Series Kedua
Sebelum membaca novel ini hendaknya terlebih dulu baca novel Terjerat Rasa.
Sebuah kisah cinta yang kembali terulang dalam ruang waktu dan jiwa yang berbeda, bertemu kembali merangkai kisah cinta dan mengarungi peliknya kehidupan.
Mutiara Mikha Aditama adalah gadis kalem nan cantik yang tangguh, ia jarang tersenyum karena badai kehidupan itu terlalu kuat mengepungnya.
Akankah ada seseorang yang mampu membebaskan Mutiara dari kepungan badai kehidupan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Semakin perhatian
Malam yang mulai hening itu akhirnya memaksa Mutiara melangkah keluar dari kamarnya. Ia terlihat celingak-celinguk melihat susana rumah dimana pencahayaan ruang lampu yang sudah redup.
"Duh, ini rumah atau hotel sih luas banget!" gerutu Mutiara.
Pertama-tama kali datang kerumah Bastian, karena sangking luasnya, Mutiara pernah tersesat saat ingin menuju garasi mobil yang menuju ruang bawah dan cara menaiki lift canggih di rumah itu, ia terpaksa harus cepat belajar dalam panduan Rosida.
*
Saat Mutiara menekan bel. Pintu ruang kerja terlihat terbuka secara otomatis.
Ia terlihat norak memperhatikan pintu otomatis itu.
"Wah, canggihnya!"
Mutiara pun datang menghampiri Bastian.
"Ruang kerja itu bukan di kamar, semua kan sudah ada tempatnya masing-masing!" celoteh Bastian terlihat jutek.
"Maaf!"
"Duduklah!" perintah Bastian sudah menyiapkan bangku cadangan di sampingnya.
Pria itu pun mulai mengajari Mutiara dengan beberapa tahapan program kerja menggunakan aplikasi sampai ia mengerti.
"Kamu sudah minum obat?" tanay Mutiara.
Bastian menggeleng.
Tidak ingin bicara lagi, Mutiara bangkit berinisiatif mengambilkan obat dan rangkaian vitamin untuk Bastian, lalu mempersilahkan pria itu untuk meminumnya.
"Ini!"
"Aku enggak paham obat yang mana saja!" ucap santai Bastian.
"Hem, Nih anak kelewat manja atau malas, pantas Jin Hui merasa capek banget, gimana cara mendidiknya biar ia bisa lebih mandiri, tapi karena dia memang lagi banyak Pekerjaan, aku bisa memakluminya," batin kesal Mutiara.
"Ini!" senyum manis Mutiara memberikan beberapa obat dan Vitamin (walau hatinya sangat gemes melihat pria itu)
"Aku tidak ingin minum obatnya lagi, perutku sudah baikan, vitamin saja!" pinta Bastian, Mutiara terpaksa memilah kembali kapsul yang ada di tangannya, tinggal dua kapsul yang tersisa, ia pun menyodorkan vitamin itu kepada Bastian, namun pria itu justru semakin terlihat sibuk di depan laptopnya.
"Ini!" ucap Mutiara mulai kesal.
"Apa kamu tidak melihat, kedua tanganku cukup sibuk!" ucap Bastian.
"Astaga, betul-betul kesabaran ini harus diuji, dia beneran tidak bisa menghentikan tangannya sesaat saja!" gumam Mutiara terpaksa menyuapi obat itu ke mulut Bastian beserta air minumnya.
"Sudah, aku mau tidur?" Mutiara, cepat-cepat melangkah keluar dari kamar Bastian.
Pria itu hanya tersenyum-senyum.
*
"Untung dia seorang Bos, jika tidak, sudah aku lipat dua, masukkan lagi ke dalam koper, kirim lagi ke Jerman!" ucap sebel Mutiara
*
Setelah Mutiara keluar dari ruang kerja itu, Bastian mulai mengalihkan jendela kerjanya, melihat foto-foto mereka malam itu.
Bastian bahkan memperbesar wajah Mutiara yang sedang tersenyum riang, memperhatikannya dengan sangat serius.
"Tliiing!" Chat website web Jin Hui yang masih aktif, langsung menyapa Bastian.
"Tuan, sebaiknya kita tidur?" ucap Jin Hui.
"Tunggu sebentar ada yang ingin aku tanyakan!" ucap Bastian mengirim foto Mutiara.
"Apa kau melihat wajah gadis Asia terlihat lebih Muda dari usia mereka?" tanya Bastian.
Sontak Jin Hui tersenyum kecil dan berpikir;
"Begitu banyaknya pekerjaan, ia masih sempat-sempatnya membahasa wajah Mutiara?" gumam Sang Asisten itu.
"Sepertinya begitu Tuan?"
"Karena setau aku, wajah seperti Mutiara ini, seharusnya masih duduk di kelas SMA jika di eropa?" celoteh Bastian.
"Mungkin, karena gadis Asia, khususnya Indonesia lebih senang tersenyum atau mereka suka makan rerumputan?" ucap ngelantur Jin Hui yang terlihat tampak lelah dan sangat mengantuk.
"Rerumputan??" jawab shock Bastian.
"Oh, maksud saya, seperti lalapan begitu Tuan...uaaaaah!" Jin Hui terlihat menguap sedangkan dua bola mata Bastian terlihat masih on fire.
"Apa itu lalapan?"
"Lalapan itu merupakan sayuran mentah, cukup dibersihkan saja tidak perlu dimasak!"
"Ouh, begitu aku pikir ia jelmaan seekor domba yang harus makan rerumputan," ucap geli Bastian.
Jin Hui sudah tidak sanggup lagi menunggu Bastian tidur, ia terlihat sudah terkapar di kamarnya.
*
Pukul 01.03 Bastian baru berhasil merebahkan tubuhnya, namun ia terlihat tidak bisa tidur, cukup gelisah, tubuhnya besar bolak-balik dan sesekali terduduk, masih memikirkan tentang perhatian Mutiara terhadap anak-anak jalanan itu.
"Dia bisa sampai perhatian seperti itu yah?" gumam Bastian lalu terngiang-ngiang dengan keceriaan dan senyum tawa Mutiara.
Bastian menimpa kepalanya dengan bantal agar berhenti memikirkan tentang Mutiara.
*
Keesokan pagi
"Sarapan sudah datang!" teriak Mutiara.
Rosida tidak berani memasuki kamar Bastian selain Jin Hui dan orang-orang yang diberikan izin.
Gadis itu masih memperhatikan Bastian yang masih tertidur pulas.
"Gimana tidak masuk angin, tidurnya saja buka baju."
Sebelum berangkat ke tokonya. Mutiara mematikan AC dan membukakan jendela agar sirkulasi udara di dalam kamar Bastian berganti, lalu ia berjalan mematikan lampu tidur yang ada disebelah kasur Bastian.
Mutiara terkejut saat tangan besar Bastian menarik gadis itu ke atas kasur.
Lalu muncul di hadapannya, seketika gadis itu melindungi area dadanya dan begitu terlihat tegang.
"Ma...mau apa kamu!" ucap gugupnya.
Bastian begitu serius menatap wajah Mutiara bahkan tidak berkedip, ia masih tidak habis pikir mengapa wajah Mutiara lebih muda daripada wajah wanita yang berusia 24 tahun seperti yang sering ia temui,
"Apakah ia menggunakan topeng kulit!" Bastian menyentuh pipi Mutiara.
Sontak Mutiara langsung menolak tubuh besar Bastian.
"Kalau orang lihat akan salah paham!" ucap tegas Mutiara bangkit.
Namun Bastian menarik kembali Mutiara hingga terjatuh ke kasur, pria itu memeluk erat sang gadis bak bantal guling yang lembut.
"Aku masing mengantuk!" ucap manja Bastian.
Jantung Mutiara langsung berdetak cepat dan tidak karuan.
"Bastian apa yang kamu lakukan!"
"Kamu itu kan pacar sekaligus asisten pribadiku, temani aku bobo sebentar saja!"
Mutiara terdiam dan benar-benar kaku, tidak dapat bergerak sedikitpun, jantungnya bergetar hebat.
"Bastian, lepasin!"
"10 menit saja!" rengek Bastian.
Ternyata benar Bastian kembali tertidur sambil memeluk tubuh Mutiara dari belakang.
"Bukankah dia sudah punya kekasih, kenapa dia seperti ini?"
"Apakah hal seperti ini sudah biasa menurut Bastian!" Mutiara terlihat bertanya-tanya dalam jantung yang masih berdetak kencang.
Mutiara terpaksa membiarkan tubuhnya dalam dekapan pemuda itu.
"Jangan Baper Mutiara!" ucap gadis itu.
*
Bastian kembali memakai pakaian kantor.
"Aku sudah terlambat ke toko!" gumam kesal Mutiara berjalan menuju garasi mobil.
Bastian tidak perduli ia justru terlihat sibuk memamerkan sejumlah mobil-mobil mewahnya.
Mutiara lumayan tercengang.
"Mau pakai yang mana?" tanya pemuda itu.
"Pakai yang mana saja yang penting bisa jalan!"
Bastian tersenyum lalu mengeluarkan mobil yang berwarna hitam.
"Ini mobil baru?"
"Yah, baru datang dua hari yang lalu!"
"Ouh!"
"Kamu mau coba nyetir!"
"Nanti kalau ada yang lecet aku enggak bisa bayar!" senyum Mutiara.
Bastian tersenyum.
"Naiklah!" pinta Bastian.
Mutiara pun begitu excited menaiki mobil baru nan mewah itu.
"Kamu suka!" gadis itu mengangguk cepat.
"Beneran enggak lelah, setirnya lembut banget!" ucap senang Mutiara.
"Bisa otomatis nyetir juga, mobil ini nyaman banget buat wanita!" ucap Bastian.
"Antarkan aku ke kantor!" perintah Bastian.
"Loh, bukannya aku dulu?"
"Mobilnya bawa saja, hari ini kamu harus banyak keluar untuk mengurus berbagai macam administrasi dan aku beneran enggak sempat mengantar kamu.
aku juga enggak begitu yakin, kalau menyuruh supir untuk mengantarkan kamu kesana kemari."
"Aku kan bisa pakai mobilku!" ucap Mutiara.
"Mobil kamu yang butut itu, Mutiara jangan biasakan untuk membantah jika aku sedang memberikan yang terbaik buat kamu!" celoteh Bastian mulai emosi membuat Mutiara hanya bisa mengangguk cepat.
"I...Iyah!"
ikut merasa senang dan gembira dengan akhir cerita yang berakhir bahagia, Farel pun akhirnya mnyadari kesalahannya serta mau meminta maaf.
Setiap kehidupan ada hal2 yang harus kita lalui baik ataupun buruk. terkadang kita menanyakan mengapa hal2 buruk harus menimpa diri kita..namun yakinlah setiap kejadian yg kita lalui adalah garis hidup yg harus kita lalui yang mngkin saja memberikan pelangi buat hidup kita kedepannya.
Begitu juga dengan kehidupan Mutiara..yg sedari kecil harus menderita, memiliki ibu yg gila dan ayah yg sudah tiada. Namun berkat doa, jerih payah, usaha, kepintaran dan hati yang tulus menerima semua kehidupannya dengan ikhlas dan sabar semuanya akhirnya berakhir bahagia dan indah untuknya
Tentunya banyak hal yg dapat kita petik dari novel ini seperti ttg kasih sayang seorang nenek dan Bunda Adinda kpd cucu dan anaknya. Serta ketulusan hati mutiara dalam mnjalani kehidupannya
Terima kasih Kak Mai atas novelnya..ditunggu utk novel berikutnya.
Tetap semangat, sehat selalu dan sukses utk karya2nya...🙏
ini adiknya Mutiara akan seumuran sama anaknya dong 🤭🤭🤭
semoga bs mngikuti jejak Bastian dan Mutiara 🤭🤭
jgn kalah lahh..coba dekatin Tiffani
itulah buah dari kedengkian dan keserakahanmu..
dan alhamdulillah semua happy ending dengan pasangan'y masing", trimakasih banyak buat ka'Sarah yang telah membuat karya luar biasa ini banyak hikma yang di petik dari kisah MH banyak pelajaran hidup terutama PERJUANGAN, SABAR juga Keikhlasan... jangan menyerah dengan ke ada'n di saat qita berasa dalam titik terendah selalu berserah diri dan berpasrah kepada Allah...
trimakasih banyak ka'sarah di tunggu lagi karya" hebat mu tetep semangat dan sehat selalu ya🤗🤗🤗🥰🥰🥰🥰