Key, gadis kota yang terpaksa pindah ke kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan ayahnya. Hal itu disebabkan karena kebangkrutan, yang sedang menimpa bisnis keluarga.
Misteri demi misteri mulai bermunculan di sana. Termasuk kemampuannya yang mulai terasah ketika bertemu makhluk tak kasat mata. Bahkan rasa penasaran selalu membuatnya ingin membantu mereka. Terutama misteri tentang wanita berkebaya putih, yang ternyata berhubungan dengan masa lalu ayahnya.
Akankah dia bisa bertahan di desa tertinggal, yang jauh dari kehidupan dia sebelumnya? Dan apakah dia sanggup memecahkan misterinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Mia
"Diaaamm, semua. Key akan menjemput Mia. Kalau kalian tak percaya, tunggu saja."
"Okey... Okey, kami diam. Tapi kamu juga jangan maju ke depan. Kalau bisa, mundur pelan-pelan ya nak." ucap mama.
Aku tak peduli dengan ucapan mereka, aku sudah melihat Mia melambaikan tangan di atas kereta gaib itu. Aku harus menjemputnya, tapi aku juga harus waspada.
'byuurrr'
Ku lihat Mia sudah melompat ke air laut. Aku pun menyusul berlari, untuk segera menyelamatkan nyawanya.
"Keeeeyyyyyy, berhentiiiii." triak mama.
"Keyyy, tunggu papa." papa ikut berteriak, dan ingin berlari menyusulku.
Tapi dari jauh, mereka sudah melihatku sedang berjalan lagi menuju pantai. Sambil menggendong Mia.
"Keeey, Miaa. Apa itu kalian?" mama terkejut melihatku. Memandang papa sebentar, kemudian berlari bersama mendekatiku.
"Miaa, bangun dek. Kita sudah di pantai. Ayo pulang. Kakak kangen main sama kamu." ucapku sambil mengguncang tubuh kecil Mia.
"Ayo, kita segera bawa ke rumah sakit terdekat saja." kata petugas yang sedang menekan perut kecilnya, dan berhasil mengeluarkan sedikit air dari dalam mulut Mia.
Aku dan mama berlari mengikuti papa yang sedang menggendong Mia. Lutut sudah terasa lemas, hampir tak sanggup untuk meneruskan langkah. Ku tepis berbagai bayangan buruk pada Mia. Sedangkan mama, selalu terdengar doa dari mulutnya.
Di dalam mobil, mama memangku Mia, sedangkan papa duduk di sebelah petugas. Beliau menawarkan diri mengemudikan mobil ini. Ada satu petugas lain, yang mengikuti kami dari belakang dengan sepeda motor.
"Key, maafkan mama yang tidak percaya sama kamu." ucap mama dengan mulut yang sedikit bergetar menahan tangis.
"Iya ma. Key ngerti, maafkan Key juga. Karena Key sempat membentak mama sama papa. Key tidak ada maksud seperti itu."
"Iya sayang, mama ngerti. Ambil handuk dari dalam tas hitam di bawah kakimu. Biar kamu gak terlalu kedinginan, karena bajumu basah kuyup."
"Handuk ini, ma? Oiya, hp ku masih bisa nyala gak ya? Tadi masih ada di saku celana saat Key nyemplung." kataku sambil menunjukkan senyum manisku. Berharap mama mau membetulkan, kalau terjadi sesuatu dengan hp ini.
"Taruh situ dulu, nanti dicek di counter kalau perlu. Makasih ya, Key."
"Yess!! Makasih, mama."
Hanya lima menit, waktu yang dibutuhkan untuk sampai di rumah sakit. Mama segera berlari ke ruang UGD. Sedangkan papa langsung ke bagian administrasi, agar Mia segera ditangani.
"Gimana, sus?" tanya mama yang berdiri di sebelahku.
"Tenang bu, tunggu dokternya dulu untuk menjelaskan hasil pemeriksaan." jawab suster bernama Sari, sesuai nametag di baju putihnya.
"Selamat malam, bu. Maaf, ini suster saya akan memasang infus dan oksigen untuk membantu pernafasannya. Tapi tidak ada yang perlu dikawatirkan, untung saja ibu segera membawa ke sini. Dan sudah dilakukan pertolongan pertama dengan mengeluarkan air yang sempat tertelan. Kita tunggu anaknya sadar dulu. Jadi kita pindahkan ke ruang rawat inap, ya bu." ucap dokter cantik bernama Sukma.
Mia sudah dipindahkan di kamar perawatan. Dan kami harus menginap untuk menunggu kesadaran Mia di sini. Mama pamit ke mushola, dan papa juga belum kembali.
Aku memutuskan untuk mandi sebentar, di kamar mandi yang ada dalam ruangan ini. Ruang yang hanya terdiri dari satu tempat tidur pasien, sofa dan mejanya, serta televisi di depannya.
Rumah sakit ini memiliki bangunan model lama. Dinding berwarna putih, dengan pintu dan jendela yang terbuat dari kayu, bercat kuning. Berjajar di setiap ruangan, dengan model khas rumah Belanda. Sepertinya, memang bangunan ini berdiri pada masa itu.
"Mama..... Papa...., kak Key." kata Mia lemah.