NovelToon NovelToon
Pernikahan Di Atas Kertas

Pernikahan Di Atas Kertas

Status: tamat
Genre:Romantis / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Naik Kelas / Tamat
Popularitas:199.8k
Nilai: 5
Nama Author: Reny Etrora

Reyna gadis yang sederhana tidak pandai bergaya dan tak banyak teman. Dia hidup bersama ayahnya yang sangat dicintainya. Kegiatan sehari-harinya menjual nasi uduk dan macam-macam gorengan untuk membantu ayahnya agar tidak terlalu lelah bekerja sendian mencari nafkah. Namun sebuah kejadian tragis menimpah ayahnya. Kecelakaan itu tak dapat dihindarkan. Ayah Reyna sekarat dan pria rentah itu sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa pergi tenang meninggalkan putrinya sendirian. Ayah Reyna meminta Pram bertanggung jawab telah menabraknya dengan menikahi putrinya. Ancaman dari ayah Reyna membuat Pram terpaksa menikahi gadis yang tidak ia cintai.

Pernikahanpun terjadi namun hanya pernikahan di atas kertas. Kedua tidak saling mencintai. Pertengkaran selalu mewarnai pernikahan mereka. Pram selalu bermain dengan banyak wanita. Sedangkan Reyna selalu merasa kesepian. Perlahan cinta itu hadir diantara keduanya. Namun pengkhiatan datang menjadi malapetaka. Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang baru saja memutik? Apakah Reyna akan menemukan kebahagian dalam pernikahannya? Apakah Pram mau menerima Reyna sebagai istrinya? Dapatkah keduanya menciptakan cinta kembali dalam pernikahan mereka? Yuk ikutin kisah Reyna & Pram menyusuri lautan Pernikahan Di Atas Kertas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangat Menyebalkan

"Shera sayang. Kamu kemana saja sih? Mama panik banget nyariin kamu. Kan sudah mama bilang kalau mama belum jemput jangan kemana-mana" ujar Reyna kesal namun ia juga merasa sangat lega karena putri tercintanya telah kembali kepadanya.

"Tadi Shera lupa jalan pulang ma. Untung ada om baik yang mau nganterin Shera kesini. Itu omnya disana ma" racau Shera menggemaskan seraya menunjuk ke arah Pram.

Reyna tersentak kaget menatap tak percaya. Sudah 6 tahun setelah hari itu. Kini Pram ada di depan matanya. Begitupun dengan Pram. Keduanya tidak bergerak seperti patung. Memandang tanpa suara.

"Pram" sapa Reyna dalam hati.

"Reyna" pekik seorang pria dari arah belakang Pram.

Sontak Pram langsung berbalik badan dengan perasaan curiga. Walaupun samar tapi ia masih mengenali suara itu. Mata Tama membelalak tak menduga. Teman remaja yang sudah ia khianati kini ada di hadapannya lagi setelah 6 tahun tidak bersua. Tenggorokan Tama seakan tercekik membuatnya mengeluarkan kata. Ia tidak dapat berkata apa-apa. Begitupun dengan Pram, ia hanya membisu seraya menebak sembarang.

"Shera sayang kamu sudah pulang?" lanjut Tama menghampiri Shera dan Reyna.

Refleks dahi Pram mengernyit. Ia semakin curiga. Reyna dan Tama tampak saling melempar senyum tipis. Tak ingin semakin memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan, Pram pun segera pergi.

"Pram" gumam Reyna memandang dalam punggung lebar Pram.

"Mama ayo kita pulang" ajak Shera membuyarkan lamunan Reyna.

"Oh iya. Ayo kita pulang sayang" sahut Reyna tersenyum canggung. Ia melirik Tama sebentar sebelum melangkah pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, Reyna hanya diam. Pikirannya melayang entah kemana.

"Apa yang kamu pikirkan? Tidak biasanya kamu diam gini?" tanya Tama membawa Reyna keluar dari lamunannya. "Reyna, kamu mendengarkanku?"

"Hahh iya...aku dengar. Hmm aku hanya...aku gak mikirin apa-apa kok. Aku cuman lagi malas ngomong saja" ucap Reyna salah tingkah.

Tama mengepal buku tangannya. Ia geram dalam hati. Sikap diam Reyna pasti ada kaitannya dengan Pram. Tama sangat yakin, Reyna sedang memikirkan Pram.

...---------------...

Pram membaringkan dirinya di kasur. Matanya memandang kosong langit kamarnya. Ia kepikiran dengan pertemuan tadi siang. Takdir apa lagi ini? Kenapa ia harus bertemu dengan Reyna lagi di hari pertama ia kembali ke Jakarta?

"Shera. Apa itu anak mereka? Hah" Pram membuang nafas penat. "Jadi mereka sudah menikah?" sambungnya tersenyum miring.

Pram beranjak dari kasurnya keluar kamar. Ia pergi ke dapur untuk mengisi tenggorokannya yang terasa kering. Namun saat ia meneguk air putihnya, wajah Reyna yang tersenyum pada Tama tiba-tiba muncul di kepalanya. Seketika Pram melempar gelas di tangannya. Ia mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambut hitamnya. Pram marah dengan dirinya sendiri. Usahanya selama 6 tahun ini hancur dalam sekejab.

Pram pergi kemana selama ini?

Apa yang dilakukannya?

Kenapa baru muncul sekarang?

Kalimat tanya itu semakin kencang berlarian di kepalanya. Reyna sangat penasaran. Ia ingin sekali menanyakan langsung. Namun mata abu kekuningan itu masih menyimpan kebencian. Ia tidak akan berani menatapnya dari jarak dekat. Kenangan itu terlalu menyakitkan bagi Pram dan tidak pantas untuk di maafkan.

"Kamu kemana saja? Apa kamu masih membenciku? Masih marah padaku?" _Reyna_.

Mobil Pram berhenti tepat di depan toko yang menjual makanan dan minuman ringan. Setelah memarkirkan mobilnya, Pram langsung masuk ke dalam untuk membeli minuman.

"Ini satu mbak"

Pram menegakkan kepalanya. Ia tidak mendengar suara ketikan yang biasanya terdengar saat mau membayar barang yang dibeli.

"Berapa mbak?"

Pram tercengang. Begitu juga wanita di depannya.

"Berapa harga minumannya?" tanya Pram canggung. Wanita di depannya adalah mantan istri yang mengkhiati cintanya.

"Lima belas ribu" jawab Reyna lembut. Ia kemudian menurunkan pandangannya. "Bagaimana kabar kamu?" tanya Reyna memberanikan diri sembari menunggu Pram mengeluarkan uang dari dompet.

"Kembaliannya ambil saja" Pram memberikan pecahan uang kertas lima puluh ribu dan langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Reyna.

Reyna mengambil pecahan uang di laci kemudian menyusul Pram.

"Tunggu dulu" cegat Reyna namun Pram tetap berjalan pura-pura tidak mendengar.

Reyna pun sedikit berlari begitu melihat Pram sudah keluar dari toko.

"Pram tunggu" panggilnya lagi sambil membentangkan tangan di hadapan Pram. "Ini kembaliannya" lanjutnya menyodorkan uang.

"Kamu tidak dengar hah? Saya bilang ambil saja" mata Pram menyipit kecil. "Saya tidak mau menyentuh barang yang sudah kamu sentuh"

"Apaan sih cuman uang doang, ribet banget. Ambil uang ini. Aku tidak mau" Reyna memaksa memasukkan uang ke dalam saku celana Pram.

Sontak hal itu membuat Pram kaget. Ia pun berusaha menghindar agar Reyna tidak memyentuhnya. Tingkah Pram yang kekanak-kanakan semakin membuat Reyna geram. Perkara uang kembalian saja jadi ribet begini.

"Kamu yang apaan. Ini termasuk pelecehan seksual karena kamu memaksa menyentuh saya tanpa izin. Kamu mau saya laporkan ke polisi hah? Hei" teriak Pram seraya meliuk-liukkan tubuhnya agar Reyna tidak berhasil meraih sakunya.

"Berisik banget" Reyna menarik leher Pram lalu mendekatkan bibirnya ke wajah Pram dan mensejajarkan bibir mereka.

"Kalau aku melanjutkan ini. Itu baru namanya pelecehan" ujar Reyna tepat di depan bibir Pram yang hanya berjarak senti saja. "Hah...ini uang kamu ambil" sambungnya menarik tangan Pram lalu meletakkan uang di telapak tangan pria seksi di depannya.

Reyna pun masuk kembali ke dalam toko meninggalkan Pram yang masih membeku di tempatnya. Sapuan nafas Reyna di wajahnya khususnya di area bibirnya barusan berhasil membuat hatinya berdebar tak karuan.

"Apa dia sedang menggodaku?" gumam Pram tersenyum tipis dan berlalu pergi.

Hahh

Reyna membuang nafas panjang. Dadanya lebih plong sekarang. Ia senang bisa melihat Pram lagi.

"Aku sangat merindukan kamu Pram" ucap Reyna menggeleng cepat kepalanya. "Hahh syukurlah kamu baik-baik saja"

Tama memainkan kepalan tangannya. Wajahnya bergetar marah. Setelah tahun berlalu, hati Reyna tidak berubah sedikitpun. Apa yang ia lihat beberapa menit yang lalu menjawab semuanya. Reyna begitu agresif saat bersama Pram. Dan kaku ketika bersamanya. Tama menghantam keras stir mobilnya sambil berteriak kesal sebelum akhirnya meninggalkan toko tempat Reyna bekerja.

"Apa aku selamanya tidak punya kesempatan untuk menetap di hati kamu, Reyna" _Tama_.

...--------------------...

Pagi ini setelah mengantar Shera ke sekolah, Reyna langsung pergi ke toko seperti biasanya. Ia bekerja penuh semangat hari ini. Senyumnya mengembang menyambut para pembeli yang datang. Keceriaannya semakin bertambah seiring kedatangan pembeli yang semakin banyak. Reyna merasa aneh. Hari ini yang datang ke toko lebih banyak dari hari sebelumnua. Ia bahkan sampai kelelahan karena jari-jarinya tidak berhenti mengetik dari tadi. Hingga datanglah satu pembeli yang ditunggu sedari pagi.

"Beli ini saja?" tanya Reyna tersenyum ramah.

"Hmm. Berapa?" balas Pram singkat. Ia tampak enggan memandang Reyna.

"Lima puluh ribu"

Pram memberikan pecahan uang pas lima puluh ribu dan langsung pergi. Namun tiba-tiba ia berbalik mendekati Reyna.

"Oh ya hari ini akan ada kejutan. Bersiap-siaplah"

Reyna berdecak bingung. Ia tidak mengerti apa yang Pram katakan. Baru saja ia mau bertanya namun Pram sudah menghilang dari hadapannya. Hari berangsur kelam. Reyna pun segera bergegas menutup toko.

"Kok tumben bu Farah kesini" ucap Reyna membidik matanya dalam pencahayan minim memastikan wanita berumur empat puluhan di depannya benar bu Farah bosnya sekaligus pemilik toko tempatnya bekerja.

"Malam Reyna" sapa Farah ramah.

"Malam bu. Kok tumben bu Farah kesini. Ada apa ya bu?"

Farah menyodorkan amplop putih kepada Reyna.

"Apa ini bu?" Reyna bingung sambil mengambil amplop putih itu.

"Ini gaji kamu sekalian bonusnya. Saya juga menambahkan untuk gaji kamu dua bulan ke depan" ujar bu Farah semakin membuat Reyna bingung.

"Maksud bu Farah saya dipecat?"

Farah mengangguk pelan.

"Kenapa bu? Sayakan tidak buat salah apa-apa. Kenapa tiba-tiba saya dipecat bu?"

*Malam kemarin....

"Jadi gimana bu Farah? Anda terima tawaran saya?" tanya Pram menyilangkan tangannya di dada.

Pram menjanjikan akan membayar hutang-hutang Farah. Dan akan memberi modal pada tokonya yang hampir bangkrut karena terlilit hutang. Pram juga berjanji akan menyelesaikan permasalah hukum yang sedang mendera suami Farah. Semua itu akan Pram berikan jika Farah bersedia memecat Reyna. Kesepakatan itu tentu saja sangat menggiurkan. Farah tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Masih banyak yang mau bekerja. Tidak sulit baginya mencari pengganti Reyna*

Reyna berjalan goyah menyusuri tepian aspal. Ia bingung harus bagaimana. Zaman sekarang tidak mudah mendapatkan pekerjaan tetap. Ia berdiri tegap memandang ke langit sembari menunggu jalanan sedikit sepi pengendara sebelum menyebrang. Namun dari kejauhan terlihat sebuah mobil semakin mendekat. Reyna mengankat tangannya menghalau cahaya mobil menyinari matanya. Benar saja mobil itu berhenti tepat di depannya. Sosok familiar keluar dari sana.

"Pram"

"Hmm tadi saya ke toko kamu mau beli minum tapi sayangnya sudah di tutup" ucap Pram senyum misterius.

Reyna pun teringat dengan perkataan Pram tadi pagi.

"Ini pasti perbuatan kamu kan?"

"Maksudnya?"

"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamukan yang memaksa bu Farah untuk memecat aku. Oh jadi kejutan yang kamu bilang tadi pagi?"

"Kami hanya melakukan kesepakatan. Saya tidak pernah memaksanya. Jadi kamu dipecat. Hmm saya turut prihatin" ucap Pram santai tanpa merasa bersalah.

"Pram kenapa sih kamu harus melalukan ini? Apa pentingnya pekerjaan aku untuk kamu? Kenapa sih kamu kejam banget?"

"Saya tidak mengerti maksud kamu. Tapi ini mungkin balasan karena kamu sudah menyentuh saya kemarin" balas Pram tidak peduli walaupun ia melihat binar di mata Reyna.

"Kamu tidak berubah. Sangat menyebalkan. Brengsek" umpat Reyna sambil menyeka airmatanya.

Reyna menyebrang tanpa melihat lagi keadaan jalan yang masih ramai kendaraan. Sebuah mobil melintas. Sopir di dalamnya menekan kuat bel mobilnya. Namun kedatangan mobil yang tiba-tiba membuat Reyna tetap diam di tempatnya. Kakinya seakan terpaku di aspal. Reyna menutupi matanya saat melihat mobil semakin dekat padanya.

Pram pun dengan sigap menarik tangan Reyna lalu memeluknya erat.

"Reyna" ucap Pram dengan nafas memburuh.

Untuk beberapa saat keduanya diam ditengah hiruk pikuk pengendara penguasa jalanan. Jantung Pram berdetak kencang. Hampir saja Reyna menghilang lagi dari hidupnya. Reyna menutup rapat matanya. Seketika airmata menitih dari sudut mata lelahnya.

"Lepasin aku. Jangan menyentuhku" ucap Reyna mendorong dada Pram pelan. Ia pun berganti arah ingin cepat pergi. Namun tangan kekar Pram menariknya kembali.

"Saya antar pulang" ajak Pram memaksa Reyna masuk ke dalam mobilnya.

"Kamu memang sangat menyebalkan. Kamu membuatku merindu dalam waktu yang lama. Aku ingin marah. Memukulmu keras kalau bisa sampai kamu pingsan. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Dekapan hangat dan kehadiran kamu selalu bisa meringankan beban berat di pundakku. Terima kasih karena kamu memelukku tadi, Pram" _Reyna_.

1
Shifa Burhan
di novel ini kita bisa lihat pola pikir egois wanita terhadap pasangannya dan betapa jablaynya wanita terhadap lelaki lain

reyna x pram kalian lihat hanya jeleknya pram saja apapun pu yang dilakukan pram semua salah dan kalian kebaperan dengan pria lain dan kalian elu2 tama

reyna x tama disini berbalik lagi tama yang jadi jahat dan pram yang kalian elu2 kan

dari novel ini disini terlihat sekali karakter kalian yang selalu memandang lebih lelaki lain dari pada pasangan kalian sendiri, kalian selalu kebaperan dan memuja2 pria lain daripada pasangan kalian

ingat thor novelmu bisa memperlihat karaktermu
Ita Sinta
hade baru mulai baca udah mau mewek😒
Yati Yati
tolak ja Reyna jgn mau enk ja ma tama ja
Ely Tria
bagus ceritanya tp sehrsnya kl sdh menikah tidak boleh dgn laki2 lain.
Alfi Fatmayani
padahal tama dulunya juga gangguin reyna terus padahl sdh tau reyna wanita yg sdh menikah.
kok skrng marah reyna diganggu?
Alfi Fatmayani
kok kayak bahsanya seperti terjemahan?
kenapa sih Reyn plin plan gitu...kok jd kayak.perempuan murahan kesana iya, kesini iya
Alfi Fatmayani
kok sepertinya Reyna gampang banget ya.. jd seperti maaf...cewek gampangan...cium sana cium sini
trus labil banget. jd ga respek
Yuli Ana
lanjut kak
Siti Khoyimah
maf aq gx suka sama karakter reyna gx punya prinsip .awalnya suka ada humorisnya semkin keblngkng haduh .maf
Siti Khoyimah
maf aq gx suka sama karakter reyna gx punya prinsip .awalnya suka ada humorisnya semkin keblngkng haduh .maf
@Kristin
Apa yng membuat anda se yakin itu pak?
@Kristin
Emang harus ya menikah🤦
TongTji Tea
"selamatkan' lebih tepat daripada selametin
R.E: ok. terima kasih banyak kak koreksinya🙏🤗
total 1 replies
wins
Reyna gatel juga nih dah punya suami masih juga mancing mancing
Lastuti Mokodompit
Makin seru thor, makin penasaran deeh.... Lanjutkan
Tri Wahyuni
sekarang Pram dn Reyna dh berbahagia dgn klga nta dn juga shera semoga shera dot afik yg banyak .dn Tama menemukan wanita cantik Alexa .semoga 2 klga itu berbahagia
Tri Wahyuni
wah ganggu aja tuh Shera emang kamar nya g d kunci ..klo lagi berdua d kamar kmu harus ngunci lah jadi g ke ganggu lagi hahahaaa .
Sri Rahayu
cerita nya sangat bagus aku suka banget
Mira Bae
wah Tama ketemu cewek baru. Suka bgt sama ceritanya juga alur keseluruhannya. Dari yang tidak cinta sampai yang benar-benar saling mencintai. Pram dan Reyna balikan dan bahagia selamanya. Dan Pram juga sudah tidak trauma lagi. Suka cerita yg gak banyak bab gini. Semoga cerita berikutnya cepat up ya. Terima kasih author, ceritanya Ditunggu next karya karya thor🙏👍❤
Alia Azahra: ayo kak lanjutin terus ceritanya ❤️👍
total 1 replies
R.E
Finally, sampai juga kita di penghujung cerita. Terima kasih untuk semuanya yang sudah mampir baca, koment, like, kasih hadiah dan juga vote. Untuk yang terakhir, mau donk baca pendapat kalian tentang cerita ini😍 Sampai juga lagi di next novel dengan judul "Don't Kiss Me".

Terima kasih tak terhingga untuk kalian semua🙏🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!