📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...
Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 [Berusaha move on]
Diiringi desah tipis, Elea menggigit bibir bawahnya. Keringat yang mengembun menyertai sekujur tubuh yang menggeliat.
Perlahan-lahan kakinya mengejur, dada padatnya kian membusung, wajah yang merona bergairah mendongak dengan tangan-tangan mungil yang meremas ujung ujung bantal di kepalanya.
Bersamaan dengan desah pelan yang mengudara, Elea membelalakkan mata setelah terpejam entah sedari kapan lamanya.
Sejenak Elea terpaku pada langit-langit kamar yang memiliki banyak ukiran. Kamar klasik milik suami di pernikahan ke duanya.
Elea mengusap dahi yang berkeringat. Detak jantung masih begitu kencang. Selayang rasa, ada cairan yang menganak sungai di tubuh intinya.
Ezra, wajah tampan itulah yang barusan hadir memanjakan dirinya dengan sentuhan lembut nan nikmat. Pelan Elea menoleh ke samping, di mana sang suami masih terbaring dengan ketampanannya.
Sial memang. Bodoh dan benar-benar sangat bodoh. Rupanya kehadiran Ezra hanya mimpi, dan mimpi yang sama di setiap malamnya.
Elea mendengus lirih. Sekurangnya ia sadar, mimpi laknatnya berasal dari otak yang selalu mengingat lelaki itu terlebih dahulu sebelum melarutkan diri ke alam bawah sadarnya.
"Maafin Elea, Om," lirihnya. Elea merasa perlu mengucapkan itu. Batin Elea berkhianat dan baginya, itu kesalahan terberatnya selama berhubungan dengan Glans Carlo.
Sepuluh hari sudah Elea menikahi dokter tampan itu, hatinya masih belum beralih dari mantan suaminya.
Selalu ada perbandingan antara Ezra dan Glans. Yang meskipun Ezra tidak lebih baik dari Glans, tetap banyak perilaku yang Elea candui dari lelaki hangat itu.
Sebelum tidur Ezra selalu mengecup seluruh wajahnya. Memeluknya erat hingga rasa nyaman yang dia dapatkan membawanya ke alam mimpi.
Saat dia mimpi buruk, Ezra membangunkan dirinya. Dan bertanya 'kau mimpi buruk Bee?' kemudian pelukan hangat dan usapan lembut di kepalanya dia dapati.
Begitu hangat perilaku sang mantan suami bagi malam-malamnya. Sedang Glans tak melakukan satu pun yang Ezra lakukan padanya.
Sore tadi, lagi dan lagi Glans beralasan. Elea mendengus seraya meraup pelan lekukan wajahnya. Kalau Glans begitu terus, lantas kapan Elea bisa melupakan mantan suaminya?
Elea pernah merasa dicandui, dikagumi, dibuat layaknya wanita tercantik, terwangi, terseksi, termenggoda di dunia oleh Ezra.
Bersama Glans yang sedingin angin di kutub Utara, ia menjadi sendu sepi. Kemarin, cumbu mesra Ezra dia anggap rakus. Tapi, untuk hari ini Elea butuh sentuhan rakus itu, ia candu.
"Aw Aw Om!" Baru menyentuh sedikit pipi Glans, Elea harus mendapatkan pelintiran dari tangan besar lelaki itu. Sakit, hingga Elea meringis dan berkaca-kaca.
"Sayang...." Glans reflek terduduk, lalu menarik tangan Elea yang kesakitan. Glans lupa bahwa di sisinya sudah ada istrinya. "Maaf. Kau baru saja, mengagetkanku."
"Tidak apa. Lain kali, Elea tidur di sofa." Elea beranjak dari selimut, kemudian bertolak ke kamar mandinya.
Glans terdiam nanar. Di lihat dari ekspresi Elea barusan, sudah bisa dipastikan bahwa itu bentuk kekecewaan. "Aku minta maaf."
Di hadapan cermin wastafel, Elea mengangkat maniknya ke atas saat menyeka air yang mengalir di bawah bingkai matanya dengan punggung jemari telunjuk.
Sejauh ini Glans memang perhatian, apa pun yang dia sukai pasti Glans usahakan untuk dirinya. Tapi, untuk akhir-akhir menjelang pernikahan, Glans menunjukkan adanya perubahan sikap.
Elea pikir Glans akan lebih terbuka setelah pernikahan. Rupanya tidak, Glans masih sama dinginnya. Lagi-lagi, Elea terus saja membanding-bandingkan Glans dan Ezra.
"Apa ini yang Arif bilang gagal move on? Kenapa sesulit ini melupakan laki-laki pecundang saja!" Elea menekan keran dengan gesture arogan.
...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....
"Bang Rangga, Om Glans, jangan bercanda ih! Kalian ngapain sih?" Elea berdiri di tengah gelap gulita. Setengah jam lalu, Elea dijemput paksa oleh orang-orang yang katanya suruhan Rangga.
Sepanjang perjalanan mata Elea ditutup kain hitam, dan sekarang ia mulai mencium aroma sedap malam di sekitaran tubuhnya.
Elea tentu mengingat, bahwa hari ini adalah hari kelahirannya. Dan Elea sedikitnya sudah curiga, Rangga atau Glans sedang memberi kejutan padanya.
"Om ... Bang!"
Sekejap, Elea terdiam sambil merasai ada sentuhan seseorang yang membuka penutup matanya. Dan bersamaan dengan itu, kondisi di sekelilingnya berubah benderang.
Seketika Elea terpaku gagu. Bukan Rangga atau Glans. Orang yang pertama kali dia lihat setelah nanar kebiruan di retinanya memudar adalah sosok tinggi tegap Ezra Laksamana.
"K-kau..."
"Happy birthday to you, My wife." Bisikan mesra yang disertai kecupan merangsek di telinganya. Sontak Elea melirik, lelaki yang berdiri memeluk dirinya dari belakang.
"Om..."
Glans tersenyum, seolah tak peduli pada jantung Elea yang masih berdegup kencang karena wajah Ezra barusan. Elea sempat mengira, Ezra yang sengaja membawanya ke sini untuk memberikan kejutan romantis.
"Gimana tempatnya, suka?"
Ludah kembali Elea telan demi menetralisir suasana hatinya. "S-suka."
"Bang Rangga yang membantu mendekorasi villa ini untuk mu." Tempat, yang cukup cantik, banyak bunga sedap malam kesukaan Elea.
"Aku mencintaimu." Kecupan manis Glans terus menghujani pipinya. Dan entah kenapa, ia terus peduli pada lelaki yang memandang dirinya secara nanar.
"Terima kasih."
"Soal semalam, aku minta maaf." Meski sikap manis inilah yang sedari kemarin Elea inginkan. Namun lagi-lagi ia dibuat tak enak hati saat Glans memeluknya erat.
Ada sebentuk kelembutan yang mungkin merasa berdenyut-denyut melihatnya bersama Glans. Ngomong-ngomong...
Untuk apa Ezra berdiri di sini, terdiam di tengah tengah pesta meriahnya? Hingga kini, masih belum terpecahkan pertanyaan batinnya.
"Sekarang tiup lilinnya." Rangga tersenyum, lelaki tampan itu menyodorkan sebuah kue coklat dengan 21 lilin di atasnya.
"Selamat Elea Sayang." Elea menoleh. Dan rupanya Cheryl pun ada di antara mereka, sudah jelas Glans memanggil semua orang untuk memeriahkan pesta ulang tahun yang dibuat khusus untuknya. "Makasih Mam."
"Maaf, Mami juga ajak Eza ke sini. Dia bilang, dia juga kangen sama Galaxy."
"Iya, tidak apa-apa Mam." Elea tersenyum, pilu sebenarnya karena ia bisa melihat kesedihan dan kecemburuan Ezra sekarang.
Di tengah semaraknya orang-orang yang memberinya ucapan selamat. Ekor mata Elea justru kerap mengarah kepada Ezra yang tak berkutik di tempatnya.
^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^
,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.
^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^
"Aku berubah pikiran, Om."
Jimmy memindahkan afeksi matanya yang semula terhanyut pada acara Elea, menjadi fokus terhadap ucapan sang Tuan. "Untuk?" Dirinya tiba-tiba dibingungkan oleh raut sendu Ezra.
"Aku setuju usulan Papi. Aku mau kuliah lagi. Setelah itu. Aku mau menaklukan kursi CEO secepatnya."
Bagi Jimmy, berita ini lebih membahagiakan daripada mendapat runtuhan durian. "Tuan muda yakin?"
"Kalau Elea saja bisa move on setelah kesuksesannya. Kenapa aku tidak? Benar begitu kan?"
Tak pernah Ezra alihkan perhatiannya dari wajah bahagia Elea. Sakit, seolah ada sebilah pisau yang mengoyakkan jantung hatinya.
Senyum manis Elea untuk Glans, berhasil menyadarkan dirinya bahwa ia sudah tidak memiliki kesempatan.
Dua tahun lalu, Elea merayakan ulang tahun bersamanya. Tepat di malam pertama pernikahan mereka, disaksikan taburan bintang bintang. Itu hanya kenangan.
Secara lekat kotak kecil yang sedari tadi hanya digenggam Ezra pandangi. Sebungkus hadiah kecil untuk mantan istrinya, semoga bisa sampai pada si penerima.
"Kita pulang." Ezra meletakkan kotak kecilnya di atas meja berisi kado-kado ulang tahun Elea untuk kemudian bergegas mengangkat kaki dari tempat menyesakkan itu.
"Mari..."
Jimmy mengiringi langkah kaki sang Tuan muda. Dia tersenyum bangga pada anak didik arogannya. Setidaknya, bisa menahan amarah kecemburuan di depan semua orang, sudah termasuk prestasi bagi Ezra.
📌 Maaf, beberapa nopel terakhir yang ku kerjakan up-nya tersendat. InsyaAllah, kalau real life sudah bisa terkendali, akan crazy up seperti lima karya ku terdahulu...