Aneh bukan? Tapi kembali lagi, hati manusia tidak bisa dipaksakan. Karena cinta merupakan keikhlasan, tak ada paksaan atau pun pelampiasan. Semuanya murni dari kesucian hati yang paling dalam.
Kita tidak bisa menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Semua terjadi dengan sendirinya, namun tetap dalam kendali Sang Pencipta.
Ada saatnya berjuang dan diperjuangkan. Tugas kita hanyalah memantaskan diri sesuai dengan apa yang diharapkan, karena jodoh merupakan cerminan diri. Namun, jika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, maka yakin itulah yang terbaik. Bisa jadi, jalan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.
Pencipta maha tahu, apa yang sebenarnya lebih kita butuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun 33
Kami makan bersama di dalam ruangan tersebut. Sebenarnya aku ingin segera pulang, akan tetapi, rentenir itu menahanku untuk menemaninya. Yah, mau tidak mau aku harus menurut. Masalah yang lalu masih membekas ketika rentenir itu membuat hutangku berbunga karena perlawanan dariku.
"Nikmatilah hidangannya," katanya dengan lembut.
Aku masih bertanya-tanya mengenai perubahan sikapnya. Aku akui, semenjak menginap di apartemen tidak ada lagi provokasi keluar dari mulutnya. Lembut dan mudah senyum adalah tambahan dari perubahan pria di depanku.
Dengan malu-malu aku mulai menyantap makanannya. Meskipun caraku makan tidak berubah, masih belepotan seperti biasanya. Mau bagaimana lagi, itu kebiasaanku yang sulit untuk ku ubah. Tapi, bukan berarti tidak bisa. Aku akan berusaha sedikit demi sedikit.
Sesekali mataku melirik rentenir itu makan dengan sikap elegannya. Caranya menyuap dan mengunyah berbanding dengan diriku. Tidak bisa dipungkiri, kalau pria di depanku ini memang pantas menyandang sebagai pemimpin, di luar sikapnya yang menjengkelkan. Pancaran kharisma, menambah pesonanya.
"Ainun," panggilnya tiba-tiba.
Kediamanku buyar seketika. Aku mengangkat pandanganku, menatapnya langsung, menunggu kalimat selanjutnya. Namun tangan pria tersebut mengambil selembar tissue dan memajukan tubuhnya mengusap bibirku menggunakan benda tersebut.
DEG!
Senam jantung dimulai. Aku terpaku dibuatnya, seketika wajahku kembali memanas.
"Danish!" panggilan seorang wanita membuat kami terkejut dan serentak menoleh.
"Friska," bisikku.
Dengan segera rentenir itu kembali ke tempatnya semula. Aku melihat Friska menatapku dengan tajam. Wajahnya seperti menyimpan rasa terkejut, cemburu dan kesal yang amat dalam. Aku yang ditatap seperti itu pun, menelan ludah gugup. Wanita itu berjalan mendekat.
"Apa aku mengganggu kalian? Sepertinya aku datang diwaktu yang salah." ucapnya dengan getir sembari memandangku bergantian dengan rentenir itu.
"Sejak kapan kamu datang?" tanya balik pria di depanku.
Berada di situasi seperti ini, sungguh tidak mengenakkan. Rasanya aku ingin segera menghilang dari hadapan mereka berdua. Aku hanya diam, tidak tahu harus berbuat apa.
"Itu tidaklah penting. Aku hanya datang membawa makan siang untukmu," sembari menyodorkan kantongan yang berisi kotak makan rentenir itu.
"S-sebenarnya ak-"
Tiba-tiba wanita itu memotong kalimatku, "Maaf, aku tidak sedang berbicara denganmu." Friska memandangku bagaikan musuh. Ucapannya halus namun menusuk dan menyakitkan. Aku hanya bisa menelan ludah, mengurungkan niat untuk menjelaskan semuanya.
"Aku sudah makan," kata rentenir itu.
Friska mengangguk pelan. Kantongan yang masih menggantung di tangannya segera di simpan di atas meja. Ada guratan kecewa terpancar dari wajahnya. Aku yang melihat itu, dengan cepat mengalihkan pandanganku pada dinding kaca. Situasi semakin tidak bersahabat.
Harus bagaimana? Aku tidak mau Friska salah paham kepadaku.
Friska berpamitan, "Kalau begitu, aku akan pulang. Aku harus segera ke rumah sakit."
"Lutfi akan mengantarmu," sambung pria di depanku.
"Tidak perlu. Aku membawa mobil sendiri," sergahnya dengan cepat.
Rentenir itu mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah."
"Terima kasih," ucapnya kemudian berbalik untuk segera pergi. Namun, sebelum melangkah Friska kembali menatapku dengan tajam. Tidak ada senyum di wajahnya untukku seperti yang diberikan kepada rentenir itu.
Sepeninggal Friska, aku juga segera berpamitan. Aku butuh udara segar untuk menenangkan pikiranku. "Kalau begitu aku juga ingin pamit, sebentar lagi pergantian shift di cafe," kataku memberi alasan sembari mengambil tas.
"Secepat itu?" tanyanya.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang," ucapnya.
Hah! Mengantarku pulang? Lalu Friska kekasihnya? Kenapa dia tidak menawarkan diri untuk mengantar?
Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak usah repot. Aku akan memesan taksi," tolakku.
"Baiklah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Aku tersenyum gugup. "Insya Allah, tidak akan terjadi sesuatu."
Aku beranjak dari dudukku dan melangkah untuk pergi.
"Tunggu!"
Aku yang mendengarnya segera berhenti.
Apa lagi, sih!
Rentenir itu berdiri dan mendekat. Dia menyodorkan ponselnya. "Berikan nomormu."
Aku mematung sejenak menatap ponsel yang menggantung di tangannya sebelum mengambil dan mengetikkan deretan angka di dalamnya. Aku memberikan nomorku tanpa komentar sedikit pun.
"Terima kasih. Aku sudah menghubungi nomormu, simpanlah. Ingat, hubungi aku jika kau memerlukan bantuan," ucapnya dengan penekanan disetiap katanya.
Aku mengangguk dan segera keluar dari ruangan tersebut.
.
.
.
.
.
Terima kasih banyak kepada Readersku yang masih setia dengan Novel AINUN 🤗 semoga semuanya dalam keadaan sehat wal Afiat Aamiinn😇
Terus berikan dukungan kepada AINUN dengan meninggalkan jejak like Comment dan VOTE ok
AINUN yakin bahwa readersnya adalah orang yang baik dan pastinya pengertian 🤗
Salam
AAH♥️
trnyata lutfii orang nyaa