NovelToon NovelToon
Bad Boy Agent

Bad Boy Agent

Status: tamat
Genre:Mata-mata/Agen / Bad Boy / Mafia / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:263.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naya_handa

Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan teman

"Abang lagi apa?" tanya Alya yang melihat David tampak gelisah dengan benda pipih di tangannya. Ia berjalan mondar-mandir di apartemen Alya. Laki-laki itu tidak lantas kembali setelah sarapan bersama dengan Alya.

"Aku nelponin bang Shaka, gak di angkat juga. Aku kirim pesan juga gak di balas. Dia pulang jam berapa semalam ya?" David berbicara dengan nada cemasnya.

"Mungkin bang Shaka lagi istirahat. Dia kan bilang semalam kalau badannya kurang sehat," timpal Alya seraya membawa piring bekas sarapan itu ke wastafel.

"Justru karena itu aku cemas sama bang Shaka. Takutnya sakitnya keterusan. Padahal semalam, sebelum pergi dia terlihat baik-baik aja. Tapi pulangnya dia ngeluh sakit. Hah, jangan-jangan semalam dia jalanin misi sendirian. Apa gak sebaiknya kita ke rumah bang Shaka aja?" tanya David yang menaruh ponselnya dengan putus asa. Sudah puluhan kali ia menelpon Shaka, laki-laki itu tetap tidak menjawabnya.

"Baiknya, kita nunggu dulu bang. Bang Shaka pasti ngehubungi kita kalau ada apa-apa," saran Alya.

David termenung beberapa saat, ia memikirkan benar ucapan Alya dan sepertinya masuk akal.

Di kediaman Shaka, selesai mencuci tangan, dua anak muda kembali ke ruang tamu. Gayatri membuka kotak obat yang semalam diberikan oleh dokter Agung. Ini kotak obat untuk membersihkan luka Shaka. Ia menyisihkan beberapa lembar kasa yang akan ia pakai, juga obat luka dan plester yang sudah ia potong-potong kecil.

“Tiduran dulu,” pinta Gayatri, seraya menepuk bantal sofa yang sudah ia posisikan di dekat pahanya.

“Okey,” dengan senang hati Shaka berbalik, mengambil bantal sofa itu lalu berbaring dan menjadikan paha Gayatri sebagai bantalannya. Gayatri sampai kaget saat kepala Shaka berada persis di atas pangkuannya.

“Di bantal,” titah Gayatri.

Shaka malah menggeleng. "Kepala gue pusing kalau pindah-pinda tempat mulu,” keluh laki-laki itu, beralasan. Tidak ada niatan sama sekali untuk berpindah dan malah bersidekap memeluk bantal seraya memejamkan matanya. Shaka memang keras kepala dan membuat Gayatri hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.

Malas rasanya untuk protes, Gayatri terpaksa mulai membersihkan luka Shaka. Ia melepas satu per satu plester yang menempek di rambut Shaka. Sesekali laki-laki itu meringis pedih saat rambutnya ikut tertarik. Gayatri memperhatikan dahi laki-laki itu yang tampak mengkerut menahan sakit, tetapi tidak protes. Ia ingin memberikan ketenangan pada Gayatri saat membersihkan lukanya.

Gayatri membilas dan menekan-nekan luka itu dengan cairan infusan yang diberikan dokter Agung. Katanya sudah diberi obat juga di dalamnya. Mengusap luka itu menggunakan selembar kasa dan sedikit menekannya agar tidak ada darah dan nanah yang tersisa. Masih ada sisa darah di bekas jahitan, mungkin ini yang Shaka bilang merembes.

“Sakit Ya,” ucap Shaka lirih. Baru kali ini laki-laki ini mengeluh.

“Tahan,” hanya itu timpalan Gayatri.

“Udah pasti. Tolong berusaha lebih lembut ya Ya, sakit banget itu.” laki-laki yang banyak maunya itu memejamkan mata membuat Gayatri memperhatikan wajah tampan itu. Hidungnya sangat tinggi dibingkai rapi oleh sepasang alisnya yang tebal. Bibir tampak kemerahan, sepertinya Shaka bukan seorang perokok.

Merasa tidak ada gerakan dari tangan Gayatri, Shaka pun membuka matanya. Beberapa detik mereka saling bertatapan dan Gayatri tampak kaget. Ia segera melanjutkan untuk membersihkan luka Shaka dan mengalihkan pandangannya dari tatapan lekat Shaka. Sesekali ia menghembuskan napasnya kasar untuk mengusir perasaan yang tiba-tiba tidak menentu, wajahnya sedikit memerah seperti tomat matang, lucu sekali.

Shaka yang melihat raut wajah Gayatri itu, kembali memejamkan matanya, menunggu hingga Gayatri selesai memasangkan ulang kasa di kedua lukanya. Sangat nyaman dan lembut, walau sesekali terasa pedih. Tetapi Shaka tetap menikmatinya sampai mengantuk dan ingin tertidur.

“Bangun, udah beres,” ucap Gayatri mengusik lelap Shaka yang hanya beberapa menit itu.

Cepat sekali pikir Shaka. Padahal ia baru terlelap di atas kedua paha Gayatri yang membuatnya nyaman. “Sebentar lagi,” Shaka belum mau beranjak, matanya pun tidak ia buka.

“Mau bangun sendiri apa gue bangunin?” tantang Gayatri, terdengar serius dengan kata-katanya.

“Bentar lagi Ayaaa…” rengek Shaka.

Gayatri tidak menimpali, ia segera mengambil bantal lalu memindahkan kepala Shaka ke sana.

“Astagaaa… gue bilang kan bentar lagi. Aduuhhh pusingnya….” keluh Shaka sambil memegangi kepalanya. Ia meringis kesakitan.

“Beneran sakit?” Gayatri panik sendiri. Ia memeriksa Shaka dengan seksama membuat wajahnya tepat berada di atas wajah Shaka dengan arah bersebrangan.

Perlahan Shaka membuka matanya, wajah Gayatri benar-benar berada di atas wajahnya. Dahi gadis itu lurus di atas bibirnya, sedikit berkerut seperti membaca air muka Shaka. Shaka sampai menelan salivanya kasar-kasar karena wajah Gayatri itu begitu dekat dengan wajahnya. Gemuruh di dadanya kembali datang saat hembusan wajah Gayatri menerpa wajahnya.

“Udah mendingan, permisi, gue mau bangun.” Hanya itu ujaran Shaka, tidak berani berkata dan berbuat lebih karena jantungnya semakin tidak karuan.

Gayatri pun segera menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya sedia membantu Shaka untuk bangkit. Shaka membuang napasnya pelan-pelan untuk mengurangi sensasi berdebar di rongga dadanya.

Rupanya, hanya Shaka sendiri yang merasakan itu. Gayatri tampak tenang saja. Ia membereskan alat-alat medis itu dan mengemas sampahnya dalam satu plastik kecil yang siap untuk ia buang. Gadis itu beranjak untuk membuang sampah ke dapur dan Shaka hanya bisa memandanginya, bola matanya ikut menatap kemana pun arah laju kaki Gayatri.

"Dada gue kenapa? Apa ini efek obat yang gue minum?" Shaka bergumam sendiri. Lelaki muda itu sampai memeriksa kemasan obat itu, membaca efek sampingnya. Tetapi dada berdebar bukan salah satu efek samping dari obat.

“Setelah ini lo istirahat. Ganti perbannya besok pagi lagi,” suara Gayatri kembali terdengar mendekat.

“Lo mau pulang?” tanya Shaka pada gadis yang mendekat itu. Ada rasa tidak rela.

“Ya lah, gue masih punya rumah.” Gayatri menyahuti dengan dingin. Baginya tugasnya sudah selesai.

“Iya, lo juga istirahat. Sorry ya, udah ngerepotin,” ujar Shaka yang bangkit dari tempatnya lalu menghampiri salah satu sudut dindingnya untuk melepas lakban kecil di ujung lampu hias.

“Lo masih mau beresin ini?” Gayatri urung mengambil kunci motornya.

“Hem, gue sesak kalau ngeliat yang berantakan.” Laki-laki itu menjawab seadanya.

Gayatri hanya menghembuskan napasnya kasar, sepertinya ia tidak bisa pulang sekarang. Tanpa di minta, gadis itu mendekat, mulai melepas satu per satu selotip yang menempel di lampu tanpa berkata apa pun. Shaka menoleh lantas memandangi wajah Gayatri yang terlihat menarik saat terkena pantulan bohlam kecil berwarna-warni itu.

“Katanya lo mau pulang?” tanya Shaka seraya memandangi Gayatri.

“Bisa seminggu kalau lo bersihin semua ini sendiri,” timpal Gayatri dengan ketus, tanpa menoleh sedikit pun.

Tetapi jawaban ketus itu malah membuat Shaka tersenyum. “Thanks,” ucapnya, berterima kasih atas niatan Gayatri untuk membantunya membereskan semua kekacauan ini.

Gayatri tidak menjawab, ia tetap melanjutkan pekerjaannya membersihkan selotip di diding rumah Shaka.

Bagaimana bisa ia meninggalkan orang sakit yang membersihkan rumahnya sendirian?

****

1
Eka Kurnia Sari
kereeennn ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Ya ampun ngakak 😂😂😂
Siti Nina
oke 👍👍👍
Anis Mawati
gayatri sekar ayu
Anis Mawati
kyknya jodohnya galih si alya
Anis Mawati
😭😭😭
Anis Mawati
serang
Anis Mawati
ikut tegang
Anis Mawati
kayaknya dion dech,trus si galih dkambing hitamkan
Anis Mawati
ruwet mikirin benang kusut,ceritanya seru thor
Anis Mawati
kakanya aya jd kmbing hitam perbuatan dion deh kuaknya
Anis Mawati
ikut tegang q thor
Anis Mawati
jangan2 itu yg bunuh rasya
Anis Mawati
pa g da dokter dsana smpai dbwa kedokter hewan
Anis Mawati
motor rasya
Anis Mawati
gayatri saksi meninggalnya rasya
Anis Mawati
muka shaka baby face y thot😁😁😁
Supriyatijunaidi Wicaksono
Luar biasa
Kirana di Nabastala
ceritamu keren banget Thor👍🏾
Kirana di Nabastala
keren bingit kak 😱💪🏾💪🏾💪🏾😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!