Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia sudah mempunyai istri
Sekalipun petir menyambar dan hujan deras, nyonya Diane dan daddy Agam tetap mengusirnya dari rumah tanpa menunggu Maxiliam pulang.
"Dad, Mom apa kalian tidak kasihan pada ku?"
"Kasihan? Sekarang kau bilang kasihan? Justru aku yang menyesal telah menampung mu di sini. Kau kejam Lili, kau memfitnah Albert padahal kau sendiri yang merencanakannya. Ternyata memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
Jedar
Nyonya Diane terkejut, ia menarik daddy Agam untuk masuk ke dalam.
Lili terus menghubungi Maxiliam, namun sama sekali pria itu tidak mengangkat panggilannya. "Kemana Maxiliam?"
Drt
Lili mengerutkan keningnya saat melihat nomor asing. Ia pun mengangkatnya.
"Lili."
Deg
Tubuh Lili bergetar, jantungnya berdetak lebih kuat. Ia meneguk ludahnya susah payah. "Kau siapa?"
"Jangan pura-pura tak mengenal, aku yakin kau masih ingat dengan suara ku. Bagaimana kabar mu sayang ku?"
“Aku memang tidak mengenal mu,” ucap Lili dengan tegas. Lili menutup ponselnya dan meremasnya. Pria itu kembali lagi padanya, Maxiliam tidak boleh tau tentang masa lalunya.
Ting
Ia membuka ponselnya dan melihat sebuah vidio, dimana vidio itu memperlihatkan dirinya dan seorang pria.
Ting
Kalau kau tak menemui ku di hotel xxx kau akan melihat vidio ini jatuh pada suami mu.
“Argh! Kenapa muncul masalah lagi?” Ia merasa pusing dengan rumah tangganya saat ini.
"Maxiliam dimana dia? Besok aku harus ke kantornya."
Sementara Maxiliam, pria itu masih duduk menunduk menunggu Rosetta dan Javer melihatnya. "Maxi sampai kapan kau akan tetap di sini?" tanya Rosetta.
Maxiliam tersenyum, dia senang Rosetta mau berbicara dengannya. "Aku mohon maafkan aku, berikan aku kesempatan."
"Kau boleh bertemu dengan Javer. Masuklah, dia sedang menunggu mu." Rosetta memutar tubuhnya kemudian di ekori Maxiliam.
"Javer." Maxiliam memeluk Javer dan mencium pipinya. "Sayang maafkan Daddy."
Javer memeluk Maxiliam, Mario mendengus kesal. "Javer sayang, ayo tidur. Ini sudah malam, Daddy akan menemani mu."
"Tidak! Biar aku saja yang menemani Javer."
"Aku ingin menemani Javer, biar aku saja."
Maxiliam mengusap wajah Javer. "Sayang ingin tidur bersama siapa?"
"Om Maxi."
Mario memejamkan kedua matanya, sepertinya ia memang harus mengalah untuk menjadi ayah yang terbaik untuknya. "Baiklah sayang, kamu tidurlah dulu."
Javer tersenyum dan memeluk Mario. "Makasih Daddy."
"Iya sayang. Daddy gendong kamu sampai ke kamar."
Maxiliam tersenyum, akhirnya ia bisa bersama dengan Javer. "Rosetta."
"Sekalipun kau bertemu dengan Javer, kau harus menjaga batasan mu dan jangan terlalu lama berada di sini. Kalau mau tidur, tidur saja di sofa." Rosetta melewati Maxiliam, dia menyusul Javer ke kamarnya.
Maxiliam pun tersenyum, ia yakin suatu saat nanti Rosetta akan menerimanya. "Rosetta, aku yakin, suatu saat nanti kita akan bersama."
Maxiliam berlari ke lantai atas. Dia langsung menuju kamar Javer saat melihat Rosetta masuk sebuah ruangan yang ia yakini kamar Javer.
"Sayang, Mommy dan Daddy keluar dulu. Kalau butuh sesuatu panggil Daddy." Mario mengusap kening Javer dan menciumnya.
...
"Rosetta, apa kau baik-baik saja dengan keberadaannya?" tanya Mario.
Rosetta menggelengkan kepalanya, ia tidak baik-baik saja. Kini ia merasa khawatir dan takut. "Aku kira Javer tidak akan mengingat Maxiliam lagi, tapi ternyata aku salah. Sehebat-hebatnya seorang anak, dia pasti menginginkan sosok ayah dan ibu."
"Aku bersama mu." Mario menggenggam tangan Rosetta.
Rosetta pun tersenyum, Mario memang tidak pernah meninggalkannya, justru dialah dulunya yang menjauh.
Maxiliam menunduk, tadi Javer meminta untuk minum. Ia ingin mengambilnya, namun siapa sangka ia malah melihat Rosetta dan Mario saling menggenggam tangannya.
Ehem
Rosetta melepaskan tangannya. "Max, kau butuh sesuatu?"
"Emm," Maxiliam melihat ke arah lainnya. "Javer ingin minum, aku mau mengambilnya."
Maxiliam melenggang pergi, Mario hanya menunduk dan tak mengatakan apa pun.
"Rosetta, aku mau ke dapur dulu. Aku juga ingin minum"
Mario menatap air bening yang di tuangkan ke gelas itu. Dia membuka kulkas dan mengambil sebotol jus lalu meneguknya. Maxiliam melirik namun ia sama sekali tak ingin berbicara.
"Kapan kau akan pergi?" tanya Mario. "Aku ingin kau secepatnya pergi! Rosetta merasa tan nyaman bersama mu."
"Aku tau, aku akan menjaga batasan ku." Ia yakin, Javer akan membantunya untuk mendapatkan Rosetta kembali.
Mario menarik sebelah sudut bibirnya. "Jangan bilang kau ingin mempengaruhi Javer, sudah aku bilang Javer mau, Rosetta tidak akan mau. Dia sudah terlanjur terluka, o iya bulan depan aku harap kau datang ke pesta pertunangan ku dengan Rosetta."
Maxiliam tak menjawab, ia hanya merasakan kedua telinganya panas dan dadanya panas seperti akan keluar lahar. "Baiklah."
Tetapi ia akan berusaha membuat Rosetta bersamanya. Selama ini ia telah merenungi, ternyata ia menginginkan Rosetta menjadi miliknya.
Keesokan harinya.
Rosetta melihat Mario, dia bangun lebih awal. wajah pria itu berseri-seri.
"Aku akan membantu mu."
Rosetta mengangguk, tidak ada salahnya ia di bantu oleh Mario. Justru ia senang karena pekerjaannya akan selesai.
"Rose kau tidak mungkin menyukai Maxi kan?" tanya Mario. Ia khawatir Rosetta akan menyukai Maxi. "Aku tidak ingin kamu bersamanya."
"Maksudnya aku tidak ingin kamu menderita."
"Tidak mungkin, aku ke lantai atas dulu membangunkan Javer."
Rosetta bergegas ke lantai atas, ia tidak ingin membahasnya lebih lama dan lebih panjang lagi. Ia membuka pintu kamar Javer dan melihat seorang pria yang tidur di sampingnya. "Maxiliam."
Javer terbangun, ia menatap Rosetta. "Mom," ia menoleh saat merasakan ada seseorang di sampingnya. "Daddy."
"Sayang kamu turun dulu, Mommy akan membangunkan Daddy."
Rosett mendekat, saat ia mengguncang tubuh Maxiliam dan memanggil namanya namun pria itu sedikit membuka kedua matanya. "Maxi, bangunlah sarapannya sudah siap."
Maxiliam perlahan beranjak, tubuhnya terasa panas. "Maaf, aku ketiduran. Boleh aku tidur di sini sebentar saja, aku merasa pusing."
Jika tidak di perbolehkan, ia tidak masalah. Ia akan pergi.
"Kau kenapa? Kau sakit?"
"Mommy sepertinya Daddy sakit," ujar Javer.
Rosetta mendekatkan punggung tangannya ke kening Maxiliam. "Badan mu panas."
"Sebentar lagi baikan, sebaiknya kau urus Javer dan Mario. Aku baik-baik saja," ucap Maxiliqm. Jika ia pusing sedikit ia akan menginap di kantornya. Sekalipun Lili tau, wanita itu akan menyuruh sekertarisnya untuk merawatnya. "Aku baik-baik saj."
"Javer sayang, kamu bisa kan mandi sendiri."
"Iya Mom." Javer mengangguk, ia ingin ibunya merawat ayahnya.
"Tunggu di sini." Rosetta mengecek sabun mandi dan bathubnya. Dia pun mengisinya dengan air hangat, lalu ia mengambil sebaskom air dan sebuah kain di dapur.
"Rosetta apa ini? Javer sakit?" tebak Mario.
"Bukan, tapi Maxiliam yang sakit. Kau sarapan dulu." Rosetta melanjutkan langkah kakinya.
Mario tak senang, ia mengikuti Rosetta dan memang melihat Maxiliam membaringkan tubuhnya. "Jangan terlalu memanjakannya Rosetta, dia sudah mempunya istri."