Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang sesungguhnya
Caca berdiri mematung dengan raut tak percaya.
Yang benar saja, yang baru saja ia lihat itu benar tidak sihh? Ohh, ya ampun, ia tidak bisa tinggal diam. Secepatnya Caca harus meminta kejelasan kepada dua orang itu. Lebih bagus dirinya yang tau duluan dari pada nanti nyonya besar yang turun tangan.
Berbalik, Caca lantas berlari terburu ke arah kamar kakaknya. Dan tepat saat ia membuka pintu, Caca mendapati Braja yang akan masuk kedalam kamar.
"Mas tunggu," serunya berlari mendekat.
Pria itu lantas hanya menatap datar, berbalik tanpa menutup pintunya.
Caca masuk, kemudian ia menutup pintu tanpa lupa menguncinya. Braja sempat melirik sekilas ketika mendengar kunci yang di tekan.
"Mass!"
"Hmmm."
Melangkah lebar, Caca melesakkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Braja melepas atasannya hingga menyisakan kaos putih ketat.
"Mas, sembunyiin sesuatu dari aku yaa?" sungutnya menatap tajam.
"Tidak," jawabnya datar tanpa melihat.
"Jangan bohong!"
"Mas tidak bohong, Dek."
"Kalau tidak bohong, terus yang di bawah tadi apa?" cecarnya dengan tatapan memaku seutuhnya.
"Di bawah?" Menoleh, tatapan Braja seketika samar terkesiap saat teringat interaksinya bersama Ranti barusan.
"Memangnya apa yang kamu lihat?" tanyanya balik, memastikan jika apa yang ia pikirkan tak selaras dengan praduga Caca.
Lantas Caca melengos. "Gak usah balik nanya gitu. Ada hubungan apa Mas sama Ranti," ujarnya telak.
Braja kontan terdiam, berusaha mengatur deru nafasnya yang sedikit memburu.
"Tidak ada," ia menjawab datar lalu beranjak ke kamar mandi.
"Terus aja gak ngaku kaya yang udah-udah, lambat laun pasti juga ketahuan," Caca kemudian berdiri, masih menatap ke arah kamar mandi, "Cepet omongin sama Ibu, Ibu kayanya ngebet banget Mas sama perempuan di bawah itu, sama satu lagi, baiknya Mas Braja jujur di awal jangan ada yang di tutup-tutupi," setelah mengatakan itu, Caca langsung melenggang pergi.
Di dalam kamar mandi, Braja terpaku atas apa yang di katakan adiknya barusan.
Haruskah ia jujur sekarang? Lalu perihal Ibunya serta Ranti bagaimana? Bayang-bayang kilasan masa lampau saja masih menghantuinya hingga kini.
Tentang penolakan, ditinggalkan dan perasaannya yang sudah terlampau dalam hingga membuatnya terbang melayang sampai dengan jatuh remuk redam.
Sungguh! Braja belum siap jika harus mengulang masa-masa itu lagi. Masa dimana ia masih begitu muda dan menyukai seseorang dan begitu mendamba. Masa dimana gejolak hati masih menggebu-gebu, hingga ia harus di kecewakan atas keputusan yang memberatkan akan keduanya.
Katakanlah jika Braja pengecut atau terlalu egois.
Jujur saja, perihal perasaannya terhadap Ranti, ia tak sejujurnya menyukai gadis itu. Mungkin ada sedikit ketertarikan tapi hanya cenderung rasa penasaran atas sikap Ranti yang terus menarik atensinya.
Bagaimana Braja tak tertarik, jika hampir setiap ia bertemu Ranti selalu di kejutkan dengan berbagai tingkah random, serta keunikan yang beragam pun baru ia temui hanya pada gadis itu.
Bagaimana sosok imut itu terus merecokinya dengan berbagai hal, hingga membuatnya menggeleng tak percaya sampai mendengus dan menggeram. Dan jangan lupakan parasnya yang ayu serta kedipan mata centilnya. Gemas, Braja ingin sekali merengkuh gadis itu untuk ia damba.
Dirinya yang di kenal sebagai sosok dingin irit bicara, bisa menjadi orang lain jika tengah bersama Ranti.
Memang benar, jika alasannya mengklaim Ranti sebagai miliknya karena ingin memberi efek jera terhadap gadis itu karena tingkahnya yang terlewat usil. Tapi kembali lagi, sekalipun alasannya sedikit tak masuk akal nan terkesan egois.
Braja tetap pada pendiriannya dan pantang untuk menarik kata-katanya kembali.
Dengan tekad yang sudah kuat, Braja memutuskan akan segera mengikat gadis itu seutuhnya hanya untuk dirinya.
Membuang nafas gusar sambil melucuti semua pakaiannya. Braja berdiri di bawah guyuran shower untuk melepas penat pikiran yang hari ini menghujamnya tanpa jeda
Neng Ranti, imutt yakkk 😍
Mas Braja isehhh aduss 🙊
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃