Frans Brian Eddison
berawal dari pengkhianatan kakak kandung nya yang menikahi kekasih nya,
Menjadi seorang yang sangat suskes,
mengawali karir nya dari nol, meninggalkan kekayaan orang tua nya, menjadi tangan kanan dan seorang kepercayaan millioner muda sekaligus pengusaha terbesar di negri ini.
Tapi tidak untuk masalah percintaan, tidak satupun mampu meluluhkan hati nya, hanya sebatas angin dan berlalu.
Hingga akhirnya dia pertemukan dengan seorang wanita yang selalu membuat nya berjuang dan jatuh bangun.
[Sekuel dari novel 'Pernikahan luar biasa']
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku datang
[Nancy pov]
Hari ini kondisi ku sudah sangat membaik, ya sedikit lebih pulih, lebih tepat nya kupaksakan untuk pulih!, dan sudah di izinkan pulang setelah pemeriksaan tadi pagi melihat kondisi ku sudah stabil, tekanan darah juga sudah normal.
Kedua orang tua Frans meminta ku pulang kerumah nya ke rumah keluarga mereka, Aku adalah istri Frans dan merupakan tanggung jawab mereka, itu yang Mama Martha Mama Frans ucapkan untuk membujuk ku, Edward pun akhirnya menghantarakan ku ke kesini..
Aku memasuki rumah besar itu dengan ragu, Rumah yang cukup besar, ku edarkan pandangan ku, ku langkah kan pelan kaki ku.
Seisi rumah di penuhi warna Gold pun Furniture nya, rumah yang tampak mewah dan menawan, dengan banyak ruangan-ruangan besar dan tertata rapi di dalam nya, ada kolam renang di belakang ruangan nya tersekat oleh dinding kaca, dan tumbuhan-tumbuhan hijau menyejukan mata di sekeliling nya.
Namun kurasakan sekali rumah ini sangat sepi, sangat amat sepi, masih terasa sekali duka, apa lagi karangan bunga masih banyak di luar sana,pun isi dalam nya masih seperti habis di gunakan untuk sebuah acara mungkin, tahlilan atau yang lain nya.
Hanya ada para pekerja di sana, 5 orang pembantu dan dua security, ya mereka menyambutku, semua nya memperkenal diri kepada ku dan menyebutkan tugas-tugas nya masing-masing.
Aku pun membalas sapaan mereka, mengembangkan senyuman kepada semua nya, semua nya tampak ramah aku merasa seperti sangat di hargai di rumah ini, yah jelas saja mungkin karena aku adalah istri salah seorang anak di rumah ini.
Hemm... istri? are you sure Nancy, mana bukti nya, cicit ku pada diri ku sendiri.
"Hay Non, saya Ning panggil aja mbak Ning, saya Assisten nya Ibu Martha!" sapa seorang wanita kepada ku.
"Lalu?"
Dia pun menjelaskan bahwa Mama Martha mengkhususkan nya untuk melayani ku, menyiapkan segala kebutuhan ku, menjaga ku, dan sudah di wanti-wanti keras oleh kedua mertua ku, untuk 24 jam memperhatikan ku, mengurusiku ,hal apapun itu.
Aku menolak, untuk apa? aku tidak butuh semua itu aku bisa lalukan semua nya sendiri.
"Yakin mau nolak Non!, emang gak tau ya Bu Martha gimana?"
Aku berkerut dahi,ya aku sedikit banyak tau sih seperti apa mertua ku itu, akhirnya aku pasrah, mungkin Mama tidak ingin hal buruk terjadi lagi dengan ku.
Aku senang sangat senang, Mbak ning terlihat cool, tapi tidak! aku salah mbak ning seperti Mama dan mertua ku, banyak berbicara tapi juga banyak menasehati.
*
Sudah empat hari aku di rumah ini
sejujur aku takut, aku sangat takut di rumah besar ini, aku ingat keluarga ini punya satu menantu bernama Carollina, tapi sudah empat hari aku di sini, tidak pernah sama sekali aku melihat nya.
Bukan kah suami nya baru meninggal?
Bukan kah harus nya dia tetap di rumah?
"Nancy, itu bukan urusan mu!"sentak ku pada diriku sendiri.
Beberapahari di rumah besar ini hanya aku habiskan di dalam kamar,
ya... di dalam kamar besar milik Frans,
tidak ada bau-bau nya, karena Frans juga jarang kesini untuk menempati nya.
"Aku sedih, aku rindu...aku ingin tidur di peluk, aku ingin kau mengelus-elus kepala ku...."hikss tahan tahan Nancy tahan, aku pun menyeka bulir bening di pelupuk mata ku.
"Honey, do you miss me? honey..hikss
Hiks... mata maafkan aku, mungkin kau lelah aku selalu menyiksa mu belakangan ini...
Ku peluk erat-erat guling di ranjang ku,
"Sayang, aku rindu, aku rindu..
jika nanti kau sembuh, aku janji, aku janji tidak akan marah, tidak akan marah lagi jika kau mengganggu tidur ku, "
Ponsel ku berdering, di sela isakan ku.
Ya Mama Martha, dia selalu mengirimkan ku sebuah foto atau video apapun perkembangan suami ku.
-Mama Frans-
/"Teguhkan hati mu, Sayang mama beryukur Frans banyak perkembangan hari ini, semua pemeriksaan nya sudah normal, sudah banyak perkembangan,
Selamat tidur, Kami menyayangi mu, see you at hospital.
Ku letakan kembali ponsel ku, ku tarik dalam-dalam nafas ku, Tuhan terimakasih, hanya mendengar seperti itu saja aku sudah sangat senang.
"Entah bagaimana kita di pertemukan lalu di persatukan, kau seperti petunjuk di labirin gelap kehidupan ku, bahkan tidak hanya memberi petunjuk kau juga melintasi nya ikut masuk melewati jalan gelap bersama ku.
***
Hari ini pagi-pagi sekali mbak Ning sudah menghantarkan ku ke rumah sakit, hari ini jadwal chek up terakhir ku, dan Gips ku akan di lepas, yess...
"Ku tulis di social media ku"
'Honey im coming'...
Padahal mana mungkin Frans membaca nya..
ya anggaplah saja itu hanya luap perasaan ku, atau kehaluan ku.
Hikss aku terlalu senang, hingga tak ku sadar lagi-lagi aku menitikan air mata di pemeriksaan, membuat Dokter khawatir.
"Tidak Dokter, saya tidak kenapa-kenapa! jawab ku atas pertanyaan nya..."
Akhir nya pemeriksaan pun selesai,
Jahitan di kepala ku juga hampir mengering, pun kaki ku sudah bisa jalan sendiri walau pun pelan dan tertarih.
Aku tak ingin menggunakan wheel chair ku lagi, ku minta mbak Ning memegangi ku, aku ingin melatih kaki ku untuk berjalan aku ingin cepat sembuh aku harus sembuh, kami pun berjalan pelan-pelan keluar dari rumah sakit.
Seorang supir Mama Martha sudah menunggu siap menghantarkan kami kembali,
Always! pulang pergi Mama Martha mengirim pesan-pesan penuh wejangan.
-Mama Frans-
/"Chek up nya gimana?
/"Hati-hati, jangan banyak jalan dulu!"
/"Minta, Ning bantuan apapun itu!"
"Duh ingat Mama Rowina, hehe, Maafkan Nancy ma setelah Frans sembuh Nancy janji, Nancy akan pulang, Ma i miss you..."
Senang bercampur sedih, aku tidak sabar lagi, tidak sabar,seperti janji Nadilla hari ini dia akan menghantarkan ku ke Singapura,
Sesampai nya di rumah, aku langsung masuk ke kamar ku, bergerak sana kemari mempersiapkan semua barang-barangku, memasuki semua pakaian ke travel bag milik ku.
Ku dengar suara mbak Ning mengektuk pintu ku dan memanggil ku.
"Masuk Mbak Ning... "sahut ku.
Mbak Ning terhelak melihat ku.
"Eh... Non, duduk!, cepat duduk, wong kaki baru di lepas kok udah banyak bergerak! gerutu Mbak Ning.
Aku pun tertawa, karena terlalu senang aku bahkan lupa akan kaki ku, aku pun duduk, mbak Ning pun menyelesaikan semua packingan barang-barang ku.
2 jam berlalu.
Nadilla dan putri kecil beserta baby sitter nya sudah menungguku di Lounge bandara, aku juga baru sampai di bandara berjalan pelan sekali dengan mbak Ning yang menarik Travel bag di belakang ku, ya pasti nya Mama Martha mewajibkan Mbak Ning menemani ku.
Mbak Ning tidak terlalu tua, gaya nya juga duhh... bodyguard abis setelan jeans dan kemeja hitam rambut cepak sepatu boots, Nama nya aja Nining, kalau di film Action luar negri mungkin nama nya Chaterine atau Alexandria kali ya.
Aku menuju ke tempat Nadilla menungguku,
Dia melambaikan tangan kepada ku, aku pun membalas nya dengan senyuman.
"Maafkan aku merepotkan Nad... "seru ku melihatnya kerepotan dengan tangisan anak nya.
"Apa sih, kaya orang lain aja!!" balas nya.
Aku raih baby Noora dari tangan nya, ku gendongi dia, ku coba untuk menenangkan nya.
"Cup.. cup... hay sayang, kenapa nangis, maafkan tante ya merepotkan kalian... "ucap ku pada bayi 5 bulan itu mengelus-elus rambut coklat nya.
Ku tatapi Nadilla sahabat ku, dia tampak sedang mengangkat deringan ponsel dari suami nya, dia tersenyum bahagia menceritakan beberapa hal kecil, entah aku tidak mendengarkan percakapan nya.
Sesekali Nadilla melambaikan tangan kepada Baby Noora di gendongan ku, aku turut bahagia untuk mu Nad, semoga kau bahagia selalu begitu pun aku segera menyusul kebahagiaan mu, ucap ku tersenyum di ujung harapan ku.
Tidak terlalu lama kami menunggu akhirnya private jet milik keluarga Hadiwinata lepas landas, aku terus tersenyum tangan ku serasa dingin aku mengusap-usap kedua nya, aku seperti akan bertemu kekasih lama yang tak ku temui, rasa nya deg-geg kan...
Ku alihkan, perasaan deg-deg kan ku menggoda si kecil Noora yang duduk di sebelah ku, ku ambil alih lagi di dari Mami nya.
Mulai aku menggoda Baby Noora menepuk-nepuk kedua tangan ku, menggelitiki nya, membuat nya tertawa, menicumi pipih chubby merah merona nya, Baby Noora seperti nya menyukai ku, beberapa menit aku bermain dengan nya tidak ku sadari Baby Noora terpejam terlelap di pelukan ku.
"Hemm... aku tersenyum, tiba-tiba saja aku menjadi menginginkan boneka hidup seperti Baby Noora, ya seperti Frans juga yang selalu mengatakan menginginkan kelahiran nya anak-anak dari rahim ku, aku janji aku jani tidak akan lagi menunda nya sayang, Maafkan aku!" lirih ku.
Nadilla membiarkan Baby Noora tidur di pelukan ku, aku terus menepuk-nepuk kecil bokong nya ,sesekali ku elus-elus lembut punggung nya.
*
Tidak terlalu jauh jarak ke negara itu, tidak terasa kami pun sampai di Negara yang penuh kenangan gelap dan hitam untuk ku itu.
"Aditya kali ini aku yakin siapapun tidak akan menolong mu!"ingat ku dengan semua hal jahat yang di lakukan nya, semua!...ya semua nya sudah di lakukan nya kecuali membunuh dan memperkosa ku.
Aku menghela nafas susah payah, bayangan nya sedikit merusak mood ku,
Tapi aku kendalikan dengan membayangakan wajah tampan dan super usil suami ku,
hemm cukup menenangkan ku.
Satu sisi rasa nya aku sangat membenci mengingat hal-hal buruk itu, satu sisi juga rasa nya aku tidak bisa menjelaskan perasaan ku, hal buruk itu lah yang akhirnya menyatukan aku dan suami ku.
Aku tersenyum, ku pandangi sekeliling Airport yang sangat indah ini, ku harap tidak ada kesedihan lagi di sini hanya ada kebahagiaan dan kebahagiaan.
*
Setelah dari Airport kami segera ke hotel yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Frans di rawat, tidak terlalu lama mumpung Baby Noora masih terlelap.
Aku dan Nadilla pun keluar dari hotel tempat kami menginap, meninggalkan Baby Noora dengan Baby sitter nya.
"Maafkan aku Nad... "ucap ku tidak enak, aku tau Dimas tidak menyukai anak nya di titipi ke Baby sitter.
"Eh biasa aja kali, enggak enak sama Dimas ya, tenang saja Nan, ini suster nya Almarhumah Mama Dimas jadi Dimas lumayan percaya!" jelaskan kepada ku.
"Oh, syukur lah Nad..."ucap ku sedikit lega.
Kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah sakit tujuan kami ke Negara ini, ke rumah sakit yang pasti nya sudah sangat terkenal dan merupakan salah satu rumah sakit terbaik dunia.
Mengayunkan kan langkah ku dengan seorang bodyguard bertubuh atletis di belkang ku, ya siapa lagi jika bukan Mbak Ning,.
Aku dan Nadilla menunggu di sebuah sofa ruang tunggu, salah seorang teman Dimas sudah di kabari akan menghantarkan kami di sana, tidak terlalu lama wanita cantik yang kami tunggi itu pun datang, ya dia salah seorang bagian operasional di rumah sakit ini
"Hai, Mrs.Nancy and Mrs.Nadilla, jom follow me!" ucap nya dengan bahasa campur menggerakan tangan mengajak.
Nadilla dan aku pun membalas sapaan nya dan mengikuti nya, dia membawa kami memasuki sebuh lift.
Ya setidak nya dia sedikit mempermudah untuk semua nya, pun tentang Frans yang segera di tangani tidak perlu menunggu proses lama untuk di tindak lanjuti.
Pintu besi pun terbuka, Mama Martha sudah tampak di luar sana, pun suami nya, aku memegangi wajah ku, hu... Aku tidak sabar aku akan melihat suami ku.
Hingga Mama menyuruhku masuk ke ruangan Vip itu pun Nadilla menemani ku, mata ku berkaca-kaca.
"Sayang... "panggil ku pelan seakan tidak ingin menggangu tidur nya, ya...walau salah dia koma bukan tidur.
Ku raih tangan nya ku ciumi jemari-jemari nya.
"Sayang aku datang, maafkan aku tidak di samping mu kemarin..."lirih ku menatap wajah terlelap nya.
"Ku pandangi bekas operasi kepala nya ku sentuhi pelan rambut-rambut halus nya... "
"Aku tidak tahan, tidak tahan, si bening dalam kubangan pun jatuh lagi..."
Hikss hiks...
"Terus ku lihati, ku pandangi sudah tidak ada selang di hidung nya hari ini, hanya ada sebuah selang infus di tangan nya..."
"Tiba-tiba ponsel Nadilla bergetar, dia segera keluar mengangkat nya, meninggalkan aku sendiri di sana, pun Mama Martha dan Papa, seperti sengaja tidak masuk tetap di luar sana..."
"Ku dekati wajah ku di pipi nya, ku elus-elus rambut nya..."
"Rasa nya rindu sekali mendengar ucapan nyeleneh nya, suara marah nya, atau hal-hal receh gak penting dari bibir nya.. "
"Sayang, ayo dong buka mata nya, mau sampai kapan merem terus...."gerutu ku mengusap-usap pipi nya.
Pukul 21:00pm
Nadilla ,Mama Martha pun Papa Frans sudah kembali ke hotel jam besuk sudah habis, tinggalah aku dan Mbak Ning di dalam ruangan Recovery VIP yang sangat mewah itu, aku tidak bisa tidur aku terus di sebelah suami ku.
Tubuh tegap Mbak Ning sudah meringkuk di sofa, ku biarkan saja dia di sana dia pun terlihat sangat kelelahan.
Aku letakan kepala ku di lengan nya, sesekali aku mengajak nya berbicara, aku ajak bercerita, semua hal semua yang sudah terjadi belakangan ini.
"Hmmm...sayang jika kau merespon pasti akan jauh lebih seru..."ucap ku tersenyum menatap wajah nya yang hanya diam.
Berkali-kali ku lantunkan doa-doa, harapan dan keinginan ku, ku remasi jemari nya di tangan...
"Bangun lah, aku di sini aku menunggu mu!"
Hingga akhirnya aku pun merasa lelah, mata ku terasa sangat amat berat, ku biarkan kepala ku di sana, ku ciumi lengan nya, ku gengangam erat jemari nya.
Mulai ku pejamkan mata, dan benar-benar tidur tepat di sebelah nya.
.
.
.
To be continue
🌾Like, vote, comment
Tenang readersss, tenang 🤣...
5 bunga
1 like
1vote
part paling melow
udah lama aku nungguin cerita kk,