NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:959.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Classic Story

“Petunjuk tentang apa?” Mia yang sudah mengumpulkan kesadarannya, segera terduduk. Dia beranjak dari tempat tidur, lalu berdiri menghadap Adriano.

“Dengar, Mia. Apakah Matteo pernah bercerita tentang ke mana saja dia memperjual-belikan senjatanya? Siapa saja orang yang dia percaya untuk mendistribusikan senjata itu?” tanya Adriano. Pertanyaan yang serius, tapi dia sampaikan dengan nada bicara yang terdengar lembut.

Mia berpikir sejenak. Dia menggeleng pelan. “Setahuku, Theo tak memiliki banyak teman. Tak semua orang bisa dekat dengannya. Untuk perdagangan senjata, Theo hanya mempercayakan hal itu pada anak buahnya yang merupakan orang-orang dari dalam Klan de Luca,” jawabnya.

“Lalu, bagaimana dengan yang di luar klan?” tanya Adriano lagi.

“Sepertinya tidak ada,” jawab Mia yakin. “Theo tidak pernah mempercayai orang-orang di luar lingkarannya. Karakter Matteo sangat mirip dengan Miabella. Tidak semua orang bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan mereka. Hanya orang-orang yang dipercaya dan dia kehendaki saja, yang bisa mendekatinya,” terang Mia sambil membungkuk dan membelai rambut Miabella yang masih terlelap.

“Apakah itu artinya Miabella percaya dan sayang padaku?” Rasa haru muncul di sudut hati Adriano. Pria bermata biru itu tersenyum simpul.

“Sepertinya, memang begitu,” sahut Mia tersenyum manis padanya. Membuat Adriano salah tingkah, dan memilih mengalihkan perhatian pada Miabella.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengurus berkas-berkas yang dibutuhkan untuk kita semua, sebelum berangkat ke Amerika. Kau masih belum memiliki visa Amerika kan?” Adriano memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

Mia menggeleng, “Aku baru sempat pergi ke Yunani. Selain itu, tidak tidak pernah ke mana-mana lagi. Dulu, Theo pernah berjanji untuk membawaku keliling dunia. Namun, belum sempat keinginan itu terlaksana, dia telah terlebih dulu ....” Mia tak melanjutkan kata-katanya.

“Kau ingin keliling dunia?” tanya Adriano tak menanggapi ucapan terakhir Mia.

“Entahlah.” Mia menunduk dalam-dalam. “Aku sama sekali tak tahu lagi akan apa yang kuinginkan untuk saat ini, selain menemukan pembunuh ayah dari putriku," jawabnya pelan.

“Aku akan membawamu keliling dunia. Suatu saat nanti. Jika kasus kematian Matteo telah sepenuhnya terpecahkan, maka aku akan membawamu dan Miabella ke manapun yang kalian inginkan,” ujar Adriano yakin.

Mia mengangkat wajahnya. Dia memandang Adriano penuh arti. “Terima kasih, Adriano. Aku harap itu bisa menjadi sesuatu yang bisa mengobati semua rasa sedihku. Aku ingin mengalihkan perhatian dari semua hal yang telah terjadi. Kau tahu? Pertama kali merasakan kehilangan, saat aku masih balita. Aku sama sekali tak dapat mengingat sosok ibu kandungku. Kata ayah, dia wanita asli Italia. Cantik bagaikan bidadari. Ayahku mengatakan, ibu adalah wanita paling sempurna dalam hidupnya. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena ibu kandungku meninggal dunia.”

Adriano tampak sangat tertarik mendengarkan cerita Mia. “Lalu?” tanyanya seraya menopang dagu. Adalah hal yang luar biasa bagi pria rupawan itu, saat mengetahui jauh lebih banyak, segala hal tentang wanita pujaan hatinya.

“Butuh beberapa tahun bagi ayah, untuk melepaskan bayang-bayang ibuku sebelum memutuskan melangkah ke depan. Saat berumur sepuluh tahun, ayah mengajakku pindah dari Kota Milan ke Venice. Di sana, ayah membangun kehidupan baru dan bertemu lagi dengan cinta yang baru. Ayahku menikah untuk kedua kalinya dan hidup bahagia selama bertahun-tahun, sampai ....” Mia menggantungkan kalimatnya dan menatap Adriano sendu.

“Apa?” tanya Adriano.

“Sampai ibu tiriku meninggal. Setelah itu, ayahku seakan tak memiliki semangat hidup. Itulah kehilangan keduaku, Adriano. Masih ada kehilangan-kehilangan berikutnya.” Mia tersenyum getir.

"Sebelum menikahi Matteo, aku memutuskan untuk menikah dengan seorang pemuda baik hati bernama Valentino. Akan tetapi, saat resepsi pernikahan kami berlangsung, terjadi tragedi yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Suami dan ayahku meninggal ditembak oleh orang tak dikenal. Pada akhirnya, terungkap bahwa orang-orang tersebut adalah suruhan dari Antonio, pamannya Matteo. Dari sanalah, penyakit gangguan kecemasanku berawal." Setitik air mata terjatuh di sudut bibir Mia.

“Setelah itu, aku menikah dengan Matteo dan ....” Mia menarik napas panjang, lalu terdiam untuk sesaat. “Aku merasakan kehilangan lagi,” ucapnya kemudian. “Adriano, aku merasa semua orang yang berada di dekatku akan pergi. Terkadang, aku berpikir lebih baik hidup menyendiri. Menjauh dari semua orang. Dengan begitu, aku tak perlu merasakan pedihnya ditinggalkan.”

“Namun, kau akan merasa kesepian. Kadangkala, kita dihantam dengan kesedihan dan kehilangan bertubi-tubi, untuk membuat kita semakin bersyukur dan menjaga sepenuh hati atas apa yang kita miliki saat ini. Percayalah, Mia. Tak ada yang abadi di dunia ini, sekalipun itu kesedihan. Semua akan berlalu. Kau akan mendapatkan bahagiamu.” Punggung tangan Adriano mengelus lembut pipi Mia. Merasakan halus kulit yang selalu menghiasi mimpi pria itu tiap malamnya.

Adriano memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada Mia. Sedikit lagi, bibir mereka akan bersentuhan. Namun, suara pintu kamar Miabella yang terbuka tiba-tiba, membuat Mia segera memundurkan badan.

Valerie menyembulkan kepalanya dari balik pintu sambil meringis. “Hei! Pengawal mengatakan kalian sedang berada di sini,” ujarnya.

Adriano mendengkus kesal, seraya menatap tajam pada sang adik angkat. "Memangnya ada apa?” tanya pria itu ketus.

“Aku ingin memberikan gelang ini pada anak kecil itu.” Valerie menunjukkan gelang paracord berwarna pelangi, sambil menggoyang-goyangkannya.

“Anak kecil itu memiliki nama. Miabella,” sahut Adriano dengan suara pelan tertahan.

“Ah, ya. Miabella. Nama yang lucu dan menggemaskan. Matanya begitu mirip dengan Matteo de Luca. Baiklah. Ini.” Valerie maju beberapa langkah, lalu menyodorkan gelang itu kepada Mia.

“Sebagai permintaan maafku, karena kemarin telah bersikap kasar padanya,” jelas Valerie.

“Terima kasih banyak, Val.” Mia menerima gelang itu penuh haru. Tak dia kira sebelumnya, bahwa Miabella akan mendapat begitu banyak cinta dari orang-orang di sana.

“Itu bukan apa-apa, Mia. Akan tetapi, kau harus ingat perjanjian kita kemarin,” tegas Valerie sembari menunjuk tepat kepada Mia.

“Tentu saja.” Mia tersenyum simpul.

Sedangkan, Adriano merasa keheranan.

“Perjanjian apa? Apa yang kalian rahasiakan dariku?” selidik Adriano.

“Tanyakan pada istrimu nanti,” jawab Valerie seraya berlalu dari kamar Miabella.

Karena tak mendapatkan jawaban dari Valerie, Adriano kembali menoleh kepada Mia. “Bisakah kau jelaskan padaku?” pinya pria rupawan itu memasang wajah lucu. Membuat Mia tergelak melihatnya. Dia sudah akan menjawab, ketika terdengar dering ponsel Adriano.

Dengan segera, pria itu memeriksanya agar Miabella tak terganggu dengan suara ponsel tadi. Nama Sergei tertera di layar. “Ada apa lagi?” tanya Adriano tanpa basa-basi.

“Kau tadi mengatakan bahwa kau tak akan datang jika tak diundang secara langsung. Sekarang, kuberikan yang kau minta. Lusa, Don Vargas mengundangmu secara langsung. Kartu undangannya akan kukirimkan nanti siang. Aku harap, kau tak mengembalikan orang suruhanku dengan tanpa nyawa seperti tempo hari. Ingat, kau wajib datang . Ajak juga istri barumu!” ucap Sergei dari seberang sana, lalu mematikan teleponnya begitu saja.

“Kurang ajar! Tidak punya sopan santun!” umpat Adriano pelan. Baru saja dia mengakhiri pembicaraan dengan Sergei, sebuah panggilan telepon kembali masuk. Nama Arsen Moras muncul sebagai pemanggil. Sejak kepulangannya dari Yunani, mereka belum sempat bertukar kabar lagi. “Parakalo,” sapa Adriano sambil mengusap rambutnya ke belakang.

“Adriano. Aku sedang dalam perjalanan menuju mansionmu. Sekitar sepuluh menit lagi, aku akan tiba di sana. Perintahkan pada penjaga pintu gerbang agar dia mengizinkanku masuk tanpa harus menjalani banyak pemeriksaan. Oh, aku benar-benar lelah,” ucap pria tampan itu tanpa jeda. Membuat Adriano seketika menautkan alisnya.

“Untuk apa kau datang ke Monaco?” tanya Adriano heran.

“Redomir mengirimkan undangan padaku. Dia mengatakan agar aku menghadiri jamuan yang diadakan oleh Don Vargas. Aku harus membatalkan acara kencanku kali ini. Menyebalkan!” terang Arsen diiringi keluhan. “Ah, aku sudah berada di depan mansionmu,” lanjutnya.

“Baiklah. Aku akan memerintahkan penjaga untuk langsung membuka gerbang,” balas Adriano seraya menutup sambungan telepon. Perhatian pria itu kini kembali pada Mia yang masih berdiri menatapnya. “Aku harus ke depan dulu. Temanku dari Yunani baru saja tiba di sini." Selesai berkata demikian, Adriano beranjak keluar dari kamar Miabella. Dia bergegas menuju bagian depan mansion.

Benar saja, Arsen baru keluar dari dalam mobil. Entah mobil milik siapa, karena tak berselang lama sedan berwarna hitam itu kembali melaju meninggalkan halaman mansion milik Adriano.

Jabat tangan dan pelukan hangat, membuka pertemuan mereka. Adriano segera mengajak sahabatnya tersebut untuk masuk. “Kenapa tak memberitahuku sebelumnya?” Pria bermata biru itu mengajak Arsen duduk bersama.

“Kau tahu bukan seperti apa Redomir? Dia sangat menyebalkan!” sahut Arsen dengan seringai kecil di wajah tampannya.

“Jadi, kau juga mendapat undangan dari Don Vargas?” tanya Adriano. Dia menekan sebuah tombol sebelah kursi yang didudukinya.

“Ya. Apa kau juga mendapatkannya?” Arsen balik bertanya.

“Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengenal pria itu. Namun, Redomir bersikeras agar aku menghadiri jamuan yang diadakannya. Aku juga tak mengerti kenapa dia begitu berhasrat untuk memperkenalkanku pada Don Vargas,” jelas Adriano. Sekilas, dia menoleh pada seseorang yang baru muncul di sana.

Olivia berdiri sambil menatap kedua pria tampan tadi secara bergantian. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

“Katakan pada kepala pelayan agar segera menyiapkan kamar untuk Tuan Moras. Dia akan menginap di sini selama beberapa hari. Jadi, pilihkan kamar tamu yang bagus untuknya,” titah Adriano.

“Baik. Apakah hanya itu, Tuan?” tanya Olivia lagi dengan polosnya.

“Siapa namamu, Nona?” tanya Arsen dengan senyum menggoda. Membuat Adriano hanya dapat menggaruk keningnya. Arsen memang tak bisa menahan diri setiap kali melihat gadis cantik.

“Olivia, Tuan,” jawab gadis berambut hitam itu biasa saja.

“Ow, Olivia. Namaku Arsen,” ujarnya menggoda.

Olivia menatap pria itu untuk sejenak. “Lalu?” tanyanya. Setelah itu, dia segera berpamitan dan berlalu dari sana. Meninggalkan kedua pria tadi.

Arsen terperangah atas sikap Olivia padanya. Sementara, Adriano hanya mengulum senyuman, menyaksikan adegan menggelikan tersebut.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!