Kematian sang ayah membuat Pandu Mahendra mendaki gunung untuk mencari ketenangan batin dalam bertapa. Alih-alih kesedihannya sirna, pendakian yang dilakukan saat malam Selasa Kliwon itu menelannya dalam entitas gaib yang menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pandu mendatangi acara ngunduh mantu entitas bidadari sebagai mempelai pria!
Lantas bersama sahabatnya, mampukah Pandu keluar dari situasi pelik yang membuka rahasia keluarganya dan menggemparkan seisi rumahnya?
( Wajib baca Suamiku Seorang Ningrat terlebih dahulu untuk mengerti silsilah keluarga Pandu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah terus
“Bagaimana perutmu saat ini? Sakit tidak?” tanya Pandu setelah drama sambel ijo yang pedasnya tiada duanya bagi Dewi Laya Bajramaya berakhir.
“Kalau sakit bilang, nanti aku carikan obat diare.”
Dewi Laya Bajramaya mengelus perutnya. “Perutku bunyinya kluthuk-kluthuk. Kenapa Pandu tidak?”
“Lho, perutku sudah kebal makan sambel. Lagian, Wi. Kalo sambel makannya sedikit-sedikit, jangan langsung sakcomotan. Ya jelas pedes.”
“Kamu tidak memberitahu!”
“Kok jadi salahku!” keluh Pandu. “Aku minta maaf wes, besok-besok aku belikan kamu bubur saja sama sayur sup bening lauk tempe jadi perutmu aman!” pungkas Pandu sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.
Pandu mengamati rumahnya yang akan menjadi penjara Dewi Laya Bajramaya sementara waktu.
“Di sini belum ada kasur, Wi. Mau sewa hotel aku takut di kira macam-macam. Mau pulang ke rumah, gak mungkin. Kita pasti jadi artis.”
“Artis? Kenapa kita jadi artis?”
Dewi Laya Bajramaya tampak mengejan sebelum brettt... brettt...
Pandu tergelak sambil menjauhinya. “Kamu kok frontal banget buang anginnya, Wi. Bau lagi.”
“Perutku kluthuk-kluthuk.” aku Dewi Laya Bajramaya dengan santai.
Pandu kembali tergelak, pasalnya mau bagaimana pun sikap polosnya terdengar seperti lelucon segar yang tidak habis-habis.
“Iya boleh kalau kita berdua. Kalau banyak orang tidak boleh, malu.”
“Kenapa kamu slalu menyebut malu, Pandu? Ada apa dengan malu?”
“Di sini namanya unggah-ungguh, Dewi. Tidak sopan buang angin dengan suara besar seperti tadi walaupun perutmu kluthuk-kluthuk!”
“Terus aku harus bagaimana?”
“Pergi ke tempat sepi!”
Dewi Laya Bajramaya memahami, sebab setiap ucapan Pandu terjadi penjelasan singkat yang terpampang di ingatannya seperti teknologi.
“Terus kenapa kita jadi artis? Apa itu juga tidak sopan?”
“Lama-lama aku jadi guru lho padahal jadi sarjana saja belum.” Pandu menggerutu.
“Artis itu manusia terkenal, sibuk, dicari-cari, ditanya-tanya, pokoknya harus memenuhi keinginan penggemar. Aku tidak mau itu apalagi kamu di kerumunan orang. Belum saatnya. Bahaya.”
“Kalau bahaya kenapa kamu tidak mempunyai prajurit?”
“Memangnya aku ini chairman, CEO? Ayahanda saja hanya punya ajudan satu, masa aku punya prajurit? Ya nggak mampu, Dewi!” Pandu mencubit pipinya.
“Kamu ingat prajuritmu?” Pandu berdehem dengan sorot mata menyelidik.
“Prajurit melindungi kita dari bahaya.” Dewi Laya Bajramaya tersenyum biasa.
Pandu mendengus. “Sudah ayo kita pergi dari sini. Kita ke rumah bapakmu dulu. Walaupun rumahnya tua, perabotannya masih ada.”
Pandu meraih selendang yang tergeletak di lantai seraya menyerahkannya ke Dewi.
“Slalu pakai ini kalo keluar rumah!”
“Pandu sendiri pakai apa?”
“Bajulah, masa enggan.” Pandu nyengir seraya menggendong tas kerilnya. Rupanya petualangan mereka tiada habisnya. Bahkan ketika mereka sudah di dalam mobil, Pandu perlu mengisi bensin, mencari makanan dengan sisa uang yang dimilikinya.
“Apa ini pertanda aku sudah waktunya kerja keras? Kok rasanya waktu terlalu cepat ya.”
Pandu mengusap keningnya, hingga sesampai di rumah Nanang. Petualangan kembali terjadi dengan hati-hati karena mereka sudah berada di pukul sebelas malam.
“Kamu lompat ke dalam.” seru Pandu setelah membantu Dewi Laya Bajramaya naik ke tembok setinggi dua meter. Hebat sekali anak hutan itu karena tidak protes.
Pandu melempar tas kerilnya dengan pasrah karena laptopnya semakin mati total.
Pandu berhasil masuk ke dalam halaman belakang rumah Nanang, rumah eyang Sasmita yang masih rutin dikunjungi oleh pembantu rumah utama untuk di bersihkan.
“Kita tidur sendiri-sendiri ya, Wi. Aku belum berani ambil keputusan tegas untuk kita tidur satu ranjang.” ujar Pandu setelah mendobrak pintu.
Dewi Laya Bajramaya mengamati rumah bapaknya, rumah jadul yang masih terawat dan sudah mengalami beberapa perubahan cat. Dewi Laya Bajramaya tersenyum ketika ruang keluarga menyala.
“Kenapa Pandu tidak bisa tegas?” tanya Dewi, ikut duduk di kursi.
“Ya belum berani saja.” akunya dengan gagap. “Ayahanda belum ada seratus hari wafat, tidak mungkin aku menodai kematiannya dengan tidur bersama seorang wanita.”
“Iya, tapi Pandu tidak pergi-pergi?”
“Maksudmu kabur diam-diam?” tukas Pandu.
Dewi Laya Bajramaya mengangguk.
“Kamu belum apa-apa sudah negatif thinking sama aku! Ngawur... Sudah aku mau mandi duluan.”
Dewi Laya Bajramaya mengiyakan, sabar, dia menunggu sambil berkeliling di dalam rumah bapaknya.
Anak hutan itu menyentuh foto bapaknya, satu-satunya manusia yang dia kenali dengan dekat.
“Kalau ini bapak, apa ini ibu?” Dewi Laya Bajramaya menuju foto Sakila dan ia mengangguk-angguk seolah paham. Dewi kembali menelusuri rumah itu sampai ke ruang tamu.
Dewi Laya Bajramaya memandangi foto Nanang dan Kaysan serta Sultan Adiguna Pangarep Dewi Laya dalam satu bingkai besar. Sorot mata tegas dari tiga pria berwibawa dan misterius itu membuat langkahnya mundur dengan buru-buru sampai menubruk meja.
Kegaduhan yang terjadi di sana membuat Pandu cepat-cepat menyabuni tubuhnya dan mengguyur tubuhnya dengan air.
“Mau mandi saja nggak tenang. Wi... Dewi...”
“Pandu...”
Pandu mengeratkan handuk di pinggangnya seraya ke ruang tamu yang hanya di terangi lampu dari ruang keluarga.
“Kamu kenapa?” Pandu meraih tangan Dewi Laya Bajramaya dan membantunya berdiri.
“Ada apa, kenapa kamu ketakutan? Lihat hantu po?” tanyanya heran.
“Itu... Itu...” Dewi Laya Bajramaya menunjuk foto tadi. “Takut... Takut. Itu galak.”
“Kapok.” Pandu tersenyum geli. “Makanya jangan penasaran sampai ke mana-mana sendiri. Sudah sana mandi!”
“Temani!”
Pandu mengantar Dewi Laya Bajramaya ke kamar mandi tanpa melepas tangannya. Entah seberapa takut mantan bidadari itu karena cengkeramannya begitu erat.
Pandu mengambil handuk di lemari pakaian Jalu Aji yang tidak terbawa ke rumah utama.
“Ini handuknya, aku tunggu di luar.”
“Benar tunggu di sini?” Dewi Laya Bajramaya menunjuk depan pintu. “Jangan ke mana-mana.”
“Iyo-iyo...” Pandu meraih gagang pintu seraya menutupnya. “Buruan mandi, gak usah lama-lama kalau takut!” serunya mangkel.
“Iya.” Dewi Laya Bajramaya melepas pakaiannya. Sementara itu, Pandu mengendap-endap dengan langkah cepat ke arah kamar omnya.
Satu keluarga Nanang masih meninggalkan pakaian di lemari, pakaian-pakaian yang sudah jarang di gunakan.
Pandu menemukan kaus metal milik Nanang yang kerah lehernya sudah pudar dan celana loreng.
“Terus si Dewi pakai baju apa, ya? Kasian dia kalau pakai tunik itu lagi.” Pandu berusaha mencari pakaian mendiang buliknya yang berada di rak bawah.
“Ketemu.” Pandu mendapatkan rok selutut dan kaus rumahan berwarna sama, putih. “Dalamannya nggak usah. Kasian. Biar pakai yang kekecilan itu!” Pandu meringis geli seraya kembali ke depan kamar mandi bersamaan dengan pintunya yang terbuka.
Pandu membelalakkan matanya seraya menjerit histeris melihat bagaimana istri polosnya itu memakai handuk.
“DEWI!!!” Pandu menutup matanya dengan sebelah tangan.
“Dadamu itu di tutup. Jangan kelihatan seperti itu toh, nanti dulu pamernya. Ini pakai bajunya, bungkusnya yang kekecilan itu juga di pakai lagi. Cepat.”
Dewi Laya Bajramaya masuk lagi ke kamar mandi dengan wajah tidak bersalah.
“Aku hanya meniru Pandu memakai handuk. Aku salah lagi mirip Pandu, salah terus.”
Dewi Laya Bajramaya mendengus.
...***...
apa Dewi balik LG kebumi trs hidup LG sama pandu begitu
jadi Dewi ini to yg dilepas sama bapak nya pandu .njur Saiki jadi bojonya pandu Owalh jann..mantab ayah ku jadi istriku ya Ndu