

Di sisi lain ruangan, Maya memperhatikan semua itu sambil berpikir. Arman memang tidak pernah mengatakan siapa target berikutnya. Tapi melihat Samantha kini berada di mansion keluarga Salendra, entah kenapa firasatnya mulai tidak enak.

Bibi Agatha yang sama sekali tidak mengetahui ketegangan itu justru tersenyum.

"Samantha."

"Iya, Nyonya?"

"Terima kasih sudah membantu saya tadi."

"Jangan sungkan, Nyonya."

Samantha tersenyum lembut, lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Dewangga yang sedang sibuk memainkan sendoknya sendiri.

"Kalau Nyonya Agatha mengizinkan... saya ingin mencoba membantu Tuan Dewangga."

Semua mata langsung tertuju padanya.

"Membantu?" tanya Bibi Agatha.

Samantha mengangguk pelan. "Saya baru lulus dari Fakultas Psikologi dan sekarang sudah menyandang gelar Sarjana Psikologi. Memang saya belum menjadi psikolog klinis karena masih harus melanjutkan pendidikan profesi, tetapi selama kuliah saya cukup banyak mempelajari penanganan perilaku, asesmen dasar, dan terapi pendampingan."

Ia menatap Dewangga dengan senyum penuh simpati. "Setidaknya, saya ingin mencoba berinteraksi dengannya. Siapa tahu ada perkembangan."

"Itu ide yang bagus." Bibi Agatha langsung tampak antusias.

"Tapi, saya tentu tidak berani kalau keluarga tidak mengizinkan." Samantha tersenyum kecil

Ucapan itu membuat Liora perlahan mengangkat kepalanya. "Maaf, tapi menurutku tidak perlu."

Suasana ruang keluarga langsung menjadi sedikit hening, Liora menatap Samantha tanpa sedikit pun senyum. "Dokter yang menangani kondisi suamiku sudah memiliki jadwal terapi sendiri. Aku tidak ingin terlalu banyak orang masuk ke dalam proses penyembuhannya."

Nada bicara Liora terdengar sopan, namun dingin.

Samantha masih mempertahankan senyumnya. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Liora. Tapi aku tidak berniat menggantikan dokter, aku hanya ingin membantu. Tidak ada salahnya mencoba, kan? Lagipula, status kami masih keluarga. Tuan Dewangga adalah kakak iparku.“

Belum sempat Liora menjawab, suara Bibi Agatha lebih dulu terdengar.

"Liora." Wanita paruh baya itu menatapnya dengan sorot mata yang mulai menekan. "Kau terlalu sensitif."

Liora menoleh perlahan ke arah Bibi Agatha. "Apa maksud Anda?"

"Yang Samantha tawarkan adalah bantuan, bukan ancaman. Kalau memang ada kemungkinan Dewangga bisa membaik dari kondisinya lebih cepat, kenapa harus ditolak?"

"Saya hanya ingin mengikuti arahan dokter." Liora tetap tenang.

Bibi Agatha menggeleng pelan. "Dokter juga manusia. Semakin banyak usaha yang dilakukan, semakin besar peluang kesembuhannya."

Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Dewangga, sorot matanya melembut. "Bagaimanapun juga... Dewangga adalah keponakan yang paling ku sayangi. Sejak kecil aku melihatnya tumbuh. Melihat dia terus-menerus seperti ini, apa kau kira aku tidak sedih?"

Ucapan itu membuat beberapa pelayan ikut menundukkan kepala, mereka ikut merasa sedih akan kondisi Tuan mereka.

Bibi Agatha kembali memandang Liora. "Kalau kau benar-benar mencintai suamimu, jangan menolak bantuan orang lain hanya karena egomu."

Kalimat terakhir itu terasa seperti tamparan halus. Namun, Liora tetap bergeming. Tatapannya tenang dan datar, tanpa sedikit pun memperlihatkan bahwa ucapan itu berhasil mengusik perasaannya.

"Ego? Maaf, Nyonya Agatha... tapi saya tidak sedang mempertahankan ego. Saya hanya menjaga suami saya, bukankah itu tugas seorang istri?"

Bibi Agatha tersenyum tipis. "Kalau begitu buktikan, biarkan Samantha mencoba. Hanya beberapa kali pertemuan. Kalau tidak ada hasil, aku sendiri yang akan menghentikannya."

Liora mengepalkan jemarinya pelan, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak percaya Samantha datang dengan niat sebaik itu, apalagi setelah waktu kemunculannya berbarengan dengan Maya.

Namun, Ia juga sadar. Kalau terus menolak, justru dirinya akan terlihat seolah menghalangi kesembuhan Dewangga.

Dewangga yang sejak tadi duduk sambil memeluk boneka anjingnya diam-diam memperhatikan semuanya. Di balik wajah polosnya, otaknya bekerja cepat. Jadi ini tujuan sebenarnya dari musuhnya, memasukkan Samantha ke dalam mansion. Tatapannya menyipit nyaris tak terlihat, Ia sama sekali tidak percaya kebetulan.

Apalagi setelah Maya muncul di rumah sakit, lalu Samantha menyusul dengan tawaran untuk mendampingi 'terapi-nya'. Semuanya tampak tersusun rapi, seakan setiap langkah telah diperhitungkan sebelumnya.

Di sudut ruangan, Keivan yang sedari tadi hanya diam juga mulai menyusun kepingan-kepingan informasi. Bocah itu melirik Samantha sebentar, lalu berpindah kepada ayahnya dan akhirnya tatapannya beralih pada Liora.

Mereka mulai bergerak lagi, kalau dugaanku benar... Samantha adalah pion. Dia hanya pintu masuk. Pertanyaannya, siapa yang mengirimnya? Dalam hati, bocah jenius itu bergumam pelan.

Dan Samantha, tetap tersenyum lembut. Padahal jauh di dalam pikirannya, ia sama sekali tidak sedang memikirkan terapi. Ia hanya teringat ucapan Arman Armando beberapa hari lalu padanya.

"Masuklah ke dalam kehidupan mereka."

"Sisanya... biar aku yang mengatur."

Dengan kemunculan Samantha, permainan yang selama ini diam-diam disusun Arman akhirnya memasuki babak baru. Perlahan, setiap bidak mulai mengambil posisinya, sementara badai yang sesungguhnya tinggal menunggu waktu untuk datang.

Di tengah intrik, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin nyata... mampukah Liora, Dewangga, dan Keivan bertahan sebagai sebuah keluarga? Atau justru, akan tercerai-berai oleh permainan musuh mereka?

1
Pa Muhsid
ngidam nya jadi Tarzan
Aditya hp/ bunda Lia
ibu komisaris hamil ... 😂
ρυтяσ kang'typo✨
ayo lanjut kaaaa👍👍👍
ρυтяσ kang'typo✨
wkwkwkw....fiks ini mah🤣🤣🤣pasti Liora hamidun 😍🥰🥰🥰yesssss Keivan mau punya ade
ρυтяσ kang'typo✨
good Indra...pilihan mu tepat sekali,sudah di kasih kesempan emang harus di jaga,u benar di kubu Liora/Dewangga 😇
ρυтяσ kang'typo✨
semoga Indra beneran mau berubah ya,tidak tergoda dengan tawaran Rafael..
merry
drma mulai codet mngkin plg bnyk kena getah ya
Muft Smoker
sang nyonya yg hamil ,, semua org jd sasaran empuk ,,
sabar yx ,, harap di maklumi ,, ibu hamil ini 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Nie
Keivan siap² dipanggil kakak deh
tinie
Waduuh nyonya hamil
semua penghuni rumah bisa kena sasaran🤣🤣
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣siap2 mode bumil on
Rita
👍👍👍👍👍👍👍
Rita
nah nah nahhhhkannnn😂😊😊😊
Rita
heh jgn2
Muft Smoker
pilihan yg tepat iindra ,, km udh brani jujur dg liora ,, mulai saat ni berubah laa menjadii lebih baik lgi ,, kesalahan yg dlu jgn sampai terulang hanya krn km takut ,,
hidup , mati , Susah , senang bukan si Rafael yg atur ,, tp Tuhan ,, 😁😁😁😁😁😁
Rita
saling percaya,🥰🥰🥰
Rita
semakin seru 🥰🥰🥰🥰
Rita
ngancem dih,ditolak g terima
Rita
heh inget karma kamu
merry
/Facepalm//Slight//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/kluarga sengklek ap klurga stres ya 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!