NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Nana sempat mengira ia bisa melupakan ketukan jari Albert.

Ternyata sepanjang hari, suara apa pun yang berirama membuatnya berhenti sebentar. Pisau memotong daun bawang, air hujan menetes di bingkai jendela, kepala pelayan mengetuk pintu dengan ruas jari, semuanya mengingatkannya pada tiga ketukan, jeda, lalu dua ketukan.

Ia tidak memberi tahu Stella.

Bukan karena tidak percaya. Justru karena Stella terlalu percaya pada Paman Albert.

Pagi tadi, Stella sempat berkata sambil merapikan vas bunga di ruang tengah, "Kalau Paman Albert ada, Papa biasanya tidak terlalu keras. Dia seperti tiang yang membuat rumah ini tidak roboh."

Nana hampir mengatakan bahwa tiang juga bisa menyembunyikan retak di balik cat baru. Tapi ia menahan diri. Di Rumah Besar Sie, orang baru tidak berhak meragukan orang yang sudah dipuja terlalu lama.

Sore harinya, Nana mendapat tugas membantu menyiapkan makan malam keluarga. Tidak semua orang hadir, kata kepala pelayan, tapi peralatan tetap harus lengkap. Di Rumah Besar Sie, kursi kosong pun diperlakukan seperti orang penting.

Nana berdiri dekat meja samping, siap menuang teh.

William duduk di kursi utama. Tamara di sebelah kiri, Stella di dekatnya. Lusia datang terakhir dengan gelang yang berdenting pelan. Albert duduk di sisi kanan William, wajahnya tenang seperti tidak ada tekanan Victoria Wan, tidak ada kontrak pelabuhan, tidak ada gudang lama yang membuat semua orang kurang tidur.

Satu kursi masih kosong.

Nana tahu milik siapa tanpa bertanya.

"Koko Steven tidak makan di rumah?" tanya Stella.

William meletakkan sumpit. "Dia tahu jam makan."

Lusia tersenyum tipis. "Mengetahui dan peduli itu dua hal berbeda."

Stella menunduk ke piringnya.

Nana menuang teh untuk Tamara. Tangan Stella yang biasanya lincah tampak diam di pangkuan.

Pintu ruang makan terbuka ketika sup baru disajikan.

Steven masuk dengan kemeja gelap yang kerahnya terbuka, jas tersampir di bahu, dan rambut yang belum benar-benar kering. Ada aroma parfum mahal bercampur asap rokok tipis. Ia terlihat seperti orang yang baru pulang dari tempat yang tidak ingin disebut di meja keluarga.

"Maaf terlambat," katanya tanpa terdengar menyesal.

William menatap jam dinding. "Duduk."

Steven duduk di kursi kosong. Ia tidak menyentuh sup. Matanya melintasi meja, berhenti sekejap pada Nana, lalu berpindah seolah ia tidak mengenalnya.

"Semalam juga pulang larut?" tanya Lusia lembut.

"Kalau Bu Lusia mencemaskan kesehatanku, aku terharu."

Sendok Stella berhenti.

Lusia tertawa pelan. "Aku mencemaskan nama keluarga ini. Anak muda konglomerat mabuk di lounge hotel selalu lebih laku daripada berita bisnis."

"Kalau begitu harusnya Papa berterima kasih. Aku membantu public exposure."

"Steven," suara William rendah.

Steven mengangkat bahu. "Baik. Aku diam."

Ia benar-benar diam. Justru itu membuat ruangan semakin tidak nyaman.

Nana menunduk, tapi telinganya menangkap semua. Di pasar, orang yang terlalu sering bercanda biasanya sedang menyembunyikan luka atau pisau. Pada Steven, Nana belum tahu yang mana.

Tamara mencoba mengalihkan pembicaraan. "Paman Albert, soal audit independen tadi siang, siapa yang menurutmu cukup netral?"

Albert menyeka bibir dengan serbet. "Ada firma lama di Jakarta. Tidak terlalu besar, tapi bersih. Mereka pernah menangani sengketa distribusi tanpa takut tekanan."

"Kalau mereka bisa dibeli Victoria?" tanya William.

"Semua orang bisa dibeli," jawab Steven tiba-tiba.

Semua mata menoleh kepadanya.

Steven mengambil gelas air. "Bedanya cuma harga. Kalau kita sibuk mencari pihak yang tidak bisa dibeli, kita akan kalah waktu. Cari pihak yang kalau dibeli, kerugiannya lebih besar daripada uangnya."

Hening.

Albert tersenyum. "Pendapat yang menarik."

"Aku sedang mabuk public exposure. Jangan dianggap serius."

William menatap putranya. "Lanjutkan."

Steven memutar gelas di antara jarinya. "Victoria Wan tidak butuh gudang lama. Gudang itu cuma pintu masuk. Yang dia cari jadwal pengiriman tiga bulan ke depan. Kalau dia tahu kapal mana yang membawa barang prioritas, dia tidak perlu membeli pelabuhan. Cukup bikin dua kapal tertahan, satu vendor panik, dan bank akan ikut gelisah."

Nana tidak paham seluruhnya.

Namun ia melihat Tamara menegakkan punggung. Albert berhenti tersenyum setengah detik. William tidak berkedip.

Stella menatap kakaknya seperti melihat seseorang yang lama hilang lalu muncul di meja makan.

Lusia memecah hening dengan tawa kecil. "Hebat. Kalau saja kepintaran itu dipakai sebelum jam dua pagi."

Steven meletakkan gelas. "Jam dua pagi orang jujur tidur. Orang yang tidak jujur bekerja. Aku belajar dari mereka."

Nana hampir mengangkat kepala.

Kalimat itu terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak boleh diucapkan.

William berkata, "Kau tahu sesuatu?"

"Aku tahu supnya sudah dingin."

"Steven."

"Papa mau aku serius atau mau aku tetap jadi anak gagal yang nyaman disalahkan?" Suara Steven tetap datar, tapi meja itu terasa retak. "Pilih satu. Jangan serakah."

Stella berbisik, "Koko..."

Steven berdiri.

"Terima kasih makan malamnya."

Ia belum makan apa pun.

William tidak memanggilnya kembali. Mungkin karena marah. Mungkin karena ada terlalu banyak orang di ruangan itu.

Steven berjalan keluar. Saat melewati meja samping, sikunya menyenggol sendok kecil. Sendok itu jatuh. Nana refleks menangkapnya sebelum menyentuh lantai.

Steven berhenti.

Untuk satu detik, mata mereka bertemu.

Di mata itu tidak ada mabuk, tidak ada malas, tidak ada pria yang baru pulang dari lounge hotel. Yang ada hanya kewaspadaan tajam, sama seperti orang yang sedang menghitung pintu keluar.

"Tanganmu cepat," katanya pelan.

Nana menggenggam sendok itu. "Saya hanya tidak mau lantainya kotor."

"Alasan yang bagus."

Ia pergi.

Setelah pintu tertutup, Lusia mengembuskan napas. "Lihat? Inilah alasan orang luar tidak boleh terlalu berharap pada Steven."

Tamara tidak menjawab. Stella menunduk. William mengambil sumpitnya lagi, tapi tidak makan.

Albert yang pertama kali bicara.

"Anak itu selalu membuat orang lupa bahwa ia mendengar lebih banyak daripada yang ia katakan."

Nada Albert lembut, hampir sayang.

Namun Nana melihat tangannya.

Kali ini tidak ada ketukan.

Justru karena tidak ada, Nana merasa lebih gelisah.

Malamnya, saat mengantar piring kotor ke dapur, ia melihat sesuatu terselip di bawah meja samping, dekat tempat Steven berdiri tadi. Bukan sendok. Bukan serbet.

Secarik kertas kecil, terlipat dua.

Nana memungutnya sebelum kepala pelayan melihat.

Di atasnya hanya ada satu baris tulisan cepat.

Jangan percaya audit itu.

Jantung Nana turun ke perut.

Audit itu ide Paman Albert.

Kertas kecil itu tidak punya nama, tidak punya tanda tangan. Bisa saja jebakan. Bisa saja Steven yang sengaja menjatuhkannya. Bisa juga seseorang lain memakai nama Steven untuk membuat Nana curiga. Namun tulisan itu terselip tepat di tempat sikunya tadi menyenggol sendok.

Nana melipatnya lagi, lebih kecil, lalu menyembunyikannya di balik jahitan kantong seragam.

Malam itu, suara tiga ketukan dan dua ketukan kembali terdengar di kepalanya, bersahutan dengan kalimat pendek di kertas itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!