Bacaan khusus dewasa (***)
Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.
Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.
Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.
Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.
Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memaafkan
💥Tidak semua orang memiliki kesempatan kedua, ketika kau mendapatkannya maka lakukanlah sebaik mungkin💥
"Mas apa-apaan sih ?" sungut Ameera saat Awan menariknya masuk ke dalam kamarnya, lalu ia menghempaskan tangan pria itu.
Ada perasaan trauma sekaligus takut saat berada di kamar kekasihnya tersebut, ia mengingat bagaimana pria itu sudah merenggut kesuciannya dengan paksa.
"Ku mohon Meer jangan takut padaku." mohon Awan saat melihat wajah Ameera yang mulai memucat.
"Jangan pergi dariku dan menjauhiku, aku bisa gila dan mati jika kamu melakukan itu. Aku minta maaf atas perbuatanku dan aku sangat menyesal." imbuhnya lagi bersungguh-sungguh.
Ameera nampak menatap mata Awan, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu tapi sepertinya ia tak menemukannya.
Melihat Ameera terdiam menatapnya, Awan langsung meraih kedua tangannya lalu menggenggamnya.
"Tolong beri aku satu kesempatan, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku." ucapnya bersungguh-sungguh.
"Mas nggak bohongkan ?" lirih Ameera pada akhirnya.
"Nggak sayang, aku janji." sahut Awan dengan tegas dan itu membuat Ameera menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." Awan langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya, sungguh ia sangat bahagia saat ini meski jalan mereka ke depan tidak akan mudah.
Beberapa hari sejak itu hubungan Ameera dan Awan mulai membaik dan mereka tetap menyembunyikan hubungannya dari teman-teman kantornya.
Awan juga tidak pernah bersikap agresif seperti sebelumnya, ia benar-benar menghormati kekasihnya tersebut tanpa menyentuhnya yang berlebihan.
"Meer, ambillah belilah apapun yang kamu mau." Awan nampak menyerahkan sebuah ATM miliknya pada Ameera siang itu.
"Buat apa Mas ?" Ameera menatap card tersebut tanpa berniat mengambilnya.
"Ambil meer, mulai hari ini uangku juga uangmu." Awan langsung meletakkan ATMnya tersebut di atas meja Ameera.
"Nanti kalau aku pakai banyak belanja bagaimana ?" ucap Ameera yang bermaksud menggoda sang kekasih.
"Nggak apa-apa, belanja sebanyak yang kamu mau." sahut Awan.
"Kalau ku pakai untuk mengirim orang tuaku ?" tanya Ameera lagi.
"Bagus malahan aku sangat setuju." sahut Awan tanpa ada rasa keberatan.
"Terus kalau isinya habis bagaimana ?"
"Ya nggak apa-apa, aku akan bekerja lebih keras lagi dan sepertinya nggak akan pernah habis jadi kamu jangan khawatir." sahut Awan meyakinkan yang langsung membuat Ameera tersenyum padanya.
"Becanda Mas, lagipula tabungan ku lebih dari cukup untuk keperluan ku sendiri dan orang tuaku juga masih mampu kok." ucapnya seraya mengembalikan card tersebut.
"Nggak apa-apa pegang aja." Awan enggan menerimanya.
"Aku nggak mau mas." tolak Ameera, ia masih mengingat nasihat sang ibu jika ia di larang menerima pemberian seorang pria apalagi berupa uang.
Karena di balik pemberiannya tersebut pasti ada maksud tertentu, ya meski pria itu sudah pernah melakukannya sebelumnya.
"Ya sudah buang sampah aja kalau nggak mau." Awan terlihat kesal, kemudian berlalu ke kursi kerjanya.
Melihat Awan merajuk Ameera nampak menelan salivanya. "Mas, kamu marah ?" ucapnya menghampiri pria yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.
Namun bukannya menjawab, Awan justru menarik Ameera hingga kini duduk di pangkuannya.
"Mas..." Ameera meronta, namun Awan langsung memeluknya dari belakang.
"Ku mohon begini aja sebentar." lirih Awan hingga membuat Ameera berhenti meronta.
"Aku merindukanmu." imbuhnya lagi sambil meletakkan dagunya di bahu Ameera.
Ameera menahan napasnya, saat merasakan tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan.
"Nanti ada yang melihat, mas." tukasnya kemudian dengan nada khawatir.
"Biarkan saja." sahut Awan.
"Mas, aku masih ingin kerja." mohon Ameera.
"Cium dulu kalau begitu." goda Awan yang langsung membuat Ameera memutar tubuhnya menatap kekasihnya tersebut.
"Jangan macam-macam, mas." rutuknya.
"Cuma cium sayang." Awan nampak memasang wajah memelas.
Ameera menghela napasnya pelan, kemudian mengecup pipi pria itu.
Cup
"Sudahkan ?" ucapnya kemudian.
"Kamu seperti mencium bayi saja." gerutu Awan, kemudian ia langsung memegang tengkuk Ameera lalu m3lum4t bibirnya.
Ameera terpekik karena terkejut, namun lum4t4n Awan di bibirnya membuatnya tak berdaya pada akhirnya.
Pria itu menciumnya dengan sangat lembut hingga membuatnya terbuai lalu ikut membalas ciumanannya meski sedikit kaku.
Kini mereka nampak saling m3lum4t dan mencecap satu sama lainnya, mereka terlihat begitu menikmati pertukaran saliva dengan mata saling terpejam.
Tak berapa lama, Awan segera melepaskan panggutannya saat merasakan hasratnya mulai naik.
"Maaf." ucapnya sembari mengusap sudut bibir Ameera yang basah, ia harus mengakhiri sebelum dirinya khilaf dan berbuat lebih jauh.
"Aku harus kembali bekerja." sahut Ameera sembari beranjak dari pangkuan Awan, namun pria itu sepertinya tak semudah itu melepaskannya hingga ia terduduk kembali setelah tangannya di tarik.
"Kamu marah, hm ?" tanya Awan menatap Ameera.
Sedangkan Ameera menggelengkan kepalanya.
"Aku janji tidak akan berbuat lebih dari tadi, hanya itu caraku mengekspresikan perasaanku. Aku bukan pujangga yang bisa memberikan mu untaian kata romantis, aku hanya pria kaku yang hanya bisa....." Awan belum menyelesaikan perkataannya tapi Ameera sudah meletakkan telunjuknya di bibirnya.
"Aku percaya mas dan aku sayang sama mas." sela Ameera menatap Awan.
"Terima kasih." Awan merasa menjadi pria yang paling beruntung, kemudian ia langsung membawa Ameera ke dalam pelukannya.
Ia jadi semakin bersemangat untuk memperjuangkan cintanya, baginya gadis itu adalah tujuan hidupnya sekarang.
"Kamu lapar ?" tanya Awan kemudian.
"Hm." angguk Ameera, ia segera beranjak setelah Awan melepaskan pelukannya.
"Ayo ke kantin, makanlah sesukamu aku yang akan akan membayarnya nanti." tukas Awan yang ikut beranjak juga.
"ATM mu kan ada sama aku." Ameera menunjukkan ATM yang baru ia ambil dari atas meja.
"Itu kamu simpan saja, aku masih ada ATM lain." sahut Awan seraya mengajak Ameera keluar dari ruangannya.
Tak lupa mereka juga mengajak Rangga agar teman-teman kantornya tidak mencurigai.
Sesampainya di kantin Ameera duduk bersebelahan dengan Awan dan berhadapan dengan Rangga.
"Makan yang banyak Meer, ku lihat badanmu makin kurus. Sini ku suapi." Rangga nampak menyodorkan sesendok makanan pada Ameera dan tentu saja membuat Awan langsung meradang.
"Kamu cari mati, Ga ?" lirihnya bernada ancaman.
"Aku kan cuma membantu akting kalian biar sukses." sahut Rangga tanpa perasaan bersalah.
"Sialan, bisa-bisanya dia cari kesempatan." gerutu Awan, ingin sekali ia menendang pria itu dari hadapannya.
"Hai, boleh aku gabung." tiba-tiba Viona langsung mendudukkan dirinya di hadapan Awan.
"Duh mesranya jadi iri aku." imbuhnya lagi saat melihat Rangga sedang menyuapi Ameera.
"Mas Awan mau juga ku suapi tapi cuma kue bolu ?" tawar Viona seraya menunjuk dua potong bolu di piring kecilnya.
"Boleh." sahut Awan yang berniat ingin membalas kekasihnya tersebut.
Mendapatkan lampu hijau, Viona nampak bersemangat. Ia langsung mengambil kue bolunya lalu menyuapkannya ke mulut Awan.
"Gimana mas, enakkan ?" tanyanya kemudian.
"Lumayan." sahut Awan, lalu menatap Ameera.
Namun ia langsung menelan salivanya saat gadis itu melotot menatapnya.
"Duh mati aku." gumamnya, padahal ia hanya ingin membalas Ameera yang sudah membuatnya cemburu.
Tak lama kemudian ia langsung berteriak saat merasakan pahanya di cubit dengan keras oleh kekasihnya tersebut.
"Mas Awan kenapa ?" Viona nampak terkejut saat Awan tiba-tiba berteriak nyaring.
"Sepertinya pahaku di gigit semut." dusta Awan sembari meringis kesakitan.
Viona terlihat kasihan, sementara Rangga nampak menahan kekehannya.
"Aku sudah selesai makan." ucap Ameera seraya beranjak dari duduknya
"Aku juga." timpal Rangga ikutan berdiri.
Awan yang melihat itu mau tak mau juga ikutan berdiri meski makanannya belum habis.
"Sayang, kenapa aku di tinggal ?" protesnya saat mengejar Ameera, kini mereka baru masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa suruh ganjen." sungut Ameera.
"Aku kan cemburu kamu di suapi sama Rangga." protes Awan lagi.
"Tapi kan mas tidak harus membalasku, mas tahu sendirikan aku sama Rangga itu sahabatan sudah seperti saudara, lagipula niatnya dia kan buat membantu hubungan kita. Sedangkan Viona sudah jelas ada hati sama kamu, itu sama saja kamu memberikan dia kesempatan." rutuk Ameera sedikit kesal.
"Iya sayang, aku yang salah. Maaf ya." mohon Awan dengan wajah memelas.
"Hm, awas saja kalau nanti ganjen lagi sama Viona atau perempuan lain." sahut Ameera dengan nada ancaman.
"Iya, sayang. Iya, nggak lagi."
"Nggak bohong ?"
"Nggak sayang, nih cek ponselku kalau nggak percaya." Awan mengambil ponselnya di saku celananya lalu memberikannya pada Ameera.
"Boleh ?"
"Tentu saja." sahut Awan dan dengan senang hati Ameera langsung mengambilnya, karena sejak lama ia juga ingin mengetahui dengan siapa kekasihnya itu berhubungan.
"Baiklah, aku ke ruangan pak Mario dulu. Kalau ada telepon angkat saja." Awan segera mengambil laporan di atas mejanya lalu bergegas pergi.
Sementara itu Ameera nampak asyik duduk di kursinya sambil memeriksa ponsel Awan.
Tidak ada yang mencurigakan menurutnya, semua pesan yang masuk hanya berhubungan dengan pekerjaan dan itu membuatnya sedikit tenang.
Namun saat ia akan membuka galeri tempat penyimpanan foto, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk.
Kemudian ia membukanya dan saat membacanya ia langsung tercengang.
"Nak, kamu jadikan minggu ini pulang. Mama ingin mengenalkan gadis yang kemarin mama ceritakan."
tinggal saja laki laki sampah itu merra
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/