Krystal, gadis berusia 22 tahun terpaksa menikah dengan kakak iparnya sendiri karena sebuah surat wasiat, yang kakak kandungnya tinggalkan satu hari sebelum dia meninggal.
Mau tidak mau, Krystal menerimanya meski sebenarnya hatinya menolak.
“Berpura-pura lah menjadi istriku. Dan tanda tangani surat perjanjian kontrak ini. Tapi, kamu harus ingat, jangan sampai jatuh cinta padaku.” Bara Alfredo.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Jangan sampai kamu tergoda dan jatuh cinta padaku, Kakak Ipar.” Krystal Alexander.
Akan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka yang tidak di dasari dengan perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 033
"Bagaimana keadaanya, Dok?" tanya seorang pria yang baru saja membawa Krystal ke ruangan pemeriksaan.
"Dia baik-baik saja. Selamat istri Anda hamil. Dan kehamilannya memasuki usia ke empat minggu" ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
"What? Hamil? Gimana bisa!" pekiknya tidak terima.
Dokter tersebut menautkan alisnya bingung. Bukankah pria yang ada di depannya ini adalah suaminya? Kenapa dia terkejut mendengar istrinya hamil.
"Anda suaminya, bukan? Tentu Anda tahu wanita bisa hamil karena—"
"Dia adikku!" potong pria tersebut yang tak lain adalah Tristan.
Dokter meneguk ludahnya kasar lalu meminta maaf karena sudah salah mengira kalau Tristan adalah suami Krystal.
"Maafkan saya, Tuan. Saya pikir Anda suami nona ini," ucap dokter menundukkan wajahnya. "Saya akan memberikan resep obat dan vitamin untuknya. Tolong segera di tebus."
"Hmm, terima kasih."
Setelah memberikan secarik kertas pada Tristan, dokter tersebut langsung pamit pergi dari sana.
Meninggalkan Krystal dan juga Tristan.
Tristan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Krystal. Dan apa yang pria itu lakukan, membuat Krystal terbangun.
"Kak ... kamu disini?" Krystal hendak bangun namun di tahan oleh Tristan.
"Tiduran saja. Tidak perlu bangun. Kamu butuh istirahat." Tristan duduk di tepi ranjang lalu mengusap puncak kepalanya. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Krystal mendongak, menatap Tristan yang juga sedang menatapnya. "Mau tanya apa?" ucapnya menelan saliva mya susah payah.
Perasaan Krystal mulai tidak enak. Apalagi melihat perubahan raut wajah Tristan. Satu bulan tidak bertemu, membuat Krystal rikuh berhadapan dengan kakak tertua yang berbeda satu tahun usianya dengan Berlian.
"Siapa yang sudah menghamili adikku ini, hum. Katakan!" seru Tristan memicingkan mata curiga.
Pasalnya, selama ini Tristan tahu kalau Krystal hanya dekat dengan Jimmy. Mungkinkah pri itu yang menghamilinya?
"A–apa kamu bilang, Kak? Hamil?" matanya melebar sempurna. Memang benar Krystal terlambat datang bulan. Namun, ia sama sekali tidak menyangka kalau ia hamil. "Kakak pasti bercanda, kan? Mana mungkin amu hamil."
Krystal tersenyum samar. Mengingat kembali kapan terakhir kali ia dan Bara melakukan itu.
"Nggak! Ini nggak mungkin! Aku nggak mau hamil, apalagi anak dari pria yang paling aku benci!" gumam Krystal dalam hati.
****
Di tempat yang berbeda, Liam tengah di sibukkan dengan tingkah Bara. Yang tiba-tiba ingin memakan mangga muda yang dipetik langsung dari pohonnya.
"Tuan, ini sudah malam. Kenapa Anda tega meminta saya naik pohon itu. Kalau saya jatuh bagaimana? Saya belum menikah." Liam terus memohon. Tapi, sepertinya Bara tidak mempedulikan itu.
"Sekarang ya, sekarang! Kamu tahu 'kan aku tidak suka di bantah!" sentak nya membuat Liam membelalak menatapnya. "Kenapa? Kamu mau menolak perintahku?"
Liam menggeleng. Sungguh, ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tuan nya. Apa pria itu kesambet?
Pandangan mereka berdua teralihkan saat melihat Rose masuk ke dalam ruangan menenteng plastik di kedua tangannya.
Liam bernafas lega. Beberapa menit lalu ia langsung menghubungi Rose dan meminta bantuannya.
Di belakang Rose juga ada Violet, gadis itu menampakkan senyuman paling manisnya saat bertemu Bara.
"Kamu boleh pergi," ucap Rose pada Liam.
"Baik, Nona. Saya titip tuan Bara," bisiknya lirih sebelum melangkah pergi dari sana.
Rose mengangguk, lalu beralih menatap Bara yang terlihat kesal melihat kedatangannya dan juga Violet.
"Bara, aku–" kalimat Rose terhenti saat melihat Violet sudah lebih dulu menghampiri Bara dan duduk di samping sepupunya itu.
Mereka memang terlihat akrab sejak kecil. Jadi, tidak heran jika sampai sekarang Violet menunjukkan kemesraannya dengan Bara.
"Masih mual?" tanya Violet pada Bara.
"Sedikit."
Violet mengambil satu kantong plastik yang ada di tangan Rose. "Aku bawa mangga muda langsung dari pohonnya. Setelah tahu kamu mau ini, aku memetiknya. Iya 'kan, Rose?"
Rose memutar bola mata dengan malas. Jelas-jelas kalau dia lah yang memetiknya. Kenapa tiba-tiba Violet mengatakan hal yang berbeda?
"Ada yang aneh!" batin Rose.
Bara sama sekali tidak terlihat risih. Apalagi sejak tadi Violet terus menempel padanya. Bahkan melayaninya dengan baik.
"Vio, bisa buatkan Bara kopi? Biasanya jam segini dia minum itu," kata Rose melirik Bara yang nampak tak mengerti maksudnya.
Lalu dengan cepat, Rose melayangkan tatapan tajam seraya mengode Bara.
"Buatkan aku kopi," ucap Bara.
"Baiklah, tunggu di sini sebentar. Aku akan segera kembali." Rose beranjak dari sana menuju ke dapur.
Suasana di sekitar Bara dan Rose terasa hening. Hingga Rose membuka suara lebih dulu. "Krystal sudah menghubungimu?"
"Belum," jawab Bara.
"Bodoh, kamu tidak merindukannya? Lio juga?"
Bara melipat kedua tangan di depan dada lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku bahkan tidak punya nomor ponselnya. Bagaimana bisa aku menghubunginya."
"Hah? Maksud kamu—"
"Aku lupa bertukar nomor ponsel dengannya," jawab Bara santai.
Rose menepuk jidatnya. Geram melihat ekspresi datar Bara.
"Kamu bisa meminta padaku atau orang tuamu, bodoh!" kesalnya.
"Tidak sempat. Aku terus saja mual. Efek asam lambung naik," ucap Bara. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mual dan juga muntah yang membuatnya mengeluarkan semua isi perutnya.
Dan anehnya, semua rasa mualnya menghilang saat Bara melihat semua foto Krystal yang ada majalah yang beberapa saat lalu ia lihat.