Ha Yun adalah seorang dokter yang lahir dari keluarga kaya raya dan terpandang. Tepat di usianya yang ke 13 tahun ia harus kehilangan ibunya sehingga ia pun mengalami trauma berat yang membuatnya enggan membuka hati kepada seorang gadis.
Namun tiba-tiba datanglah seorang gadis sederhana nan lugu yang membuat hatinya luluh. Sayang seribu sayang, hubungan keduanya pun terhalang oleh masa lalu keluarga keduanya yang penuh polemik.
Akankah keduanya mampu menyatukan permus*Han keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zeyn Seyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33(Sheny memutuskan hubungannya dengan Ha Yun)
Tak ingin kebencian ibu Sarita semakin besar, Ha Yun langsung mengejarnya.
Namun ia melihat jika Ibu Sarita sudah pergi jauh dari rumah Pak Haris, sehingga Ha Yun pun langsung pergi ke rumah Ibu Sarita untuk menjelaskan semuanya.
Derukan mobil pun terdengar, Ibu Sarita melihat dari balik jendela siapakah pemilik mobil yang baru saja datang itu.
Melihat Ha Yun di depan rumahnya, Sheny pun beranjak dari duduknya untuk menemui Ha Yun, namun kali ini Ibu Sarita melarang Sheny bertemu dengan Ha Yun.
“Tapi di depan,” belum selesai Sheny bicara, Ibu Sarita pun langsung mem0t0ngnya, “Mulai sekarang jangan pernah berhubungan dengannya apalagi menemuinya.”
“Tapi Bun! kenapa?” sambung Ariana.
“Ya bun Ha Yun itu orang baik dan bukannya Bunda menyukai Ha Yun?” tanya Sheny.
Tok tok tok...
Ketukan pintu pun terdengar, Ha Yun mengetuk pintu kontrakan Sheny, bahkan mengucapkan salam kepada mereka beberapa kali.
Ketukan yang terus menerus membuat Sheny tak tega untuk mengabaikan Ha Yun.
“Itu Ha Yun,” ujar Sheny.
“Jangan membuka nya,” tegas ibu Sarita sambil melangkah keluar menemui Ha Yun.
Di situ Ibu Sarita kembali memperingatkan Ha Yun untuk menjauhi Sheny apalagi berhubungan lagi dengan putrinya. Ha Yun kala itu masih terus memohon agar ia dapat di beri izin untuk tetap dekat bersama Sheny, namun mana mungkin ibu Sarita mengizinkan putrinya dengan pria yang dalam tubuhnya mengalir darah penyebab kemati*an suaminya.
“Pergi.” Usir Ibu Sarita seraya mendorong tubuh Ha Yun.
Sheny yang melihat dari balik jendela langsung berlari keluar menghampiri Ha Yun dan membantu Ha Yun untuk berdiri.
“Lepaskan! untuk apa kamu membantu dia,” bentak ibu Sarita kepada Sheny yang hendak membantu Ha Yun untuk berdiri.
“Tapi Bun,”
“Apa kamu tidak sayang sama ayah kamu? apa kamu tidak tahu kalau dia adalah anak dari penyebab ayah kamu tidak ada,” jelas Ibu Sarita.
Mendengar itu Sheny langsung terdiam dan tak dapat berkata apa-apa lagi, tubuhnya seketika terasa lemas, dadanya seakan terasa begitu sesak.
Ia benar-benar tidak menyangka jika selama ini ia dekat dengan anak dari seorang pria yang membuat dirinya kehilangan sosok seorang ayah yang sangat ia sayangi.
“Maaf, aku tidak bermaksud bohong sama kamu,”
“Jadi selama ini kamu sudah tahu semuanya dan kamu merahasiakan nya?” interogasi Sheny.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,”
“Tapi kamu mencoba menutupi keburukan Papa kamu,” ujar Sheny sambil membuang napas kesal.
Ha Yun hanya bisa diam dengan segala cac!an yang ia terima.
“Pergi!” perintah Sheny.
“Ya sudah kalau tidak mau pergi,” lanjut Sheny seraya menarik lengan ibu Sarita dan akan melangkah ke dalam rumahnya.
“Aku mencintai kamu,” ujar Ha Yun membuat Sheny menghentikan langkahnya.
“Maaf kalau aku juga tidak jujur dengan perasaanku, tapi aku benar-benar mencintai kamu, kamu boleh membenciku, aku tahu bagaimana papa aku membuatmu kehilangan orang yang paling kamu sayang, tapi aku hanya ingin kamu tahu kalau aku benar-benar mencintai kamu,” tutur Ha Yun.
Sheny membalikkan badan dan melangkah ke arah Ha Yun seraya berkata.
“Lepaskanlah sesuatu yang akan menyakitimu.”
Sheny kemudian membalikkan tubuhnya kembali.
“Ayo bun.” ajak Sheny kepada Bundanya.
Ha Yun masih mematung di depan rumah Sheny, ia tak percaya jika semuanya akan berakhir begitu cepat.
Untuk pertama kalinya ia merasakan cinta kepada seorang wanita dan semuanya berakhir dengan begitu menyakitkan tanpa di mulai.
Perlahan Ha Yun berjalan menuju mobilnya.
Sheny mungkin merasakan kecewa namun ia tak sepenuhnya menyalahkan Ha Yun pada faktanya ia masih memperhatikan Ha Yun di balik jendela kamarnya.
“Aku tidak benar-benar yakin akan perasaanku, namun jika aku boleh jujur, aku merasa nyaman jika berada di dekatmu,” rintih Sheny.
Keesokan harinya
Pagi itu Sheny berusaha mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya, dan selesai mengerjakannya ia langsung mandi tanpa istirahat terlebih dahulu.
Hal itu di karena kan ia harus mengembalikan dompet yang ia temukan semalam, di tambah jarak rumahnya dan Mall Store itu cukup jauh, awalnya ia dan Ha Yun berniat pergi saat jam istirahat, namun karena hubungannya dan Ha Yun sedang tidak baik, ia berniat datang sebelum berangkat kerja.
“Kak Sheny ini kan baru jam delapan?” tanya Ariana heran.
“Jangan-jangan kamu mau nemuin anak si Haris itu,” sambung ibu Sarita.
“Bunda tolong berikan Sheny sekali saja kepercayaan, assalamualaikum,” ujar Sheny seraya mencium punggung tangan ibu Sarita.
“Tumben kak Sheny melawan Bunda,” gumam Ariana dalam hati.
Di depan gang, Sheny menunggu angkot jurusan arah Mall Store. Lebih dari lima belas menit Sheny menunggu, namun angkot jurusan Mall store belum kunjung ada. Akhirnya setelah dua puluh menit lebih menunggu, angkot yang mengarah pada Mall store pun lewat.
Segera Sheny menyetop angkot itu dan menaiki angkot tersebut.
Kurang lebih tiga puluh menit lebih Sheny pun sampai di Mall Store, segera Sheny turun dan memasuki Mall raksasa itu yang mana gedungnya berlantai delapan. Sheny sempat takjub akan besarnya gedung itu serta kemewahannya yang mana material-materialnya terbuat dari bahan-bahan berkualitas.
Sheny yang tidak tahu ruangan para petinggi Mall terlihat sangat bingung, namun seingatnya Ha Yun berkata jika ruangannya ada di lantai paling atas di mana lantai paling atas hanya ada ruangan CEO, dan para Staf penting dan lain-lainnya.
Sejenak ia terdiam, ia teringat akan sosok Ha Yun yang selalu ada untuknya.
“Aku harus minta izin ini, karena mungkin akan telat sampai restoran.” Ujar Sheny seraya mengambil ponsel di tasnya.
Sheny mulai mengetik pesan yang akan ia kirim, kemudian melanjutkan langkahnya menaiki eskalator satu demi satu lantai, hingga akhirnya ia sampai di lantai paling atas.
Sesampai di sana ia masih bingung ke arah mana ia akan pergi, karena luas nya yang luar biasa. Namun tidak ada pilihan lain selain berkeliling sampai akhirnya Sheny menemukan sebuah Staf yang bisa di pastikan itu sekretaris dari Pak Reza.
“Akhirnya ketemu juga, kaki aku sudah pegel.” Keluh Sheny seraya melangkah ke arah wanita itu.
“Apa Pak Reza ada?” tanya Sheny.
“Apakah sudah membuat janji?” Tanya staff itu.
“Sebenarnya saya ingin mengembalikan dompet yang saya temukan.” jelasnya sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya.
“Ya sudah titipkan biar saya di sini yang mengasihnya,”
“Jangan lebih baik telepon Pak Reza, beliau bisa marah besar jika ada orang yang ingin bertemu dengannya tapi tidak di tanyakan dulu,” bisik salah satu staf itu kepada staf yang berbicara dengan Sheny.
“Tunggu dulu ya mbak kami kabari pak Reza dulu.” Lanjut seraya menghubungi Pak Reza.
Staf itu pun menelepon pak Reza untuk memberi tahu jika ada seorang yang ingin bertemu dengannya.
Setelah mengetahui alasan orang yang datang ingin menemui karena menemukan dompetnya, Pak Reza meminta agar orang itu di izinkan masuk ke ruangannya.
Segera Sheny menemui pak Reza di ruangannya. Di situ Pak Reza benar-benar berterima kasih kepada Sheny karena telah bersedia mengantarkan dompetnya itu.
Di jaman sekarang orang yang jujur sangat lah sulit, namun Sheny justru repot-repot mengembalikannya dan isi dompetnya pun lengkap tanpa berkurang sedikit pun.
“Sebenarnya saya sudah mencari Bapak kemarin tapi sepertinya Bapak sudah pulang,” jelas Sheny.
“Ya memang langsung pulang setelah itu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ujar Pak Reza.
“Kalau begitu saya permisi Pak,” pamit Sheny.
“Maaf saya belum tahu nama kamu? Tanya Pak Reza.
. *Terimakasih yang sudah mampir
jangan lupa like dan komennya*🤗
Jangan loncat bab ya
ada yg ingin saya tanyakan tentang dialog apa itu ya aksi sama apa itu yg pernah saya bc dari komentar kk di karya orang lain 🙏🙏
🐠🐠 + 𝚞𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎