WARNING!!! Harap bijak membaca ya karena bikin panas dingin juga, hehehe
Hans seorang pria biasa yang masih memiliki seorang istri, terpaksa menerima tawaran seorang CEO cantik untuk menjadi suami kontraknya. Ia membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan putri kecilnya yang menderita penyakit kanker, sekaligus untuk memenuhi gaya hidup istrinya yang hedon.
Lantas, bagaimana Hans akan menjalani semua ini? Lalu kenapa sang Nona Ceo memilih Hans sebagai suami kontraknya? Padahal di luar sana banyak pria yang lebih hebat dari Hans.
Yukkkkk ikuti kisahnya yang nano-nano, hehehehe
IG @dydyailee536
FB Dydy Ailee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 Saling cemburu
Hans hanya bisa pasrah membiarkan Raina memakai baju seksi itu. Tentu saja ia tidak bisa melarang Raina, mengingat statusnya dengan Raina. Begitu sampai di klub malam milik teman Raina, Hans terkejut dengan suasana dunia malam yang tak pernah terjamah oleh dunianya sama sekali. Ya, tentu saja pakaian para pengunjung wanita disana sangatlah minim dan sudah dipastikan pengunjungnya adalah para turis manca negara.
"Raina!" seru Cristine, teman Raina, si pemilik klub malam. Raina dan Cristine saling mendekat, keduanya lalu cipika-cipika dan saling berpelukan.
"Congratulation Cristine! Keren banget ini. Cabang keberapa nih?"
"Thanks Rain. Jangan bicara cabang, belum apa-apa kalau dibandingkan dengan milikmu."
"Selalu saja merendah," ucap Raina. Pandangan Cristine tertuju pada pria tampan berwajah kalem disamping Raina.
"Sama siapa?" goda Cristine.
"My bodyguard."
"Bodyguard? Wajahnya kurang garang untuk jadi bodyguard."
"Hans, ini temanku Cristine pemilik klub ini." Hans tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Cristine.
"Saya Hans, Nona."
"Cristine. Senang bertemu denganmu." Cristine menyambut Hans dengan ramah.
"Hans, aku bersama Cristine dulu ya."
"Iya."
"Hans, duduklah! Enjoy ya. Aku pinjam Raina dulu." Kata Cristine dengan santainya. Cristine tidak peduli dan tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi Raina. Meskipun bagi Cristine, ini pertama kalinya Raina membawa pria lain selain Reno sekretarisnya. Hans lalu memilih tempat duduk supaya ia bisa mengawasi Raina dari kejauhan. Tidak masalah bagi Hans, didepan teman-temannya, Raina menganggapnya seperti apa. Karena kesepakatan harus tetap dirahasiakan. Hans bingung harus bagaimana, ia hanya duduk saja sambil melihat banyaknya orang yang bersenang-bersenang menikmati jedag-jedug musik DJ. Dari kejauhan, ada pria bule yanag terlihat seumuran dengannya, menghampiri Cristine dan Raina yang sedang asyik ngobrol. Mereka bertiga saling cipika-cipika. Dan yang cukup membuat Hans kesal, saat tangan pria itu mengelus punggung indah Raina yang terlihat jelas itu. Sementara Raina tampak santai dengan sikap pria bule itu. Raina tampak mesra dengan pria itu. Ada gemuruh sesak dalam batin Hans.
"Kamu tidak mungkin cemburu kan Hans? Ingat istri dan anakmu. Jangan libatkan perasaan." Batin Hans, berusaha menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Pria itu lalu mengajak Raina berdansa. Raina bergoyang menyesuaikan irama musik yang upbeat. Tampak pria itu melingkarkan tangannya pada pinggang Raina dan Raina mengalungkan tangannya pada pria itu sambil meliuk-liukkan badannya. Terlihat Raina tertawa lebar saat bersama pria itu.
"Hans, tenang! Sadar, kamu ini hanya mainan untuk Raina. Dunia mu dan dunia Raina berbeda, sekalipun kalian telah beberapa kali bercinta. Bagi Raina itu tidak ada artinya. Fokus pada istri dan anakmu saja. Fokus Hans!" Batin Hans bergemuruh tidak karuan melihat pria itu membelai wajah dan tubuh Raina seenaknya. Sementara Raina tampak begitu menikmati. Lalu, datanglah pelayan menawarkan minuman. Hanya ada satu minuman waras yang dibawa pelayan itu. Ya, jus jeruk lah yang paling aman di konsumsi oleh Hans. Hans langsung menenggaknya sampai habis. Tiba-tiba ponsel Hans bergetar, ada pesan dari Citra.
<Mas, aku merindukanmu. Ingin sekali memelukmu. Begini rasanya tanpa kamu, Mas. Sepi.>~ Citra. Pesan dari Citra sedikit mengobati hati Hans yang mulai terbakar cemburu.
<Aku juga merindukanmu, sayang. Aku juga ingin menghabiskan waktu denganmu. Tidur dan istirahatlah, aku juga akan pergi tidur.>~ Hans.
<Selamat istirahat, Mas. Sampai bertemu besok.>~ Citra.
<Iya sayang.>~ Hans.
"Citra menjadi perhatian lagi? Apa Ayah dan Ibu menasihatinya? Ya Tuhan, apa yang aku lakukan." Gumam Hans dalam hati sambil memandangi layar ponsel yang berisi pesan dari Citra. Dari kejauhan, Raina memperrhatikan Hans yang sibuk dengan ponselnya. Apa yang Raina lakukan saat ini adalah ingin mengetes perasaan Hans. Berharap Hans memiliki perasaan yang sama. Bukan hanya memiliki tubuh Hans saja.
"Robert, kita istirahat ya."
"Okay." Robert lalu mengajak Raina duduk bersama Cristine. Robert sebenarnya juga teman Raina namun Robert ini penyuka sesama jenis. Jadi Raina bisa memanfaatkan Robert untuk mengetes perasaan Hans. Mereka bertiga lalu bersulang, menikmati pesta malam itu. Lagi, Hans mengepalkan tangannya melihat Robert mengelus punggung Raina. Raina pun sudah mulai mabuk karena ia minum banyak. Apalagi sedari tadi ia memperhatikan senyum Hans mengembang saat melihat layar ponselnya. Raina sudah bisa menebak bahwa itu adalah pesan dari istrinya.
"Ayo minum lagi!" seru Raina sambil mengangkat botol vodka itu.
"Rain, kamu sudah mabuk. Balik yuk! Aku panggilkan Hans ya?" tawar Cristine.
"Nanti saja. Aku mau minum sampai puas."
"Hans? Siapa dia Cristine? Baru kali ini aku mendengar nama itu. Biasanya Reno dan Gita." Robert penasaran.
"Itu pria tampan yang duduk sendirian di pojokan." Ucap Cristine mengarahkan pandangannya pada Hans.
Robert menoleh. "Hmmm pria yang sangat tampan. Bentuk wajah, rahang, hidung, bibir dan tubuhnya seksi. Sempurna." Puji Robert saat melihat Hans.
"Hei, jangan ambil dia. Dia milik Raina." Tegur Cristine.
Robert terkekeh. "Aku bukan tipe orang teman makan teman ya."
"Lihat, Raina sudah mabuk." Kata Cristine. Karena Raina sudah tergelak di pangkuannya. Melihat Raina tak terlihat, Hans mendekat ke meja Raina.
"Hans, syukurlah kamu kemari. Raina mabuk berat." Ucap Cristine yang menunjukkan Raina sudah tak sadarkan diri dipangkuannya.
"Baiklah, saya akan mengajaknya pulang, Nona."
"Sebaiknya memang begitu, Hans." Ucap Cristine. Hans lalu menggendong Raina dan membawa Raina kembali ke resort setelah berpamitan pada Cristine dan Robert.
Sesampainya di resort, Hans segera merebahkan Raina diatas tempat tidur. Di lepasnya sepatu Raina dan diselimutinya tubuh Raina. Malam itu Raina benar-benar tidak sadar karena saking banyaknya minuman beralkohol yang ia minum.
Keesokan harinya, saat Raina terbangun, kepalanya terasa amat sangat berat.
"Oh, sial! Kepalaku berat sekali." Gumamnya sambil memijit keningnya. Pandangan Raina lalu tertuju pada Hans yang masih tertidur di sofa. Raina mendecih kesal, karena merasa Hans menjaga jarak darinya. Pandangan Raina tertuju pada ponsel Hans yang tergeletak di meja, merasa penasaran dengan apa yang membuat Hans terlihat bahagia saat melihat ponsel itu.
"Raina, jangan bodoh! Dia bukan milikmu. Tahan dirimu." Berontaknya dalam hati. Dan tiba-tiba Raina merasa mual. Raina segera berlari menuju kamar mandi, memmuntahkan semua yang ada dalam perutnya. Huek... huek... huek... huek.... Suara Raina muntah, membangunkan Hans dari tidurnya.
"Raina!" seru Hans saat mendapat Raina tidak ada ditempat tidur. Melihat kamar mandi terbuka, Hans menyusulnya.
"Raina, kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil mengelus punggung Raina.
"Aku hanya terlalu banyak minum." Lirih Raina sambil memegangi perut dan kepalanya. Tanpa banyak bicara dan minta ijin, Hans langsung menggendong Raina dan merebahkannya ke tempat tidur.
"Apa kita perlu periksa ke dokter?"
"Tidak perlu Hans. Ini salahku sendiri. Pesankan sup ayam dan jahe hangat untukku ya. Nanti juga reda."
"Baiklah." Hans lalu menelepon Gita untuk memesankan sup ayam dan jahe hangat. Hans, dengan polosnya mengambil minyak angin di kopernya.
"Mau apa Hans?"
"Di oleskan diperutmu, supaya baikan."
"Tapi aku tidak masuk angin."
"Tidak apa-apa. Ini bisa meredakan mual."
"Ya sudah, buka saja perutku." Kata Raina menantang Hans. Hans baru ingat dengan pakaian yang digunakan oleh Raina. Tentu saja Hans harus menaikkan mini dress Raina. Dan sudah pasti itu akan membuat celana segitiga Raina terlihat.
"Mmmm kamu pakai sendiri ya."
"Tidak mau!" tolak Raina. Hans mendengus.
"Baiklah Hans, niatmu baik bukan untuk melecehkannya." Gumam Hans dalam hati. Hans lalu menumpahkan minyak angin itu ketelepak tangannya, kemudian dinaikkannya dress Raina sampai ke perut. WOW, jantung Hans dibuat berdebar melihat paha mulus dan area ternikmat itu. Hans kembali memfokuskan diri mengoleskan minyak angin ke perut Raina.
"Geli, Hans." Raina tertawa kecil sambil menggeliat.
"Sebentar saja, supaya perutmu enakan. Sebaiknya kamu mandi, aku siapkan air hangat."
"Iya."